Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Beriman Pada Kitab-Kitab Allah, Semuanya Donk?

Posted by agorsiloku pada Juli 31, 2007

Waktu kecil dulu, selalu diajarkan : beriman pada kitab-kitab Allah. Lalu dengan lancar menghafal : Zabur, Taurat, Injil, Al Qur’an. Kadang sambil setengah dinyanyikan. Maklumlah, lebih mudah menghafal sambil dinyanyikan… 😀

Setelah besar (remaja) saya mulai lebih berpikir… Duh Zabur, apakah itu. Perjanjian Lama (Taurat) gerangan seperti apa? Injil, apakah pula ini?. Dalam perjalanan itu, dengan berbekal pengetahuan masa kecil untuk beriman kepada kitab-kitab Allah, saya membaca jugalah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Taurat dan Injil). Tidak lengkap sih, amat sepotong-potong. Juga, sedikit membaca kitab lainnya, kalau tak salah Wedda. Kalau ada teman bertanya, :Ngapain asyik membaca Kitab Nasrani Gor ?”. Jawab saya simpel saja :”Kan beriman pada kitab-kitab Allah !”. Emangnya ada larangan untuk mempelajari!. Begitulah sedikit argumen yang saya sampaikan.

“Ntar terpengaruh lho!?”

Namun dorongan untuk membaca, sedikit mempelajari saya anggap perlu juga. Ketertarikan adalah manusiawi saja. Beberapa bulan dibutuhkan waktu untuk membaca. Itu kejadian sepuluh tahun yang lalu lebih. Alasan saya untuk membaca adalah :

QS 5. Al Maa’idah 48. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

QS 42. Asy Syuura 14. Dan mereka (ahli kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka. Kalau tidaklah karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka Al-Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu.

QS 4. An Nisaa’ 136. Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Penandaan atau benchmarking, tolok ukur terhadap sesuatu menjadi penting. Karena saya merasa memiliki bench marking itu yang diyakini keterpeliharaannya, maka dengan mencoba memahami Al Maa’idah 48, saya membacanya. Tentu saja hanya karya terjemahan, seperti juga Al Qur’an. Dengan penguasaan bahasa Arab yang minim (sedang bahasa Indonesia saja, bahasa Ibu, masih berlepotan) maka hanya bisa meraba-raba saja. Injil yang asli, tentu saja bahasanya Ibrani, bahasa aslinya.
Dari sini, saya juga merasa, betapa keaslian dalam bahasa asli Al Qur’an adalah salah satu yang begitu penting keterpeliharaaannya.
Dari pengalaman ini, saya merasa penting terlebih dahulu membangun standar keimanan sebelum kita mempelajari lainnya, bahkan termasuk juga khasanah filsafat yang luas dan mendalam, kadang begitu logis dan membumi.
Dari bacaan, tolok ukur Al Qur’an dan penjelasan panjang lebar, saya mungkin bisa lebih memahami yang bergelora dalam masalah keberimanan di jaman yang serba instan ini.  Ada dugaan yang sebelumnya telah berubah pemaknaannya. Saya tidak ingin membahasnya sedikitpun, toh itu telah disampaikan oleh ayat yang menjelaskan tentang apa yang “mereka” perselisihkan. Demikian juga jawaban mengenai %historitas kata-kata Yesus. Saya tidak ingin membahasnya.

Membaca kitab sebelum Al Qur’an tetaplah sebagai suatu usaha mengenali Islam sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi akhir jaman dalam kacamata saya tidaklah keliru (semoga), meski tetap disarankan untuk menyadari sepenuhnya untuk memahami bahwa Al Qur’an adalah batu ujian bagi kitab-kitab yang lainnya.

Iklan

7 Tanggapan to “Beriman Pada Kitab-Kitab Allah, Semuanya Donk?”

  1. Suluh said

    horeee lama tak berkunjung langsung koment nomer satu… asik asik asik!! halah oot banget…

    aku cuma pernah baca dua kitab suci yang tersebut diatas… quran dan injil.. yang lain mah cuma denger doang…

    @
    😀 kesibukan membuat saya juga belum sempat berjalan-jalan di blog Mas yang kerap membuat hati tergetar….

    Suka

  2. MaIDeN said

    Yang dimaksut “kitab yang lain itu” dalam surah QS 5. Al Maa’idah 48 pastilah bukan taurat, zabur, injil) yang sekrang ini kan Pak Agor.

    Karena kitab-kitab (taurat, zabur, injil) yang sekarang ini kita bisa beli dan baca di pasar sudah tidak aseli lagi. Palesu …..

    Jadi, karena kitab-kitab tsb tidak aseli, palesu …. kenapa masih juga dipelajari ?

    @
    Kalau tak salah memahami, kitab yang lain adalah yang selain Al Qur’an. Kitab-kitab sebelumnya, termasuk lembaran-lembaran Zabur, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
    Apakah yang di pasar saat ini aseli atau palesu?. Tentu diketahui dari
    bench marking-nya.

    Kenapa masih juga dipelajari?.
    Bagaimana kita tahu kalau kita tidak melakukan perbandingan?.

    Suka

  3. Bowo said

    Idem dgn Mas Maiden

    @
    Apakah ayatnya menjelaskan begitu?.

    Suka

  4. sikabayan said

    euh… yang jelas2 sekarang terjadimah… memang Al Qur’an adalah batu ujian bagi kitab-kitab yang lainnya. gituh…
    jadinyah banyak sekali yang takut kena koreksi…

    @
    Iya Kang… yang nekad justru sebaliknya… Al Qur’an yang dikoreksi ….. Tanpa komentar lanjutan ah…

    Suka

  5. Saya pernah membaca (lupa tapi, kayaknya hadist), Rasulullah melarang kita membaca lembaran Taurat. (Bener ga ya?)

    @

    Sy juga pernah baca … tapi lupa sumbernya… nggak diingat-ingat.. Hanya yang jelas kita tahu bahwa Taurat diturunkan Allah kepada Bani Israel melalui Nabi Musa, dan itu begitu jelas di Al Qur’an….
    Namun, 10 perintah Tuhan… apakah ada yang aneh?. Al Qur’an malah menyebut berkali-kali dan menjelaskan bagian dari isi Taurat. Jadi, kenapa Nabi melarang (ataukah pendengar atau orang kemudian berbeda pengertian atau paham).
    Karena di Al Qur’an tidak disebutkan… rasanya sih nggak juga ya.. 😀

    Suka

  6. Cukup kita mengimani dan mempelajari kitab Al-Qur’an, karena kitab tersebut paling sempurna dari kitab-kitab sebelumnya. Dan bagaimanapun juga, banyak hal-hal yang belum terungkap di dalam Al-Qur’an serta kajian-kajian dibalik keagungan kitab tersebut. Tidak ada larangan juga mempelajari kitab-kitab suci yang lain, sebagai perbandingan. Dengan mengutamakan perhatian yang lebih kepada Al-Qur’an.

    @
    Kalau mengimani kitab-kitab sebelumnya… ya itu tersurat di Al Qur’an dan Al Qur’an menjadi batu ujian bagi kitab-kitab suci lain. Jadi, menurut pemahaman agor, maaf lho sedikit berbeda. Kata kita cukup mengimani … adalah benar di satu sisi karena memang begitu, tapi kalau memberikan pengertian bahwa kita tidak mengimani kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, rasanya menyelesihi yang disampaikan Allah. Tentu juga antara mempelajari dan mengimani adalah dua hal yang berbeda.

    Suka

  7. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Kita beriman kepada kitab-kitab Allah?. Wajib itu. Kitab yang mana?.
    Kitab-kitab yang dulu, dulu sekali, yang diturunkan Allah sebelum Alquran. Apakah namanya Shuhuf Adam, Shet, Idris, Nuh, Ibrahim,Ismael, Ishaq, Ya’kub, Yusuf, Luth, Hud, Shaleh,Syu’aib, Ayub,Zulkifli, Iyas, Ilyasa’, Yunus, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya,Isa dan shuhuf serta kitab-kitab Nabi/Rasul lainnya sebelum Muhammad SAW, baik yang dijelaskan riwayatnya maupun tidak. Karena Allah sendiri yang mengatakan bahwa tidak ada umat dimuka bumi ini kecuali telah diutus seorang Nabi/Rasul untuk tiap-tiap umat dari kalangan umat itu sendiri. Karena kita percaya, bahwa Allah memang pernah menurunkan kitab-kitab dan shuhuf-shuhuf tsb. Buktinya?. Allah sendiri yang menerangkannya didalam Alquran. Jadi bukan hanya terbatas pada 3 kitab yang terkenal saja seperti Taurat, Zabur dan Injil.
    Apakah kitab-kitab tersebut (kita batasi hanya pada Taurat, Zabur dan Injil, karena kitab-kitab dan shuhuf-shuhuf yang lain sangat sedikit literatur yang bisa kita dapatkan ), selain Alquran, masih ada?. Melihat pada nama, ya. Masih ada Taurat, Zabur/Mazmur dan Injil. Apakah kitab-kitab itu asli atau palsu. Mau dikatakan palsu, sulit. Yang jelas bukan asli, tetapi (menurut para pakar penyelidik kitab-kitab agama) hanya terjemahan dari bahasa Yunani. Apakah yang berbahasa Yunani ini asli. Tidak. Karena yang asli bisa dipastikan berbahasa sesuai dengan bahasa yang dipergunakan oleh Nabi/Rasul yang menerimanya.
    Kalau kita bandingkan dengan Alquran, maka kitab-kitab yang beredar sekarang, yang diklaim sebagai kitab suci, apakah itu Taurat, Zabur/Mazmur maupun Injil, tidak lebih hanya setingkat hadist Nabi ( Ini kata pakar Kristologi). Mari kita lihat apa sebenarnya kitab-kitab tersebut, yang kita kenal dewasa ini sebagai Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terangkum dalam satu kitab yang kita kenal dengan nama The Holy Bible ( Kitab suci Injil ). Kitab ini ditulis (dikarang?) oleh beberapa orang, antara lain Matius (Mathew ) Markus (Mark), Lukas (Luke) dan Johanes (John)ditambah beberapa surat yang dikarang dan ditulis oleh Paulus/Paul ( Saul of Tarsus, seperti Korintus, Surat untuk Orang Galilea, dsb. Siapakah mereka?. Sampai saat ini, pakar-pakar dari kalangan Kristen sendiri masih berselisih pendapat, kecuali mengenai Paulus/Paul, yang menurut kajian dan penelitian mereka adalah salah seorang anggota tentara Romawi, keturunan Yahudi ( bapak Roma, ibu Yahudi )yang pada awalnya adalah penentang Yesus (Isa) yang sangat kejam dan selalu memburu Yesus. Jadi kalau penulisnya saja sudah tidak jelas siapa dan dari mana dan bagaimana riwayat hidupnya, termasuk siapakah pengarang Taurat dan Zabur/Mazmur, maka sudah bisa dipastikan apa yang disampaikannya bisa diragukan kebenarannya (Logikanya ya begitu, walaupun masih ada juga ayat-ayat yang semiliar atau indentik dengan apa yang diterangkan oleh Allah didalam Alquran, sebagai contoh adalah Sepuluh Perintah Tuhan, yang pengertiannya dapat kita temukan didalam beberapa ayat Alquran, termasuk juga kisah-kisah para Nabi terdahulu).
    Perlukah kita mempelajarinya? Perlu tapi tidak harus. Kenapa pada zaman Rasul beliau melarang salah seorang shahabat (kalau tidak salah Saidina Umar ibnu Khattab) membaca/mempelajarinya?. Menurut pendapat saya, karena waktu itu Alquran sudah diturunkan dan hukum yang berlaku adalah hukum yang dibawa Alquran, jadi tidak perlu kita membandingkan dengan apa yang ada pada Taurat atau Injil.
    Jadi kenapa sekarang kita perlu. Karena pada saat-saat dan abad-abad terakhir ini banyak penghujatan terhadap Alquran dan pengkristenan atau pemurtadan oleh missionaris Kristen terhadap umat Islam. Jadi kita perlu mengetahui apa sebenarnya isi kitab-kitab tersebut untuk dipergunakan sebagai counter attack dari aksi kristenisasi tersebut dan penambah pemantaban atas pemahaman terhadap kitab suci kita sendiri.
    Wallahu a’lam.

    @
    Komentar yang mencerahkan. Terimakasih… saya akan postingkan lagi ya Mas untuk melengkapi postingan artikel 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: