Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Saya Sudah Menjadi Orang Bertakwa !!

Posted by agorsiloku pada September 27, 2007

Rasanya sudah begitu rajin berzikir deh. Kaki melangkah ke luar rumah selalu yang kanan terlebih dahulu,  kalau ke kamar mandi baru yang kiri dulu.  Tapi kalau turun dari bis sih, biasa kaki dulu, apalagi kalau bisnya berjalan pelan.  Salah meletakkan kaki ketika turun, bisa terpelintir menabrak badan bis.  Di setiap kesempatan berguman dalam hati, di setiap langkahnya nyaris berseru :

SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR ; WA LA HAULA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL- ‘ALIYYIL-‘AZHIM

Kesalehan ibadahnya sulit ditandingi.  Ia juga tak angkuh, bertutur kata halus, berperangai lembut.  Tak pernah ada kata marah dari raut mukanya.  Senyum adalah sedekah, begitu sering diucapkannya.   Itikaf di mesjid, tahajudnya, dan lain sebagainya dan lain sebagainya lengkap sudah.  Inilah ciri kesalehan ibadah yang di mata tetangga dan kerabatnya sulit dicari bandingan.

Namun, godaan bukannya tidak ada, dan tak habisnya juga datang kepadanya.  Dunia modern dan  budaya instan mau tidak mau menyelimutinya juga.  Ketika kemakmuran kian datang padanya, bis teman sehari-harinya mulai ditinggalkan.

Di depan counter hp, dia merenung apakah membeli hape terbaru, Nokia, Motorolla, atau PDA yang canggih, tak penting walau hanya dipakai sms doang.  Apakah sudah waktunya berganti teve 29 inch dengan yang lebih up to date gitu.  Berpikir-pikir untuk mengganti dengan layar datar LCD atau yang lebih wah.  TV layar datar tabung rasanya sudah tak cocok lagi dengan penghormatan lingkungan sekitarnya dengan level kedigdayaannya.  Sebagai eksekutif, rasanya juga tidak cocok dengan mobil pemakan rumput yang dipakainya, eh maksudnya Kijang gitu.  Sajadah sholatnya juga harus lebih lebar, lebih anggun, lebih berwarna-warni.  Belum lagi penampilan di layar kaca, memenuhi panggilan sana sini dengan amplop berjibun.  Wah, tidaklah seharusnya ummat tampak miskin.

Kesibukannya semakin menjadi-jadi.  Kalau dulu sempat berbagi dengan kaum dhuafa, mendengar tangisan dan berbagi makanan.  Kini kesempatan itu tak banyak lagi.  Maklumlah perjalanan ditempuh dengan kenyamanan tertinggi, satu panggilan ke panggilan lain dari para tokoh dengan ragam acara.  Bantuan pun mengalir bak hujan turun dari langit.  Kemakmurannya adalah rejeki dari yang MahaKaya.  Ia menyadari benar dan karenanya memanfaatkan untuk kemakmuran diri dan keluarganya.

Senyum itu sedekah, begitu sering diucapkan.  Sedekahnya itu merambah kemana-mana.  Membuat ia semakin populer saja.  Ia selalu sedekah dengan senyumnya, sambil tetap menyimpan amplop ke dalam saku bajunya.  Sedekah itulah yang tersisa dari padanya.

(Sebuah Catatan Tentang Kesalehan Ibadah dan Kesalehan Sosial).

Iklan

5 Tanggapan to “Saya Sudah Menjadi Orang Bertakwa !!”

  1. Liexs said

    Koment pertamax aku buat posting di blog saya ajha mas.
    aku-tidak-lebih-dulu-ke-surga
    Banyak maaf.

    @
    udah dirapihin… (klik pada judul) 😀

    Suka

  2. El Za said

    Assalamualaikum Wr Wb.

    seharusnya umat Islam memang harus jadi orang yang hebat ya, bahagia dunia bahagia akhirat. Saya ikut bersyukur, jika ada orang yang sukses, justru jika melihat orang yang menderita hati ini terasa tertumpu beban sangat berat.

    Wah saya ini orang miskin, sulit banget membayangkan kehidupan borju macam gitu.
    cari uang sulit, cari pinjaman sulit, kalaupun ada mencekik leher, mau usaha sendiri butuh modal nggak dikit, belum lagi dikejar-kejar petugas.
    Jangankan dihormati macam gitu, ngajak bicara orang aja harus nelan ludah dulu sambil nunduk.
    untuk mikir makan apa besok, untuk susu anak, untuk transport ke tempat kerja, untuk cari kerja, ah.. membayangkan saja bikin keringat dingin mengucur.
    bagaimana jika si kecil sakit atau lapar, saat benar-benar tak punya uang.
    hal-hal macam ini kadang memang bikin putus asa, Duh Gusti jangan sampai hamba putus asa dari RahmatMu.
    hati kadang menangis kalau melihat anak-anak kecil tidur di emper toko tanpa selimut hanya beralas koran/kain kotor, saya tahu betapa laparnya mereka, jadi inget anak sendiri, Duh Gusti, andai hamba mampu menolong mereka dan tiada menyia-nyiakan mereka, hamba hanya bisa menangis dan berdoa dengan bibir kering untuk mereka, bagaimana jika mereka sakit, sedang untuk makan sebutir nasipun harus mengais sampah.

    Tetapi tiada berkurang sedikitpun rasa syukur hamba, Ya Allah, wafatkan hamba dalam keadaan Muslim, penderitaan macam ini tak secuilpun dari api neraka tapi sungguh amat berat, maka lindungilah kami dari api neraka, lindungilah kami dari sifat -sifat hina dan keji, dari sifat iri dengki, kumohon padamu ya Allah, hiasilah hati kami dengan akhlak mulia, bukan untuk syurga, kami hanya orang fakir tak kan sanggup berharap syurga, kami hanya berharap ridhomu ya Allah.
    Biarpun didera lapar, tapi Maha Kasihmu telah memberi hamba hidayah Islam ini,Ya Allah, wafatkan hamba dalam keadaan Muslim, masukkan kami dalam golongan shalihin. Amin.

    Wassalamualaikum wr wb.

    @
    Wass. Wr. Wb.
    Betul Mas, tulisan ini dibuat sepenuhnya satir, karena kadang melihat orang-orang yang sudah begitu terkenal kesalehan dan syiarnya berada pada kemakmuran dan pemanfaatan kemakmuran yang menurut agor berlebih juga. Hati kadang teriris, juga iri ngkali…
    Kadang hati bertanya, apakah ketika akan bermegah-megah, bisa melantunkan dengan ikhlas : tiada daya dan upaya kalau bukan karenaNya…. Lalu pertanggungjawaban kemegahan adalah juga sebuah posisi atau reposisi dalam ibadah.

    Mampukah Islam yang kaya mempertahankan kesalehan sosialnya sama tingginya dengan kesalehan vertikal… Bagaimanakah sebaiknya ummat Islam yang miskin bertemu dengan Islam yang makmur…. Di Indonesia, rasanya kok nggak nyambung ya.
    Wass.

    Suka

  3. Herianto said

    Setuju nih keshalehan sosial yang tidak melupakan juga keshalehan ibadah mahdah (ritual).
    Memang kebanyakan individu dan ummat ini sering kebablasan sehingga timpang. Ada banyak orang2 yg cendrung di ritual lalu melupakan aspek sosial, ada yg bagus di sosial tapi minim di ritual.
    Perjalanan panjang ini memang kadang melalaikan… dan keberadaan [saling] nasehat dalam kbaikan dan kesabaran yg mampu mengingatkan. 🙂

    @
    Alangkah indahnya jika kesalehan sosial seimbang dengan kesalehan vertikal. Rasanya menyedihkan ketika bertemu dengan tokoh yang kesalehan vertikalnya tampak tinggi, tapi tipis kesalehan sosialnya.
    Mengapa ya… bisa begitu. Sering tidak ada hubungannya, terutama ketika berhadapan dengan sesama manusia. Mau membangun mesjid, tapi ketika sedekah tampak berat sekali. Dimana letak kelirunya pendidikan kita ini?

    Suka

  4. erander said

    Ia selalu sedekah dengan senyumnya, sambil tetap menyimpan amplop ke dalam saku bajunya.

    Paradoks atau satire ya?

    @
    Satire yang paradoks… 😀

    Suka

  5. almascatie said

    entahlah.. jaman sahabat telah lewat
    entah jaman apa skarang

    @
    jaman sahabat sudah terlewati ratusan tahun, karya-karya mereka mewarnai kehidupan di abad informasi.
    Namun, selalu timbul pertanyaan… adakah keniscayaan yang telah terjadi menjadi sebuah kenangan yang tersimpan dalam ragam buku dan informasi. Lalu karenanya, menjadikan kita punya “keangkuhan” untuk merasa sudah bertakwa !!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: