Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Saya Tidak Percaya Ka’bah Terendam Banjir…

Posted by agorsiloku pada Agustus 17, 2007

Kata “percaya” penting dalam kehidupan, dalam berorganisasi, dan dalam banyak hal lah. Beberapa belas tahun lalu, akal saya sering bertanya :”Mengapa saya harus beriman”. Apa landasan iman?. Percaya. Percaya pada bla… bla… bla. Dan memang seeh, percaya adalah dasar/pijakan awal sebelum kita melakukan interaksi apapun dengan siapapun ataupun dengan apapun juga.

Ya iyalah… kalau nggak percaya tuhan itu ada, atau gott its tot, terus ngapain berdo’a, ngapain belajar agama?

Karena tuhan matinya di dunia sebelah Barat, kutipan analisis Yusuf Qardawi bolehlah dipertimbangkan.

Tapi, ini seeh nggak terlalu rumit. Hanya sekedar pendapat bahwa saya tidak percaya bahwa lebih dari 50 tahun yang lalu Ka’bah pernah terendam banjir. Sama juga dengan pandangan, saya seeh setuju bahwa tulisan Allah pada tomat atau sejenisnya itu akal-akalan manusia atau persepsi saja alias hoax ketimbang sebagai petunjuk kehadiranNya.

Begini komentar Rekan saat melihat gambar Ka’bah terendam banjir :

DIAZ Berkata:
Agustus 16th, 2007 pada 5:50 pm e
saya tak percaya apa yang saya lihat ini? karena setahu saya kabah kebanjiran ketika jaman nabi nuh saja, dan apabila berita itu benar mangapa tidak disebarluaskan ke media yang lain seperti televisi, dll

Percaya atau tidak percaya menurut agor bukanlah suatu masalah. Bahkan pembuktianpun tidak akan bisa kalau kita tidak berbasiskan percaya.

Kalau saya bertanya sama salah satu jagoan matematika, apakah benar 1 + 1 = 2 (bilangan dasar 10). Jawabnya tentu ya (ngkali). Tapi bagaimana kalau saya bilang, saya tidak percaya aksioma yang menyatakan 1+1=2?.

Ya… karena memang harus dibuktikan. Saya ambil deh 2 batang korek api. Yah… betul 1 + 1 jadi 2. Ada dua batang korek api. Lalu saya ambil lagi dua ekor kelinci. Satu di kiri, satu di kanan. lalu dijumlah. Yap betul ada dua ekor kelinci. Jadi saya ambil kesimpulan benar 1 hewan ditambah satu hewan jadi 2 hewan.

Lalu, kelincinya yang di kiri kabur… saya ganti dengan kucing. Ketika dijumlahkan, betul ada dua hewan, tapi tetap saja 1 kelinci dan satu kucing. Kalau 2 hewan itu dikurangkan… maka hewannya lenyap?. Tapi kalau seekor kelinci dikurangkan dengan seekor kucing?.

Jadi emang seeh harus ada pengujian, standar dan informasi, juga kemampuan kita menangkap informasi, lalu menguji. Setelah itu, kembali lagi pada satu hal : percaya atau tidak!. Jadi diuji ataupun tidak, hasil akhirnya adalah kelogisan dan kemudian mau atau tidak menerima. Mungkin begitu persoalan iman itu. Karena itu, sering pertanyaan di bidang religi adalah masalah keimanan. Masalah percaya. Di situ bermula, dan di situ pula diakhirinya. 😀

Begitu juga dengan Ka’bah, sebagai tempat paling sakral bagi ummat Islam di muka bumi ini. Rasanya hati sempat terguncang ketika melihat bahwa foto Ka’bah terendam, terbakar, sedang dibangun dan lain sebagainya. Namun, saya percaya bahwa itu semua terjadi dalam lingkup kehendakNya. Adakah hikmah dari peristiwa itu (kalau percaya), layak selalu untuk direnungkan……

Iklan

26 Tanggapan to “Saya Tidak Percaya Ka’bah Terendam Banjir…”

  1. Kalau memang Ka’bah terendam banjir…. mungkin artinya teguran….
    Bisa juga artinya Allah telah menunjukkan bahwasanya keadaan alam makin tidak stabil

    Mas kalau ga salah sich “Die Got sind tot”. kalau ga salah lo Mas…. Baiknya nanya yang jago bahasa Jerman sich…
    *nyariin Teh jurig*

    @

    Yap… ketahuan deh nggak bisa bhs jerman itu… Die Got sind tot — Tuhan kita bunuh?, Gott its tot — Tuhan telah mati. Oke… nanti saya perbaiki (ini sekaligus koreksinya). Postingan tidak diganti, biar komentar ini tetap berfungsi… 😀

    Suka

  2. danalingga said

    ka’bah terendam banjir? So what?

    @
    Kalau Kabah itu seperti benda ajaib bagi hukum alam. Tidak kena banjir, bisa bersinar, atau apa saja yang aneh bin ajaib.
    Kita juga akan bertanya sama : So what gitu loh?.

    Rasanya … pilihan untuk memenuhi hukum yang ditetapkan dan dipahami manusia adalah kehendakNya …. 😀

    Suka

  3. sikabayan said

    euh.. bisa juga banjirnyah teh untuk membuat orang menjadi tidak percaya.. bahwa somplekan tembok kabah yang dibawa pulangnyah teh adalah jimat… :mrgreen:

    @
    bisa juga 😀 , tentu banyak kemungkinan untuk percaya dan tidak percaya. Saya mo baca lagi deh sejarahnya (kalau sempat)… Soal jimat, agor tidak tahu. Tapi, ustadku waktu di sana wanti-wanti jangan bawa batu sebagai jimat. Masa juga seeh kita percayai jimat kalau kita berserah diri padaNya…..

    Suka

  4. watonist said

    Tapi kalau seekor kelinci dikurangkan dengan seekor kucing?.

    sepertinya kok nggak bisa mas, karena notasi “minus” (dikurangkan) merujuk pada sesuatu yang dihilangkan, dengan mengabaikan sebab kehilangannya atau dengan kata lain jenis bahkan entity yang durujuk harus sama persis (bahkan bisa berarti “it self”).

    @
    Sepertinya begitu ya. Karena hewan pun hanya benar kalau isinya juga it self. Kalau hewannya beda, maka dikurangkan jadi nggak bisa juga 😀
    Mungkin penyederhanaan juga, karena bilangan adalah bilangan saja, kejadiannya punya implikasi berbeda… Bingung… !. 😀

    Suka

  5. Wah Maaf maaf…saya ga tau persisnya. tanya Ahlinya aja deh Mas…
    😀

    ::::
    Benarkah tuhan itu = langit?
    Saya hanya mengacu pada bahasa Tingkok
    Thian = Tuhan = Langit?????
    Tapi ini hanya persepsi lo Mas….

    @
    Bisa juga dari kata langit… bisa juga mungkin dari kata Tuh Hyang (Sansekerta), mungkin juga dari kata Tuan…. Namun, pemaknaannya sama, kadarnya yang berbeda…. Memang harus diserahkan sama ahlinya juga 😀

    Suka

  6. deking said

    percaya adalah dasar/pijakan awal sebelum kita melakukan interaksi apapun dengan siapapun ataupun dengan apapun juga.

    Bagaimana kalau hal tsb dibalik Pak? Dimana kepercayaan mungkin juga baru bisa didapatkan setelah adanya suatu interaksi dengan apapun atau siapapun.
    Memiliki rasa percaya pada sesuatu yang belum kita kenal sepertinya lumayan sulit Pak, sepertinya akan lebih mudah memberikan suatu kepercayaan pada sesuatu yang sudah kita kenal dan proses perkenalan dan pengenalan itu tetaplah membutuhkan suatu interaksi.

    ****

    Begitu juga dengan Ka’bah, sebagai tempat paling sakral bagi ummat Islam di muka bumi ini.

    Sakral bagi saya merupakan hal yang sangat berbahaya…kata sakral sangat mungkin menjerumuskan pada kekaguman yang berlebihan yang berujung pada suatu penyembahan-pemujaan (penuhanan?).

    Semoga saja apapun peristiwa yang telah terjadi pada Ka’bah tidak membuat kita untuk menuhankan Ka’bah.

    @
    Bisa juga begitu Mas Deking. Namun, ada sedikit keraguan. Kita lebih mudah percaya karena percaya bisa tumbuh tanpa analisis memadai, sedang tidak percaya juga bisa demikian bila kita memiliki referensi untuk melakukan penolakan. Menurut saya lho, kita lebih mudah percaya dari pada memilih tidak percaya terhadap sesuatu yang telah kita kenal dan kenali. Tidak percaya lebih karena memiliki alasan (yang dianggap kuat) untuk tidak mempercayai. Namun, pada intinya, percaya (atau tidak percaya) sering berada pada wilayah yang tidak membutuhkan bukti tapi lebih karena persepsi saja.
    Sakral dalam pengertian yang agor buat adalah suci, kudus, dihormati, memiliki hubungan kausalitas dengan perilaku dan rasa. Kata sakral sering lho dipakai pada situasi tertentu juga. Misalnya, perkawinan adalah suatu upacara sakral bagi dua anak manusia; tanah ini memiliki hubungan sakral bagi pemilikinya. Seorang menjadi pemimpin menjadi sakral baginya ketika menghubungkan diri dan kepemimpinannya dengan ridhaNya…. 😀

    Setuju, jangan sampai yang dituhankan adalah objeknya. Peristiwa Ka’bah terendam banjir adalah sisi yang dapat diambil hikmahnya dalam kerangka ini…..

    Suka

  7. MaIDeN said

    Berhubung tidak ada info lain yang bisa saya pegang untuk menguatkan informasi foto tadi, saya anggap foto tersebut bisa aja salah bisa juga benar.

    Jadi nggak langsun(tm) asal percaya saja.

    Kalau ada yang mengumpamakan ka’bah sebagai magnet dan manusia yang tawaf adalah lilitan-lilitan kawat yang berputar ? sehingga menghasilkan energi do’a yang makbul, pak agor percaya kah ?

    @
    Karena kejadian Ka’bah terendam banjir itu sangat banyak, juga diinternet, di buku-buku, dan dijadikan pula sebagai suvenir. Lalu dilihat dari masa kejadiannya, tentu saksi hiduppun sangat banyak maka saya percaya, kejadian itu telah terjadi. Bahkan, pada saat Nabi Muhammad kurang lebih berusia 30 tahun, Ka’bah juga terendam banjir. Saya punya banyak foto yang mengabadikan ini dari berbagai sudut, hanya satu yang ditampilkan.

    Kalau ada yang mengumpamakan ka’bah sebagai magnet dan manusia yang tawaf adalah lilitan-lilitan kawat yang berputar ? sehingga menghasilkan energi do’a yang makbul, pak agor percaya kah ?

    Saya percaya bahwa resultante “halus” dari do’a adalah sejumlah energi yang membentuk hubungan do’a, dunia fisis dan pemilik sesungguhnya dari do’a itu. Lebih dari sekedar telepati. Manusia yang membentuk jama’ah sholat memiliki “energi” lebih dari sholat sendirian. Saling merapatkan barisan menghasilkan do’a tiba lebih kuat dari pada sendiri. Transformasi energi dan kesatuan-kesatuan energi ini banyak dibahas dalam fisika. Jadi saya percaya. Perihal magnet seperti lilitan kawat yang berputar adalah salah satu cara untuk menjelaskannya.

    Suka

  8. rd Limosin said

    //lagi baca

    @
    😀

    Suka

  9. sya bisa saja percaya apabila memilki bukti berupa al-qur’an, firman Allah S.W.T dan hadits nabi dan rasulullah.

    apa yang tidak mungkin didunia ini, semua bisa terjadi dengan satu kalimat “kum faya kum” yang terjadi terjadilah.

    @
    Saya belum dapat memahami maksudnya!. Apakah Ka’bah terendam banjir harus ada di hadis atau Al Qur’an… 😀

    Suka

  10. mistery said

    sungguh mengesankan dan sungguh tak mengesankan bila ka’bah banjir.

    DAN SUNGGUH TERLALUUUUUUUUUUUUUUU!!!

    @
    Saya juga kurang bisa memahami konteks TERLALU ini apa. Maaf lho, agor agak telmi juga….

    Suka

  11. sungguhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
    terlaluuuuuuuuuuuuuuuuuuu!!!!!!!!!!!

    terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu terlalu

    @
    ini juga kurang bisa saya pahami… Duh agak sulit juga meraba arah komentar ini … 😦

    Suka

  12. spitod said

    Walaupun ka’bah adalah bangunan tersuci dan paling berkah di dunia, keberadaannya di dunia justru mengikatnya pada nasib dunia..
    Dunia memiliki penyakit, bencana, entropi yang terus meningkat, dan kelak akan hancur…

    @
    Benar-benar bernas. Komentar pendek yang begitu mengena. Rasanya agor harus belajar deh….

    Suka

  13. Dono said

    Ass,wr.wb, pak Agor,
    Saya boleh percaya bahwa ka’bah pernah banjir.
    Ka’bah adalah benda mati bukan sesuatu yg untuk dikagumkan, kita ke ka’bah untuk menunaikan haji atas perintah Allah bagi mereka2 yg mampu Dan bukan ka’bah itu yg kita sembah melainkan Allah S.W.T semata.Apa yg bersangkutan dlm hal dunia akan sirna.
    Iman seorang hamba itulah yg patut diutamakan.
    Wassalam.

    @
    Wass.wr.wb.
    Amin.

    Suka

  14. deking said

    Hehehehe maaf Pak, saya penekanan saya pada kata sakral bukan merujuk pada Pak Agor kok…tapi pada kata sakral itu sendiri.
    Saya kadang prihatin karena banyak pemberhalaan yang berangkat hanya dari kata sakral tsb.
    Saya juga prihatin ketika sepertinya banyak umat Islam yang terlalu mengagungkan dan menuju kecenderungan menuhankan (mungkin dalam artian kecil) Ka’bah dan Hajar Aswad…sepertinya mereka lupa kalau Ka’bah dan Hajar Aswad hanyalah makhluk.

    @
    Yap… kemudian sakral menjadi “jimatisasi”, menuhankan ciptaan sebagai “yang dipertuan”. Memang kemudian dianalisis dalam dimensi sosial adanya kecenderungan untuk mem-fisis-kan kedalam pikiran kita terhadap sakral sehingga berkecenderungan menjadi dan seolah (dan memang) beberapanya seolah menjadi kekuatan pendamping yang menentukan. Kadang dan kita sebenarnya mengetahui persis, tapi godaan untuk “menjadikan” sesuatu itu menjadi “kekuatan” pendamping membuat kita menghormati, sekaligus “menuhankan”. Kalau mau kita jujur pada pemahaman ini : Justru sebenarnya ini terjadi pada lebih banyak dari yang kita perkirakan. Bahkan, posisi tuhan pun berada pada dimensi “sakralisasi”….. 😦

    Suka

  15. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Kalau Ka’bah pernah terendam banjir, apa anehnya. 1941 (kalau tidak salah saya ) Ka’bah memang pernah terendam banjir. atusan tahun sebelumnya Ka’bah juga pernah terbakar dizaman Hajjaj bin Yusuf As-Staqaffi menaklukkan Mekah pada saat itu dipimpin oleh Abdullah Bin Az-Zubair bin Awwam. Kemudian setelah itu, Ka’bah juga pernah dijarah dan Hajar Aswad pernah dilarikan ( l/k 20 tahun)tidak berada ditempatnya. Aneh?. Tidak. Apakah Ka’bah, dengan beberapa kejadian tersebut hilang kesucian dan keagungannya?. Tidak. Apakah umat Islam harus berpaling ke tempat lain sebagai Kiblat kalau Ka’bah terendam banjir atau roboh?. Tidak. Apakah selama 20 tahun Hajar Aswad tidak berada ditempatnya, umat Islam berhenti berhaji?. Tidak.
    Jadi, apapun yang terjadi pada Ka’bah, umat Islam tetap beribadat dan mengarahkan wajahnya dalam sholat ke sana. Bukan karena kita menyembah Ka’bah dan bukan pula karena kita mempertuhankan Ka’bah. Tetapi karena itulah perintah Allah. Sholat harus menghadap ke Ka’bah ( walaupun sebelumnya, diawal-awal Islam, sholat menghadap ke Masjid Aqsa ), berumrah dan haji juga harus thowaf mengelilingi Ka’bah yang ada di Mekah. Ka’bah juga makhluk, terkena hukum sebagai makhluk. Biasa rusak, terkena musibah ( seperti banjir dan terbakar), oleh sebab itulah Ka’bah pernah berkali-kali dipugar dan direnovasi, namun tetap pada pondasi yang awal tidak pernah berobah.
    Jadi, sekali lagi, walaupun Ka’bah rusak direndam banjir, hangus terbakar bahkan hancur sekalipun, Umat Islam tetap akan tetap beriman kepada Allah, kepada Nabi, kepada Malaikat, Kitab dll., sesuai rukun Iman, dan tetap menjalankan sholat berkiblatkan kearah Ka’bah, tetap berhaji ke Mekah dan thowaf mengelilingi Ka’bah bahkan andaipun harus mengililingi bekas tapak/pondasinya saja. Karena Ka’bah hanya sarana yang ditetapkan Allah. Bukan tujuan ibadah itu sendiri. Wallahu a’lam.

    @
    Wass.wr.wb.
    Terimakasih penjelasan Mas… begitu bernas dan jelas. Mudah-mudahan ini menandai sebuah ketulusan pemaknaan. Lepas dari banjir pada Ka’bah, Allah telah menegasi rumah suci itu sebagai tempat dan arah peribadatan. Allah mengetahui segalaNya dan kita tidak tahu (QS 5:97).

    Suka

  16. Fadli said

    bisa kok, di Saudi kalau ada perubahan ekstrim cuaca, hujan bisa menjadi banjir dengan cepat. Hujan ini sangat berbahaya, sehingga Nabi membolehkan tidak shalat jumat jika lagi Hujan (untuk konteks di Madinah)

    @
    Ya… jangankan di sana (Arab)… di Bogor saja, kalau tiba-tiba hujan disertai angin puting beliung… duh…

    Suka

  17. Quantum said

    yup, Kabah hanya penyatuan arah karena perintah Allah. bisa hancur. Bahkan dengan teknologi persenjataan negara2 digdaya tidak mustahil untuk dihancurkan mereka bahkan dari angkasa tinggal menekan tombol dari jarak ribuan km. Mudah2an Allah tetap memelihara keamanannnya.

    Hanya saja saya tidak faham, apakah negeri ini benar benar aman seperti terkabulnya Doa nabi Ibrahim, mungkin seperti zaman Abdul Muntholib jaman tentara gajah menyerang, beliau pasrahkan keamanannya kepada Allah ( meskipun jaman itu juga mereka menyembah Latta Uzza).

    QS Al Baqarah 2:126. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.

    Atau S U R A T A T – T I I N
    95:3. dan demi kota (Mekah) ini yang aman,

    @
    Tentu saja aman dan ketika menjadi tidak aman (pernah terjadi kan musibah terowongan mina) atau penembakan jamaah haji, namun secara keseluruhan adalah negeri yang aman. Namun, bilakah kemudian kaum yang dimurkai Allah membuat kota ini tidak aman, apakah itu akanmenjadi tanda bagi berakhirnya alam semesta?. Toh alam semesta akan juga dilipat kembali…. Tanda-tandanya sudah banyak diulas dan dimulai…. Wallahu’alam.

    Suka

  18. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Merujuk pada doa Nabiyullah Ibrahim, sesuai QS 2:126, sebahagian sudah kita lihat, walaupun Mekah khususnya dan Jazirah Arab pada umumnya beriklim padang pasir, yang kalau kita bayangkan pada saat Nabi Ibrahim berdoa tidak akan terlintas dipikiran mereka bahwa penduduk Mekah akan menikmati enaknya buah-buahan segar seperti jeruk, pisang, apel, dan segagainya. Tapi sekarang, hampir semua buah-buahan yang ada didunia sudah terdapat di Mekah dan Negeri Arab umumnya. Dibandingkan dengan zaman Jahiliyah, Negeri Arab sekarang relatif cukup aman. Perang saudara dan perang suku boleh dikatakan sudah tidah pernah terjadi, kecuali gejolak-gejolak kecil karena ketidakpuasan segelintir orang terhadap pemerintah.
    Sesuai dengan lanjutan Firman Allah, orang kafir yang tinggal di Arab juga mendapat kesenangan. Kok ada orang kafir di tanah Arab?. Ada, bahkan banyak. Dari yang benar-benar berkatagori kafir, seperti pekerja-pekerja pengeboran minyak bangsa Amerika dan lain sebagainya, juga terdapat “kafir” jenis lain, yaitu manusia Islam sendiri yang bisa kita kategorikan kepada “kafir nikmat”. Lupa akan kenikmatan yang dilimpahkan Allah secara meluas dinegeri-negeri Arab, dari Arab Saudi, Kuwait, Oman, Bahrain, Qatar, Emirat Arab, Iraq dan lainnya, berupa minyak dan gas bumi melimpah-ruah. Tapi kebanyakan mereka lupa bahwa kenikmatan itu hanya sementara. Mereka simpan hasilnya di negara kafir, terutama di Amerika, tanpa mereka sadari uang mereka dipakai untuk menindas saudara seiman mereka, secara langsung maupun tidak langsung.
    Mengenai Ka’bah, apakah peristiwa seperti di zaman Abdul Muthalib akan terulang?. Hanya Allah yang tahu. Memang sudah ada yang mewacanakan untuk mengebom Mekah/Madinah, bukan hanya Ka’bah. Siapa?. Itu calon Presiden dari Partai Republik. Partai Pak Bush.
    Wassalam,

    @
    Wass. Wr.Wb.
    Yap betul, kita begitu mudah untuk menjadi “kufur” nikmat Allah. Bagaimanapun menegakkan keadilan, kalau kita makan dengan sendok garpu dari emas….

    Suka

  19. atmo4th said

    Ka’bah memang menjadi pengikat kaum muslim di dunia.
    Hmm, tapi jangan sampai kita menganggap kalau yang kita tuhankan adalah Ka’bah itu sendiri..

    Kalo gitu nda ada bedanya sama tukang sesajen di kuburan, he5..

    @
    Yap.. menjimatkan atau mensakralkan ciptaan, atasan, teman, gelang, cincin, tanpa disadari dibisikkan oleh sesuatu kepada kita.

    Suka

  20. MaIDeN said

    eh ada di wiki yah 🙂
    … Thank’s infonya …

    @
    😀

    Suka

  21. asqjoker said

    Ka’bah sebagai kiblatnya kaum muslimin memang hanya sebagai tanda orang2 yang mengikuti jalan agama Islam, dan dia hanya makhluk Allah. selain itu salah satu tanda hari kiamat ada org habasyah yg bakal meruntuhkan ka’bah…dan ini ada hadisnya. jadi…banjir juga wajar

    @
    Saya belum punya sumber informasinya :”katanya…” pada kali ketiga Ka’bah runtuh (diruntuhkan), Allah akan mengangkatnya… dan itu finalisasi dari dunia. Wallahu ‘alam….

    Suka

  22. Andri said

    Bagaimana dengan isu politisi AS mau ngebom kabah?

    @

    Isu.. terbukti atau tidak adalah sebuah pertanyaan atau kah tanda-tanda. Sungguh tak mudah menjelaskannya…

    Suka

  23. sikabayan said

    euh.. kalau terendam air mah.. memang kehendak yang punyanyah.. tapi kalau dajjal mah dari dulu juga belok ke baghdad terus.. alias buta mata kirinyah.. :mrgreen:

    @
    😀

    Suka

  24. zhangwuji said

    adanya banjir dan bencana alam itu terjadi di segala tempat di dunia ini,bukan hanya di kabah,lihat aja di indonesia hampir setiap propinsi di jatah bencana:entah itu banjir,kebakaran,kekeringan,gunung meletus,sunami,gempa bumi dan lain2,dari segala bencana kayaknya juga kita hampir merasakan kepuasan.(puasa kalo negri kita di landa becanda).
    kalo boleh saya berpendapat,adanya bencana di negri kita karena,para penghuninya kurang bersyukur atas nikmat yang di berikan oleh alloh.ALLOH berfirman:lainsyakartum la azidannakum walinkafartum inna adzabi lasyadid,al ayah.banyaknya bencana di dunia,salah satu sebabnya adalah kurang bersyukur,dan mengkufuri nikmatNYA.termasuk banjir di ka’bah(kalo benar2 terjadi)itu adalah penringatan dari ALLOH supaya manusia bersyukur dan ber amal ma’ruf nahi mungkar.wallohu a’lam bishowab

    @
    Dan manusia, diminta mengambil pelajaran dari padanya….

    Suka

  25. bundaelly said

    Jika saja pemerintah saudi tidak membangun drainase yang baik, bisa diramalkan hampir setiap tahun Mekah banjir! Kondisi alam yang berupa lembah dengan dikelilingi bukit2 batu dan “tanah” yang bebatuan dan tidak menyerap air hujan yang menjadi titik masalahnya.

    Tahun Haji 2005 yang lalu, banjir dahsyat melanda Mekah. Banyak mobil yang hanyut terbawa arus. Bahkan di Mina air sampe sepinggang! Itu saja sudah dengan penanganan yang lumayan baik lah.

    Coba bayangkan di tahun 50-an. Banjir di Mekah itu sudah biasa. Karena sistem pembuangan airnya belum sehebat sekarang. Mekah banjir, Ka’bah, yang tempatnya di lembah, dan diapit oleh gunung2, ya kebanjiran juga dong. Allah bisa berbuat apa saja terhadap apa yang ada dimuka bumi ini.

    Wallahu alam bishowab…

    @
    Allah Maha Berkehendak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: