Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dua Belas Menit Dagelan Moral

Posted by agorsiloku pada Juni 3, 2007

Ada beberapa peristiwa dalam 1-2 minggu  terakhir ini begitu penting.  Tapi, tidak punya kesempatan cukup untuk memikirkan dan menuliskannya. Selain ingatan menerobos kejadian tahun lalu 27 Mei, gempa di Yogyakarta yang masih menyisakan suara duka, korban lumpur Sidoarjo yang sudah mengadu kepada Patung Proklamasi di Jakarta setelah mengadu kepada orang nomor satu di Republik ini hanya menghasilkan “turut berduka cita” saja dengan sedikit penghiburan.  Yang tercepat ditangani Pak SBY tentu saja kasus “perselisihan politik” dengan tokoh bernama Amin Rais.  Pengakuan bersalah Amin Rais dan buka-bukaan tidak menghasilkan apa-apa selain dagelan politik dan dagelan moral bagi bangsa ini.  Dagelan moral inilah yang dipertontonkan begitu indahnya selam 12 menit pertemuan untuk bersama-sama saling mengerti.  Wah… saya tidak membaca dan tidak mengetahui isinya kecuali headline berita saja.  Saya khawatir membaca ini akan membuat saya merasa semakin tidak berdaya lagi sebagai manusia.

Tausyiah tadi pagi, kembali, Bapak tua yang selalu berperan dalam kata dan memberikan perhatian  dan mempertanyakan apa arti hukum di Indonesia ini?.  Ini tanda-tanda “kiamat sudah semakin dekat”.  Waktu beliau menangis karena kasarnya tramtib ibu kota mengusir kaum pedagang papa, juga menunjukkan kemarahan dan kekecewaan ketika tokoh itu hanya menghasilkan dagelan moral. “Sungguh Fatimah…, jika terbukti mencuri…potong tangannya”.  Begitu Sabda sang junjungan, Nabi SAW dalam sebuah hadis. “Ini artinya hukum harus ditegakkan!”.  Begitu Pak Tua yang usianya semakin tua itu.  Kerut wajah yang semakin tua, mata yang semakin lamur semakin tampak ketika beliau tertunduk.  Namun, dari dadanya, saya merasakan getaran kemarahan yang begitu tinggi.  Saya tertunduk malu.

Meteor kepedihannya juga merujuk pada kejadian Pasuruan ketika kematian akibat perebutan tanah antara penduduk pribumi dan militer angkatan laut menghasilkan 4 kematian dan sejumlah luka-luka dari ketidakberdayaan pada kekuasaan.

Saya juga ingat juga ada berita di Kompas, dari Ketua MPR yang memberikan penilaian kurang lebih : “Jangan hukum Amin Rais karena pengakuannya, karena jasa-jasa beliau yang begitu besar buat bangsa ini”.  Entahlah isi lengkapnya, saya begitu segan membacanya.  Namun maknanya sudah tertangkap :”Orang-orang berjasa kepada bangsa ini, kalau jadi maling hendaknya dibebaskan karena jasanya tidak sebanding (ngkali) dengan pencurian atau kesalahan yang dilakukan”

Jadi, jangan bunuh diri seperti menteri di Jepang yang malu mendapat sogokan dari kontraktor.  Ini kejadian pejabat tinggi ke 6 yang mati bunuh diri karena malu korupsi.    Bunuh diri jelas tidak dibenarkan oleh agama, tapi tentu saja membunuh rakyat dalam kemiskinan dan gelimang korupsi juga pembunuhan yang sama terencananya.

Lintasan-lintasan kejadian minggu-minggu ini cukup banyak yang menyakitkan hati.

3 Juni 2007

Iklan

7 Tanggapan to “Dua Belas Menit Dagelan Moral”

  1. Suluh said

    Amien Rais ya? Atau pengen mengemukakan yang lain.. Ah, saya cuma orang kecil.. gak ngerti kayak gituan

    @
    Saya juga tidak mengerti, sungguh… kok hukum menjadi komoditas politik.
    Saya malah merasa harus mulai membiasakan diri untuk menghindari berita dan ucapan tokoh, paling tidak di TV.

    Suka

  2. Evy said

    orang2 itu kok malah dagelan sih, bukannya mikirin rakyatnya, korban gempa masih keleleran di tenda, korban lumpur berjuang sendiri…untuk tetap bisa kerja dan hidup, ah dodol pisan ya… kerja pak…kerja.. jangan ngedagel aja…

    Suka

  3. haniifa said

    @suluh
    “.. Ah, saya cuma orang kecil.. gak ngerti kayak gituan…”

    Cuma orang kecil ???? .. gak ngerti kayak gituan…
    atau :
    Cuma kecil orang ???? .. gak ngerti kayak gituan…
    atau :
    Orang kecil, cuma ??? .. gak ngerti kayak gituan…

    Saya juga sama dengan mas suluh, cuma orang kecil mungkin, cuma kecil orang-nya, kalau gitu saya orang kecil, cuma saya bersyukur sama Allah.
    Sebab kalau diciptakan sebagai “tikus” oleh Allah, terus beranak 10 ??.
    Mau nyari makan aja musti kucing-kucingan sama kucing ?
    Kadang kucing-kucingan sama jebakan manusia ?
    Dapat makanan, tapi udah kelewat busuk (tong sampahnya kehujanan) ?
    Nggak mo cari makan, anak saya kelaparan ?

    Karena saya diciptakan menjadi manusia yang punya akal, sebagai tanda “syukur” kepada Allah.
    Insya Allah, saya bersyukur jadi manusia walaupun kata orang kaya tikus, dari pada saya menjadi “tikus” tapi mirip manusia.

    @evy
    ” …ah dodol pisan ya… kerja pak…kerja.. jangan ngedagel aja… ”
    Apajadinya yach, kalau seluruh APBN di alokasikan untuk pembuatan “dodol” ???
    Woww… kayaknya Indonesia jawaranya exportir dodol !!!
    he..he..he… 4x, saya juga sering ngedagel kok, bahkan seneng dagelan.

    Suka

  4. elzach said

    Assalamu’alaikum wr wb.
    manusia pandai membuat topeng wajah, menyembunyikan niat dan isi hati.
    Tetapi kelak semua isi hati itu akan diadili dengan teliti di akhirat, dan tak ada satu kata hatipun yang tersembunyi dari catatan Allah.
    Dan Allah kelak akan menetapkan hukum dengan seadil-adilnya.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    @
    Wass. Wr. Wb. Kita hidup dalam dunia yang transparan. Hati kitapun transparan bagi Allah. Tak ada yang tersembunyi.

    Suka

  5. deedhoet said

    Kapan pemerintah RI bisa meniru pemerintah Cina pak? Indonesia perlu diperintah orang bertangan besi yang adil. Kira-kira siapa orang yang seperti itu?

    @
    Kapan… kapan ya… bahkan dalam edisi mimpi pun ataupun sinetron, sejarah kita tidak ada usaha serius memberantas korupsi…..

    Suka

  6. Anonim said

    Artikelmu diatas itu ngundang polemik…..klu g tau persis permslahannya gkusah nulis bisa FITNAH……..BLUOOKKK

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: