Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berburu Nemesis

Posted by agorsiloku pada Mei 21, 2007

oleh Judhistira Aria Utama

Tata surya telah mengalami revisi melalui resolusi yang dihasilkan dalam sidang umum Himpunan Astronomi Internasional pada akhir Agustus 2006 di Praha, Cekoslowakia. Perubahan tersebut terkait dengan keputusan ditanggalkannya status planet dari Pluto, status yang disandang satu-satunya “planet” di tata surya yang ditemukan pada abad ke-20 ini sejak tahun 1930 silam. Sekarang, bersama-sama dengan Ceres (dulu dikelompokkan sebagai asteroid), Xena (2003 UB313, objek Kuiper yang berukuran lebih besar daripada Pluto), dan sejumlah objek trans-Neptunian lainnya, Pluto menjalani status barunya sebagai planet kerdil di dalam keluarga Matahari.

Seperti halnya sejarawan yang membagi sejarah manusia ke dalam sejumlah periode berbeda, geolog pun membagi evolusi Bumi ke dalam beberapa periode yang bersesuaian dengan perubahan besar yang dialaminya. Pada tahun 1977, Luiz Alvarez beserta putranya, Walter, menemukan kandungan unsur iridium dalam jumlah yang tidak lazim dalam lapisan Bumi yang menjadi bukti rekaman geologi dari perbatasan periode Kretasius dan Tersier. Iridium, sebuah unsur logam dengan nomor atom 77 dalam tabel periodik, merupakan unsur yang banyak ditemukan di benda-benda luar angkasa seperti komet.

Penemuan kandungan iridium di lapisan perbatasan tersebut dengan konsentrasi mencapai 600 kali lebih kaya daripada lapisan di sekitarnya, menghasilkan dugaan bahwa benda-benda angkasa turut berperan dalam proses tumbuh-kembang Bumi. Berkenaan dengan bukti lain bahwa periode Kretasius menandai akhir dari era kejayaan dinosaurus di muka Bumi, Alvarez dan koleganya menyimpulkan bahwa kepunahan dinosaurus pada 65 juta tahun lalu disebabkan oleh peristiwa katastropik benda-benda luar angkasa. Terdapat setidaknya lima kali peristiwa pemusnahan massal dalam sejarah Bumi. Lantas, apakah setiap peristiwa katastropik yang terjadi tersebut ditimbulkan oleh tumbukan Bumi dengan benda-benda luar angkasa? Bila terbukti benar, bisa dibayangkan betapa besarnya pengaruh luar Bumi dalam proses evolusi yang terjadi.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu dilakukan pencarian bukti-bukti yang dapat menunjukkan bahwa memang pernah terjadi tumbukan tersebut jauh pada masa lampau. Ini bukan pekerjaan yang mudah, bila tidak ingin dikatakan mustahil. Selain harus menemukan kawah-kawah raksasa, geolog juga harus melakukan penanggalan yang akurat untuk mengetahui usia kawah-kawah tersebut. Sejumlah sisa kawah-kawah raksasa telah ditemukan, termasuk taksiran pada periode Bumi mana ia terbentuk, seperti kawah Chicxulub di Meksiko dari perbatasan periode Kretasius-Tersier (65 juta tahun lalu, garis tengah 170 km), kawah Manicouagan di Kanada dari periode Trias-Jura (214 juta tahun lalu, garis tengah 100 km), dan kawah Siljan di Swedia dari masa akhir periode Devon (368 juta tahun lalu, garis tengah 52 km).

Sebuah studi fosil klasifikasi familia yang berasal dari dalam laut oleh David Raup dan Jack Sepkoski pada tahun 1984 menghasilkan data yang dapat digunakan untuk memperoleh taksiran statistik pemusnahan massal yang pernah terjadi di Bumi. Studi statistik atas data yang mereka dapatkan menyarankan hadirnya periodisitas yang signifikan untuk pemusnahan yang terjadi, yaitu setiap selang waktu 26 – 30 juta tahun. Studi lanjutan yang mereka lakukan terhadap fosil dari klasifikasi genus yang diterbitkan pada tahun 1989, secara konsisten menunjukkan kehadiran periodisitas tersebut.

Teori Nemesis

Luiz Alvarez adalah mentor Richard Muller, seorang fisikawan dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Alvarez meminta Muller untuk menjelaskan periodisitas yang muncul dalam pemusnahan massal yang terjadi di dalam sejarah Bumi. Bersama koleganya, Piet Hut dan Marc Davis, Muller mengerjakan rincian gagasan tentang faktor penyebab munculnya argumen pemusnahan yang periodik tersebut.

Dalam teori Muller, Matahari yang menjadi bintang induk di Tata Surya memiliki pasangan sebuah bintang katai merah (red dwarf) dengan massa yang jauh lebih kecil dan kecerlangan yang juga jauh lebih redup dibanding Matahari. Bersama dengan Matahari, bintang pasangan yang dijuluki Nemesis ini (nama dewi pemberi ganjaran dalam mitos Yunani) mengorbit pusat massa sistem Matahari-Nemesis dalam waktu sekira 26 juta tahun, sesuai dengan periodisitas pemusnahan massal di Bumi yang ditemukan Alvarez.

Setiap 26 juta tahun itulah, kehadiran Nemesis mengganggu awan Oort yang diyakini astronom menjadi sarang triliunan komet di tepian Tata Surya sejauh hingga 100.000 AU dari Matahari (1 AU merupakan jarak rata-rata Bumi-Matahari, sebesar 149. 600.000 km). Komet-komet yang terganggu orbitnya tersebut dapat terlempar ke Tata Surya bagian dalam dan beberapa di antaranya telah menghujani Bumi yang menimbulkan pemusnahan massal di planet ini. Selain tumbukannya sendiri, partikel-partikel debu pekat hasil tumbukan yang terlontar sampai ke stratosfer dapat menghalangi masuknya sinar Matahari, sehingga akan terjadi “kegelapan abadi” yang memicu punahnya makhluk hidup di Bumi.

Dengan mengingat bahwa lebih dari 50 persen bintang-bintang di galaksi kita adalah bintang ganda, bukan hal yang aneh bila nantinya dapat dibuktikan bahwa Matahari kita pun memiliki pasangan. Menurut perhitungan yang dilakukan Bhalerao dan Vahia pada tahun 2005, diperoleh massa maksimum Nemesis sebesar 0,042 kali massa Matahari (massa Matahari: 2 x10 pangkat 30 kilogram) atau setara dengan 44 kali massa planet Jupiter. Dengan massa sebesar itu, pusat massa sistem Matahari-Nemesis akan terletak jauh lebih dekat ke Matahari.

Karenanya, jarak rata-rata Nemesis ke pusat massa sistem dapat dianggap sama dengan jarak rata-rata Nemesis ke Matahari. Hukum III Kepler–sudah kita kenal sejak di jenjang sekolah menengah pertama–yang menghubungkan periode orbit dengan jarak rata-rata terhadap pusat massa sistem dapat digunakan untuk memperoleh jarak rata-rata “Bintang Kematian” ini dari Matahari, yakni sejauh 1,4 tahun cahaya atau tiga kali lebih dekat daripada bintang terdekat yang diketahui selama ini, Proxima Centauri, pada jarak 4,3 tahun cahaya.

Dengan kecerlangan berkisar antara 7 – 12 skala magnitudo, tidak diperlukan teleskop yang besar untuk dapat menemukan Nemesis. Masalahnya adalah kita harus memindai bintang-bintang satu demi satu untuk menemukan Nemesis dengan karakteristiknya seperti di atas. Meski sudah dikatalogkan, masih sedikit sekali dari bintang-bintang tersebut yang telah diketahui jaraknya. Diperlukan waktu yang cukup untuk dapat mengenali Nemesis sebagai satu di antara ribuan bintang target yang diamati.

Bersama koleganya, Muller telah memulai pencarian menggunakan teleskop otomatis di Observatorium Leuschner untuk memperoleh potret ribuan bintang target guna mendapatkan informasi besaran paralaksnya. Dari besaran paralaks inilah selanjutnya dapat ditentukan jarak bintang tersebut, apakah memenuhi syarat jarak yang harus dimiliki oleh Nemesis ataukah tidak.

Judhistira Aria Utama

Mahasiswa Pascasarjana Program Pengembangan & Pendidikan Astronomi, FMIPA-ITB. Bergiat dalam popularisasi sains dalam NajmaScience

Iklan

4 Tanggapan to “Berburu Nemesis”

  1. zulfadli said

    Wah ini dia yang dicari-cari.
    Salam kenal pak.
    Minta izin, alamat blog ini mau saya add di blog saya.

    @
    Salam kenal kembali Mas Zulfadi…
    Tentu saja, saya senang blog isinya yang biasa saja dan kadang nyeleneh bisa memberikan arti biar hanya setitik buih di lautan. Jangan ragu, kritik dan luruskan jika keliru.

    Suka

  2. haniifa said

    As Salammu ‘Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
    “Kun (jadilah)” indah nian firman Allah, bagaimana seoran fisikawan terkemuka dapat mengungkapkan dalam bentuk persamaan.
    Kun = Energi Suara
    Malaikat = bahan dasar dari Cahaya.
    Hisab = Perhitungan Allahu Maha Cepat.
    Masa = Jagad raya dan seisinya
    E = M C pangkat 2 jika dibalik Masa = Energi / V Cahaya kwadrat.
    Jelas penciptaan Samawati wal Ardlo adalah begitu saja, seperti tidak terjawabnya teori expansi jagad raya, jika ditarik mundur maka terbentuknyanya jagadraya adalah masa yang tidak terhingga dengan volume Nol. Seperti yang saya utarakan dalam komentar bilangan nol tentang keterbatasan akal manusia dibandingkan dengan ilmu Allah yang meliputi segalga sesuatu. Alhamdulillah sampai saat ini saya tidak percaya adanya teori evolusi, dinosaurus dan terori fiksi ilmiah.
    Jika benar datangnya dari Allah, jika salah saya manusia mohon maaf, mudah mudahan Allah menambah ketaqwaan kita, Amin.

    @
    Wass. Wr. Wb… catatan yang menarik, Kata kun dihubungkan dengan kecepatan proses… saya masih suka berpikir bahwa Kun tidak menjelaskan dari pengertian waktu, tapi menunjukkan informasi kejadian sampai menjadi sempurna. Saya ingin memikirkan lagi deh, tapi saya senang benar dengan catatan ini… ada sesuatu yang menarik yang belum bisa saya pahami dari sini. Kun = energi suara?.

    Wass, agor.

    Suka

  3. Kenalkan, nama saya Tayo Sandono
    Saya dengar penelitian terbaru mengatakan dinosaurus punah karena populasi serangga yang meledak. Bagaimana anda menanggapinya ?

    Terima Kasih

    @
    Wah… pertanyaan yang saya juga tidak tahu jawabnya. Blog ini lebih mewacanakan dan sudut pandangnya dari sisi sesuai tema blog, meskipun banyak tidak tepatnya. Dalam pemahaman saya, saya tidak tahu mengapa dinosaurus dan kawan-kawan seangkatannya bermunculan di jaman sekitar 65 juta tahun yang lalu itu, kemudian musnah. Musnahnya mahluk-mahluk raksasa itu banyak di-hipotesis-kan. Ada yang menduga (dan semuanya memang hanya bisa menduga), oleh meteor yang menimpa bumi, perubahan iklim yang mendadak, gempa dahsyat, kelaparan, dan lain-lain. Tapi kalau oleh populasi serangga yang meledak?, maksudnya serangga memakan makanan dinosaurus sehingga kelaparan ataukah mati digigit serangga?.
    Dalam khasanah keagamaan yang saya bisa mengerti, musnahnya suatu ummat yang dikisahkan oleh AQ adalah karena bencana. Misalnya Kaum Tsamud oleh perubahan iklim. Sedangkan keterlibatan mahluk lain dalam “memusnahkan” ada dalam peperangan (pasukan gajah).
    Jadi, saya kira semua mungkin saja dan memang pertanyaan yang sulit dijawab, mengapa “penguasa bumi” di masa lalu ini lenyap.
    Salam

    Suka

  4. fyan rever filth said

    ass… wr.wb

    apakah benar matahari adalah pasangan dari nemesis? terus apa bedanya dengan bintang? dan benarkah semua cahaya berasal dari panas atau api?
    setan di ciptakan dari api dalam firman Allah, dan malaikat di ciptakan dari nur (cahaya), bagaimana pendapat anda tentang itu? selain itu bagaimana dengan nurAllah ?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: