Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tuhan, Siapakah Engkau Yang Menciptakan Kami?

Posted by agorsiloku pada Agustus 6, 2007

Pertanyaan yang aneh… Kok bisa-bisa saja bertanya begitu?”Nggak lah. Jangan berpikir nyleneh dulu dong”

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalu ada dari masa ke masa, bahkan boleh jadi ketika manusia mulai mengerti, memahami, siapa dirinya. Manusia selalu bertanya tentang dirinya : Datang dari mana, dari siapa, bermula dari apa. Apa asal usulnya, dari mana permulaannya… dan tentu saja juga bertanya, mengapa ada dan mengapa dirinya ada.

Manusia berkesadaran

Yang bisa bertanya tentang Engkau dan tentang dirinya sendiri.

Yang menyadari dirinya menjadi bagian dari alam luas ini.

Nabi Ibrahim saja, yang disebut sebagai Bapaknya agama tauhid melakukan proses pencarian untuk sampai kepadaNya. Proses pencarian, mencari dan menemukan jati diri boleh jadi sudah menjadi salah satu ciri mahkluk berkesadaran.

QS 7. Al A’raaf 172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

QS 7. Al A’raaf 173. atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?”

QS 2. Al Baqarah 186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Lha… apakah kita harus juga bertanya dari permulaan lagi. Atau kita perlu yakin dengan pencarian melalui proses seperti Nabi Ibrahim ataukah kita mulai dari petunjukNya (dari agama), atau kita percaya sepenuhnya akal kita untuk meraih kedekatan denganNya?. Ataukah juga, dalam pengenalan itu, kita membuat konsep-konsep baru (?). Saya pikir, lebih afdol rasanya mengenal Allah seperti yang disampaikan Allah melalui kitabNya — Al Qur’an.

Kadang dan sering saya khawatir saya “menciptakan tuhan” dalam persepsi hawa nafsu saya. Bukannya mendekat… malah semakin jauh dalam ketersesatan...

Semoga Allah melimpahkan rahmatNya dan mengampuni hambaNya dari godaan berpikir.

Iklan

12 Tanggapan to “Tuhan, Siapakah Engkau Yang Menciptakan Kami?”

  1. otak dungu saya kadang mengajak untuk menggambarkan wujud Allah Subhanahuwata’ala, apakah itu dosa Mas?

    @
    Siapa dapat menjelaskan wujud dari Tiada Illah selain Allah. Dapatkah kita membayangkan sesuatu yang tidak ada sesuatu yang tersusun atas sesuatu. Apa saja yang kita bayangkan tentang sesuatu wujud maka selalu berada pada bukan itu. Manalah kita dapat membayangkan sesuatu, bahkan ke “alam mimpi” sekalipun, pada sesuatu yang sesuatu itu bukan sesuatu yang tidak ada sesuatu apa pun juga yang membentuknya yang mungkin dirumuskan dalam alam berpikir kita. Segala yang ada di alam ini, apapun juga, bahkan sebutir atom atau bahkan zarah terkecil atau quark terdiri dari sesuatu yang membentuk sesuatu karena sesuatu. Nah sesuatu apa yang tidak ada dalam bayangan kita. Sesuatu yang meliputi segala sesuatu yang diciptakanNya. Yang terbatas (manusia) yang dibangun (diciptakan) dari bahan pembentuk dapat mengenali hanya pada sesuatu yang diciptakan untuk dapat mengenali. Kita hanya bisa mengenali apa yang diciptakanNya tapi kita tidak bisa mendefinisikan Sang Maha Agung yang tak berbatas. Setiap definisi yang disusun akan berujung pada bukan itu. Ini konsekuensi logis dari keesaan.

    Suka

  2. danalingga said

    Tapi tentu saya akan selalu membayangkan Tuhan itu bagaimana bukan? Dan akhirnya muncul ketakutan saya bahwa mungkin selama ini saya telah musyrik

    @
    hmm…mmm saya udah berkunjung ke blog Mas lho, dan juga membaca postingan ini, namun saya tidak atau belum menangkap dengan baik apa yang Mas maksudkan dengan selalu membayangkan Tuhan itu?. Jadi saya belum dapat memberikan komentar.
    Sama juga ketika Mas 49 memberikan catatan komentar tentang wujud tuhan. Apakah dosa atau musyrik?. Saya merasa tidak punya hak dan kompetensi untuk menjawab pertanyaan sesulit itu, jadi yang bisa hanyalah (dan tidak lebih) menguraikan pandangan saja. 😀
    Namun, bagaimanakah Mas selalu membayangkan Tuhan. Apakah manusia dapat membayangkan satu wujud yang “TAK ADA SESUATU APAPUN SETARA DENGAN DIA” (QS Al Ikhlas). Konskuensi dari keesaan. Apapun yang dibayangkan dalam suatu wujud imajinasi maka jelas reposisinya adalah bukan Dia.

    Ketakutan untuk musyrik, adalah petunjukNya tiba kepada Mas 😀

    Suka

  3. sikabayan said

    duh… kabayan mah.. jangankan membayangkan wujud Allah.. membayangkan wujud jin yang asli sajah tidak mampuh… manusia dari tanah… jadinyah model kabayan beginih… jin dari api modelnyah seperti apah atuh yah?…
    Allah Maha Suci.. apah terbuat dari kesucian?.. blug.. suci nyah manusia sajah sulit dibayangkan… sedangkan suci atau Maha suci teh berupa sifat…
    jadinyah kabayan andai2kan teh… membayangkan Allah mah dari semuah sifat2nyah yang serba Maha ituh sajah… sebagai wujud sifatnyah..
    pan kebetulan sifat2nyah yang tidak maha mah sudah turut ditiupkan kedalam diri kita teh… bersamaan dengan ruh…
    kita teh diberi sifat kasih.. butuh objeknyah untuk kita kasih sesuatu.. kita diberi sifat sayang.. butuh objeknyah untuk disayangi… begituh juga seterusnyah dengan sifat2 lainnyah yang serba tidak maha… juga penuh nafsu sebagai pembalikan sifat…
    euh… yah… minimal bisa sedikit2 menghayati wujud rasa.. apah wujud sifat supraxn miniatur ilahiah an.. mungkin..

    @
    Wujud yang tidak ada sesuatu apapun setara dengan Dia… Namanya Surat Al Ikhlas… Kok namanya Ikhlas ya… 😀

    Suka

  4. Mungkin dengan selalu berfikir Bahwasanya DIA lah yang selalu melihat dan mendengar kita…..

    Bisa kah itu menjadi solusi Mas?

    @
    Tentu saja Mas… kita hidup dalam AQUARIUM
    , seperti ikan yang kita bisa amati apa saja tingkah polah ikan itu. Allah membaca dan membolak-balikkan hati. Begitu salah satu ayatnya disampaikan pada manusia.

    Suka

  5. Quantum said

    Agor wrote : Apapun yang dibayangkan dalam suatu wujud imajinasi maka jelas reposisinya adalah bukan Dia.

    Selain ALlah, imajinasi ini jg kadang untuk membayangkan keindahan surga, padahal Rasulullah pernah dalam haditsnya mengutarakan surga sesuatu keindahan yang tidak terbayang terpetik di pikiran manusia, meskipun sering digambarkan di Al Quran mengalir sungai sungai dst.. ini tentu kiasan dari makna sejatinya.

    Dan kenikmatan tertinggi katanya berjumpa dengan Allah, kenikmatannya jauh diatas surga seisinya.

    @
    Tidak ada yang akan dapat berimajinasi Allah. Logika dasarnya adalah Al Ikhlas… tak ada yang setara/menyerupai dengan sesuatu apapun. Jadi, mencoba berpikir ke arah ini tidak memenuhi kriteria :TIDAK ADA SESUATU YANG SETARA…

    Itu seeh yang agor pahami. Luruskan kalau keliru ya 😀

    Suka

  6. Assalamualaikum wr wb,
    Saidina Ali kw berkata: ” Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.”

    @
    Allah memperkenalkan diri kepada ciptaanNya dengan caraNya. Mengenali diri sendiri (dalam arti seluas dan sedalam-dalamnya) sering dirujuk sebagai salah satu upaya mengenal Allah.
    Trims komentarnya yang bernas.

    Suka

  7. sikabayan said

    euh.. mungkin juga yah kabayan teh.. harus ikhlas menerima Allah.. dengan segala ketidak mampuannyah kabayan…
    euh… harus bisa melihat yang tidak terlihat… bisa dirasakan tapinyah tidak dapat membayangkannyah… dan seterusnya.. seterusnyah… set..

    @
    Kalau tak salah (lagi tidak bawa referensi seeh) : Allah akan datangkan satu kaum yang Allah cintai dan mereka juga ridha pada Allah…. (lupa ayatnya)…

    Suka

  8. Quantum said

    betul sekali pak agor, postingan ini tepat sekali menjawab kisah pak Dono juga kapan hari. Tidak ada sesuatu yang menyerupai Dia, baik imajinasi, maupun maujud/berwujud yang ditangkap interpretasi manusia baik dikala sadar/setengah sadar (trans)/tidak sadar, kecuali memang manusia tsb maksum terpelihara (tingkatan Rasul bahkan tingkatan keRasulnya juga yang bukan sembarangan) dan Allah sendiri berkehendak bertemu/membuka hijabNya. Yang Maha Suci hanya bisa bertemu dengan yang disucikan.

    @
    Untuk hal ini, saya berpatokan saja pada (terj. depag):
    QS 42. Asy Syuura 51. Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.


    QS 42. Asy Syuura 51
    . Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (QS. 42:51)


    042.051

    YUSUFALI: It is not fitting for a man that Allah should speak to him except by inspiration, or from behind a veil, or by the sending of a messenger to reveal, with Allah’s permission, what Allah wills: for He is Most High, Most Wise.
    PICKTHAL: And it was not (vouchsafed) to any mortal that Allah should speak to him unless (it be) by revelation or from behind a veil, or (that) He sendeth a messenger to reveal what He will by His leave. Lo! He is Exalted, Wise.
    SHAKIR: And it is not for any mortal that Allah should speak to them, they could not bear to hear and they did not see.

    Yang dapat saya pahami dari ayat ini, tidak ada satupun manusia atau dalam bahasa Inggris “mortal”, mahluk hidup melihat Allah. Termasuk di dalamnya tentu Nabi Musa yang menjadi tak sadarkan diri baru “melihat” tandanya saja…..

    Untuk komentar pada Mas Dono, itu yang tersurat begitu jelas dari ayat… hanya dalam pembahasan banyak pakar, saya lihat sering ditukar-tukar (sengaja atau tidak) sehingga pengertian-pengertian yang diberikan dari Al Qur’an malah “tersamarkan”. Ini mungkin terjadi karena pemaham budaya dan pemahaman dari Al Qur’an… jelas ada benang merahnya.

    Suka

  9. Quantum said

    Nambahin dikit, kalau berdialog saja Iblis juga berdialog/berkomunikasi dengan Allah terutama waktu diusir menentang sujud kepada Adam, Malaikat juga demikian. Saya mau menanyakan barangkali ada yang lebih mengerti, dialog iblis/malaikat kepada Allah tetep tertutup hijabNya kah ? Adakah makhluk diseluruh semesta selain Rasulullah Muhammad bertemu langsung dengan Allah. Kalau Musa as, dalam pendapat saya juga melihat masih belum langsung, meskipun saya pernah lihat terjemahannya langsung . Mohon yang mengerti bahasa Al Quran.

    S U R A T A L – A ‘ R A F
    7:143. Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”.

    @
    Siapa bersedia berkontribusi?. Terimakasih sebelumnya.

    Suka

  10. Dono said

    Ass.wr.wb, pak Agor,
    Alhamdulillah kita dpt bertemu lagi dlm website pak Agor yg sangat menarik ini.Segala pujian hanya hanya hak Allah s.w.t semata.
    Memang kita sebagai manusia boleh dikatakan tidak mungkin melihat wajah Allah s.w.t, krna manusia dlm kejadiannya tidak suci, kita dijadikan dari air kotor yg terpancur dari tulang sulbi ayah kita.
    Kejadian yg saya alami tempo hari adalah suatu pengalaman yg unik dari pencipta alam semesta dan yg diciptakanNya.Apakah kursi berhak memberikan komentar dlm pembentukannya tentu tidak bukan?
    begitu juga dgn saya,saya hanya diberikan kesempatan untuk bertemu dengan yg Menciptakan saya dgn cara yg diiginkanNya, sedangkan saya pada saat itu tidak diperkenankan untuk berbicara cukup hanya menundukkan kepala saya atas penghormatan saya kepada Pencipta alam semesta, teringat saya apabila kita melakukan sholat 5 waktu, begitulah kirannya.SuaraNya begitu merdu shingga saya teringat akan kesalahan2 saya selama ini.Dan saya juga teringat akan nasehat2 yg diberikanNya,sbb,
    -Ingat padaKu (lakukanlah sholat)
    -Sayangi kedua orang tuamu ( teringat saya bahwa surga berada dibawah telapa kaki ibu kita)
    -Hormati sesamamu( kita semua ciptaan Allah s.w.t)
    -Jgn kamu sesat nanti susah untk kembali kejalan yg lurus.
    -Jangan adili perbuatan manusia.
    -Serahkan semua padaku.
    Saya tidak dibenarkan melihat ke atas tapi saya lakukan juga.
    Apa yg saya lihat hanya Pencipta dan yg diciptakan yg mengetahuinya.

    Pengalaman ini bagi saya adalah suatu teguran bahwa kita manusia jgn sekali -kali bersifat angkuh berjalan dimuka bumi Allah ini, karena Allah S.W.T selalu memperhatikan perbuatan manusia seluruhnya.
    InsyaAllah dgn keterangan saya yg singkat ini dapat menjadikan suatu pelajaran bagi kita semua.

    Wassalam,Dono.

    @
    Wass.wr.wb Mas Dono.. lama tak ada catatan dari Mas Dono. Pertemuan seperti pengalaman Mas Dono. Sungguh, saya tidak punya pengetahuan mengenai ini. Mungkin seperti komentar saya kepada Mas Quantum pada postingan ini. 😀

    Suka

  11. aricloud said

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Konsepsi Ketuhanan dalam Islam memang sangat berbeda dengan konsep ketuhanan dalam agama lain. Dalam islam jelas sekali bahwa : “….Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku….”

    Sedangkan dalam agama lain, Tuhan haruslah mampu dilihat secara materi oleh manusia.
    Pemaksaan logika bahwa Tuhan harus mampu dilihat atau diimajinasikan memunculkan ide kreatif Jin dan Syaiton untuk menelusup ke dalam kreativitas manusia juga.

    Sehingga muncullah kreativitas manusia dalam simbolisasi Tuhan, seperti Isa sebagai wakil wujud Tuhan pada agama kristiani, atau matahari pada agama mesir kuno, atau yang lebih ‘kreatif’ lagi berbagai macam bentuk wujud Dewa-Dewa dalam agama Hindu, dan lain sebagainya.

    Imajinasi seperti itu tentu saja tidak lepas dari ide kreatif syaiton.

    @Quantum
    Mas Quantum, izinkan saya memberi pendapat sedikit.
    Saat terjadi dialog antara Allah, Jin dan Malaikat, maka kita samasekali tidak mampu mendefinisikan seperti apa dialog tersebut, apakah dialog langsung saling berhadapan, apakah teleconference, apakah telepati, atau tele-tele lainnya 🙂
    Kalaupun kita coba mendefinisikannya, maka tidak lebih hanya menebak-nebak saja.

    …Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada Engkau dan Aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS 7:143)

    Sedangkan Nabi Musa as, menurut beberapa mufassirin tidak pernah melihat Allah SWT. Allah swt menjanjikan bahwa Musa as dapat melihat-Nya jika gunungnya tidak apa-apa, namun ternyata gunungnya hancur luluh. sehingga Musa tidak pernah mampu melihat-Nya.

    Dalam Islam, Allah itu bahkan lebih dekat daripada urat nadi manusia. Lalu kalau sedekat mengapa tidak mampu dilihat?

    Hal ini karena konsepsi Tuhan dengan ciptaannya sangatlah berbeda. Manusia, sebagai ciptaan Allah selalu terbatas dengan sesuatu yang disebut “materi”. Angin saja, yang sebenarnya masih berupa materi, belum mampu dilihat oleh mata telanjang manusia. Apalagi Sang Pencipta materi tersebut. Ruang dan waktu merupakan ciptaan Allah swt, oleh karena itu mustahil Allah swt terikat oleh ruang dan waktu tersebut. Ruang dan waktu saja belum tuntas dibahas oleh para ilmuan, apalagi Sang Pencipta Ruang dan Waktu?

    Oleh karena itu amat dianjurkan bagi kita bahwa melihat Allah bukanlah dengan mata kepala, namun dengan perasaan, dan bukanlah dengan imajinasi akal, tetapi dengan hati.

    Misalnya, saat kita memandang ke langit dengan lapang, maka kita tidak akan pernah melihat Allah, namun kita akan mampu merasakan kehadiran-Nya, Insya Allah.

    Allahu’alam

    @
    Konsepsi kita terhadap Allah adalah konsepsi yang maha menguasai, maha perkasa, maha berkehendak, maha melihat terhadap ciptaanNya. Konsepsi seorang muslim tentunya bergerak pada wilayah-wilayah yang terpahami dari namaNya, dari kabarNya tetang diriNya.

    Suka

  12. kang deden said

    Assalamu’alaikum wr. wb.

    Ikut ngiringan ah .. Cobalah untuk melihat ciptaan-ciptaannya .. disitu akan tersirat .. bahwa setiap keistimewaan-keistimewaan yang diciptakan oleh NYA .. terkandung makna kebesaran Allah SWT. Feel it .. Like Love .. Every Body Can’t See The Love .. But Want It.

    @
    Wass.wr.wb.

    Apalah kata, selain mengamini 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: