Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Uang Itu, Memang Bukan Untuk Kita

Posted by agorsiloku pada Juli 3, 2007

Saat itu,  masih dalam ingatanku. Meskipun kami tidak serba kekurangan, tapi tidak juga berkelebihan. Hari itu, kubawa pulang uang 500 ribu. Istriku tentu gembira, ini uang kemenangan arisan di kantor. Sampai di rumah, kusampaikan uang ini, ceria wajahnya. “Tapi tunggu dulu”, sahutku perlahan. “Kalau dalam satu atau dua hari ini tidak ada yang meminta uang ini, berarti memang ini uang untuk kita“.
“Rasanya sudah cukup lama kita tidak jalan-jalan atau sekedar bersenang-senang kecil”, desahku dalam hati.
Esok sorenya, setiba di rumah telepon berdering. Berita dari salah seorang saudara yang mengabarkan “minta bantuan” untuk tambahan kost rumahnya yang besarnya senilai arisan yang kami menangkan.
“Benar kan”, kataku pada isteriku yang menatap datar dan sedikit nanar, antara percaya dan tidak. Kami kemudian merelakannya. Kalau memang uang itu bukan saatnya menjadi milik keluargaku untuk dinikmati, berarti uang yang kami terima itu sedang menempuh perjalanan menuju pemilik yang seharusnya menerima manfaatnya. Mungkin bukan untuk pemilik rumah kost itu, mungkin juga untuk orang yang sesungguhnya berhak menerimanya. Pada setiap perjalanannya, dia memberikan manfaat.

Hari itu, bagi keluarga kecil kami, adalah juga sebuah kebahagiaan…

sebuah kemenangan tanpa kata-kata. Kami tetap menatap hari esok, sama indahnya dengan sebelumnya.

Who Knows….

Iklan

15 Tanggapan to “Uang Itu, Memang Bukan Untuk Kita”

  1. Dimashusna said

    Rizki moal pahili-hili bagja moal paala-ala.
    Hiji kalimah anu dina basa sunda kagungan makna/harti anu jero.
    sapertos kajadian anu pa Agor carioskeun.
    🙂

    @
    Karena kurangnya beramal… pengalaman sedikit ini terasa indah… 😀

    Suka

  2. sikabayan said

    euh… kabayan turut bahagia… mugi2 ini teh ciri2 Allah ridho kang agor jadi distributor..

    @
    amin lagi… semoga…

    Suka

  3. elzach said

    Assalamualaikum Wr Wb

    hm judulnya kurang tepat, karena justru dengan diberikan (disedekahkan) kepada orang lain, maka rizki tersebut menjadi permanen milik kita hingga di akhirat nanti.
    kebanyakan manusia menjaga harta-harta yang tidak dibawanya mati, bahkan harta-harta itu seringkali memberatinya di azab Neraka (yg haram atau halal tapi tidak dizakati) padahal kalau disedekahkan di jalan Allah, maka kelak harta-harta yang disedekahkan itu akan menjaga kita hingga di akhirat nanti.

    Saya pernah baca sabda Rasulullah,
    1. jagalah dirimu dari api neraka walau dengan sebiji kurma
    2. Sedekah/Amal jariyah itu akan menjaga seorang yang sedang sakaratul maut hingga dia mencapai Husnul Khatimah

    Wassalamualaikum wr wb

    @
    Wass Wr.wb Mas Elzach

    Betapa tidak mudahnya menjaga harta, apalagi ketika berkelimpahan…..

    Suka

  4. liliks said

    It’s very good.
    Yang 500 ribu bakal kembali menjadi 5 juta,tapi bukan riba,dlsb.
    so…syaratnya ikhlas donk.
    (sekedar berbagi pengalaman ajha). kmaren saya ninggalin Mak saya 1 juta,katanya baru butuh uang. eeeee……seminggu kemudian, dari kantor koq tiba-tiba ngasih bonus 13x lipatnya karena kinerja perusahaan meningkat. Padahal belum tentu Perusahaan ngasih segitu kalau saja saya nggak ngasih Mak saya.
    Aneh to…..?
    Sering lho kejadian seperti itu.

    @
    Subhanallah… rejeki selalu datang dari tempat dan peristiwa yang tidak kita sangka-sangka.

    Suka

  5. tzoe said

    Om Agor.. .
    pengalaman yang om sampaikan diatas bisa jadi panutan bwt siapa aja yang benar2 bisa mengambil hikmah atas semua kejadian yg kita alami sehari2. kebijakan dalam mengambil sikap perlu kita tanamkan pada diri kita supaya kita bisa memilah-memilh mana yang terbaik bwt kita!.. .
    salam dari saya om agor, maaf klo tanggapan saya kurang mengena karena semata-mata keterbatasan saya, dan lagian saya masih newbie di dunia blog sih,hehe…

    hatur nuhun,

    @
    Salam kembali… hanya sebuah cerita sederhana ketika sedang berjuang di awal menjadi “manusia”…

    Suka

  6. Ibrahim said

    Atau jangan-jangan semua yang ada pada kita, memang bukan milik kita?

    @
    Dan kitapun tidak menjadi milik siapa-siapa kecuali yang menciptakan kita…..

    Suka

  7. Luthfi said

    🙂

    @
    😀

    Suka

  8. Seringkali uang yang kita pegang saat ini, sebenarnya, bila hanya digunakan kesenangan diri, hakekanya bukanlah untuk kita. Uang yang kita pegang adalah benar-benar hak miliki kita manakala bila digunakan untuk hal-hal bermanfaat yang bisa membantu orang lain….

    @
    amin

    Suka

  9. Suluh said

    Wah pengalaman pribadi ya… seru juga 🙂

    @
    Jutaan orang melakukan jauh lebih dari pada yang bisa kita lakukan, namun tak menceritakannya….

    Suka

  10. DK said

    Mas,
    Jadi mengingatkan pengalaman pribadiku sewaktu aku mendapatkan sedikit keuntungan usahaku, tak lebih dari 2 jam ditangan, telepon berdering dari orang tua yang mengabarkan bahwa mereka perlu uang untuk berobat. Sungguh tulisan Mas ini menyadarkan saya untuk menerima segala sesuatu ini dengan sabar ikhlas.
    Wassalam.

    @
    Yang tolong menolong dalam kesabaran…. Demi masa….
    Semoga kita menjadi orang-orang yang hidup di dunia dan tidak merugi 😀

    Suka

  11. danalingga said

    Wah asli ini indah bung. :mrgreen:

    @
    😀

    Suka

  12. salmanzone said

    uang… uang…. uang….
    aku mau uang
    kubawa pulang
    untuk meminang…

    heheh….

    salam kenal..

    @
    🙂 salam kembali.

    Suka

  13. deKing said

    Wah mantap sekali Pak.
    Semoga keikhlasan Pak Agor mendapatkan balasan yang sepantasnya, jauh melebihi nominal 500 ribu.
    Nominal uang memang penting, tetapi keikhlasan dalam memberi jauh lebih penting.
    Saya jadi tertarik dengan prinsip Pak Agor…”menunggu 2 hari”. Semoga saya bisa mengikuti jejak Pak Agor

    @
    Saya juga waktu itu tidak mengerti, mengapa harus menunggu 2 hari… rasanya waktu menerima uang itu… saya merasa harus menyerahkan kepada yang nanti akan datang memintanya….

    Suka

  14. KaiToU said

    wah, om agor klo dapet rejeki, di posting di blog lagi ajah, ntar klo Kai “Pertamax” kan, rejekina bisa dibagi-bagi… ahaha… 😀

    eniwei…, morning, om… 😉

    @
    Ha…ha… ha.. 😀

    Suka

  15. Modjo said

    Hidup bukan saat kau menghembuskan nafasmu,
    Tapi saat kau tarikkan nafas untuk yang lain..
    Hidup bukan saat kau merasakan detak jantung-mu,
    Tapi saat kau bagi dengan yang lain..

    Karna bahagia bukanlah saat aku tersenyum..
    Tapi saat aku membuat yang lain tersenyum..

    Cerita yang inspiratif sekali pak …

    @
    🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: