Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Takdir dan Kehendak Bebas

Posted by agorsiloku pada September 25, 2007

Kebebasan berkehendak, eh kehendak bebas dibatasi juga tentunya oleh kehendak-kehendak yang lain. Jadi saling mempengaruhi gitu. Pada wadah yang disebut sebagai bumi tempat kita tinggal berlaku aturan-aturan yang oleh kaum agamis disebut sunnatullah dan yang lainnya menyebut sebagai hukum alam, hukum universal.

Terus kalau ada 10 orang yang punya kehendak bebas atau bebas-bebas saja berkehendak, maka kehendak bebas itu haruslah berbenturan, saling sikut, saling menyalahkan, dan beradu. Kalau ada semilyar kehendak bebas?.. Yah.. sama juga, membentuk aturan-aturan main untuk masing-masing kehendak bebas itu tidak berbenturan?. Dengan kata lain, kehendak bebas yang benar-benar bebas hanya dimiliki oleh yang bisa super bebas, yang tidak ada perbenturan kehendak, yang mengatur seluruh kehendak-kehendak bebas kecil-kecil itu. Pada yang namanya ciptaan, sudahlah jelas bahwa kehendak bebas akan dibatasi oleh kehendak-kehendak yang lain. setidaknya dari sisi kehendak kita pisahkan saja dalam dua kehendak. Kehendak pertama adalah posisi dimana manusia ditempatkan. Jadi, maaf saja manusia tidak diciptakan seperti alien yang bisa menghilang atau mengubah darahnya jadi HCl yang mencairkan logam. Kehendaknya (bila kehendaknya begitu) tidak akan bisa dipenuhi, karena seluruh kehadirannya di bumi dibatasi oleh tempat dimana dia berada (alam ini). Singkatnya, kehendaknya dibatasi oleh tempat dia berada.  Namun, pada tempatnya dia berada pun dia dia memiliki kebebasan untuk menetapkan pilihan.  Seperti orang memilih mau duduk atau mau nonton tv atau mematikan tv.  Kehendaknya adalah pilihan-pilihan.  Namun, pilihannya adalah pilihan yang sudah ditetapkan. Karena kondisinya memang begitu (berada pada pilihan dalam sunnatullah) maka jelas, manusia “terpaksa” harus melakukan pilihan pada kondisi yang dimilikinya.

Lha… kalau kehendak bebas, tapi terpaksa harus melakukan pilihan pada kondisi yang didapatkannya.  Namanya bukan kehendak bebas lagi dong.  Tapi bebas dalam ketidakbebasan.  😀

Apapun lah namanya.  Yang jelas, manusia juga suka atau terpaksa harus tunduk pada ketentuan Allah, pada takdir.  Begitu !.  Tidak ada tawar menawar dari Pemilik Kehendak Bebas  yang sesungguhnya.

Kedua, manusia-manusia lain akan mempengaruhi kehendaknya. Kehendak untuk berkuasa dari manusia akan berbenturan dengan kehendak manusia lain yang punya ambisi yang sama. Kehendaknya juga hanya bisa dipenuhi dan dicapai dengan memanfaatkan kehendak yang pertama. Kehendak yang pertama itu, kita kenali sebagai takdir. Kehendak yang kedua dipahami sebagai pilihan-pilihan dalam memanfaatkan takdir. Jadi, tema : “Yuk, Kita Memilih Takdir“, tidaklah relevan. Lebih tepat, kita memilih dan memilah takdir yang kita terima. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (QS 54. Al Qamar 49).

Ya tentu saja termasuk kita berada dimana, dilahirkan siapa, kapan rambut kita memutih, kapan kita mati dan lain sebagainya. Pokoknya segalanya deh.

Kalau begitu dimana dong letaknya kehendak manusia?. Kalau segalanya sudah diatur dari sononya, mengapa kita bisa berdosa, bisa berbuat jahat. Bukankah kejahatan juga sebuah perjalanan takdir?.

“Weleh… weleh… kok fatalis begitu seeh.”

“Kan manusia diberi kesempatan untuk memilih, melakukan pilihan atas takdir yang ukurannya telah ditetapkan”.

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (QS 91:8)

Kalau dia memilih jalan kefasikan, dia menjalani pilihan takdir yang dipilihnya dan kalau bertakwa, dia memilih jalan keimanannya. Pilihan inipun dipengaruhi oleh kehendakNya juga (QS 10. Yunus 100. Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya). Tentulah akal juga memiliki batasan, batasan karena akal berada pada tempat dimana dia berada.

Jadi dalam mengelola kebebasannya, jelas memiliki pilihan. Dan pilihan yang diridhaiNya, disampaikan :

Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan, maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Tuhannya. (QS 76:29)

“Ya… tetapi, bagaimana dengan kepastian yang direncanakan Allah terhadap kejadian seperti ini :”

QS 48. Al Fath 27. Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat.

Bukankah ayat itu jelas menjelaskan bahwa memasuki Mesjidil Haram dalam keadaan aman. Membuktikan kebenaran mimpinya?

Bukankah itu suatu penjelasan dari grand skenario Allah bahwa tidak ada sesuatu pun yang luput dari perhatiannya, sekaligus juga menunjukkan usaha apapun dari “musuh-musuh” Allah, tetaplah sekenario itu akan terjadi?. Bukankah hal yang sama juga dengan bayi Nabi Musa yang diselamatkan dalam kerajaan Fir’aun?.

“Hmm… Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.” Jadi, yah… apaboleh buat, baru sedikit yang agor pahami juga. 🙂 Boleh jadi ada pilihan-pilihan bebas pada wilayah tidak bebas dan ada kebebasan-kebebasan yang dikendalikan oleh Allah secara langsung pada setiap perjalanan manusia, sejumlah manusia.

Iklan

22 Tanggapan to “Takdir dan Kehendak Bebas”

  1. perempuan said

    Yup kira-kira seperti itulah pak agor.

    Kalau menurut saya kita punya kebebasan berkehendak. Namun karena kita manusia yang tidak memiliki kuasa penuh atas segala, dengan kata lain hanya sedikit alias terbatas, maka kehendak kita juga punya batasan-batasan. Berkebalikan dengan sifat-sifat pencipta kebebasan sesungguhnya. Pencipta dengan yang diciptakan, terang berbeda, meskipun yang dicipta juga memiliki sifat-sifat turunan Pencipta karena ada kehendak penciptaanya olehNya.

    Keterbatasan itu mutlak ada, agar manusia itu tetap sadar diri, bahwa ia tetap terbatas dan bergantung padaNya.

    @
    Sebenarnya sih Mba, saya inginnya mengatakan bahwa manusia itu tidak memiliki kehendak bebas sama sekali. Yah… sama sekali dia tidak memiliki kehendak. Jadi kalau merujuk ke Mas Haqiqie yang saya link, kehendak bebas manusia itu tidak ada sama sekali, bahkan dalam khayalan sekalipun. Alasannya, karena apa yang menjadi kehendak manusia hanya ada pada kehendakNya (sunnatullah). Jadi, kalau begitu apa yang dimiliki dalam kehendak manusia?. Tidak lebih dan kurang hanya hati untuk patuh atau tidak saja. Apakah dia akan terpaksa (membangkang atau tidak patuh) atau taat/tunduk/takwa. Keduanya berada dalam jejaring kehendak Allah. Jadi kebebasan yang ada hanya ada pada pilihan hati saja. Karena itulah Allah membisikkan ke hati manusia, lalu pls pilih jalur takdir yang telah disediakanNya.

    Tolong koreksi lagi kalau wacana ini menjadi rada kurang mantap. Saya sendiri belum berada pada posisi final merenungkan.

    Wass.

    Suka

  2. Suluh said

    hmmm…. jadi mikir….

    @
    hmmm… sama juga Mas Suluh selalu memberikan inspirasi….

    Suka

  3. santos said

    Keinginan, khayalan, cita2, kehendak, lamunan dan angan2 adalah bebas!! 100% diberikan kebebasan oleh Tuhan. Tuhan memberikan kebebasan 100% kepada anda untuk berkhayal! Bahkan berkhayal jadi Tuhanpun anda diperbolehkan.
    Tapi begitu anda mewujudkan khayalan & cita2 melalui suatu tindakan/ action , maka akan ada rintangan, hambatan atau gangguan, sehingga kadang2 apa yang anda cita2kan tidak bisa persis sama dengan hasil usaha anda. Apa yang terjadi ( Hasil ) akibat tindakan yang kita lakukan itulah yang dinamakan Takdir.
    Jadi ngga usah di persulit!!! Simpel.
    Memang kita ini kadang2 tergolong orang yang senang mempersulit diri.

    @
    Kalau pendapat saya (koreksi jika salah), bahkan berkhayal pun kita tidak memiliki kebebasan penuh. Mengapa?, karena khayalan kita dibatasi oleh pengetahuan kita terhadap hukum-hukum yang telah kita kenali dan pelajari, dibatasi oleh kemampuan kita membangun khayalan-khayalan yang ada. Dibatasi oleh perbandingan-perbandingan (khayalan pengetahuan) yang kita telah miliki.

    Kok begitu?.

    Oke…

    Dapatkah kita berkhayal tentang sesuatu apa saja yang di dalamnya sama sekali tidak ada sebab akibat dan hukum alam yang pernah kita kenali !.
    Jadi dapatkah kita berkhayal tanpa pengetahuan yang ada yang kita pernah miliki. Kita keluar seluruhnya dari padanya !.

    Suka

  4. Herianto said

    Masalah taqdir memang sering menjadi diskusi dan pemikiran panjang. Sampe2 ada yang potong kompas dan menjadikan rukun iman 5 saja minus iman kepada qadha-qadhar. Untung kita tak hanya diberi akal. 😀

    @
    Mas Herianto, benarkah begitu?. Saya tidak pernah terlalu serius memikirkan iman ini, namun ada dorongan untuk “percaya” saja dan berusaha tanpa reserve apapun terhadap petunjuknya (meski tak selalu dapat memenuhi, bahkan hanya sedikit terpenuhi, bahkan terlalu sedikit). Saya khawatir dengan peringatan ini :

    QS 4. An Nisaa’ 150. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), 151. merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.

    huruf tebal untuk memberikan penekanan.

    Apakah karena kita ber”ktp” Islam, lalu kita bebas dari peringatan ini?.

    Suka

  5. santos said

    Jadi pusing boss!! Makin Ngga ngerti aku!!!
    Kalau begitu, ya semuanya tergantung Sang maha penciptanya.
    Jadi ngga nyambung.
    Sampai disini aja lah!! Salam hormat buat semuanya.

    @
    hm… literal, tidak ada sesuatu apapun bahkan khayalan sekalipun yang bebas. Semua tergantung pada Sang Maha Pencipta.
    100% bebas itu tidak pernah ada. Ketergantungan ini karena sebab itu, karena kita tak bisa keluar dari kotak pengetahuan yang telah ada.

    Suka

  6. * Kebebasan Alloh dibatasi dengan Sifat-SifatNya.

    * Setelah muncul kesenian wayang, sejak dulu ada orang bilang bahwa hidup ini seperti permainan wayang. Manusia adalah wayang-wayang yang aktivitasnya tergantung sang dalang.

    * Kini zaman modern, game komputer sudah sedemikian canggih. Dalam game sepak bola misalnya, setiap pemain memiliki kebebasan untuk memilih aksinya. Namun, kebebasannya dibatasi oleh si pembuat program komputer (misalnya tidak ada pilihan untuk keluar lapangan dan pulang).

    Jadi mengibaratkan hidup ini seperti permainan game adalah lebih baik daripada seperti permainan wayang.

    Pemahamana manusia terus berkembang seiring dengan munculnya hal-hal yang tidak terduga bahkan bisa jauh dari pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.

    Sekarang game permainan catur juga semakin canggih, kalau enggak salah “Deep blue” adalah program catur paling canggih saat ini yang pernah mengalahkan juara catur dunia GM Kasparov. “Deep Blue” mempunyai banyak cabang pilihan langkah sampai akhir permainan yang sudah dikuasainya. Begitu juga Kasparov di otaknya juga banyak pilihan langkah.

    Ketika permainan diselenggarakan, setiap langkah dari kedua belah pihak yang bertanding dicatat sampai selesai dan dibukukan atau direkam sebagai suatu ketetapan atau sebagai suatu ramalan.

    Catatan langkah pilihan ini dapat diputar ulang atau diwujudkan dalam sebuah papan catur otomatis yang dijalankan komputer yang disaksikan oleh lebih banyak penonton.

    * Film atau juga sinetron yang kita saksikan adalah rekaman yang sudah pasti jalan ceritanya yang tidak dapat diubah lagi. Namun, ada penonton yang ketika sedang menyaksikan film dan terhanyut didalamnya merasa jalan ceritanya belum pernah terjadi atau masih bisa diubah. Ini terlihat dari perilaku penonton yang marah-marah, cemas, berharap, senang, bertepuk tangan, dll. Padahal penonton tidak perlu cemas dengan siaran ulangan, toh ceritanya sampai akhir sudah ditentukan oleh sutradara.

    * Sikap yang benar seorang yang beriman dalam menjalani hidup ini adalah berserahdiri dan bertawakal kepada Allah. Toh, semua kejadian masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang semuanya sudah diketahui, sudah diijinkan, dan ditetapkan oleh Alloh yang sangat menyayangi orang-orang beriman yang beramal soleh.

    Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan kekuatan dari Alloh.

    @
    Mas Dedi :
    * Kebebasan Alloh dibatasi dengan Sifat-SifatNya.


    Saya kira kita mengenalNya karena nama-nama dari sifatNya yang diperkenalkan pada kita dan sifat-sifat itu pula yang diberikan kepada kita (sehingga kita bisa mengenali nama-nama dari sifatNya). Kita tidak bisa mengetahui berapa sifat yang kita tidak tahu. Karena pengetahuan manusia itu sangat terbatas, jadi juga tidak seluruh sifat-sifat Allah juga dapat diberitakan kepada kita.

    Ambil contoh :
    Dapatkah Mas menjelaskan sifat dan keindahan dari warna merah kepada orang yang seumur hidupnya buta warna?.
    Dengan kata lain, manusia harus memiliki sifat-sifat dan pengenalan tertentu (dengan keterbatasannya) untuk mengenali sifat yang lebih luas dan maha.

    Suka

  7. @Mas Agor

    Assalamualaikum, wr. wb.

    Menurut juga Imam Gozali bahwa manusia bahkan dirinya tidak mungkin mengetahui dengan sempurna sifat-sifat Alloh. Hal ini dijelaskan dalam buku beliau tentang Asmaul Husna.

    Uraian dan penjelasan formula Einstein yang rumit saja tidak semua orang bisa memahaminya.

    @
    Wass. Wr.wb.
    Betul memang begitu Mas Dedi. Karena itu dalam komentar mas dengan catatan komentar saya terhadap pernyataan :
    Mas Dedi :
    * Kebebasan Alloh dibatasi dengan Sifat-SifatNya.

    Maka saya memahaminya, kebebasan Allah yang dipahami manusia terbatas untuk memahami sifat-sifatNya karena keterbatasan pemahaman manusia itu sendiri. Sedang pernyataan — * Kebebasan Alloh dibatasi dengan Sifat-SifatNya. — menjadi sedikit bias pengertian saya karena ada kata kebebasan Alloh dibatasi…. Namun, dengan penambahan catatan dari Mas Dedi, rupanya menjadi lebih jelas juga bagi saya bahwa dalam hal ini kita bersepakat. 😀

    Suka

  8. @mas Agor

    Ini adalah suatu contoh tersebut dalam Alqur’an bahwa Alloh tidak bertindak semena-mena karena Sifatnya yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana.

    “… Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan…”(QS Asy Syuura: 14)

    Wassalamua’laikum, wr. wb.

    @
    Mas Dedi.. ayat ini mengingatkan pada agor akan adanya perjanjian antara Allah dengan ciptaanNya dan batasan waktu terhadap apa yang ditentukan. Jadi pembangkangan tidak ditindak karena sebab ini…

    Suka

  9. […] Takdir dan Kehendak Bebas. […]

    Suka

  10. D2MQ said

    Mari kita berlindung dari segala pengaruh bisikan-bisikan syetan yang seolah-oleh benar padahal sesat.
    Yakinilah bahwa Allah maha berkehendak. segala hal berupa kebaikan atau keburukan adalah Benar ketetapan Allah.
    Tetapi sekalipun Allah berkehendak/menetapkan suatu keburukan terhadap hambanya, Allah lebih menyukai untuk berkehendak kebaikan. Karena apa? karena Allah maha pengasih dan penyayang.
    Kalo boleh disarankan, silahkan baca buku filsafat islam yang insya Allah tidak sesat berjudul DUA WAJAH TUHAN yang merupakan terjemahan dari kitab “Al Amru baina amrain”. Disana diuraikan bagaimana kita mensikapi dari takdir yang ada. Semoga Allah menunjukkan jalan yang lurus. Amiiin….

    “tiada suatu kebaikan yang akan kita raih sedikitpun, tanpa adanya rahmat Allah yang turun. Rahmat Allah adalah rahasia Allah yang akan turun atas kehendak-Nya….. dakan akan menjadi rahasia selamanya. Tetapi Allah tidak akan merubah suatu kaum kalau kaum tersebut tidak mau merubahnya”

    Wallahu bishowab.
    Salam
    D2MQ

    @
    Terimakasih untuk catatannya. Kalau boleh sedikit catatan :
    “Tetapi sekalipun Allah berkehendak/menetapkan suatu keburukan terhadap hambanya,”
    Dalam pengertian agor, Allah tidak berkehendak menetapkan suatu keburukan terhadap hambaNya. Kalimat ini sebaiknya tidak berhenti sampai di situ. Ketika bencana diturunkan kepada manusia, Allah dalam keadilanNya berkehendak menetapkan kebaikan bagi hambaNya. Allah mengikuti prasangkaan hambaNya. Pemahaman mengenai konsep berkehendak dan bencana berada dalam konsep ruang waktu keadilan Allah terhadap ciptaanNya.
    Allah membiarkan manusia pada pilihannya dalam batasan (potensi) dan tempat yang disediakan bagi manusia. Kata kebaikan/keburukan yang ditimpakan kepada manusia ada dalam konsep “kembali kepadaNya” yang semuanya menjadi ujian bagi manusia…..
    Selebihnya tentu saja seperti yang Mas sampaikan. Dan terimakasih juga untuk rujukannya. Menarik.

    Suka

  11. Anonim said

    Sebenarnya sih Mba, saya inginnya mengatakan bahwa manusia itu tidak memiliki kehendak bebas sama sekali. Yah… sama sekali dia tidak memiliki kehendak. Jadi kalau merujuk ke Mas Haqiqie yang saya link, kehendak bebas manusia itu tidak ada sama sekali, bahkan dalam khayalan sekalipun. Alasannya, karena apa yang menjadi kehendak manusia hanya ada pada kehendakNya (sunnatullah). Jadi, kalau begitu apa yang dimiliki dalam kehendak manusia?.

    Penggunaan kata “kehendak bebas” adalah bentukan manusia jg. Shg kita jg jgn terlalu naif bhw seolah2 bahasa tdk mempunyai keterbatasan dlm menjelaskan apa2 yg kt maksudkan, apalg sesuatu yg bgitu rumit. Kata kehendak bebas bs jg diniterpretasikan sbg kebebasan memilih (dr pilihan2 yg sdh ada), atau kembali mas agor akan menyatakan tetap saja yg spt itu bukan kebebasan. Jika bgitu yg dimksd mk mas Agor sdh salah menilai manusia, manusia adalah makhluk (ciptaan)yg mempunyai sifat/fitrah terbatas. Sebagaimana seorg peserta ujian disuruh memilih a, b, c, d. Apakah kt msh akan menggunakan kata2 bhw mrk tdk bebas memilih? Jgnlah kt terjebak dlm keabsurd-an spt itu.

    @
    Yuk kita baca kembali postingan di atas.
    Namun, saya setuju berat : janganlah kt terjebak dalam keabsur-an seperti ini…. Mengenai kebebasan yang dimaksud, ini betul-betul berada pada skala pembahasan yang harus dipahami bertingkat-tingkat… 😀

    Suka

  12. Anonim said

    Kalau pendapat saya (koreksi jika salah), bahkan berkhayal pun kita tidak memiliki kebebasan penuh. Mengapa?, karena khayalan kita dibatasi oleh pengetahuan kita terhadap hukum-hukum yang telah kita kenali dan pelajari, dibatasi oleh kemampuan kita membangun khayalan-khayalan yang ada. Dibatasi oleh perbandingan-perbandingan (khayalan pengetahuan) yang kita telah miliki.

    Lagi2 mas Agor problem dlm interpretasi kata “kehendak bebas”. Jika mas Agor bersikukuh bhw itu bukanlah kehendak bebas, sy menantang mas Agor utk memberikan ke saya 1 saja contoh dr “bebas” yg mas Agor mksdkan (tanpa batas), tdk usah banyak2 mas Agor (krn pasti manusia (ciptaan) tdk bs menemukannya. Nahh, jk nanti tdk ketemu, mk mas Agor hrs melupakan persepsi bebas yg tanpa batas. Krn semua yg kita (baca:ciptaan) bicarakan/lakukan pasti ada batasnya.

    @
    Kata bebas banyak muncul sebagai kosa kata masyarakat. Kehendak bebas dalam postingan didekatkan dengan takdir (Takdir dan Kehendak Bebas) tentu saja yang dimaksudkan bukan dalam bebas terbatas, tapi dalam term religi. Justru menegasi, manusia pada dasarnya tidak memiliki kehendak bebas, karena manusia memiliki potensi yang terbatas. Jadi contoh yang saya postingkan pun “nyleneh” saja, berkehendak untuk mengubah darahnya seperti alien 😀 Ini mendeskripsikan keterbatasan manusia dalam menjalankan kebebasannya. 😀

    Suka

  13. truthseeker said

    @Agor

    Mas, manusia memang tdk akan pernah memiliki yg namanya kebebasan mutlak, tp apakah dg begitu mas Agor ingin menghilangkan kata bebas dalam kamus manusia?. Pada saar kt bicara kata bebas tentunya bebas yg relatif bagi manusia. Jika mas Agor berfikir spt itu, mk akan banyak kata yg hanya dimiliki Allah yg akhirnya tdk bisa dipakai/disnisbahkan kpd manusia (sempurna, suci, bersih, putih, dll) yg secara absoulut mmg tdk pernah tercapai oleh manusia.

    Mas Agor, kata2 apa yg mas akan gunakan utk kt katakan burung itu “terbang bebas”, kami adalah bangsa yg “bebas merdeka” dll.

    @
    Mas TruthSeeker….
    Terimakasih komentar Mas yang bernas dan menarik. Postingan di atas judulnya adalah Takdir dan Kehendak Bebas. Konteksnya lebih pada all in all, bukan pada kota-kotak bebas relatif. Saya sendiri punya pandangan bahwa pemahaman saya mengenai hal ini terhadap ayat-ayat Allah masih perlu perenungan dan belajar lebih baik/lebih seksama. Banyak hal yang dalam perjalanan berpikir saya campur aduk memahami takdir, kehendak bebas dan kebebasan berkehendak, kebebasan memilih dan memilih kebebasan, pasrah dan usaha, ikhlas dan membangkang, qadla dan kadar. Kemudian manusia menjelaskan nasib dan masa depannya, dan lain sebagainya. Kadang begitu mudah kita mencampuradukkan, yang penting berusaha. Yang penting bersyukur. Namun, tentu setiap orang dianugrahi perjalanan berpikir dan berbuat yang berbeda. Kita tidak bisa samakan. Memahami dengan baik dalam konteks-konteks penjelasan, bagi saya khususnya lebih memudahkan memahami ayat-ayat yang lainnya.
    Pertanyaan lebih ke dalam proses berpikir dan memahami ayat Allah, misalnya : Apakah pembangkangan manusia pada kehendak Allah berada pada kehendak Allah. Kalau kita menjawab “YA” — bahwa pembangkangan adalah kehendak Allah–, maka bisa diasumsikan/dipahami bahwa Allah memang menginginkan adanya pembangkangan/tidak patuh. Pilihan pandangan ini bisa fatalis. Tapi kalau kita menjawab — Tidak Dalam Kehendak Allah—, maka juga pikiran kita membatasi Maha Berkehendak. Kalau seluruhnya; seluruh isi alam semesta itu adalah kehendak Allah, maka seluruh laku perbuatan manusia itu juga sesungguhnya dalam rangkaian kehendak Allah. Manusia berada pada irisan kecil dari Kehendak Universal dari Sang Pencipta.
    Jelas dalam konteks ini kita mendefinisikan kehendak dalam konteks pemahaman ayat. Seperti ayat yang menegasi, kalau Allah menghendaki, tentulah semua orang akan beriman. Artinya, tidak beriman bukan berarti harus dipahami bahwa tidak dalam Kehendak Allah.
    Begitu juga ketika tindak laku kehendak manusia, yang kemudian perlu dipahami adalah kehendak manusia adalah pengaruh dari : diilhamkan jalan ketakwaan dan kefasikan.
    Kebebasan apapun yang menjadi “term” manusia, tidaklah tunggal, tapi bergantung pada segala yang Allah ciptakan.
    Agor kira, takdir dipahami dalam konteks ini juga…. 😀
    Terimakasih atas kehati-hatian dan komentarnya yang menunjukkan keterbukaan dan keluasan wawasan Mas. 😀

    Suka

  14. haniifa said

    @Anonymous
    Maaf saya jadi agak pening… 😦 maksud komentar mas/mba ??!
    A. pemahaman mas Agor:
    …manusia itu tidak memiliki kehendak bebas sama sekali…
    B. pemahaman mas/mba Anonymous:
    Krn semua yg kita (baca:ciptaan) bicarakan/lakukan pasti ada batasnya.
    Terus terang pernyataan mas Agor (A) dan pernyataan Anonymous (B) kedua-duanya saya setuju.
    Tapi kenapa seperti dua kubu yang berlawanan ??
    Rupanya Anonymous sudah memutilasi kalimat mas Agor: “Tidak memiliki kehendak bebas” menjadi “kehendak bebas”.
    Menurut saya itu mah sama dengan “boneka manusia” menjadi “manusia” jelas dua object yang berbeda.

    @mas Agor
    Justru saya agak pening juga dengan maksud “ …Yah… sama sekali dia tidak memiliki kehendak…” apakah pemahaman mas Agor setelah membaca postingan mas Haqiqie atau pemahaman mas Haqiqie sendiri ??.
    Yang jelas jika manusia tidak memiliki kehendak sama dengan “boneka manusia”. Saya ingat ada pertanyaan yang menarik dari mas Sawali tetang [QS 91:8] “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,”
    Kenapa yang diilhamkan jalan “kefasikan” terlebih dahulu ??
    Tolong koreksi jika saya salah memahaminya, rupanya ayat AQ diatas selain pemilihan “Takdir” juga menggambarkan patern kehidupan yang selalu didahului oleh berbagai problematika yang cenderung fasik. Ingat dalam kenyataan adanya arus positip setelah terjadinya loncatan elektorn (negatif).
    Saya kira postingan mas Herianto cukup memberikan pencerahan.
    http://herianto.wordpress.com/2008/04/20/haruskah-kita-seperti-ibrahim-as/

    @
    Mas Haniifa… rasanya semakin jelas ya.. ini memang seni berwacana 😀 Saling melengkapi. Patten kehidupan itu adalah bagian yang menarik dari perjalanan memahami diri kita sebagai manusia yang akan bertanya, mengapa kita diciptakan…..

    Suka

  15. Abudaniel said

    Assalamu’laikum,
    Takdir dan kehendak bebas.
    Kelihatannya, kalau kita tidak hati-hati, seolah-olah berlawanan.
    Disatu sisi kita ditakdirkan begini, tapi disisi lain kita boleh memilih apa yang menjadi pilihan kita.
    Padahal, kalau kita cermati, takdir berlaku sepanjang perjalanan hayat kita. Dengan kata lain, sepanjang hidup kita, selama nyawa belum meninggalkan tubuh kasar kita, takdir masih bisa berubah. Perubahan takdir terjadi dengan takdir juga. Apakah kita juga ikut andil dalam perubahan ini?. Ya. Kita diberikan kebebasan berkehendak dilengkapi dengan perangkatnya, yaitu takdir. Inilah kaitannya, antara takdir dan kebebasan berkehendak. Kita bebas memilih takdir kita. Bebas memilih yang kita kehendaki, syahdan yang bertentangan dengan petunjuk Tuhan sekalipun.
    Kita bebas memilih, mau kafir atau beriman. Kalau mau kafir, silahkan tidak menggunakan perangkat yang diberikan kepada kita. Yaitu berusaha untuk mencari kebenaran. Mencari kebenaran untuk menghindar dari kekafiran juga adalah takdir kita. Begitu juga dengan kemiskinan harta umpamanya. Kalau mau kaya silahkan menggunakan takdir kita yang lain, yaitu berusaha untuk mencari kekayaan.
    Apakah kehendak bebas kita akan berbenturan dengan kehendak bebas orang lain bahkan dengan Tuhan sekalipun?. Mungkin dan bisa. Jadi kalau begitu kita tidak bebas dong?. Bebas sebebasnya. Kalau ternyata kehendak bebas kita berbenturan dengan kehendak bebas yang lain, itu hanya berupa effek, akibat atau resiko. Setiap kehendak, “bebas” maupun “tidak bebas” pasti mempunyai effek, akibat maupun resiko. Anda bebas untuk kafir. Tapi resikonya anda melawan kehendak Tuhan. Konsekuensinya anda harus bersedia memikul segala akibatnya. Anda bebas merampok. Tetapi kehendak anda berbenturan dengan kehendak orang lain yang “tidak mau dirampok”. Resiko dari kehendak anda, anda yang tanggung. Tapi kehendak bebas anda tetap bisa anda lakukan. Takdir anda merampok, sementara takdir yang lain dirampok. Padahal anda bisa saja menggunakan pilihan bebas anda untuk merubah takdir merampok anda dengan pilihan bebas anda “tidak melakukan perampokan” yang juga merupakan takdir anda yang lain yang disediakan oleh Allah.
    Demikianlah sekedar contoh dan ilustrasi “Takdir dan kehendak bebas” yang telah dianugerahkan Allah kepada kita.
    Kesimpulannya, kita bebas memilih yang kita mau. Tapi ada akibatnya bagi kita. Apakah itu buruk atau baik. Tergantung pilihan kita. Allah hanya “mengabulkan” saja pilihan kita sesuai dengan IlmuNya.
    Allah menyediakan takdir kita, tergantung kita mau berusaha berubah atau tidak. Karena perangkat untuk berubah sudah disediakan olehNya juga. Yang merupakan takdirNya juga.
    Kita bebas sebebas bebasnya untuk memilih. Pilihlah. Pilihan ada ditangan anda. Pilihan anda adalah tanggungan anda. Karena Allah yang Maha Pengasih memberikan kebebasan kepada anda, saya dan mereka. Allah dengan Kasih SayangNya juga telah menjelaskan resiko dan balasan yang akan kita terima atas penggunaan kebebasan kita.
    Wassalam,

    @
    Wass.ww.
    Memang dalam diskusi seperti ini, yang sering kita sulit membedakan adalah takdir yang dinyatakan dalam ayat Allah bahwa kita tidak akan dapat melihat (mengetahui/memahami/merasakan) ada perubahan dalam ketentuan Allah dan perjalanan dari pilihan takdir. Kadang tak terasa, saya juga mencampur adukan kata antara perjalanan takdir dan ketentuan tunggal dari takdir sebagai fakta satu-satunya pilihan takdir. Begitu juga ketika kita membahas bebas berkehendak dan kehendak bebas. Kita ingin mengatakan bebas dalam ketidak bebasan pilihan, sedang di sisi lain ada yang melihat bebas itu adalah bebas memilih. Masing-masing memiliki konotasi yang berbeda beda, persepsi yang berbeda. Namun, pada akhirnya muaranya sama. Persis seperti yang Mas Abu sampaikan. Bermuara pada : “Allah dengan Kasih SayangNya juga telah menjelaskan resiko dan balasan yang akan kita terima atas penggunaan kebebasan kita.”

    Suka

  16. truthseeker said

    @haniifa

    Maaf saya jadi agak pening… 😦 maksud komentar mas/mba ??!
    A. pemahaman mas Agor:
    “…manusia itu tidak memiliki kehendak bebas sama sekali…”
    B. pemahaman mas/mba Anonymous:
    “Krn semua yg kita (baca:ciptaan) bicarakan/lakukan pasti ada batasnya.”
    Terus terang pernyataan mas Agor (A) dan pernyataan Anonymous (B) kedua-duanya saya setuju.
    Tapi kenapa seperti dua kubu yang berlawanan ??

    mba/mas haniifa, maaf kalau sdh membuat bingung dg keterbatasan kalimat2 saya, sy cb pilah2 agar terlihat bedanya:

    Mas Agor:
    “…manusia itu tidak memiliki kehendak bebas sama sekali…”.
    Menurut persepsi (mudah2an tdk salah). Mas menafikan adanya kehendak bebas krn ternyata menurut mas Agor; “bebas” (baca: bebas mutlak) itu tdk ada, shg otomatis “kehendak bebas” jg menjadi tdk ada.

    Mas Anonymous:
    “Krn semua yg kita (baca:ciptaan) bicarakan/lakukan pasti ada batasnya.”
    Saya disini tetap berpendapat bhw itu tetap ada walaupun bebasnya makhluk adalah bebas yg terbatas (dibatasi oleh Allah/Sang Pencipta). Saya tdk setuju dg mas agor krn mas agor menafikan adanya bebas krn tdk adanya bebas mutlak bagi makhluk (saya setuju bhw tdk ada bebas mutlak bagi makhluk!!) tp tdk adanya bebas mutlak bagi makhluk itu adalah sesuatu yg niscaya, shg jika kt bicara ttg bebas hrs selalu bebas yg terbatas.

    @
    Ah Mas truth ini… secara keseluruhan, saya yakin Mas malah sangat memahaminya… 😀 terimakasih selalu utk keluasannya memahami dan mengidentifikasi uraian…. 😀

    Suka

  17. truthseeker said

    @haniifa

    Maaf saya jadi agak pening… 😦 maksud komentar mas/mba ??!
    A. pemahaman mas Agor:
    “…manusia itu tidak memiliki kehendak bebas sama sekali…”
    B. pemahaman mas/mba Anonymous:
    “Krn semua yg kita (baca:ciptaan) bicarakan/lakukan pasti ada batasnya.”
    Terus terang pernyataan mas Agor (A) dan pernyataan Anonymous (B) kedua-duanya saya setuju.
    Tapi kenapa seperti dua kubu yang berlawanan ??

    mba/mas haniifa, maaf kalau sdh membuat bingung dg keterbatasan kalimat2 saya, sy cb pilah2 agar terlihat bedanya:

    Mas Agor:
    “…manusia itu tidak memiliki kehendak bebas sama sekali…”.
    Menurut persepsi (mudah2an tdk salah). Mas Agor menafikan adanya kehendak bebas krn ternyata menurut mas Agor; “bebas” itu tdk ada Bagi makhluk?), shg otomatis bagi mas Agor“kehendak bebas” jg menjadi tdk ada.

    Mas Anonymous:
    “Krn semua yg kita (baca:ciptaan) bicarakan/lakukan pasti ada batasnya.”
    Sedangkan saya disini tetap berpendapat bhw “kehendak bebas (yg terbatas)” itu tetap ada. Bebas pd makhluk adalah selalu bebas yg terbatas (dibatasi oleh Allah/Sang Pencipta). Saya tdk setuju dg mas agor krn mas agor menafikan adanya bebas hanya krn tdk adanya bebas mutlak bagi makhluk, tp tdk adanya bebas mutlak bagi makhluk itu adalah sesuatu yg niscaya, shg ketika kt bicara ttg bebas hrs selalu bebas yg terbatas.

    Suka

  18. haniifa said

    @truthseeker
    Waduhhh maafkan saya, bukannya menguji/merendahkan kalimat2 mas Truthseeker, saya yakin baik mas Truthseeker maupun mas Agor mengerti apa yang menjadi kebimbangan saya mengenai “serupa tapi tak sama”. Oleh karena itu saya cetak tebal pada komen No:12 A:Tidak, B:Ada batasnya.
    Namun kalau pemahaman mas Agor dimaknai seperti yang dipaparkan oleh mas Abudaniel… sepertinya “sama tapi tak serupa”

    Suka

  19. […] Terakhir haniifa di Takdir dan Kehendak Bebas Devita Ariesti di Dampak Penggunaan Hasil Rekaya… Abudaniel di About Me truthseeker di […]

    Suka

  20. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    Itulah bedanya kita yang mempercayai keberadaan Tuhan (Apapun NamaNya) dengan mereka-mereka yang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan maupun campur tangan Tuhan dalam pengaturan perjalanan hidup makhlukNya, dalam membicarakan Takdir dan Kebebasan berkehendak atau Kehendak Bebas.
    Bagi kita, ada “campur tangan pihak lain” dalam pengaturan jalan hidup kita. Bagi mereka, jalan hidupnya diatur oleh “kebetulan-kebetulan”.

    Dalam Kehendak bebas atau Bebas berkehendak terdapat pengertian kebebasan memilih atau yang lebih kita kenal dengan pengertian “ikhtiyar” yang kadang-kadang dirancukan dengan pengertian “usaha”.
    Kalau Mas Agor mengatakan bahwa “tidak ada” kebebasan berkehendak, karena kita dibatasi oleh kehendak Allah. Itu juga benar. Karena dilihat dari satu sisi pemahaman akibat pembandingan kehendak Makhluk dengan kehendak Khalik. Sementara yang berpendapat kita bebas sebebasnya berkehendak dan memilih, juga tidak salah. Karena pemahamannya dalam lingkup kebebasan yang nyata-nyata diberikan oleh sang Khalik kepada MakhlukNya.
    Kebebasan kita memilih dan berkehendak tetap dijamin Allah. Tapi apakah kehendak dan pilihan kita akan terujud?. Tergantung dari apakah dua kehendak, antara Makhluk dan Khalik, bisa menyatu dalam satu titik temu.
    Kehendak kita adalah relatif terhadap kehendak Allah ( kehendak Allah adalah mutlak, sesuai dengan keMaha KuasaanNya) dalam hal pemenuhannya, walaupun kebebasan kita berkehendak tetap dijamin Allah, tidak dikurangi sedikitpun.
    Wassalam,

    Suka

  21. D2MQ said

    Kehendak bebas mutlak, saya meyakini tidak ada. Misal ada suatu pilihan untuk melakukan dua hal, kemudian kita “seolah-oleh” diberikan kebebasan (baca: kemampuan) untuk memilih (baca: berkehendak) salah satu dari 2 hal itu, dan maka terjadilah pilihan itu (baca: berhasil meraihnya), itu TETAP berada dalam kehendak Allah. Dan di lain waktu pemilihan kita adalah jatuh pada pilihan yang satu lagi dan terjadilah, itu pun TETAP kehendak Allah.
    Mengapa demikian, karena (menurut keyakinan saya), semenjak manusia memiliki kemampuan untuk “memilih” pun itu sudah merupakan kehendak dari Allah, dengan kata lain, kalau lah Allah (atas Kehendak-Nya) “mencabut” kemampuan manusia untuk “memilih” pilihan itu, maka saya yakin, kebebasan (baca: kemampuan) untuk memiliih itu pun TIDAK BISA.
    Simpulan dari saya adalah:
    “Benar bahwa semua takdir telah ditetapkan oleh Allah dan bersifat rahasia, tetapi kehendak manusia dalam perjalannya tetap akan bergantung dari kehendak Allah. Artinya manusia berkehendak, dan Allah berkehendak maka terjadilah, serta manusia berkehendak, tetapi Allah tidak, maka tidak terjadilah demikian juga kalau Allah berkehendak terhadap sesuatu, maka terjadilah, walau tidak dikehendaki oleh manusia. Karena dengan keyakinan, Allah maha mengetahui yang ghaib dan yang seharusnya. Termasuk di dalamnya, Allah berkuasa untuk berkehendak memberikan atau tidak suatu “kemampuan” terhadap makhluknya untuk berkehendak/memiliki/melakukan suatu keinginan (baca:kehendak)…”

    Tentu Dengan tidak melupakan, bahwa Allah lebih menyukai kehendak-kehendak yang baik. Allah maha pengasih dan penyayang,. Allah maha adil dan bijaksana.
    terima kasih
    salam
    D2MQ

    @
    Tentu kita diberikan pengetahuan mengenai takdir, dan karena anugerah pengetahuan itu kita bisa memahami dan bertanya tentang takdir itu sendiri. Sebagian kecil kita memahami takdir, sebagian besar lainnya, sangat jauh kita mampu memahaminya……

    Suka

  22. truthseeker said

    @haniifa
    Gak ada yg perlu dimaafkan…:D

    @abu daniel, D2MQ
    Setuju

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: