Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Siapa Yang Memberimu Ijin Mengharamkan?

Posted by agorsiloku pada September 24, 2007

Ini tentang satu ayat saja, sebuah pertanyaan yang tentunya layak kita renungkan :

QS 10. Yunus 59. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah ?”

Kecaman ini tidak berhenti di sini saja, masih ada lagi lho. :

QS 16. An Nahl 116. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. 117. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.

Surat 10:59 konteksnya rejeki, namun di QS 16:116-117 konteksnya makanan, karena ayat sebelumnya mengatakan (QS 16:115) : Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Jadi… yah… kalau tidak jelas diterangkan, termasuk juga tentunya hadis yang menegasi alternatif pilihan (misalnya binatang bertaring, dlsb) jangan mudah deh kita bilang sesuatu itu haram atau halal. Apalagi dalam konteks yang lebih luas tentang rejeki (baik dan buruk). Jangan-jangan kita sedang melakukan pembohongan terhadap Allah, bukan terhadap manusia. 😉

“Tapi,… tapi… rasanya kurang afdol dan bergaya deh kalau tidak ikut-ikutan mengharamkan….”

Iklan

9 Tanggapan to “Siapa Yang Memberimu Ijin Mengharamkan?”

  1. Guh said

    Berarti rokok gimana pak? Halal?

    @
    Ha…ha…ha… Mas Guh, kok berani-beraninya sampeyan bertanya ini 😉
    Oke deh… sebelum menjawab ini pertanyaan. Apakah dan darimanakah tahunya bahwa saya telah mendapatkan ijin dari Allah untuk menetapkan :”INI HARAM, INI HALAL”?.

    Janganlah Mas Guh lupakan bahwa kalau yang haram itu jika dijalankan akan berdosa, dan jika ditinggalkan berpahala. Apakah Mas Guh sudah memastikan bahwa saya ikut berperan dalam menetapkan dosa manusia-manusia?.

    Jadi, Mas Guh, kalau memang Mas Guh sudah tahu bahwa saya telah mendapat sertifikasi untuk menyatakan “ini halal dan ini haram” maka pertanyaan akan saya jawab.

    Hanya, mohon maaf, saya merasa belum dapat tuh… jadi janganlah meminta penjelasan yang tidak ada hadis atau tidak ada di Al Qur’an (hakikatnya ada di Al Qur’an tentunya).

    Oh ya… sekedar catatan, mengisap rempah-rempah di arab, tradisi sejak lama, namanya shisa. Umumnya bercita rasa buah. Di sini belum ada rokok rasa strawberry atau rasa alpukat atau rasa jeruk dan mangga. Entah nantinya….

    Suka

  2. Guh said

    Hehe, bener juga pak, salah alamat saya nanya. Harusnya langsung ke Tuhan ya.

    Sementara Tuhan belum menjawab, dan tidak ada di Quran maupun hadis, apa boleh kita menganggap bahwa itu boleh? Halal?

    Lalu bagaimana pendapat bapak tentang fatwa haram terbitan sebagian ulama MUI yang penjelasannya ada di situs halal guide? Meski saya suka sekali pada fatwa itu (karena saya benci rokok), tapi sesungguhnya saya lebih percaya pada bapak dibanding ke orang2 MUI itu.

    Bagaimana pula pendapat bapak sebagai orang yang mengerti banyak tentang Islam soal kegiatan merokok di tempat umum?

    Terimakasih 🙂

    @
    Betul, seharusnya tanyalah langsung kepada Allah. Insya Allah, Dia berkenan mengabari, karena Dialah yang memberikan petunjuk jalan kebaikan dan kefasikan. Oleh karena jalan mendapatkan jawaban itu dari hati nurani, maka dalam bahasa biasa, selalu kita tanyakan pada hati kita, maka jawaban jujur akan kita dapatkan dan kita ketahui.

    Fatwa haram dari MUI sebagai perwakilan jumhur ulama adalah salah satu model penarikan kesimpulan yang bila diniati dengan segala usaha untuk kebaikan/kemashalatan ummat, maka tentunya bisa dijadikan acuan. Jika kesimpulannya benar, layak diikuti, jika berbeda, tanyakan lagi pada Allah.

    —-
    Bagaimana pula pendapat bapak sebagai orang yang mengerti banyak tentang Islam soal kegiatan merokok di tempat umum?


    Saya bukan orang yang mengerti banyak tentang Islam, saya hanya sedang belajar saja kok. Dari rekan pembaca blog ini dan dari site yang saya kunjungi atau dari majelis taklimlah pengetahuan untuk semakin tidak tahu bertambah.

    Kegiatan merokok di tempat umum?.
    Jangankan merokok, bahkan minum sendirian di tempat umum, sedang yang lain kehausan dan kelaparan sebaiknya tidak dilakukan.
    Kalau asap rokok menganggu orang lain, apalagi yang tidak suka merokok, jelaslah menganggu kenyamanan orang lain. Ya sebaiknya jangan dilakukan. Main bola di tempat umum atau meledak-ledakan petasan bukan pada tempatnya juga sebaiknya tidak dilakukan. “Sopan dan ngerti dikit kek, apa susahnya sih”. Ini bukan soal haram atau halal, ini soal perbuatan tidak menyenangkan dan menganggu orang lain. Semua perbuatan baik dan diniati dengan baik karena Allah, insya Allah menjadi amal shaleh.
    Semua amal baik, dan untuk mendapatkan popularitas, tentu pahalanya akan senilai kesungguhannya yang diperoleh. Mencari dunia, dapat dunia juga.
    Itu pandangan “nafsu agor” yang menjelaskan.

    Suka

  3. Jangankan merokok, bahkan minum sendirian di tempat umum, sedang yang lain kehausan dan kelaparan sebaiknya tidak dilakukan.

    *lirik teguh*
    Pasti senyum selebar daun pisang!

    Buat pak agor, speechless saya pak. Selalu menemukan kesejukan setiap kali berkunjung ke sini.

    @
    Terimakasih sudi berkunjung, senang dipuji dan takut karenanya juga, khawatir betapa tipisnya antara keinginan dipuji sedang kesadaran bahwa hanya kepadaNyalah segala puja dan puji layak dilantunkan….

    Suka

  4. Guh said

    Hehe. Terimakasih untuk pelajarannya pak 😀 terimakasih juga untuk bonus pencerahannya. Saya dapat pelajaran bagus bahwa hanya Dia yang pantas atas segala puji 🙂
    Terimakasih

    @
    Mas Guh ini ada-ada saja, seperti nggak pernah berucap Alhamdulillah saja 😀
    Terimakasih juga Mas, gelitik dari Mas Guh dan periode sebelumnya, banyak yang disalahpahami itu. Sebenarnya begitu terasa kekuatannya.

    Suka

  5. rd Limosin said

    komentar di blog gag haram kan??

    makasih atas pencerahannya, bener juga ya

    @

    komentar di blog gag haram kan??
    Hm..m… apa agor harus tanya sama Mr. Matt, soalnya dia yang punya WordPress lho.
    Namun, setahu agor dalam agama itu : Semuanya boleh, kecuali yang diharamkan.
    Berbeda dengan di dunia kerja : Semua dilarang, kecuali yang dibolehkan…. 😀 (tentunya dalam sudut pandang norma-norma dan kehidupan bermasyarakat)….

    Suka

  6. rajaiblis said

    ngebut
    haram: mengganggu kenyamanan dan keamanan berlalu-lintas di jalan raya
    halal: ngebut aja di sirkuit

    merokok
    haram: mengganggu manusia yg tak tahan bau tembakau yg dibakar dan sangat mengganggu manusia yg sedang terkena ujian dari tuhan sakit paru-paru
    halal: di kamar masing2

    @
    Oom Raib memberi nasihat…. 😀

    Suka

  7. haniifa said

    @OOn raib
    Naik motor : HALAL
    HALAL = Oon Raib sedot knalpot motor di “KAMAR SENDIRI”

    Suka

  8. haniifa said

    Salam,
    ” Jangan-jangan kita sedang melakukan pembohongan terhadap Allah, bukan terhadap manusia ”
    Tepat sekali mas Agor, suatu ketika saya pernah berdebat dengan orang, soal “Haram & Halal”, perdebatan meruncing ke masalah makanan dan minuman.
    Tanya: Apa saja makanan yang menurut mas haram ?!
    Jawab: ” Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah; tetapi barangsiapa yang terpaksa memakannya dengan tidak menganiaya dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (QS 16:115)
    Tanya: hadits yang menegasi binatang bertaring, atau berkuku
    Jawab: Pada (QS 16:115), tidak ada berarti ‘halal’
    Tanya: Lha masih berpegang AQ. Apakah tidak percaya Hadits
    Jawab: Kan Al Qur’an sudah jelas !!!
    Tanya: Bagaimana tentang ikan asin, kan di AQ “tidak ada”.
    Jawab: Ada,hanya dijelaskan haramnya saja. diluar itu “HALAL”.
    Selanjutnya saya bacakan, Dialog antara Nabi Musa a.s dengan Bani Israil:
    “…Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? “PERGILAH KAMU KE SUATU KOTA, PASTI KAMU MEMPEROLEH APA YANG KAMU MINTA”….” (QS 2:61)
    Tanya: ?!
    Jawab: 😀
    Wassalam.

    @
    Salam….
    Jadi ingat peraturan bekerja : Semua dilarang kecuali yang boleh. Karena itu Boss dan Negara buat peraturan sebanyak-banyak sehingga di segala tempat dan waktu orang bekerja mengikuti aturan yang ada. Persis deh software komputer : Semua harus bekerja sesuai dengan aturan yang ditetapkan programmer dan ditetapkan berdasarkan analis …. 😀 —> butuh elaborasi dan pembuktian…

    Berbeda dengan hukum agama :
    Semua boleh kecuali yang dilarang… (atau diharamkan). –> butuh elaborasi dan pembuktian….. 😀

    Suka

  9. haniifa said

    Salam,
    Pantasan klo udah jadi “boss” nggak mau turun-turun, saya baru ngeuh.

    @
    maksudnya… ingin terus bisa mengharamkan… 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: