Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Lomba Pembodohan Generasi Penerus

Posted by agorsiloku pada Mei 18, 2007

Tertarik oleh postingan yang masuk pada hari ini :”Tulisan Teratas dari seputar WordPress.com”, maka tak terasa tangan kanan mengklik judul ini. Tidak keliru, namun juga memang menarik, toh yang membuat juga rekan-rekan stikom.  Dengan kata lain anak-anak muda juga.  Masih masuk generasi penerus.  Artinya, yang muda sedang membodohi yang muda?.  Kriterianya juga cukup jelas : 1) Informasi peserta lomba (profil), 2) Data prestasi yang pernah diraih (kalau ada), 3) Opini, dan 4) Galeri foto pribadi.

Yang kemudian muncul sebagai pemenang kemudian adalah tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan, adalah kekeliruan tim juri ketika memberikan penilaian dan menangkap pesan pelaksana ketika keputusan dilahirkan. Atau kalau mau menuduh tambahan lain, Panitia juga tidak melakukan kontrol kualitas terhadap syarat-syarat terpenuhinya syarat penjurian.  Boleh jadi, ini bukan usaha pembodohan, namun lebih sekedar kesalahan teknis dari pengelolaan sebuah proses belajar dan pembelajaran.

Yang kemudian menarik, ini juga dipahami oleh pemenang yang menyampaikan pesan dan maaf dengan postingan “saya ingin berterimakasih kepada“.  Sebuah kejujuran di negeri ini kerap menjadi barang yang langka, apalagi disampaikan terbuka.  Kita layak memberikan apresiasi atas kejujuran ini.

Kalaupun ada yang kurang, permohonan maaf akan “lebih” sempurna jika juga mengembalikan segala status dan uang yang diperoleh dari sesuatu yang dianggap mengharuskan kita minta maaf.

Namun memang, tidak tertulis di sini bahwa opini pada kriteria yang ditetapkan oleh Panitia harus karya orisinal, opini adalah opini pribadi (pemilik blog), dan juga tidak ada kriteria yang mencantumkan bahwa kopi pais harus mencantumkan sumbernya.  Kalau kopi pais, secara etika memang sebutkan sumbernya, tapi juga tidak ada resiko hukum (kecuali resiko etika normatif) bahwa itu kesalahan.  Saya sendiri termasuk hobi kopi pais dalam blog-blog saya.  Sejauh mungkin saya sebutkan sumber dan linknya, semata sebagai pertanggungjawaban pribadi atas kopi pais blog yang dijadikan rujukan sumber.  Tapi, kalau pemilik blog menyatakan melarang, tentu saya akan cari dari sumber sejenis yang memberikan kemudahan untuk kopi pais juga.  Rasanya juga lebih “tentram” menyebutkan karya orang lain bukan sebagai milik berpikir kita, juga saya tidak perlu merasa menjadi bodoh dan tidak intelek, karena saya mencantumkan sumbernya.

Kriteria karet akan menghasilkan output karet juga.  Banyak penafsiran sering terjadi pada bagian dimana “laba rugi” diperhitungkan.  Etika kadang harus mengabaikan “rugi laba”, tapi lebih pada nilai dan ego.  Pada harga diri.

Pertanyaan terakhir : Kapan kita punya etos kerja yang jujur dari hasil keringat dan kesungguhan untuk menjadi lebih baik dari kemarin?.  Terkenal mungkin penting, tapi lebih penting lagi jujur.

Iklan

13 Tanggapan to “Lomba Pembodohan Generasi Penerus”

  1. iya,, Ma pertama tau masalah ini dari blognya Pandu,,
    tapi,, mungkin yang copy-paste itu ga tau kalo itu ga boleh kayanya,, baru ngeh setelah dibombardir di chatterboxnya,,
    yah,, begitulah,,,

    @
    Masa kopi pais nggak boleh. Menyebutkan sumbernya tentu lebih baik, karena pikiran manusia itukan selalu akumulasi dari pikiran-pikiran sebelumnya, kalau kita mengatakan itu pikiran kita, padahal kita nyontek habis-habisan… kan malu juga. Sebenarnya kita tidak memiliki kompetensinya. Namun, dalam urusan ini, sebenarnya bisa kita bedakan antara pikiran sendiri dan pikiran atau karya orang lain. Setiap karya menjadi resultante positif bagi pencerahan berikutnya. Penyebar ilmu dan “pencipta” ilmu adalah dua hal berbeda.
    Ada memang aturan (tertulis dan tidak tertulis) sampai dimana seseorang mengambil “referensi” dan “referensi dari referensi” atau adaptasi seperlunya. Hanya ketika memberikan keuntungan pada rupiah, kita mungkin secara hati, keberatan juga… kok tidak berbagi.

    Suka

  2. Evy said

    Pak klo kopi pais nya pak Agor khan tujuannya menyebarkan dawah bukannya pengen menang lomba to…hihihi…aku sih ikut lomba balap karung aja…

    @
    😀 dan agor selalu berusaha menyebutkan sumbernya dan juga agar yang mau berkunjung ke blog agor juga bisa klik sumber aslinya. Biar bisa berbagi pengalaman, berbagi pemikiran, berbagi usulan, berbagi senyum juga…..

    Suka

  3. Suluh said

    Hidup copy paste!! Halah!!! Moga aja segera sadar dan disadarkan!!!

    @
    Inilah kemudahan yang diberikan teknologi untuk kita, tapi jangan disalahgunakan juga ya…. eh… disadarkan….

    Suka

  4. ryosaeba said

    maaf ketik ulang, yang di atas quote-nya tidak terlihat:

    Kalau kopi pais, secara etika memang sebutkan sumbernya, tapi juga tidak ada resiko hukum (kecuali resiko etika normatif) bahwa itu kesalahan.

    ini tidak sepenuhnya benar. justru tulisan yang dilindungi oleh CC (creative commons) yang bisa di-copy-paste dengan syarat yang ringan sekali, yaitu menyebutkan sumbernya dan didistribusikan dengan lisensi yang sama (CC), tanpa perlu minta ijin kepada penulis asli.
    tulisan yang dilindungi oleh lisensi lain, bisa lebih ketat peraturannya, seperti harus minta ijin yang jelas atau tertulis dari penulis asli. jadi, periksa dulu tulisan yang akan anda salin itu berada di bawah lisensi apa, dan sudah sangat jelas ada resiko hukumnya, sama seperti misalnya anda meniru lagu karya orang lain dan diaku sebagai karya sendiri.

    @
    Sip… saya nambah tahu tentang ini… saya masih berada di pengertian lebih sederhana. Perkembangan creative common dengan syarat yang ringan itu bagus sekali. Trims infonya. 😀 Untung deh, agor selalu kopi pais sambil sebutkan sumber dan linknya juga; jadi nggak “malu” deh.

    Suka

  5. ryosaeba said

    tambahan, masalah salin menyalin ini sudah masuk ranah hak cipta, jadi akan selalu ada konsekuensi hukum. hak cipta ini beda dengan paten yang mesti didaftarkan terlebih dahulu, hak cipta otomatis diberikan terhadap pemilik hasil karya.

    silakan baca-baca tulisan priyadi mengenai creative commons di indonesia.

    Suka

  6. “Terkenal mungkin penting, tapi lebih penting lagi jujur.”

    Betul sekali pa Agor… saya suka sekali dengan kata-kata itu … 🙂

    @
    Penting bagi sebagian orang, tidak penting bagi sebagian lain. Bahkan sering pula ketidakjujuran menjadi bukti kecerdasan. Orang lebih menghormati yang megah dan licik, ketimbang yang jujur dan bersahaja. Kaya dan jujur saja dikagumi, tapi enggan didekati. Apalagi miskin dan jujur, sepertinya menjadi “tak mungkin”.

    😦

    Suka

  7. kunderemp said

    Kriteria karet akan menghasilkan output karet juga.

    FFI, Blogfest…
    doh…
    Bukankah Ngadutrafik bermasalah juga salah satunya karena kriteria?

    @
    Sepertinya begitu. Selingan dari kehidupan blog dan blogger. Sayang juga ya, kalau manifestasi festival menghalalkan kemenangan. Bukan pada prosesnya. Ini juga yang membuat agor ingin ikutan berkomentar.

    Suka

  8. Yep! Segalanya emang serba kurang jelas. Tapi setidaknya, mereka sudah mengeluarkan hasil penilaian dari para juri disini.

    @
    Mas Pandu, warga blogsphere tahu siapa pemenang sebenarnya. Inilah yang kemudian menjadi lebih penting. Kionghi…kionghi… Uang hadiah sih malah menjadi “rasa malu”. Apakah rasa ini sebanding dengan nilai uangnya?…..

    Suka

  9. aLe said

    yah.. begitulah indonesia.
    buat ‘mereka’ yang penting sih proyek jalan ‘gitu aja’

    @
    yah… begitulah Indonesia.. hu..hu…hu… kenapa !?. Kenapa kita menghalalkan hasil, lebih terhormat dari kejujuran, etika, dan nilai-nilai yang menjadikan kita manusia eh … bangsa seutuhnya. Mengapa kita selalu memaafkan kejahatan kolektif dan mau menerima manfaat sesaat dari kekayaan tanpa mau melihat asal muasalnya. Mengapa kita menjadi bangga dan senang jika bisa bersalamaan dengan pejabat yang super kaya, padahal hati kecil kita tahu, dia sesungguhnya “bangsat”, bagi bangsa ini. Yang membuat aneka cara korupsi yang dibungkus kesalehan kata-kata…. mengapa?.

    Suka

  10. camagenta said

    #ale
    ha ha… jadi inget kalo ada juga yang sama kek ginian. Budaya mroyek… pokoke oleh duek. He he he…

    @
    😀 😛

    Suka

  11. […] lomba-pembodohan-generasi-penerus/ lomba-pembodohan-generasi-penerus/ plagiarisme-pada-lomba.html dengan-copy-paste-dunia-blogtaiment-makin-ramai/ […]

    Suka

  12. madsyair said

    Saya rasa lebih bagus sumber informasi dipakai sebagai bahan tulisan. Sumber diolah dulu. Tapi, saya jg masih suka copy paste.

    @
    Betul, olah dulu (kalau bisa), tapi yang penting dari lomba seperti itu, hendaknya seperti beberapa creative common, mbo ya cantumkan sumber dari mana asal kutipan. Ini penghargaan pada “citarasa” intelektual yang semestinya kita hargai bersama ya…..
    😀

    Suka

  13. haniifa said

    As Salammu ‘Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.
    Saya setuju dengan kode etik penulisan, Khusus untuk komentar saya silahkan di copy paste seluas-luasnya, Insya Allah pemikiran, dan telaah pribadi dari beberapa referensi, baik media cetak maupun electronik. Kalau ada komen yang mirip saya mohon maaf, dan silahkan email ke: rdrubi@rad.net.id

    @
    Wass.Wr.Wb.
    😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: