Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kalau Kebenaran Berhasil Dibuktikan, Apakah Akan Beriman?.

Posted by agorsiloku pada Mei 11, 2007

Saintis atau peneliti atau orang pintar atau super pintar, atau pokoknya orang hebatlah… terus mereka berhasil membuktikan bahwa “segala sesuatu” di alam semesta ini hanya akan ada karena ada yang membuat (baca menciptakan). Lalu apakah mereka akan menjadi beriman?.

Masuk akal nggak : semua mobil di dunia ini tercipta dengan sendirinya?, masuk akal nggak alam semesta ini berevolusi berikut segala isinya diciptakan, dan itu semua tidak punya tujuan apa-apa. Pokoknya sekedar bermutasilah dari sesuatu menjadi sesuatu?. Kalau mobil tercipta dengan sendirinya tidak masuk akal?, bagaimana dengan rumah?, bagaimana dengan beca?, bagaimana dengan pohon beringin, bagaimana dengan monyet, dan akhirnya bagaimana dengan manusia?.

Entahlah bagaimana akan menjawabnya. Makin kompleks kejadiannya sehingga kemudian tak bisa lagi dijelaskan secara empiris, maka apakah akal akan selalu menjawab : Pokoknya, kalau begitu ya harus ada yang menciptakan, tetapi ini tidak berlaku bagi alam semesta, bagi hewan, apalagi bagi manusia.

Apalagi jika masuk ranah tidak kasat mata yang diberitakan Allah seperti malaikat (yang gaib atau ghaib)

Jawabnya sederhana saja : NGGAK. Tidak ada jaminan bahwa “sesuatu” pun bila berhasil dibuktikan atau ditunjukkan kebenarannya maka orang akan percaya pada Allah kemudian menjadi beriman.

Kecuali Allah menghendaki :

QS 6. Al An’aam 111. Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Jadi, hidayahNya juga kita bisa beriman. Usaha untuk memahami atau mengerti tidak akan menjadi pelajaran bagi orang berakal, kecuali — jika dan hanya jika hidayahNya datang kepada kita. Beruntunglah yang mendapatkan hidayahNya.

Allah begitu menegaskan kepada kita, menjadi beriman dan terlindung dari “kesesatan” akal adalah karena juga hidayahNya yang kita terima. Lalu, apakah kita mensyukurinya?

Iklan

18 Tanggapan to “Kalau Kebenaran Berhasil Dibuktikan, Apakah Akan Beriman?.”

  1. Banyak ilmuwan yang masih percaya dengan tuhan masih percaya ada sang pencipta dan masih beriman (bukan atheis atau agnostik). Namun mulai meninggalkan ritual-ritual “agama”. Ya hanya karena mereka tidak percaya agama. Tapi percaya pada tuhan. Mereka kecewa dengan AGAMA bukan dengan TUHAN. Mereka merindukan tuhan dengan cara yang masuk di akal mereka.

    pripun niku ?

    DG

    @
    Iya Pak Dhe, mereka percaya adanya tuhan, ada Sang Pencipta, tapi mereka bukan atheis atau agnostik. Mereka kita sebut deist. Percaya pada Tuhan, tapi mereka tidak percaya bahwa Allah memberikan petunjuk melalui Rasul dan menurunkan wahyu berupa kata-kata yang dipahami oleh manusia. Wahyu tidak masuk dalam hitungan akal manusia. Mereka berpikir dengan segala akal dan kecerdasannya bahwa wahyu adalah ciptaan manusia saja. Yo wis piye toh!, contoh lisan Allah yang dibawa Rasul tak mau didengar !?.

    QS 2. Al Baqarah 26. Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

    Ketika mereka yang “memilih” karena hidayahNya juga mengetahui petunjuk Allah melalui yang dikenal kemudian sebagai bilangan matematika Al Qur’an, :

    QS 74. Al Muddatstsir 31. Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.

    Karena memang tidak ada paksaan dalam beragama. (QS 2. Al Baqarah 256).

    Lalu adakah mereka “merindukan” tuhan dengan cara yang masuk akal mereka?. Tuhan seperti apa?, seperti yang diinginkan mereka?, tuhan yang tidak “memberinya” petunjuk, tuhan seperti yang mereka maui? dan bukan seperti tuhan yang dikehendaki oleh Tuhan. …. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS 4. An Nisaa’ 46). Lalu apakah betul mereka merindukan pertemuan dengan Tuhan?.

    QS 4. An Nisaa’ 155. Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.

    Selebih dan kurangnya, mohon maaf Pak Dhe. Soal apakah mereka itu begitu karena mereka kecewa pada pemeluk-pemeluk agama yang justru tidak menampakkan keagungan Allah pada sikap dan tindakan pemeluknya?, Bisa dilemparkan pertanyaan juga, soalnya mereka juga kecewa pada pemeluk-pemeluk agama yang menjalankan keberagamaannya dengan penuh ridha, sederhana, dan beramal shaleh?. Lalu mereka memilih alasan itu kepada agama. Jadi tuhan seperti apa yang dikehendaki oleh akal ataukah oleh nafsu.

    Suka

  2. ndarualqaz said

    POKOKE IMAN. dan iman terkadang tidak butuh pembuktian. dan jika segala sesuatu butuh pembuktian ilmiah, gak ada habisnya, seperti perasaan manusia, bagaimana pembuktian ilmiah seseorang itu sedang sedih, gembira dll, walaupun ada usaha ke sana tapi sepeertinya tetep sulit

    @
    Yap, pokoke beriman, setelah itu masuk petunjuk berikutnya. Kalau ini saja sudah nggak mau, bagaimana dapat tiket terusane (seperti masuk dufan saja ya!) ono karcis terusane…..

    Membuktikan sedang sedih, gembira, dan lain-lain dari perasaan manusia… rasanya banyak teori psikologinya. Secara statistik juga bisa dipilah, gembira dan sedih karena memang ada ciri-cirinya…. 😦 😀 icon ini kan jelas bedanya… sudah terbukti kan 😛

    Suka

  3. Dimashusna said

    Lha terus supaya ALLOH mau memberi Hidayahnya kepada kita gimana dong pak?

    @
    Subhanallah, pertanyaan Mas seperti dicontohkan Nabi Ibrahim ketika mencari siapa TuhanNya. Begitu tampak rupanya hidayah ada di lingkaran dalam Mas Dimas. Semoga saya juga bisa meniru jejak langkah Mas. 🙂

    Suka

  4. deedhoet said

    “Jawabnya sederhana saja : NGGAK. Tidak ada jaminan bahwa “sesuatu” pun bila berhasil dibuktikan atau ditunjukkan kebenarannya maka orang akan percaya pada Allah kemudian menjadi beriman.
    Kecuali Allah menghendaki”
    ——–

    Idem sama atasnya ogut. Kenapa sih Dia nggak memberikan hidayah kepada paman Nabi, Abu Tholib? Dan saya juga sangat mengharapkan sekali bisa mendapatkan hidayah-Nya yang merasuk jauh ke dalam supaya benar-benar bisa memahami & menjalankan syariat agama dengan benar.. Bagaimana cara mendapatkannya? Sharing pengalaman dong pak..

    @
    Mas deedhoet pertanyaan ini sama dengan pertanyaan di hati yang kerap menelisiki hati. Allah memberikan petunjuk, perlindungan, keamanan, dan kesempatan untuk ciptaanNya melawan juga kehendakNya. Pertanyaan yang sama kadang terbersit mengenai paman Nabi ini. Nabi sendiri, puteranya meninggal, yang tersisa putrinya. Umar bin Khatab dahulunya malah bisa menguburkan putrinya, sebelum hidayah Islam tiba padanya. Beliau seorang pencari kebenaran dan dipilih Allah untuk menjadi pembela garda depan perkembangan agama pilihan Allah. Beberapa Nabi utusanNya dibunuh oleh suku bangsanya sendiri. Sungguh pilihan-pilihan yang Maha Berkehendak tak mungkin rasanya dapat dijangkau oleh akal sehat sekalipun. Segala hal yang kemudian kita tanyakan saja ke Al Qur’an dan Rasulnya yang memberikan penjelasan. Agor juga cuma sedang belajar memahami. Sungguh hanya pengalaman yang tidak punya cukup nilai untuk diuraikan dalam benang kusut kehidupan sendiri dan mencoba biar sedikit ingin menguraikan kekusutan ini.

    Suka

  5. deedhoet said

    “Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”

    —-
    salah ambil quote

    @
    Sesat atau terpimpin selalu dalam garis kehendakNya, berada dalam hukum-hukum yang telah ditetapkan. Manusia memiliki kehendak bebas sepanjang dan selalu berada pada garis ketetapannya. Mudahnya,…. ngkali…. manusia tidak bisa mengubah dirinya menjadi gunung atau semut, biarpun berkehendak. Jadi kehendak manusia selalu berada pada “wilayah” kehendakNya. Petunjuk yang diberikanNya, diberikan menuruti kehendakNya dalam area kebebasan yang diberikanNya. Lalu, manusia bisa menolak atau menerima petunjukNya. Bagaimana dia mau memilih atau tidak, diterimakah hidayahNya atau tidak, tergantung kemauan dan kesanggupannya menerima getaran-getaran illahi…. Subhanallah. Agor juga tidak mengerti.

    Suka

  6. deking said

    Sudahkah saya mendapatkan hidayah?
    Sepertinya sampai saat ini saya masih menjadi muslim turunan (karena orangtua muslim)…
    Saya ingin mendapatkan hidayah supaya saya menjadi seorang muslim yang sebenar2-nya, bagaimanakah caranya?

    @
    🙂 Wah Mas Deking, sepertinya hidayahNya telah tertangkap oleh hati Mas sendiri. Saya juga ingin seperti Mas, menjadi seorang muslim. 🙂

    Suka

  7. abdulsomad said

    Assalamualaikum wr wb.
    Pembuktian Ilmiah tak kan menjadikan manusia beriman, Karomah sekalipun.
    Ketika Rasulullah membelah bulan, kaum KUFFAR QURAISY melihat nyata dengan mata mereka bulan terbelah, tetapi tetap mereka tak mau beriman.

    Manusia beriman karena HIDAYAH, dan HIDAYAH lebih cepat turun di MESJID

    @Deking
    Luangkan waktu lebih banyak buat MESJID, sholat 5 waktu di mesjid, sibukkan diri dengan TAK’LIM.

    @
    Yap, saya kira yang disampaikan oleh Wak Abdul 100% benar. Perbanyak datang ke Masjid. Kalau memang kita tinggal jauh dari mesjid, bahkan jauh pula dari orang-orang shaleh di sekitar kita, jauh juga dari kesibukan ummat Islam, alias kita tinggal di lingkungan yang berbeda dengan harapan yang disampaikan oleh Wak Somad, tentu bukan berarti hidayah tidak akan singgah kan. Bagaimana dengan orang yang tinggal di gurun sahara jauh dari mana-mana atau di kutub utara atau di Eropa yang sedikit mesjidnya?… Namun demikian kesibukan dengan tak’lim dalam beragam cara bisa terjadi. Allah Maha Kuasa dan Maha Pengampun.

    Suka

  8. erander said

    Keyakinan. Itu yang paling menentukan. Apakah itu terbukti atau tidak. Jadi ingat kisah seorang ibu yang tertukar anaknya sekitar 20 tahun yang lalu. Walaupun, sudah diuji dengan uji DNA, sudah diputus oleh Pengadilan, sudah banyak fakta bahwa anak mereka tertukar, tapi sang ibu tetap yakin kalo anaknya itu tidak tertukar. Jadi, walaupun bukti sudah ada, dia tetap aja tidak mau percaya.

    @
    Di sini “mungkin” ada sedikit benang merah perbedaan. Ketika percaya dengan menggunakan akal dan menyadari batas kemampuan akal dan percaya ketika memang harus percaya tanpa pemahaman dan telaah yang cukup, dan harus percaya karena suatu ikatan batin terbentuk dan ibu ini tak sanggup (belum sanggup) menerima perbedaan dari satu keindahan anak yang telah diasuhnya selama 20 tahun, tiba-tiba harus dicampakan oleh suatu fakta yang tidak seharusnya diterima (?).

    Suka

  9. Raffaell said

    Ketika Einstein berhasil menciptakan Bom Atom dan teori relativitas umum, dimana kasarnya kalo kita bisa bergerak secepat cahaya, maka waktu ini akan lebih lambat seper sejuta detiknya……seperti malaikat
    Apakah einstein beriman…. ?
    Tanya ken apa…..

    @
    Enrico Fermi dikenal sebagai Bapak Bom Atom, ia karena juga bantuan Einstein menciptakan bom atom. Lupa lagi juga bagaimana ceritanya :D. Kalau nggak salah ada proyek Manhattan, proyek Chile atau Chicago… (?). Tahun 1938 an sebelum bom pertama diledakkan di Jepang.

    Apakah Einstein beriman?. Tidak tahu juga, tapi sepertinya Einstein menghargai agama.

    Suka

  10. andreas sun said

    Saya jadi inget di salah satu bukunya Yusuf Qardhawi (judulnya saya lupa) yang antara lain menyebutkan hikmah Al Quran sebagai mujizat nabi Muhamad. Disitu dijelaskan bahwa salah satu hikmahnya adalah mujizat tersebut tetap dapat disaksikan oleh generasi setelahnya sebagai tanda kerosulan nabi. Lalu dijelaskan pula analogi: bila ada orang yang mengaku dokter lalu menunjukkan buktinya bahwa dia bisa terbang, ini tentunya nggak nyambung antara klaim dengan buktinya. Kalau ada orang mengaku dokter maka buktinya seharusnya orang-orang yang telah disembuhkan. Demikian juga rosul, kalau dia utusan dari Allah maka buktinya adalah kitab yang berasal dari Allah. Mengenai bukti/mujizat yang lain bukanlah hal yang esensial. (kalimat terakhir adalah tambahan dari saya)
    Jadi kalau saintis itu orang yang mengutamakan kebenaran, terbuka dan bisa menerima bahwa dirinya sendiri bisa salah dalam menganalisis, periksa saja kebenaran Al Quran. Hanya saja mungkin agak susah dan menghabiskan waktu ya Pak. Kendalanya mungkin pertama, bagaimana cara/metode membuktikannya? Kedua, di dunia ini ada banyak kitab suci dan agama, lalu apakah setiap kitab suci itu harus diperiksa satu-satu? Ketiga, mencari agama mana yang benar mungkin TIDAK lebih MENARIK dan TIDAK lebih BERGUNA dibandingkan mengamati/mempelajari sains bagi mereka.
    Ya… semoga Allah merahmati dan memudahkan jalan orang-orang yang mencari kebenaran. Amin

    @
    Kiranya begitu Mas Andreas, kecuali yang kemudian bertanya untuk apa diciptakan, mengapa, dan akan kembali kemana. Ataukah membuat asumsi, dari debu hanya akan menjadi debu kembali dan tidak ada setelahnya.

    Suka

  11. Odi said

    Analogi yang sering dipakai adalah segala sesuatu yang tercipta mesti ada penciptanya. Berikut makna dari penciptaannya.
    Terkait makna, bukankah kadang-kadang kita, manusia, sebagai ‘pencipta’ merekayasa terbentuknya sesuatu tanpa tujuan pasti. Baru setelah berjalan beberapa saat proyek kita menunjukkan kegunaan aplikatifnya.
    Mungkin nggak ya Tuhan menciptakan alam berikut isinya ini seperti itu. Sembari waktu berjalan Tuhan mengamati berbagai ciptaannya. Dulu ada yang pernah bilang model Tuhan ini spt “Blind Watchmaker”

    @
    Manusia memang sering “mencipta” tanpa tujuan

    Kalau alam berikut isinya, Allah berfirman :
    QS 21. Al Anbiyaa’ 16. Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main.

    Jadi, berpikir dan meyakini Allah membuat alam semesta tanpa tujuan adalah pengingkaran terhadap kehendakNya. Begitu saya menyimpulkannya.

    Suka

  12. elzach said

    Assalamualaikum Wr WB
    saya pernah dengar dari suatu kajian, siapa yg berkeinginan untuk beriman dan menuju kebenaran, maka hakikatnya ia sudah beriman, tetapi siapa yg berkeinginan untuk kufur, maka biarpun dia mengaku beriman kepada orang lain, hakikatnya dia sudah kufur (Naudzubillah).
    Iman sendiri adalh Keyakinan sepenuhnya, dan hanya hati yang bisa merasakannya. Dan apa yang diyakini dalam hati, kadang berbeda dengan ucapan lisan.
    demikian karena iman itu dinilai dari hati, dan yg mengetahui isi hati manusia adalah manusia yg bersangkutan dengan Allah, yaitu diri kita sendiri dengan Allah.
    kebetulan pas Jum’atan kemarin, saya denger ceramah jum’at, bahwa Rasulullah bersabda :” Ada yang lebih kutakutkan dari fitnah dajjal, yaitu syrik yg samar, yaitu riya (amal yang dibaguskan karena berharap pujian org lain)” Jika sudah syirik, maka tak ada ampunannya selama dia belum bertaubat sebelum datang kematian.
    artinya iman itu harus didasari ikhlas, karena tanpa ikhlash dalam amal semata karena Allah segala amal kita bahkan iman kita, tidak akan diterima oleh Allah SWT.
    Wassalamualaikum wr wb

    @
    Wass. Wr.wb. Mas ElZach betul, menjadi ikhlas, ingin dikenal dan dipuji, itu yang mudah menjadi ganjalan dalam hidup ini. Sangat agor rasakan. Untuk ikhlas, seharusnya sederhana, tapi selalu ada keinginan untuk dipuji, dibilang pinter, dibilang rajin, dibilang takwa, dibilang shaleh dan suka sedekah. Tangan kiri harus tahu apa yang dilakukan tangan kanan. Singkatnya, riya adalah bagian dari pencarian…. Astagfirullah… alangkah lemahnya manusia. Sebenarnya.Wss.wr.wb.

    Suka

  13. Manusia di dunia ini sedang diuji, beriman atau tidak. Allah sedang memilih mana yang benar-benar beriman. Mereka yang beriman adalah layak untuk menikmati surga.
    Jika kiamat sudah datang atau maut sudah tiba, maka imannya sudah tidak berguna lagi karena sudah terbukti dengan fakta yang jelas nyata. Yang sudah terbukti dengan jelas nyata tidak dapat masuk dalam kategori yang perlu diimani. Kerena yang namanya iman itu belum terbukti secara nyata.
    Ketika Adam di surga, nampaknya belum sempurna menikmati surga, karena Adam masih merasa was-was dengan masa depan, kurang yakin dengan pesan-pesan Allah. Boleh dikata kurang teguh imannya sehingga terjerumus oleh bujukan Iblis memakan buah terlarang.

    @
    Jadi kuncinya, kita musti menyadari kita sedang diuji. Semoga kita bisa lewati sesuai dengan harapan ya Mas….

    Suka

  14. aricloud said

    QS 2. Al Baqarah 26. Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?.” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali “orang-orang yang fasik”.
    Mas Agor, yang disesatkan oleh Allah adalah orang-orang fasik. Artinya Allah juga mempunyai alasan dalam memberi hidayah maupun menyesatkan seseorang.
    Bisakah mas agor dalam suatu kesempatan membuka diskusi tentang definisi “orang fasik” sehingga layak disesatkan oleh Allah SWT, sehingga dengan memahaminya kita bisa berupaya menjauhi kefasikan.

    @
    Mas Ari, banyak juga ya kata fasik dalam ayat al Qur’an. Salah satunya :
    QS 3. Ali ‘Imran Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

    QS 5. Al Maa’idah 47 Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik

    Pada kejap lain, mari kita diskusikan mengenai orang fasik (semoga kita terhindar dari hal ini, amin) dan petunjuk dan disesatkan untuk sebab yang sama. Fasik dari kedua ayat itu, yang dapat agor pahami adalah : Berpaling setelah kebenaran dipahami.

    Suka

  15. haniifa said

    Maaf saya kurang mengerti maksud saudara “ARGOSILOKU” mengenai kalimat ini:
    ” Entahlah bagaimana akan menjawabnya. Makin kompleks kejadiannya sehingga kemudian tak bisa lagi dijelaskan secara empiris, maka apakah akal akan selalu menjawab : Pokoknya, kalau begitu ya harus ada yang menciptakan, tetapi ini tidak berlaku bagi alam semesta, bagi hewan, apalagi bagi manusia. ”
    Kalimat dibawah ini cukup memerahkan telinga saya :
    “Pokoknya, kalau begitu ya harus ada yang menciptakan, tetapi ini tidak berlaku bagi alam semesta, bagi hewan, apalagi bagi manusia.”
    Kalimat pengecualian untuk alam semesta, hewan dan manusia tidak ada penciptanya begitukah !? Kalau yang dimaksud memang begitu. silahkan pembaca yang lain simpulkan sendiri. Silahkan baca kitab kami nomor surat 109.
    Kalau yang dimaksud adalah penjelasan empiris penciptaan alam, hewan dan manusia.
    Tolong jelaskan secara empiris juga bagaimana membuat miniatur mobil menjadi skala 1/1000 kalinya. Bisakah manusia membuat busi mobil, radio, ac dll dengan fungsi yang sama dalam ukuran mili meter saja ?????. Sebab Penciptaku membuat miniatur anak LOBSTER sama persis dengan LOBSTER dewasa secara empiris, mungkin dengan skala lebih dari 1/10000.
    Kalau bicara akal, coba jelaskan mengenai anggota himpunan nol {0} dengan anggota himpunan kosong {}.(saya bukan ahli matematika).
    Jelas :
    Himpunan nol atau {0} beranggota 1 yaitu bilangan nol. semua sepakat saya kira.
    Himpunan kosong {} tidak mempunyai anggota sama sekali, karena tidak ada bilangan
    Gaib atau Ghaib jika diumpamakan dalam ilmu matematika seperti himpunan nol seperti keimanan kita kepada hal hal yang tak tampak, aneh bin ajaib manusia percaya kepada bilangan nol (0) tetapi tidak percaya kepada hal hal yang gaib. Mungkin sejak SD s/d PT kita tidak pernah lulus kalau tidak mau percaya kepada bilangan nol.
    Gaib itu nol jika kita mencoba mencari ujudnya, cukup di imani saja, pokoke percaya saja ada penciptanya, alias Allah Pencita Segala Sesuatu.
    Saya heran kok ada kaum sufi, tasauf atau yang lain kok merasa sudah bersatu dengan Sang Pencipta, biasa dengan kalimat seperti menyatu dengan samudra yang maha luas. Huh… Bagaimana mungkin kita tahu, coba baca Al Iklas (112:4).
    Secara akal kita kenal komputer karena pernah melihat objec komputer.
    Kita di ruangan tamu misalnya mendengar suara kapal terbang, tentu kita kenal karena kita sudah mengenal, melihat, mendengar object kapal terbang.
    Bagaimana mungkin kita bertemu Sang Pencipta tapi belum mengenal Objecnya. Kalau dipaksakan, silahkan cari kisah Nabi Musa a.s di kitab kami.
    Orang yang percaya anggota himpunan bilangan nol atau {0} adalah satu, tentu akan disebut mengerti, tahu, paham matematika walaupun bukan sarjana matematika.
    Orang yang menyamakan jumlah anggota himpunan bilangan nol dengan anggota himpunan kosong adalah sama ??????????????????????
    Coba lihat dengan tulisan ini sja sudah terbukti.
    {0} = {}
    jumlah karaketer {0} secara simbol = { + 0 + } = 3 karakter (huruf).
    Jumlah karakter {} secara simbol = { + } = 2 karakter (huruf).
    Nabi Muhammad s.a.w sangat jujur, umatnya akan mengerti atau tidak mengerti kenapa surat Al Baqarah diawali dengan huruf Alif-Lam-Min. Itu semaua disampaikan tampa harus dipertimbangkan oleh beliau, dengan kata lain apapun bentuknya “YA POKOKE BEGITUUU”.
    Kalau benar datang dari Allah, kalau salah saya mohon maaf. mudah mudahan anda dan saya lebih teliti dalam menulis sesuatu.
    @
    “Entahlah bagaimana akan menjawabnya. Makin kompleks kejadiannya sehingga kemudian tak bisa lagi dijelaskan secara empiris, maka apakah akal akan selalu menjawab : Pokoknya, kalau begitu ya harus ada yang menciptakan, tetapi ini tidak berlaku bagi alam semesta, bagi hewan, apalagi bagi manusia.”

    –>
    Banyak sekali orang pintar, super pintar, orang-orang luar biasa akan mengatakan segala sesuatu diciptakan. Jadi nggak bisa ada mobil, tapi tidak ada yang menciptakan. Tapi ketika bicara di tingkat alam semesta, hewan, dan manusia menutupkan hatinya untuk tidak ada itu penciptaan. Begitu bicara alam semesta, akan dikatakan, pokoknya alam semesta terjadi dengan sendirinya (bahkan tanpa tujuan).l Pokoknya begituu. Begitu juga hewan dan apalagi manusia, semakin ditolak adanya penciptaan. Jadi meskipun akal mereka akan menerima adanya penciptaan, hati mereka akan menolak penciptaan. Dengan kata lain, seperti judul pada postingan. Siapakah yang demikian itu. Agor tidak menegasinya, saya hanya ingin merenungkan bahwa pembuktian apapun juga, seperti kata ayat yang dirujuk, sama sekali tidak akan menjadikan beriman. HidayahNya juga yang membuat keputusan seorang manusia akan beriman. Bukan karena pembuktian itu. Bukankah hal ini sudah berkali-kali terjadi dalam peristiwa sejarah masa lalu dan sekarang pun…..
    Kondisi-kondisi ini ada dalam ranah pembahasan deis, atheis, dan theis.
    Jadi, memang kalimat itu tidak salah. Bahwa saya tidak menegasi “blak-blakan” karena pertimbangan bukan “mengajarkan”, tapi saling bertukar pemahaman. Kalau Mas renungkan di sekitar kita, kita menjumpai banyak contoh seperti ini.

    Suka

  16. Jika jin menampakkan diri kepada mereka, apakah mereka akan percaya bahwa itu malaikat?
    Padahal mereka belum pernah melihat malaikat sebelumnya, dan tidak mengetahui ciri-cirinya dan tidak dapat membedakan antara jin dan malaikat.
    Kelemahan manusia tidak memiliki pengetahuan sebagai titik acuan untuk mengetahui hal-hal yang gaib yang belum pernah diketahuinya. Seperti halnya pernah terjadi pada Nabi Adam dalam keraguan menghadapi godaan di Surga.
    Umumnya manusia memiliki acuan bahwa segala sesuatu pasti ada yang menciptakannya. Pernyataan ini adalah berlaku di alam semesta dan tidak berlaku bagi Pencipta alam semesta. Allah tidak diciptakan, tidak berawal dan tidak berakhir (jika mau dibayangkan kedalam bahasa matematika, berawal dan berakhir pada garis persamaan lingkaran dengan R bilangan tak hingga dan dengan koordinat titik pusat lingkaran X=Y=bilangan tak hingga. Ini mungkin, karena saya juga engga punya pengetahuan titik acuannya).
    Kalau dalam Surat An-Nur, Cahaya Allah itu ibarat cahaya diatas cahaya. Tidak pernah padam.

    @

    Jika jin menampakkan diri kepada mereka, apakah mereka akan percaya bahwa itu malaikat?

    Pernyataan ini sangat penting, pembeda sangat penting, pembisikan kebaikan dan kesamaran kebaikan yang dibisikkan….
    Saya tidak punya pengetahuan tentang hal ini… tapi di kesempatan lain saya ingin elaborasi. Beberapa artikel agak lama ada pembahasan kecil, tapi pertanyaan seperti ini belum…

    Suka

  17. haniifa said

    @Dedi Ganedi
    Saya kagum akan daya nalar anda terhadap asmaulhusna, (terima kasih menambah wawasan saya). Disisi lain saya ada kecewa dengan statemen anda pada :
    ” … dapat membedakan antara jin dan malaikat …”, karena saya tidak ragu sedikitpun membedakan antara keduanya walaupun sampai saat ini saya belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri. Coba kita analogikan sbb:
    Menara A terbuat dari pasir pantai.
    Menara B terbuat dari logam.
    Selanjutnya kedua menara tersebut dibungkus oleh kain dan bentuk sama (gaib), sehingga kita hanya tahu bahan dasar pembuatannya saja.
    Bisakah anda tentukan kekuatan menara manakah yang lebih kuat, berdasarkan bahan pembuatannya, walaupun anda tidak pernah melihat, membuat kedua menara tsb ??
    Kalau anda bisa dan yakin Alhamdulillah berarti kita sama, dengan cara berfikir yang sama coba kita bandingkan proses bahan dasar Penciptaan Manusia, Syaithan dan Malaikat oleh Allah Sang Maha Pencipta, tentu dengan daya nalar dan pengetahuan yang kita punya (maaf saya bukan meremehkan).
    Sifat kedinamisan bahan dasarnya. Seandainya kita buat level sbb:
    Tampak Diam = 0
    Tampak bergerak-gerak dan kasat mata = 1
    Bergerak sangat cepat sekali = 2
    Penciptaan Manusia = Bahan dasar Tanah atau level 0
    Penciptaan Syaithon = Bahan dasar Api atau level 1
    Penciptaan Malaikat = Bahan dasar Cahaya atau level 2
    Jelas kenapa iblis sombong tehadap manusia ?
    Apa pendapat anda kalau kira-kira ada perintah : “Hai iblis sujudlah kepada Malaikat ? ”
    Saya tidak perlu filsuf baik dulu maupun yang moderng, begitu juga saya tidak perlu mendapat gelar kesarjaanaan, pesatren …dsb., yang saya hanya perlukan adalah Al Qur’an sebagai petunjuk hidup.
    Sebagai orang timur, saya sangat kecewa dengan kata kata “Awas ada setan ?”, kenapa musti takut pada setan ???, sementara kepada pencipta setan ???.
    Saya jadi geli kalau mengingat di Barat ada Dracula, Vamvir, Zombie sementara di kita ada Leak, Kuntilanak, Sundel Bolong ????.
    Kok bisa beda ya setan-nya ??
    Coba kita baca Surat An Naas terutama ayat ke 5.
    Kembali ke soal menara:
    Jika kita membedakan dari ketidak tampakan (bentuk) tentu kita tidak akan pernah bisa membandingkannya, tetapi jika kita bedakan berdasarkan bahan dasar (sesuai dengan textbook ?) atau pengetahuan yang ada, pasti kita dapat membedakannya, begitu juga pengenalan kita terhadap yang gaib, tergantung presfektif kita.
    Kalau benar datang dari Allah, kalau salah maafkan saya. Amin

    @
    Antara setan, syetan, syaithon, jin, iblis saya pernah postingkan ketika saya ingin menelaah definisinya di sini.

    Mengenai penampakan jin dan malaikat… ini terus terang saya juga bingung (belum ada penjelasan yang saya dapat di al Qur’an). “Mungkin” dirasakan dari apa yang dibisikkan pada hati. Tapi bisikkan kan bukan penampakan?.

    Dalam tausyiah kemarin di mesjid dekat rumah, tapi saya tidak hapal hadisnya, kira-kira saya mendapatkan dua point :
    Malaikat tidak akan mendekati “yang membuka baju”. Wanita itu membuka bajunya, kemudian bertanya apakah masih melihatnya. Jawabnya tidak. “Kalau begitu benar”, dia malaikat.

    Dalam ayat Al Qur’an ditebarkan petunjuk bahwa Nabi melihat dapat melihat malaikat, termasuk dalam wujud yang sebenarnya. Banyak hadis menjelaskan ke arah sana. Dalam ragam cerita keagamaan malaikat muncul dalam bentuk-bentuk yang dipahami manusia…..

    Saya tebalkan kata penampakan.

    Sedang pengetahuan tentang bahan dasar jin dan malaikat berbeda. Satu dari api (bahan transformasi energi). Secara fisik ada, tapi juga tidak bisa diklasifikasikan, dan api hanya ada dalam satu kondisi tertentu. Sedangkan cahaya, bentuk foton energi yang tidak bisa dilihat kecuali jejaknya ketika foton menimpa objek sehingga objeknya menjadi tampak.

    Dari sudut ayat al Qur’an…. ya… kita sedikitnya bisa memahami kriteria ghaib. Jin tidak disebutkan dalam kriteria ghaib di al Qur’an, meski dari sudut pemahaman bahasa tidak tampak.

    Suka

  18. @Haniifa
    Terima kasih.
    Banyak pimpinan dari beberapa aliran/sekte agama yang mengaku telah bertemu dengan malaikat dan memperoleh wahyu/wangsit dari padanya. Saya meragukan sekali, bahwa mereka telah bertemu malaikat. Bagaimana mereka begitu yakin bahwa yang ditemuinya adalah malaikat. Jadi memang membutuhkan pengetahuan untuk membedakan mana jin dan mana malaikat.
    Apabila malaikat berubah wujud berupa manusia, maka tidak ada yang bisa membedakannya kecuali nabi. Ini pernah terjadi pada zaman Nabi Luth a.s. dan juga pada zaman Nabi Muhammad saw.
    Menurut Alquran, malaikat dalam wujud aslinya memiliki beberapa pasang sayap. Namun, seperti apa bentuk sayapnya?. Saya meragukan bahwa sayapnya seperti sayap burung sebagaimana pernah digambarkan pada beberapa lukisan/film yang menganggap bahwa sayap berfungsi untuk terbang.

    @
    Mas Dedi betul, banyak yang “mengaku” menerima wangsit… ini tidak bisa diklarifikasi. Kita ikuti saja kan petunjukNya yang memisahkan yang hak dan yang batil, pelajaran bagi orang yang berakal.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: