Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Islamku, Islammu : Antara Simbol dan Substansi

Posted by agorsiloku pada September 26, 2007

Judul postingan ini sengaja saya jiplak habis-habisan dari sini. Semoga pemiliknya nggak marah 😀 . “Mengapa?”. “Biar gampang saja kok.”

Dalam perjalanan saya berislam, masalah ini kerap bergerak dari waktu ke waktu. Saya tidak datang dari dunia rohani, tapi saya datang dari kesibukan dan kemakmuran (meski nggak kaya, tapi saya merasa hidup penuh kecukupan).

“Sombong ya? ”

“Ya… memang iya”.

“Bayangkan saja deh, dulu saya waktu kecil hanya kebagian tidur di ruang tamu. Jadi kesel benar kalau kakak perempuanku ada kedatangan tamu yang naksir dan pulang melebihi jam 21 malam”. Beruntung, kakak perempuanku ‘diusir’ dengan hormat dari rumah.”

Keberuntungan kemudian, saya setelah SMP bisa berkunjung dan pulangnya diberi sedikit ongkos pulang oleh kakak ipar 😉 dan dibantu pula melanjutkan sekolah. Keberuntungan demi keberuntungan terus berlanjut sampai saat ini. Saya menikmati dan mesyukurinya sebisa-bisanya.

Kalaulah saya merasa tidak beruntung, saya tidak lahir di lingkungan dimana dunia spiritual dekat dengan saya. Saya mencari terbata-bata dan kerap sinis dengan segala tetek bengek agama. Rumit, penuh aturan, dan “maaf”, kurang toleransi pada yang berpengetahuan cetek.

Nih ceritanya,

“Saya diwajibkan mengikuti kuliah subuh dan mencatatnya, kemudian memberikan laporan untuk dapat nilai. Karena memang berbekal sekuler dan terlahir pemalas, hanya kurang dari sepertiganya saja saya mengikuti kewajiban dalam satu mata pelajaran ini. Alasan pokok saya, saya capek, saya sibuk, dan sejumlah alasan lainnya.”

Bisa ditebak, nilai saya jeblok. Saya protes dan tidak digubris. Alasan tidak mau didengar.

Akhirnya, saya keluarkan jurus pamungkas.

“Oke deh. Kalau begitu; kalau dikasih nilai merah. Saya mo keluar saja dari agama ini. Repot. Saya mau pindah saja sama yang ngasih nilai bagus!. Kalau saya nanti mati karena sesuatu apa saja, lalu setelah mati saya ditanya, maka saya akan jawab sampeyanlah yang menyebabkan saya keluar dari agama ini. Celakalah sampeyan”.

Substansi keberagamaan adalah ahlak, syiar agama adalah mengajak kepada ahlak yang memenuhi standar yang ditetapkanNya. Jadi pelajaran agama di sekolah akan memberi makna bukan pada nilai rapor atau pujian, tapi pada nilai-nilai kesalehan, nilai-nilai moral, dan lain sebagainya.

Jadi substansinya itu penting. Lebih penting dari seluruh simbol keberagamaan.

Merujuk pada tema dialogis, dan ada bagian yang menarik dari pembahasan dengan orang liberal :

“…kita bebas bermain…” dalam wilayah-wilayah akal adalah hal yang saya setujui sepenuhnya. Bukankah Al Qur’an itu juga untuk orang-orang beriman dan jelas adalah petunjuk untuk orang yang berakal.

Jadi jelaslah mengapa shalat, dicari-carilah dengan akal makna dan tujuannya. Begitu juga berbagai jenis peribadatan lainnya, mengapa juga berbeda bukan hanya dalam lingkaran pada internal agama yang sama tapi berbeda aliran; tetapi juga ditengok-tengok juga apa yang dilakukan yang bukan Islam.

Namun, kemudian lahir juga kesimpulan bahwa tunduk dan membangkang, terpaksa atau suka, mengerti atau bingung tidak ada pada sisi simbol dan substansi. Beriman dan patuh tidak membutuhkan akal.

Hal ini yang kemudian melahirkan penyimpulan, sepanjang jelas asal usulnya dan mudah dimengerti, akal saya akan mencari substansinya. Kalau bisa. Mengenai tata cara peribadahan adalah soal kepatuhan. Kalaupun mendapatkan substansinya, maka saya percaya saja bahwa ilmu manusia tidak layak sama sekali diperbandingkan dengan ilmu pencipta manusia. Jadi, yap.. saya ingin patuh saja (meski juga banyak melanggarnya). Sebisa-bisanya jangan lalai lima waktu, selesaikan puasa, kurangi kesombongan, bayar zakat, sedekah harta (jangan tersenyum saja 🙂 , biar itu juga disebut sebagai shadaqoh 😀 , apalagi bertemu gelandangan dan pengemis serta orang miskin).

Jadi ringkasnya, simbol dan substansi tidak cukup dielaborasi dengan akal. Kepatuhan dibutuhkan untuk orang beriman. Untuk patuh maka iming-iming Sang Pemilik berupa surga dan ancamanNya menjadi pertimbangan akal dan hati. Memohon ampunanNya yang terbentang luas (semestinya) dilantunkan untuk menekan kesombongan yang mudah hinggap di hati.

Alangkah bisa berbahagianya jika patuh karena takut ancamanNya kemudian berkembang dan tumbuh menjadi keikhlasan dan kecintaan pada Sang Maha PenciptaNya.

(Catatan kecil Ramadhan 1428 H)

Iklan

4 Tanggapan to “Islamku, Islammu : Antara Simbol dan Substansi”

  1. danalingga said

    Semoga memang kita menjadi orang berserah diri, baik itu jalannya melalui simbol atau esensi. 😀

    @
    Amin… Jika karunia kemampuan berserah diri… sudah bisa merasuk ke sela-sela hati. Katanya tidak ada lagi perdebatan simbol atau esensi, tekstual atau literal, hujan dan kemarau, bermegah atau sederhana. Semua jalin menjalin tanpa dipahami awal dan akhirnya….

    Suka

  2. abah dedhot said

    …maka saya percaya saja bahwa ilmu manusia tidak layak sama sekali diperbandingkan dengan ilmu pencipta manusia…
    setau abah manusia tidak punya sifat ILMU. Jadi tidak ada yang harus diperbandingkan.
    salam

    @
    Mohon maaf, saya malah belum paham dengan catatan komentar ini :
    “setau abah manusia tidak punya sifat ILMU”

    Terlalu banyak kebimbangan, jelas juga manusia diberikan ilmu oleh Allah (pengetahuan) dan menjawab pertanyaan malaikat dan jin yang bertanya.
    Tentang ruh, manusia diberikan pengetahuan walau sedikit. Sesungguhnya yang takut pada Allah adalah orang-orang yang berilmu…

    Lalu dimana kita mau menempatkan sifat ILMU terhadap manusia.
    Manusia berilmu (karena mendapatkan rahmat), dan pemilik ilmu yang sesungguhnya tentu Allah.
    Jadi manusia memiliki ilmu dan ilmunya tentu tak layak diperbandingkan dengan ilmu pencipta manusia.

    Lalu bagaimana sifat ilmu.
    Ilmu Allah –> Tidak tahu, kecuali yang dikabarkan melalui namaNya dan karakteristik yang dikabarkanNya pula.
    Sifat Ilmu –> Ilmu manusia berkembang melalui penelitian, kombinasi logika dan penelitian, metodis, sistematis, andal, berulang, diteorikan, dibuktikan, disistematiskan, dan segala hal yang berkenaan dengan itu.

    Sifat ilmu manusia, tentu saja tidak untuk diperbandingkan dengan penciptaNya.

    Manusia harus punya sifat ilmu, karena manusia adalah khalifah yang karenanya diberikan akal untuk mengolah seluruh komponen-komponen yang membentuk diri dan lingkungannya. Manusia diberikan peran itu dan sekaligus kemampuan untuk melakukan pilihan-pilihan atas potensi yang dimilikinya. Jadi, mutlaklah bahwa untuk mempunyai peran dalam kehidupannya, manusia harus memiliki sifat ilmu. Namun, tentu saja kagak untuk diperbandingkan dengan ilmu Allah yang sebagian dari padanya kita kenali melalui namaNya.

    Tentu kata diperbandingkan ini dalam konteks kuantitas dan kualitas. Sedangkan dalam uraian berfungsi untuk memposisikan penjelasan. Seperti menjelaskan bahwa massa elektron adalah 0.0000016.10-31 kg. Jelas di sini masa zat ini diperbandingkan dengan massa satu kg. Kita juga bisa memperbandingkan massa elektron dengan massa bumi, matahari atau galaksi. Namun perbandingan menjadi tidak relevan karena ukuran yang sangat berbeda dan akhirnya tidak bermakna karena perbedaan yang begitu besarnya.

    Seperti itu pula relevansi ketika kita harus menjelaskan sifat ilmu manusia dengan sifat dari ilmu Allah.

    Karena itu, saya tidak memperbandingkan. Namun tetap harus menegasi, karena manusia memiliki sifat ilmu Allah (betapapun teramat-amat kecilnya, seperti kita membandingkan elektron dengan massa galaksi). Dengan begitu kita tidak bisa menihilkan ilmu Allah yang ada dan menjadi ilmu manusia.

    Adakah sifat-sifat dari ilmu Allah ada pada sifat-sifat ilmu manusia?.
    Tentu ada, manusia berlaku lemah lembut dan sifat lemah lembut Allah tak mungkin diukur oleh manusia (jadi tidak untuk diperbandingkan)… begitu dan seterusnya.

    Termasuk juga ketika memikirkan zat (dalam ilmu).

    Kita tidak dapat memahami ilmu Allah yang diperkenalkan kepada kita tanpa kita kenali sifat dari ilmu yang dianugerahkan kepada manusia.

    Mohon maaf jika pikiran ini keliru, mohon diluruskan kembali…
    Ini wacana lho, mengasah pedang karatan dengan asa semoga menjadi lebih manfaat.
    Wass, agor.

    Suka

  3. abdulsomad said

    Assalamualaikum wr wb
    OOT
    Comment mas agor di kemunduran Islam Part 2 di revisi, semoga ada pencerahan

    @

    Wass. Wr. Wb.
    Terimakasih uw.. nanti tak tengok lagi ya…

    Suka

  4. Herianto said

    Wah, sip ini mas Agor…
    Terima kasih dan tersanjung juga dapat mberi imspirasi ke mas Agor walau cuma dalam bentuk judul… 🙂
    Prinsip keseimbangan (tawazun) seringkali menjadi pemecahan dalam banyak hal (kasus) di era ini.
    Keseimbangan dalam mengutamakan simbol dan substansi, antara akal dan sufi-isme, antara kekerasan prinsip dan kelembutan, antara toleransi dan keserba-bolehan, antara liberalisme dan salafisme, antara kepatuhan dan kehati2an, antara kpentingan dunia dan kpentingan akhirat dan seterusnya. 🙂

    @
    prinsip neraca ini yang mudah diucapkan.
    Apalagi dalam dunia ahlak, khususnya di Indonesia yang “dituduhkan”, kesalehan ibadah peringkat atas, kesalehan sosial peringkat bawah 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: