Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Recehan untuk Masjid – “Malaikat” kecil

Posted by agorsiloku pada Juli 10, 2007

Di kesempatan kedua, kebetulan sedang ke rumah kakak ipar di Jkt. Kebetulan hari Jum’at. Saya ajak anak kakak ipar yang masih kecil (3 tahunan) untuk bersama sholat Jum’at. Di dompet ada, karena habis perjalanan, hanya ada sekitar 51 ribu an atau mungkin lebih sedikit.

Di dalam mesjid, setelah duduk tak lama kemudian kencleng mesjid bertamu di depanku. Kusisipkan uang seribu ke dalamnya. Satu hal yang tak kutahu, biasanya anak kakak iparku inilah yang memasukkan uang ke kotak amal, bila ia berangkat dengan bapaknya. Ketika si kotak amal akan berlalu di depannya, segera Irsyad, namanya, menolehku dan meminta uang untuk isi kencleng. Saya bilang nggak ada, habis uangnya. Ia tak percaya!. Dan setengah memaksa, meminta bukti dengan menunjukkan dompet.

“Iya deh…. masih ada”. Sambil kutunjukkan dompetku. Ia melihatnya, dan diambilnya uang satu-satunya itu. Kemudian dimasukkannya ke dalam kotak amal itu.

Desiran angin dari luar masjid menyapa kulit wajahku, menelusuri setiap lubang pori-pori kulit tubuhku, menelisik perlahan menembus pada setiap sela daging dan tulang tubuhku. Aku raih badannya, lebih erat disampingku. “Terimakasih, Irsyad”, Seruku dalam hati. “Malaikat” kecil yang mengingatkanku agar tidak melanggar suara hati tentang uang terbesar dan terkecil….. tak perlu tesa dan anti tesa. Semua ada ukurannya, kemana arahnya, dari mana, akan kemana, dan untuk apa. Tak usah takut siapa dan bagaimana akan mendapatkan rejeki dariNya. Janji dalam hati untuk memasukkan uang terbesar dari setiap kehadiran Jum’at diingatkan melalui “malaikat” kecil ini. Ia hadir seolah menjaga sebuah keniscayaan.
Esok harinya, setelah mengikuti kegiatan perusahaan, aku kembali pulang ke Surabaya. Kuselipkan beberapa lembar di dompet. Tas dibahu kucengkram erat-erat karena sisanya ada di sana. Istriku tentu akan gembira membuka amplop sisanya. Tidak ada tesa dan anti tesa tentang uang terkecil dan terbesar. Ia datang dari tempat yang tak terduga…, puji syukur pada Allah Swt.

Iklan

8 Tanggapan to “Recehan untuk Masjid – “Malaikat” kecil”

  1. Duh begitulah… ketika kita kuatkan hati kita untuk berjanji… dan suatu ketika kita lupa, ternyata Allah mengingatkan dengan cara yang tak disangka-sangka…

    @
    bukan lupa sih… waktu itu terpikir… kalau dikasihkan 50 ribu, sisa didompet tinggal berapa…. , mesti ke atm ambil uang… rasa males datang, meski karena itu ada pikiran juga bahwa saya akan tidak menepati “janji” dalam hati…

    Namun, kemudian yang terjadi menjadikan suatu pengalaman spiritual bagi pikiran-pikiran yang melayang antara keinginan untuk “memenuhi hasrat kencleng” dengan keinginan untuk lainnya. Ternyata, semestinya saya tidak boleh ragu situasi begini.

    Suka

  2. kopidangdut said

    kok ya diceritain, Pak…?

    @

    Karena bagi agor… ini kejadian istimewa, sesuatu yang tak terbayangkan, tak terpikirkan tapi bisa terjadi. Sesuatu yang “terpatrikan ke dalam hati”. Apakah ada manfaat bagi pengunjung blog ini : Sangat boleh jadi tidak ada. Jadi, agor sendiri bingung deh… kenapa musti diceritain ya !?

    Suka

  3. sikabayan said

    euh.. kabayan merasakan ini lebih pada ceritera tentang Allah mengingatkan hambanyah… sepereti jam alami yang membangunkan shalat subuh…
    dan bukannyah kepada ceritera keberamalan nyah…
    bahkan kalau Allah mau ambil dengan paksa pun misal kehilangan… kita tiada kemampuan mempertahankannyah…
    Allah memaksa melalui anak2… dan Allah menggantinyah dengan sesuai janji… lebih banyak… Subhanallah..

    @
    subhanallah, diniatinya bukan untuk menunjukkan yg disebutkan akang itu memang, namun seperti yang di”tick mark” sama akan. Namun, persepsi selalu bisa berbeda. Tentunya ini juga bisa kita pahami. 😀

    Suka

  4. NuDe said

    Allah mengingatkan kita dengan berbagai cara yang tak pernah kita duga. Adakalanya, seorang banditpun bisa menjadi jalan bagi kita untuk kembali mengingat-Nya. Bang Agor, ana pindah rumah nih…

    @

    Betul… betapa singa Islam yang dikenal, khalifah Umar sebelumnya di masa sebelum masuk Islam adalah juga sangat keras. Allah memilihNya untuk menjadi salah satu pendamping Nabi. Karenanya, berprasangka yang stigmata… memang harus sebisa mungkin dihindari….

    Suka

  5. minim ilmu said

    TENTANG HARTA:
    sholat gak lulus, ngaji gak lulus, urusan wanita palagi…, masak urusan harta juga gak lulus? NO WAY!
    menghitung zakat sebesar 2.5%? NO WAY! Pelit Namanya! DASAR TUKANG HITUNG HARTA!
    gimana kalo minimal 10% perbulan? .. hmm gak papalah namanya juga baru belajar.
    nunggu sampe kena wajib zakat? NO WAY! ini masalah kebiasaan, gak mungkin ketika sekarang pas-pasan gak sedekah, ketika kaya langsung bersedekah banyak! BELAJAR MAN!

    sering kebetulan: ketika sudah niat untuk bersedekah, tangan baru merogoh kantong di depan pintu sudah berdiri pengemis tua, tentangga belakang rumah sakit dst..

    klo sesekali biasa, tapi klo sering bukan kebetulan lagi namanya
    mungkin setiap orang begini kejadiannya cuman gak nyadar karena sibuk urusan dunia

    lalu saya lihat ada yang rajin ibadah dan rajin pula menabung, untuk pensiun pun dia sudah menabung dari sekarang, sangat hemat nih orang gak kayak gwe yang boros.
    karena pengen belajar gwe tanya dia: koq rajin amat lo nabung? ngapain juga disimpen sampe sebegitunya?
    jawabnya: kita hidup harus hemat donk, diajarin nya di agama kan begitu …. bla bla bla(kurang ebih gitu jawabnya)

    terhenyak gwe … dibikin sadar ama temen sendiri nih
    trus saya cari di Al-Quran tentang menabung (myQuran.com)
    lho.. mana ayat tentang menabung?? lalu cari di Al-Quran tentang menyimpan harta.. weeeewwww….atuuttt..

    pikir2 menurut saya menabung adalah kata kiasan, kata asli nya adalah menyimpan harta. kalau memang menabung itu bener,lalu semua orang rajin menabung, lalu mandek lah ekonomi

    so jangan terlalu disimpan tuh harta, keluarkan sebagian untuk sedekah, jalankan ekonomi, buka usaha bila sanggup, gak sangup usaha ya sedekahkan lagi tuh harta.

    takut riya nulis ginian.. cuman muka gwe kan ga keliatan hehehehe
    ngaco tulisan ya wajar, lha wong baca Quran nya masi sepotong2

    @
    Seperti menjelaskan tentang pemilik blog ini, hanya mengerti seperatus ribu juta milyar dari khazanah tak terbatas…..

    Suka

  6. minim ilmu said

    banyak orang menganggap hal-hal seperti ini sekadar kejadian biasa.. tapi bagi orang yg sadar mau marenung, memang sungguh suatu pelajaran besar..

    bagiku.. beruntungnya kau mendapatkan ilmu dari kejadian tersebut

    @
    Amin

    Suka

  7. Farita said

    Assm tu semua hamba Alloh yang dirahmati.

    Bicara tentang sedekah. SubhanAlloh.takkan pernah habis2nya. Bahkan Rasululloh sendiri….mengutamakan hal ini………kenapa ya begitu berat dari sebagian kita untuk bersedekah????? Mungkin pintu hatinya blum dibukakan Alloh kali ya kasian de lu…..JANGAN PERNAH TAKUT KEKURANGAN HARTA DALAM BERSEDEKAH……..ORANG YANG RAJIN BERSEDEKAH REZEKINYA AKAN ALLOH BUKAKAN DARI SEMUA PINTU MANA AJA.TAPI KALAU KITA DAH SULIT UNTUK BERSEDEKAH. NISCAYA ALLOH HANYA KAN BERI KITA REZEKI SEBATAS YANG KITA USAHAKAN. KENAPA SAYA BERANI BICARA SEPERTI INI.KARENA INSYAALLOH SAYA SUDAH SANGAT MERASAKAN NIKMATNYA BERSEDEKAH……WALAU DENGAN GAJI YANG PAS2PASAN SAYA TAK PERNAH MERASA KEKURANGAN DALAM HAL APAPUN……..ADA AJA REZEKI SAYA……..SATU HAL YANG PERLU KITA TEKANKAN DI HATI.JANGAN PERNAH TAKUT KEKURANGAN HARTA KARENA BERSEDEKAH. DEMI ALLOH JUSTRU DENGAN RAJIN BERSEDEKAH KITA TAKKAN PERNAH MERASA KEKURANGAN PERCAYA DEH……….

    @
    Wass. Rasanya membaca catatan ini, seperti mengusap muka diembun pagi, di tengah keheningan dalam sebuah hiruk pikuk pikiran …… Terimakasih mau berkunjung ke blog ini.

    Suka

  8. […] Ditulis oleh agorsiloku di/pada Juli 10, 2008 Tak dinyana, banyak komentar dilayangkan pada postingan usang tentang betapa kita lalai karena disibukkan dunia dan tugas tak henti-hentinya.  (kita… elu aja kali… gua sih nggak — ikut-ikutan soulmat ).  Tak nyana juga, banyak sekali sentuhan terjadi pada kisah-kisah simpel, seperti pisang goreng yang terjadi dan kepedulian seperti komentar dari Rekan Haniifa, di sini, atau yang lucu dari Ayruel, pada komen No. 120.  Kadang ingatan juga pada peristiwa kecil seperti yang dialami Rekan Haniifa dan banyak rekan lainnya memberi kesan pada perjalanan hidup ini. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: