Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Memutuskan Perkara Syetan atau Ghaib !.

Posted by agorsiloku pada Agustus 13, 2007

QS 5. Al Maa’idah 49. dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.

Siapa tak kenal ayat ini… hmmm rasanya sudah jelas kok bahwa : putuskanlah perkara di antara mereka menurut yang diturunkan Allah. Yang kadang saya masih bertanya : Perkara apa? Apakah perkara perselisihan, perbedaan pendapat, atau definisi?.“Misalnya apa?”
“Yap, misalnya syaitan gitu. Al Qur’an mengabarkan bahwa setan itu dari golongan manusia dan jin”

QS 6. Al An’aam 112. Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

“terus…. !?”
“Ya… kalau begitu jangan gambarkan setan itu mahluk tidak kasat mata dan menyeramkan yang hobinya menakut-nakuti, tapi pahami juga bahwa bisa saja dia cantik, ayu, megal-megol dan mengeluarkan perkataan yang indah-indah untuk menipu manusia gitu !”

“Kalau yang lain?”
“Ya… misalnya ghaib…”.

QS 72. Al Jin 26. (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

“Nah, kalau kita beriman pada ayat Al Qur’an, yah… sebaiknya kita turuti saja ketentuan ini. Gitu lho.”
“Maksudnya?”

Yah, jangan definisikan lain gitu, bahwa jin itu gaib.

QS 34. Saba’ 14. Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.

“loh… itu kan definisinya Al Qur’an”.
“Kalau kita seeh, definisikan gaib itu kejadian atau penampakan yang tidak bisa dilihat oleh panca indera. Jadi ukuran kita itu lho untuk mendefinisikan ghaib

“Kalau Al Qur’an menetapkan begitu, ya bedalah dengan yang kita pahami. Lagian, gimana seeh… kita kan menggaibkan apa yang tidak bisa ditangkap oleh indera kita saja!.”

Astagfirullah, kenapa kita tidak memutuskan definisi sebagaimana petunjukNya saja !?.

Saya kira, pembahasan akan lebih tepat dari sudut manapun, kalau kita melakukan berdasarkan relevansi persoalan seperti apa yang diajarkan Al Qur’an kepada manusia. Bahwa kita sudah begitu terbiasa mengaitkan dengan satu sisi persoalan saja, membuat kita — mungkin — tak tuntas memahami ayatNya.

Wallahu’alam.

Iklan

29 Tanggapan to “Memutuskan Perkara Syetan atau Ghaib !.”

  1. 1. Saya suka “Al Maa’idah 49” nya….soalnya nama saya terbawa bawa..
    😀

    2. Saya bukannya tak percaya yang gaib gaib macam Jin itu Mas. tapi yang jelas saya paling anti dengan mitos ada daerah berhantu. Saya juga paling benci dengan entah harus saya sebut apa namanya….

    Begini Mas, waktu saya camping, saya pernah dengan jelas sekali mendengar ada suara yang manggil nama saya dengan jelas, sementara saya hanya berdua dengan senior saya waktu itu dan senior saya itu laki laki. Namun saya yakin sekali bahwasanya itu adalah suara perempuan, lagian senoir saya juga diam aja kok. Meski saya tidak tau beliau juga mendengar atau tidak. Namu yang saya lakukan adalah memaki kira kira isinya begini… “saya ga perduli kamu hantu atau apapun! Saya ga mau dipanggil panggil”

    Plus. dalam hati saya, saya selalu tanamkan bahwasanya saya tidak boleh takut dan tidak mau takut dengan makhluk gaib apapun bentuk penampakannya (kalau memang benar benar tampak karena manusia itu (terkadang) jauh lebih tinggi derajatnya daripada makhluk makhluk lainnya.

    *yeee ngeblog disini… Pulang, udah malam. Bobo, ntar dimarahin Mas Agor loo. Komen panjang panjang isinya cuma kehampaan*

    Kalau begitu maafkan saya Mas…
    😀

    @

    Karena nama ikutan terbawa …. wah ini namanya hidangan …
    Pengalaman spiritual, terjadi pada setiap orang (dalam kriteria al Qur’an tidak termasuk gaib). Pengalaman begitu. Memang, kenapa tidak bilang saja begitu. Saya juga seeh suka bilang begitu juga, pada beberapa kasus sejenis. Beberapa hal yang mirip, tapi berbeda nuansa, pernah dialami dan dialami banyak orang. Saya tuliskan di beberapa postingan lalu :
    Undangan Dari Gunung Kawi.
    Mimpi Yang Sama.
    Melihat Diri Sendiri.
    Berita Telepati.

    Kalau dengar orang mandi – keciprak – kecipruk, tapi yang mandi tidak ada : Yah saya pesankan saja :”mandi sih mandi aja deh… tapi jangan kedengaran dong. Bikin takut saja”…. 🙂

    Suka

  2. sikabayan said

    eheuhueh… memang kang.. sang penggoda teh… mancing2 biar kita peduli.. padahal makin peduli teh makin turun derajat kitanyah kearah derajat sipenggoda… eheheh.. :mrgreen:
    lagian pan aneh yah.. mahluk yang dibikin dari api teh kecuprakan mandi air.. apah ngga takut pareum apinyah teh… 🙂
    sebetulnyah mah tipuannyah teh ngga mirip yah?.. tapinyah yah.. banyak ajah orang yang kena tipu teh…

    @
    hmmm agor sih, terus terang lebih banyak takutnya seeh… soalnya butuh waktu untuk menggabungkan pikiran dan ketenangan hati, untuk membedakan suara air dan suara samar yang bukan sesungguhnya seeh.

    Suka

  3. Makasih Mas….betapa banyak pelajaran yang saya dapat dari Mas Agor yang bijak….betapa ilmu saya memang masih dangkal……

    @
    Sama-sama. Saya sangat jauh dari bijak, walaupun ingin menjadi bijak…. 😀

    Suka

  4. anginsurga said

    maaf saya ga ada koment, tp saya suka artikel nya 🙂

    @
    😀

    Suka

  5. Irwan said

    Buanyak ilmunya nih
    Jd pengen mampir terus

    @
    Sama… saya mendapat begitu banyak pengetahuan baru dari komentar-komentar yang menurut agor, menyempurnakan postingan yang ada….

    Suka

  6. aricloud said

    Assalamu’alaikum
    Kalau yang seperti ini, bagaimana mas Agor?:

    http://aricloud.wordpress.com/2007/08/16/tes-keperawanan-pelajar-siswi-setujukah-anda/

    @

    Wss wrwb.
    Ha..ha…ha…. malu berkomentarnya… Semoga saja Pak Bupati insyaf….

    Suka

  7. Assalamu’alaikum

    Bagi saya manusia termasuk mahluk ghaib. Saya tidak dapat melihat manusia, yang saya lihat hanyalah penampakannya sahaja, hanya cangkangnya saja.

    Manusia begitu tersembunyi dibalik kulit wajahnya. Saya tidak melihatnya, saya hanya bisa menterjemahkan kira-kira bagaimana kondisi hatinya dari kulit wajahnya.

    Jin tidak dapat melihat nabi Sulaiman ketika beliau meninggal, yang mereka lihat hanya jasadnya saja.

    Assalamu’alaikum

    @
    Wass. Wr.wb.
    Yap.. memang kita hanya melihat manusia dengan apa yang ditampakan dalam cahaya tampak saja. Sebagian kecil ada yang melihat dengan mata batinnya dan menangkap auranya.

    Ghaib dalam pengertian tidak kasat mata. Saya sendiri lebih memilih (lebih suka memilih) kata gaib sebagai urusan yang hanya Allah mengetahui, sedangkan yang tidak kita deteksi/tidak kita lihat adalah tidak kasat mata (tidak tampak) atau tampak hanya pada kondisi tertentu. Yah.. misalnya gelombang elektromagnetik. Gelombang ini tidak tampak, tapi di osiloskop terlihat jejaknya….

    Suka

  8. sikabayan said

    euh.. keperawanan adalah ghaib… bagi orang lain.. :mrgreen:

    @
    Tidak ditampakkan (lho!)… yang membedakan pekerti manusia dan hewan… !

    Suka

  9. zhangwuji said

    asslamualaikumm..segala sesuatu pada mulanya ghoib.betulkah?

    siapa yang mau jawab….????terima kacihhhhh@};-

    @
    Pertanyaan yang sulit… bukan tidak mau jawab lho. Tidak cukup pengetahuan saya tentang hal ini.
    Mengapa sulit?
    Karena tidak dipahami maksud segala sesuatu pada mulanya ghaib itu ada dalam konteks apa. Jika segala sesuatu dari yang paling awal (maha awal), tentu dengan mudah dijawab :”Ya deh”.

    Namun pada postingan ini, sebenarnya berangkat dari keprihatinan bahwa ketika kita mendefinisikan ghaib dalam pikiran kita, kita lepaskan diri dari pengertian yang disampaikan Allah seperti pada postingan ayat tadi. Agor pikir, kalau seorang muslim, tentunya akan berusaha mengikuti juklak yang disampaikan Allah. Kagak berusaha mendefinisikan lain.. Wallahu’alam.

    Suka

  10. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Sebenarnya, jin (begitu juga malaikat) itu bukan makhluk ghaib.
    Karena “masih bisa” dilihat dan didengar oleh manusia. Cuma yang bisa melihat/mendengar itu manusia yang mana. Apakah semua manusia, atau hanya segelintir manusia yang diberi sedikit anugerah?. Kenapa saya katakan bukan makhluk ghaib?. Karena unsur penciptaanya saja berupa materi. Jin termasuk iblis bapak moyangnya syetan diciptakan dari api sedangkan malaikat diciptakan dari cahaya. Bukan api dan cahaya adalah materi?. Jadi, jin maupun malaikat bukanlah perkara makhluk ghaib. Tapi yang jelas tidak atau belum bisa ditangkap oleh kebanyakan pancaindera manusia. Jin, seperti juga manusia, ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang Islam ada juga yang kafir, ada yang patuh dan ada juga yang membangkang. Mungkin juga ada yang Sepilis (didunia mereka sana). Cuma beda lingkungan hidup. Apakah mereka juga hidup di bumi?. Mungkin saja. Bukankah dalam hadist ada tersebut bahwa, Nabi melarang kita membuang sisa makanan (tulang belulang hewan) ketempat yang kotor?. Karena itu merupakan makanan saudara kita dari golongan jin?. Bukankah Nabi juga melarang kita beristinja dengan kotoran binatang, karena itu merupakan makanan hewan ternak saudara kita dari golongan jin?. Juga, bukankah Rasulullah membagi tempat tinggal dibumi ini antara manusia dan jin?. Supaya jangan rebutan kapling?. Jin, silahkan tinggal ditengah lautan dan dilembah-lembah dan dipuncak-puncak gunung. Jauhkan diri dari tempat tinggal yang umumnya dipergunakan oleh manusia. Dasar jin. Ya kadang-kadang juga menyerobot tempat tinggal manusia dan juga mengganggu manusia. Bahkan menjelma jadi manusia betulan, supaya bisa menceburkan diri dalam kehidupan manusia. Begitu juga manusia, lembah ditimbun, gunung diratakan. Yang bagiannya jin diserobot. Jadi nggak heran banyak kasus manusia dirasukin jin. Bahkan kadang kadang manusia, saking rakusnya, malah jadi jin beneran.
    Jadi manusia dan jin sama saja. Hukumnya sama. Cara penerapannya yang beda, karena beda alam. Kalau manusia, ya hakimnya manusia, sementara jin, ya jinlah. Masak manusia menghakimin jin dan jin menghakimin manusia. Kecuali Rasulullah kali ya.
    Yang ghaib itu adalah “roh”, apakah roh manusia, jin maupun malaikat. Tidak satu orangpun, apakah itu manusia, jin ataupun malaikat yang tahu persis, apakah sebenarnya “zat” pembentuk roh. Sedikit sekali ilmu yang diberikan Allah kepada kita tentang itu.
    Yang kita tahu hanyalah zat pembentuk wadagnya, tanah, api dan cahaya. Betul, ghaib itu tergantung konteksnya. Kalau konteksnya “hanya” tidak bisa ditangkap panca indra kita, banyak sih yang ghaib. Kalau konteksnya alam keberadaannya, maka alam jin termasuk ghaib bagi kita, begitu juga alam malakut. Kalau menyangkut alam dunia dan akhirat, maka alam akhirat adalah ghaib bagi kita. Tergantung cara pandang dan pendefinisian kita saja, yang mana kita anggap ghaib dan yang mana tidak. Yang jelas, yang paling mengetahui yang ghaib adalah Allah. Wallahua’lam.
    Wassalam,

    @
    Wass.Wr.Wb.
    Asyiiik… ini uraian pandang yang tajam dan menarik. Ada banyak hal yang ingin juga saya elaborasi. Namun, sebelumnya, saya ingin komentari catatan terakhir dulu. Ghaib bagi kita, karena Allah mendefinisikan sebagai urusanNya, maka kita jadikan ini pegangan. Menetapkan ghaib sebagai tidak tampak atau tidak dideteksi panca indera adalah penyederhanaan (yang menurut agor sih… terus terang agak salah kaprah). Kalau kita berislam dan kita percaya pada Allah, maka tentu kita pegang saja dengan penuh apa yang Allah sampaikan. Dan kita tidak mengetahui kecuali apa yang diberitakan (berita lho, bukan ilmunya, bukan pengetahuan ghaib). Kalau tidak tampak sih… angin juga ghaib (tidak tampak mata), atom, molekul sampai isteri tetangga yang di sebelah rumah pun menjadi ghaib 😀 . Namun, tentu menyebutkan dengan kontrol pada panca indera (termasuk alat-alat teknologi pendukungnya), tidaklah sesuai dengan definisi yang diberitakan kepada kita.

    Malaikat, yang agor pahami (koreksi ya kalau keliru), sangat berbeda dengan jin. Jin tidak ghaib (contoh, tidak tahu Nabi Sulaeman sudah wafat), sedangkan malaikat memiliki tugas spesifik : mencabut nyawa, menjadi rasul, mengurus urusan dunia, menjaga surga dan neraka, terbang dengan kencang mencapai Arsy, memikul arsy, dlsb mengindikasikan bahwa malaikat termasuk ciptaanNya yang ghaib.

    Bahan penciptaan, manusia dari tanah lempung yang diberi bentuk, kasat mata. Jin dari api. Api hanya muncul sebagai zat transisi materi dan cahaya. Memiliki wujud meski sudah bukan tergolong materi, sedangkan cahaya, unsur materinya tidak jelas dan tidak terukur. Partikel cahaya (foton-foton) secara riil “mungkin” bermassa 1.2 x 10-51 gram. Jelas bahan pembuatnya teramat sangat halus dalam dimensi fisis. Wallahu’alam.

    Suka

  11. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Betul, Gor. Pegangan awal kita adalah apa yang dikatakan Allah “ghaib”, itulah yang ghaib.
    Kemudian, karena kita diberi akal, maka berita yang disampaikan Allah ini menjadi pemicu bagi kita untuk mengetahui, apa sih sebenarnya “yang ghaib” itu?. Ada hal yang bisa kita singkapan dengan izin Allah tetapi ada yang masih belum dibukakan ilmunya kepada kita. Penyingkapannya pun bermacam-macam. Ada yang tersingkap dengan arti kata secara materi memang kita lihat dan kita dengar bahkan kita timbang dan kita ukur dengan menggunakan alat atau peralatan yang kita temukan. Ada juga yang tersingkap dengan merasakan keberadaannya dan melihat jejak perbuatan yang ditinggalkannya, walaupun secara mata kasar bahkan dengan peralatan yang ada pada kita “belum” bisa kita buktikan.
    Ada juga sebagian manusia bisa melihat dengan mata kepalanya suatu yang “dianggap ghaib” atas izin Allaa, seperti malaikat dan jin ( walaupun bukan dalam wujud yang sebenarnya ). Contohnya, Rasulullah dan beberapa sahabat yang dapat melihat Jibril dalam bentuk seorang lelaki dan berdialog dengan rasul tetang rukun Iman, Islam dan Ihsan. Bahkan Rasulullah sendiri pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya ketika menerima wahyu. Bahkan Abu Hurairahpun pernah menangkap Iblis (dalam bentuk laki-laki, ketika mencuri di Baitul Mal yang dijaga Abu Hurairah) dan berdialog dengannya. Dan banyak lagi.
    Hal yang ghaib menurut umum manusia, tapi tidak menjadi ghaib lagi untuk para Nabi dan orang-orang yang dikehendaki Allah.
    Maka tidak heranlah ada istilah “Supranatural” dan “Paranormal”. Hal yang tidak bisa dinalar akal atau akal belum sampai ke sana, maka ghaiblah menurut akal.
    Tapi bagaimanapun juga, saya pribadi merasa bersyukur bahwa panca-indra saya dibatasi oleh Allah untuk melihat hal-hal yang bersifat “ghaib”. Coba bayangkan, kalau dibukakan semua panca indra kita terhadap yang “ghaib”, apa nggak bakalan gila?. Baru mau keluar rumah udah nampak jin, malaikat, gelombang suara, gelombang gambar, gelombang listrik, jeritan orang yang lagi disiksa dikubur, dsb. Repot kan?. Rasulullah sendiri saja keringatan dan ketakutan waktu pertama kali melihat Jibril dalam wujud aslinya, apalagi kita. Mahabesar Allah yang tidak membukakan seluruh yang ghaib kepada kita.
    Gor, ini cuma wacana untuk memberi akal kita masukan, bahwa ada hal yang tidak bisa dan belum bisa bahkan tidak mungkin bisa dicerna dan dipikirkan oleh akal. Supaya jangan sampai kita memper”Tuhan”kan akal dan beranggapan bahwa akal adalah segalanya .
    Wassalam,

    @
    Wass. Mas Raja, pikiran seperti ini yang saya merasa ikut senang… kita menggali, kita mencoba pahami dan hayati, dan kita tidak mempertuhankan akal. Masukan begini memberikan saya daya untuk tidak terjebak dalam postingan yang salah kaprah karena saya suka (ingin) memahami dengan akal apa yang ada di batas akal.
    Tegur sapa antara kita seperti siraman yang menghangatkan hati… Sekali lagi trims Mas… Saya ingin bundel diskusi ini menjadi catatan berharga … 😀

    Suka

  12. Dono said

    Ass.wr.wb,pak Agor.
    Saya ada berita mengenai tsunami yang akan datang di daerah Kalimantan tidak lama lagi dan ada kemungkinan banyak yg tewas.
    jogyakarta tidak lama lagi juga akan mengalami gempa yg hebat dan borobudur akan hancur.
    Saya tidak bermaksud untuk menakuti tetapi memang begitulah adanya.
    Boleh percaya atau tidak tetapi ini adalah amanah sebelum terjadi.
    InsyaAllah Allah akan melindungi kita semua.
    Waspadalah saudara-saudaraku dan banyak mengingat Allah.

    Wassalam,Dono.

    Suka

  13. haniifa said

    Waspadalah…. isyu tak mendasar 😀

    Suka

  14. haniifa said

    Waspadalah… waspadalah…. kayak di tepe 😛
    Wakwekwok, WAK 😀

    Suka

  15. Dono. said

    Ass.wr.wb,pak Agor.
    Saya baru-baru ini berziarah ke pusara keluarga ibu saya.
    Saya awalkan dengan surat al-fatihah dan beberapa surat,kemudian surat yassin.
    Setelah selesai, saya bersihkan seluruhnya pusara tersebut.
    Tiba-tiba hadir mereka semua di hadapan saya dengan mengucapkan assalammualaikum lantas saya balas dengan wallaikum salam, mereka semua banyak berterima kasih atas kunjungan saya dan memesankan bahwa saya ingat selalu kepada Allah dan banyak beribadah dan berikan salam kepada kedua orang tua, lantas saya pulang.

    Wassalam, Dono.

    @
    Mas Dono, Wass. wr.wb…
    Menurut agor, inilah bagian-bagian tersulit dari suatu proses indigo, yaitu orang-orang yang memiliki ESP lebih dari yang lain. Kondisi yang tidak mudah buat saya menjelaskan, karena tidak mengerti sama sekali.
    Apakah yang terjadi itu satu kebenaran ataukah bagian dari “strategi” yang membuat kita akan percaya pada sensor immateri yang kita alami. Apakah itu goresan pengelihatan, ataukah “real” secara tidak kasat mata menjadi “sebuah” kejadian. Apakah ini karena faktor-faktor keshalehan yang kita miliki ataukah ini faktor-faktor usaha dari “pihak” tidak kasat mata agar manusia mempercayai pengelihatannya.
    Kalau sudah percaya?, apakah yang akan terjadi selanjutnya?
    Apakah setiap kejadian yang “dirasakan” atau dialami itu sesuai dengan Al Qur’an?.
    Di sinilah yang menurut agor, kehatian-hatian menjadi penting.
    Pada pengalaman Mas Dono, bagaimanakah AQ menjelaskan tentang alam barzah, adakah terjadi komunikasi antara yang sudah meninggal dengan yang masih hidup di dunia?. Kalau jawabannya ya, bisa berkomunikasi, maka pengalaman itu adalah keniscayaan, kalau itu tidak ada dalam khazanah AQ maka Mas Dono bisa mewaspadai.
    Wassalam, agor.

    Suka

  16. Dono. said

    Ass.wr.wb,pak Agor.
    Beberapa minggu yang lalu saya menjenguk kedua orang tua saya, tiba-tiba di hadapan saya berdiri almarhum ibu dari bapak saya dengan wajah yang sangat pucat dan sengsara.
    Kata almarhum: aku terbuang dan tidak diterima, pintuku tertutup,hanya mereka yang menganut agama islam diterima, lantas katanya, maafkan aku karena tidak pernah mau mendengar nasihat kalian dan tidak pernah mau tau soal islam.
    Memang ibu dari ayahku selalu membanggakan agamanya sehingga dia kafir sampai dia meninggal.

    Sebenarnya sesalan ini tidak berguna lagi.
    Seperti firman Allah S.W.T.: Disisi Allah hanya Islam.

    Wassalam, Dono.

    @
    Mas Dono, Wass. wr.wb…
    Menurut agor, inilah bagian-bagian tersulit dari suatu proses indigo, yaitu orang-orang yang memiliki ESP lebih dari yang lain. Kondisi yang tidak mudah buat saya menjelaskan, karena tidak mengerti sama sekali.
    Apakah yang terjadi itu satu kebenaran ataukah bagian dari “strategi” yang membuat kita akan percaya pada sensor immateri yang kita alami. Apakah itu goresan pengelihatan, ataukah “real” secara tidak kasat mata menjadi “sebuah” kejadian. Apakah ini karena faktor-faktor keshalehan yang kita miliki ataukah ini faktor-faktor usaha dari “pihak” tidak kasat mata agar manusia mempercayai pengelihatannya.
    Kalau sudah percaya?, apakah yang akan terjadi selanjutnya?
    Apakah setiap kejadian yang “dirasakan” atau dialami itu sesuai dengan Al Qur’an?.
    Di sinilah yang menurut agor, kehatian-hatian menjadi penting.
    Pada pengalaman Mas Dono, bagaimanakah AQ menjelaskan tentang alam barzah, adakah terjadi komunikasi antara yang sudah meninggal dengan yang masih hidup di dunia?. Kalau jawabannya ya, bisa berkomunikasi, maka pengalaman itu adalah keniscayaan, kalau itu tidak ada dalam khazanah AQ maka Mas Dono bisa mewaspadai.

    Komentar ini sama dengan pengalaman sejenis di postingan yang lain. Intinya adalah semua informasi yang kita terima dari “sesuatu” sebaiknya kita rujuk pada AQ, kalau tidak ada, maka kita dapat menarik kesimpulan terhadap kejadian itu. Bukan pada keniscayaan kejadian, namun pada perenungan apa dan mengapa?

    Wassalam, agor.

    Suka

  17. haniifa said

    Astagfirullah…
    Sungguh tak terbanyangkan jika “jin” kafir… menampakan menyerupai kedua orang tua kita ?!
    (baca: menutup mata ‘ainul dan haqqul yaqin)

    Wassalam, Haniifa.

    @
    Mas Haniifa ini ada-ada saja. Soal jin kafir atau tidak, apa indikatornya?. Kan kita nggak tahu?. Bisa-bisa saja dia iseng menggoda, bisa juga memberikan petunjuk (lho kok jin memberikan petunjuk), ataukah itu adalah orang tua kita (kan orang meninggal ada di alam barzah?). Kan tidak ada komunikasi antara orang hidup dan orang wafat, maka tidak ada lagi orang yang sudah meninggal bisa memesankan pesan apapun kepada yang masih hidup. Segalanya selesai, final untuk urusan dunia. Tidak lagi ada amal dari yang sudah meninggal,… (kecuali 3 perkara).

    Tapi soal peniruan, kita tahu juga, mereka ahlinya di samping artis sinetron.

    Suka

  18. Dono. said

    Ass.wr.wb,pak Agor,
    Dua minggu yang lalu kami berjalan-jalan sambil berziarah ke deli tua di medan,setibanya kami di sana kami melihat banyak orang memohon pengobatan dan lain-lain.Ada seorang dukun disitu yang mengkomat-kamitkan mulutnya ntah apa dibacanya, saya juga tidak tau, banyak juga muslimin dan muslimat disitu.
    Saya bertanya kepada muslimin dan muslimat yang berada disitu,apakah yang kalian mohonkan disini? sembuh penyakit dan lain-lain saut mereka,lantas kata saya bukankah kalian ini beragama islam? bukankah islam mengajarkan kita untuk memohon kepada Allah S.W.T sahaja.Yang kalian lakukan ini adalah perbuatan syeitan.Pergilah pulang dan mohonlah kesembuhan dan tunduk dan sujudlah kepada Allah.
    Saya katakan kepada dukun tersebut,matikanlah kemenyan tersebut,ini adalah tempat berziarah bukan tempat memanggil syeitan, lantas katanya dengan suara yang sangat sombong di khalayak ramai: ini sudah kebiasan kami dan ini akan tetap kami lakukan, kalau anda tidak menutup mulut anda, anda akan saya rejam sambil memegang pisaunya disebelah kanan dan dihentakkannya kakinya ke bumi sambil memanggil syeitan(terbegu bahasa medan).
    Baiklah kata saya, sambil saya mengalah.
    Kataku dalam hati, kamulah yang akan di rejam.
    Kamipun terus pulang.
    Menjelang seminggu kemudian dia hangus/gosong disambar petir.
    Selesailah urusan dia,penyembah syeitan.
    Wassalam,Dono.
    @
    Kritikal di sini yang kerap tidak disadari, menyembah Allah dan pada saat yang sama menyembah jin, memohon pertolongan jin. Dan manusia tersesat di sini. AQ begitu menjelaskan masalah ini.
    Wass, agor.

    Suka

  19. haniifa said

    Yo.. wes…
    siji: Banyak-banyak lah shalat wajib tepat waktu…
    loro: Jadikan tahajud sebagai ibadah tambahan….
    telu: Jangan lupa bersegeralah jika dipanggil shalat Jum’atan.
    wahh….silahken cari nyang laen-laennyah…..
    (cup..cup jangan nangis yachhh.. dasar anak teka 😀 )

    Suka

  20. Dono. said

    Ass.wr.wb,pak Agor.
    Seperti firman Allah S.W.T mengenai roh sbb:dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh. Katakanlah, ‘roh itu urusan tuhan-Ku (Allah) dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS:al-Israa’:85)

    Di sini Allah S.W.T menjelaskan bahwa hanya sedikit pengetahuan yang Allah berikan mengenai roh kepada manusia bukan sama sekali tidak dan cukup jelas juga dengan firmanNya yang mengatakan bahwa roh itu adalah urusanKu jadi kesimpulannya Allah berkuasa terhadap roh dan memegangnya atau melepaskanya adalah kehendak Allah dan hak Allah semata.
    Ada dua perbedaan petunjuk disini:
    1.petunjuk untuk kesesatan yaitu bagi mereka yang Allah mengetahui memang mereka sesat bertambahlah kesesatan mereka.
    2.petunjuk untuk sebagai rahmat, lebih mendekatkan diri kepadaNYA dan mengakui kebesaranNYA dan takut akan siksaNYA.

    Wassalam,Dono.

    Suka

  21. haniifa said

    @Oom Agor
    Soal jin kafir atau tidak, apa indikatornya?

    Mungkin salah satu indikatornya menggunting… eh… memotong niat baik seseorang kali… 😀

    @
    😀 , kalau professor Jin berhadapan dengan professor Ustad, tentu saja nggak sesederhana ini kan.
    Tapi kalau jin bodo berhadapan dengan manusia congkak, sedikit pujian saja pasti sudah kelelep….

    Suka

  22. haniifa said

    hi.hi.hi. 😀
    Jadi kayak main congklak yachh…
    Padahal lubangnya di postingan … eh JIN ini 😀

    haniifa Berkata:
    Juli 26, 2008 pada 1:46 pm

    Dahulu kala… saya bersimpuh dihadapan
    Kuburan := @Mbah Jambrong and @Ki Jabriq –::Wushh::
    Mata sayah nanar… sesaat kemudian … tercium bau menyengat dua aroma , blasht… tampak bayangan putih “telur” dan nasi putih, setelah kesadaran pulih maka teringatlah diri ini tadi pagi makan sebutir telur… rupanya masuk angin…. wushhh bau kentut sendiri.

    (hi.hi.hi rupanya sayah sedang ngetik ngetok sendiri )

    Hi.hi.hi…
    Siburuk sangka kelelep pujian 😀

    Suka

  23. haniifa said

    @Oom Agor
    ——————————-
    Dono. Berkata:
    Juli 26, 2008 pada 11:28 am ….. No:16
    ——————————-
    haniifa Berkata:
    Juli 26, 2008 pada 1:46 pm ……. Wushhhh hilang 😀
    ——————————–
    haniifa Berkata:
    Juli 26, 2008 pada 1:59 pm

    Astagfirullah…
    ————————— …… No: (hi.hi.hi… 17taoun)

    @
    ah oom Haniifa ini, agor kan udah bilang, sabtu lalu, mau dihapus saja supaya tidak jadi pertentangan yang nggak habis-habisnya. Hari senin saya akan hapus, termasuk komentar saya. Terus Oom bilang nggak keberatan …
    Agor hapus dengan alasan-alasan bahwa syiar yang diharapkan jauh api dari panggang.
    Maklum ya Omm…

    Suka

  24. haniifa said

    Hayooo ana-ana teka
    tu
    wa
    ga

    Potong komen angsa… eh sale … potong bebek… bebek apa yach 😀

    Suka

  25. haniifa said

    @Oom Agor
    Weis-weis… neehhh permen… “Kehendak bebas” 😀

    Suka

  26. madopolo said

    QS 5:49. Banyak dari kita sekarang telah Mengkufurkan akibat Taklid kepada para pendahulu. Kita membenarkan atas penolakan pendahulu keputusan Rasul. Jadi saya sebenarnya ingin bertanya msh VALID kah ayat tsb.?
    SYAITAN bukan MAKHLUK ghaib. Allah dlm FirmanNya Jelas mengatakan bahwa Syaitan itu nyata.
    Mas Agor membawakan ayat:QS 72. Al Jin 26. (Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.
    Ayat ini tdk ada hubungan dg Ciptaan Allah. Yg dimaksudkan adalah PERKARA2 yg Gaib. Saya tdk ingat ayat2 sejinis yg membicarakan mengenai perkara2 yg gaib. Klu mas Agor katagorikan kata gaib jg berarti JIN, maka bgm dg ayat selanjutnya: QS 34. Saba’ 14. Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.
    Klu dikatakan JIN gaib pd QS 72:26 apakah JIN pd QS 34:14 tdk gaib?
    Jd menurut saya yg Allah katakan GAIB bkn MAKHLUK ciptaanNya, tp perkara yg akan terjadi. Wasalam

    Suka

  27. agorsiloku said

    Mas Madopolo, ass.w.w.
    Sepertinya, ada sedikit (kalau nggak banyak juga), maksud dari postingan ini. Mungkin, kalau berkenan lebih jelas ke sini :
    ghaib itu apa sih? (klik linknya)

    Kalau masih keliru juga pemahaman agor, jangan segan koreksi ya.

    Terimakasih lho atas kesudiannya berbagi 😀

    Wasalam, agor

    Suka

  28. madopolo said

    @Agor
    Maaf mas, tdk semua kata2 saya, saya tujukan pd mas Agor. Krn ada dari mereka dlm posting ini yg mengatakan MAKHLUK GAIB, sehingga mas Agor terikut serta. Saya tau bahwa mas Agor tdk sependapat bahwa makhluk gaib adalah PERKARA GAIB seperti pernyataan mas:”.Jadi menurut saya sih, masalah ghaib itu, kita hanya bisa mengimaninya saja. Kita nggak bisa definisikan, karena kita nggak mengenalnya, nggak bisa mengetahuinya, nggak bisa menebak-nebak apa yang ada dalam masalah.
    Saya cuma ingin menjelaskan yg Allah maksudkan dgn GAIB adalah PERKARA dan bkn MAKHLUKNYA. Wasalam

    @
    Ya… betul Mas, agor kira kalau kita tidak membiasakan memahami definisi AQ terhadap term-term yang ada di masyarakat, maka kecenderungan kita akan mengambil definisi yang dipahami oleh pengetahuan sosial. Seperti yang ghaib itu adalah mahluk ghaib. Pengertian-pengertian begitu ditambah dengan kondisi sosial kemasyarakatan kita yang serba mistik maka kebanyakan kita akan mengatakan jin sebagai mahluk ghaib saja. Padahal jelas ghaib itu dalam AQ ada beberapa penjelasan (ayat menjelaskan ayat yang lain, tentang perkara ghaib, mahluk ghaib, barang ghaib, kejadian ghaib — segala hal yang ghaib).
    Dan Allah pesankan untuk tidak mentakwilkan yang tidak ada pengetahuan kita. Hanya Nabi yang diridhaiNya sebagai pengecualian yang mengetahui yang ghaib.

    Jika definisi AQ ini diimani oleh ummat Islam dalam menjalankan kehidupannya. Tentulah tidak ada sinetron Misteri Alam Ghaib, Pertemuan dengan Mahluk Ghaib, dan Rahasia Ilmu Ghaib. –> pernyataan-pernyataan ini, jelas mengingkari ayat AQ yang begitu tegas menjelaskan.

    Kadang, agor bingung, gimana seeh ulama atau kaum cerdik pandai itu. Sudah jelas, bahwa ghaib itu didefinisikan Allah begitu. Tapi, mengapa ya… dengan mendefinisikan menurut bahasa, menurut ini itu, maka definisi AQ sendiri diabaikan.

    Oh ya, perkara ghaib adalah salah satu contoh dari ghaib. Kita tidak tahu sama sekali ghaib itu perkara saja atau bukan, segala yang ghaib milik Allah semata.

    Ini yang agor pahami… kalau keliru, luruskan ya… 🙂

    Suka

  29. hadi arr said

    kedua orang tua saya sudah lama meninggal dunia, sedetik pun mereka tak pernah hadir kembali di sisi saya, tapi mas…. saya bisa melihat mereka saat baca koran di ruang depan, saat mereka ngobrol di ruang tengah atau saat mereka makan bersama kami. Tergantung saya maunya lihat mereka sedang apa, hehehe termasuk penglihatan ghaibkah ini mas.

    @
    Jelas tidak termasuk pengelihatan ghaib, tapi jelas mewakili daya pikir dari emosi yang tersimpan di masa lalu yang tersimpan dalam neuron-neuron atau apalah dalam dir Mas Hadi. Semacam “storage” yang bisa dipanggil untuk diajak berdiskusi…. only in your mind…. 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: