Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pilih Agama Apa Saja : Silahkan, Asalkan Jangan Islam

Posted by agorsiloku pada Mei 4, 2007

Ini “kuliah” minggu pagi kemarin yang diselenggarakan majelis taklim mesjid kampungku di bilangan LA (Lenteng Agung). Usai shubuh berjamaah, sejenak tausyiah lalu kembali lagi jam 6.30 untuk mendengarkan pengajian bulanan. Yah, lumayanlah sekedar untuk melepas penat dari “urusan” dunia yang tak kunjung habis. Masa sih, dikasih waktu 24 jam sehari, 8 jam dipakai tidur, 12 jam dipakai kerja, 3 jam dipakai ngobrol dan makan dengan teman dan keluarga, lalu sisa satu jam, masih ogah juga dipakai untuk merenung dan bersyukur kepada yang Maha Menciptakan.

Penceramah minggu pagi ini, Mr. Syafii Antonio adalah seorang doktor, muda dan cerdas. Kalimat Arab dan Indonesia diselingi Inggris yang fasih dan wajah yang ganteng melengkapi kemampuan seorang ustad muda dan intelek. Jauh dari kesan “kolot” dan “tradisional”. Wajah, biarpun berjenggot tapi bisa ditebak asal – usilnya. Namun, toh ini tak penting dibahas. Semua kan sama saja, yang membedakan “kualitas” takwanya. Dan, kita tidak tahu ini, bahkan pelakunya sendiri bisa tidak tahu (nngg..kali ya!)

Sebelum masuk pada tema pengajian, beliau bercerita sedikit tentang diri dan keluarganya. Singkat saja, hanya bercerita 3-4 menit. Begini beliau kira-kira bercerita :

Bahwa keluarganya menganut hukum kebebasan yang bertanggung jawab. Jarang ada keluarga yang memiliki dan mengijinkan kebebasan untuk memilih hal-hal krusial dari hidup seorang anak oleh orang tuanya. Sang orang tua berkata kurang lebih begini :

“Nio, ente boleh pindah agama. Sakarepmulah. Mau jadi Kristen, silahkan. Mau jadi Budha, silahkan saja. Bahkan kalau ente anggap atheis pun baik, silahkan saja!?”.

“Hanya satu pesanku”, kata orang tuanya serius.

“Jangan masuk Islam”. Ayahnya Antonio adalah seorang pendeta Khonghucu.

“Kenapa?”

Sang Ayah melihat Islam itu kolot, miskin, tradisional, dan penganutnya banyak yang tidak bisa menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar. Bayangkan, sandal di mushola pun dicuri?. Islam dinodai oleh kebodohan dan penodaan oleh ummatnya sendiri.

Hal inilah yang boleh jadi sang Pendeta Khonghucu yang menjadi ayah bagi Antonio, seorang Islam yang ramah dan shaleh serta ahli perbankan ini menjelaskan tentang keluarganya.

Bagian ini, saya rasakan menjadi bagian penting dari ceramahnya pagi ini. Kisah beliau, menjadi bagian penting yang menyadarkan saya, betapa ummat di mata ummat lainnya malah terpersepsi buruk. Cahaya Al Qur’an dipayungi oleh kebodohan dan kemiskinan ummatnya. Energi untuk shaleh tertutupi, karena mencuri sandal saja bagi sebagian anggota agama Islam dianggap biasa, sedang bagi tatanan publik ini menunjukkan “kekurangadaban”.

Dapatkah kita menangkap hal ini sebagai “harga jual” sebuah ummat untuk melakukan introspeksi jika ingin meningkatkan daya siar cahaya Illahi. Tidak saja kepada masyarakat luar, terlebih dalam lingkaran dalam.

pls deh….

Iklan

36 Tanggapan to “Pilih Agama Apa Saja : Silahkan, Asalkan Jangan Islam”

  1. Raffaell said

    Huaaa, Kalok aku pikir pikir ya mas…
    ==Bahwa keluarganya menganut hukum kebebasan yang bertanggung jawab.==

    Ini belum lah di jalankan semestinya, ya belom bebas soale….karna ada “kecuali” kekeke bukan kah yang namanya bebas tu ya “BEBAS” ya ngga…

    Orang tua nya aja yang lucu, hehehe

    @
    He..he..he… orang tuanya “mungkin lucu”, juga luar biasa memberikan kebebasan. Namun sebagai orang tua, beliau berpikir bagaimanapun anaknya jangan masuk dalam lingkungan terbelakang dan bodoh. Mungkin seperti itu pandangannya terhadap kemungkinan pilihan anaknya.. Namun, hidayah pada anaknya juga ternyata luar biasa, bukan hanya masuk pada “tradisi bodoh dan terbelakang itu”, bahkan juga bisa mengajak orang tuanya (ibunya) untuk mengikuti jejak langkahnya. Sebuah keluarga dengan pilihan “yang banyak” pada agama, membutuhkan banyak kelapangan dada.

    Suka

  2. superkecil said

    no comment
    abot bang!!!

    @
    😀
    biar no komen, tapi terimakasih ya mo berkunjung dan tinggalkan jejak

    Suka

  3. deedhoet said

    Orang yang agamanya kuat sering kali adlah orang yang sudah mengkomparasi banyak agama dalam hidupnya. Pak agor punya link tentang ini nggak?

    @
    saya tidak punya. Tapi pernah link ke sini. Masalah kesamaan/perbedaan antar agama banyak dibahas dalam “perbandingan agama”. Pembahasan seperti ini banyak sekali, khususnya yang berkait dengan agama samawi. Meskipun saya juga membaca juga Injil dan Taurat, pernah juga membaca Weda, namun secara serius membaca ya hanya Al Qur’an.

    Suka

  4. KaiToU said

    “Masa sih, dikasih waktu 24 jam sehari, 8 jam dipakai tidur, 12 jam dipakai kerja, 3 jam dipakai ngobrol dan makan dengan teman dan keluarga, lalu sisa satu jam, masih ogah juga dipakai untuk merenung dan bersyukur kepada yang Maha Menciptakan.”

    merenungna lewat blogna om agor…, ehehe… 😛

    @
    Mas KaiToU ini ada-ada saja, namun bagaimanapun senang bila ada manfaatnya, biarpun hanya setitik dari butiran hikmah.

    Suka

  5. Dimas said

    Alhamdulillah, bagus mas artikelnya. Saya salah satu orang yang bersyukur bisa kenal dengan pak Antonio. Beliau adalah salah satu Mutiara Islam yang menerangi kita semua. Saya banyak belajar dari beliau terutama mengenai hubungan antara Islam dan ekonomi. Ekonomi bisa menjadi salah satu jalan menuju Allah, karena dengannya kita bisa membantu orang lain, mendirikan rumah sakit, sekolah-sekolah, dan hal-hal lainnya yang bermanfaat untuk manusia. Betapa Indahnya

    “Islam itu kolot, miskin, tradisional, dan penganutnya banyak yang tidak bisa menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar”
    Aduh…maaf ya Allah saya belum bisa mengikuti ajakanMu dengan baik dan benar. Anugrahi kami semua dengan Cahaya KearifanMu agar kami bisa belajar dalam mengenal diri kami. Amin

    @
    Betul, satu mutiara Islam yang menerangi kita semua, khususnya di bidang ekonomi. Mudah-mudahan gerak kemajuan Islam di Indonesia ikut tercerahkan. Amin

    Suka

  6. deking said

    penganutnya banyak yang tidak bisa menjalankan ajaran agamanya dengan baik dan benar

    Mungkin benar tetapi mungkin juga tidak…
    Sepertinya banyak orang Islam yang bukan penganut Islam, mungkin orang2 inilah yang membuat sang bapak tsb berpandangan buruk ttg Islam.
    Seperti kita tahu di negara kita kan semua WN “wajib” punya agama, ya setidaknya supaya bagian “agama” di kartu identitas (KTP) tidak kosong.
    Mengingat negara kita dulu mempunyai WN yg beragama Islam maka tentu saja mereka “mewariskan” agama mereka pada anak2 mereka.
    Nah..pewarisan yang hanya sebatas status, bukan nilai itulah yang menjadi korosi bagi Islam. Pelan tapi pasti Islam tergerogoti oleh korosi itu, setidaknya tergerogoti oleh pandangan negatif umat lain gara2 melihat kelakuan oang Islam sendiri

    @
    Di sinilah selalu ada harapan agar ummat terbesar di Indonesia, bukan menjadi bagian yang berkontribusi besar dalam memelihara korupsi bangsa ini. Juga dalam berislam ria.

    Suka

  7. Amd said

    Semua kan sama saja, yang membedakan “kualitas” takwanya. Dan, kita tidak tahu ini, bahkan pelakunya sendiri bisa tidak tahu (nngg..kali ya!)

    Entah kenapa, saya paling suka kalimat yang ini….

    @
    Betul Mas AMD, saya juga suka menuliskannya. Rasanya ini adalah bagian dari lubuk hati saya antara ingin dikenal dan menghindari keangkuhan. Mengklaim kebenaran, memastikan bahwa “sayalah” yang paling t***a, terjamin masuk s***a menjadikan harapan dan takut seolah sirna. Kemenangan seolah di depan mata. Fatamorgana !. Kita boleh jadi berpikir positif, tapi jangan menjadi tidak asertif. Kita percaya kemahapengampunan yang luas dan seperti kata hadis, rahmatNya mengalahkan murkaNya, tapi berjalan tegak di permukaan bola bumi yang terhampar luas ini menjadi keniscayaan yang bisa semakin sulit. Apalagi sesuatu, yang nanti, bukan karena takwa kita yang membuat masuk surga, tapi pengampunanNya, safaat dari Rasul yang karena ijinNya, maka Insya Allah diijinkan kita berada di tempat harapan kita.

    Suka

  8. madsyair said

    Sandal di mushola dicuri?

    Masalahnya waktu ceramah, ustadz berpesan, ambil yang baik,tinggalkan yang jelek. Waktu itu sedang ngantuk. Waktu pulang, melihat sandal bagus,ya dipakai 😀

    Kadang kita sendiri yang membuat citra Islam buruk di mata luar, apalagi ditambahi propaganda negara yang sok kuasa 😦

    Suka

  9. […] Telanjang […]

    Suka

  10. kurtubi said

    Kurang adil pula menyalahkan orangtua Pak Antonio.
    kemungkinan pula, benar apa salah, citra jelek itu terbentuk karena memang ulah orang2 islamnya sendiri.

    @
    Kalau orang tua Antonio sudah Islam (fakta seorang pendeta Konghucu), lalu menyampaikan hal yang sama Misal :”anakku, terserah kamu deh, mo masuk atau nyari agama lain terserah ente aje?”. Bagaimana kita akan mengomentari orang tua Antonio?.
    Namun, lepas dari itu, betul kata seorang rekan, Alhamdulillah, Allah memberikan salah satu hambaNya untuk menegakkan kalimatNya. Bahkan datang dari satu tempat yang memiliki latar belakang hikmah pelajaran besar yang bisa kita ambil.

    Suka

  11. Suluh said

    lah wajar aja lah komentar kayak gitu… tuh menurut saya… bukan dari kalangan islam juga.. trus islam tuh mayoritas gitu loch.. perilakunya juga jadi sangat beragam… jadi… gak tahu deh saya… ngelantur aja… ;yang penting koment!!!

    @
    perilaku sangat beragam… memang sih… sebaiknya (dan memang seharusnya) ada selalu warna dasar yang mencerminkan “rahmat bagi alam semesta”. Tapi kok kayaknya di sini hanya pada sebagian saja (kecil saja)… Yah… nggak tahu juga… yang pentingkan berbalas komen. Namun didatangi suluh, sudah menjadi penerang sendiri.

    Suka

  12. ABDI_SUKMA said

    Kayaknya cukup aneh ucapan ortu ustad tadi…..
    meskipun saya adalah non islam tapi saya tidak setuju dengan pemikiran ortu ustad, dengan berkata demikian sudah dapat dilihat bahwa cara pandang orang tua ustad sangatlah sempit….
    sebagai orang tua tidak seharusnya berkata demikian…
    sebagai orang tua seharusnya mengarahkan anak kemana arah yang benar….
    memang kebebasan itu boleh diterapkan kepada anak dalam hal memilih agama akan tetapi ortu si ustad lebih baik memberikan gambaran gambaran beberapa agama ….
    jangan menyudutkan salah satu agama…
    demikian kurang lebihnya mohon ma’af

    @
    Kalau saya malah sebaliknya Mas, saya bisa memahami pemikiran ortu ustad itu. Merupakan satu koreksi bagi kami, karena pandangan dari pihak ketiga adalah persepsi yang tidak bisa dipaksakan. Pasti dia punya pembenaran terhadap hal ini. Saya tuliskan dan pahami, untuk introspeksi bagi kami ini. Itu tidak menyudutkan agama, tapi kami harusnya belajar dari pandangan ini.

    Suka

  13. biarpun berjenggot tapi bisa ditebak asal – usilnya. Namun, toh ini tak penting dibahas. Semua kan sama saja, yang membedakan “kualitas” takwanya.

    Haiks, Shan-in belum punya jenggot…
    Benar, semua sama!

    Pola pikir ayahnya memang bisa diterima jika kita melihat fakta di lapangan. Untuk seorang pendeta konfusius, (di mana ajaran kehidupan banyak dipakai) pola pikir itu wajar kok. ^^

    Tapi orang tua Shan-in tidak dilarang-larang seperti itu dulunya. 😛

    @
    Saya jenggotnya selalu dicukur…habis ngrintil… jadi lucu kalau dipanjangkan…. 😀

    Suka

  14. Dimashusna said

    1.Islam sebagai kebenaran
    2.Islam sebagai Identitas

    Kebanyakan manusia melakukan yang nomor 2, termasuk saya. Memang sebuah koreksi. Masih banyak terjadi split personality.

    Suka

  15. muhammad ihsan tawakkal said

    waaah….gerah juga ane…islam dikatain kolot, miskin,tradisional dan lain-lain
    maaf yaa mas…islam itu agama yang ngajak umatnya (baca:manusia) pinteeeeeeerrrrr…alasannya simple aja, liat tuh surah Al-‘Alaq, nggak perlu semua, satu aja ane rasa cukup buat direnungi sampe mati juga nggak bakalan selesai-selesai yaitu : IQRA, yang artinya BACA.
    Adakah orang pintar yang nggak bisa BACA ?????????? (ini untuk ukuran sekolah formal)
    Ada juga orang yang nggak sekolah PINTAR…kenapa ??? karena yang dia baca bukan BUKU mas, tapi DIRInya…yang dia BACA bukan lembaran kertas, tapi ALAM SEMESTA….
    Siapapun yang mau “MEMBACA DIRINYA dan ALAM SEMESTA”….insyaALLAH dia lebih pintar dari Profesor manapun didunia ini…karena “Barang siapa mengenal dirinya dia akan mengenal segalanya, barang siapa membaca diri dan alam semesta dia hanya bisa diammmmm…..dan diammmm
    mengagumi PENCIPTAnya.

    @
    Saya sulit membayangkan kesabaran yang dimiliki Ust. Syafii ketika melakukan pilihan dan menegasi hal ini kepada keluarga Beliau, bahkan sampai ibunya mengikuti jejaknya. Ketika mendengar kisahnya, maka petuah tentang ekonomi Islam malah meskipun aduhai, tetap lebih saja yang berkesan adalah cerpen beliau dalam kilasan hidupnya.

    Suka

  16. muhammad ihsan tawakkal said

    terus terang mas…saya bangga punya ustad seperti ustad Syafii antonio…seorang hamba Allah yang ganteng, lembut bertutur kata…pintar lagi. walaupun saya tidak mengenal beliau secara pribadi (cuma kenal lewat tv aja), rasanya saya mengenal lebih dari yang saya bayangkan….jika saja saya di posisi beliau saat itu…wah, mungkin saya ngikut juga kata ortunya…namun alhamdulillah…Allah menjadikan beliau memang sebagai hambaNya yang mendapat petunjuk…
    kalau boleh mas… bisa nggak kasih saya alamat e-mail beliau, mudah-mudahan saya kecipratan hidayah Allah…maklum mas, saya juga masih dalam proses mencari hidayah.

    @
    Mohon maaf, saya juga tidak punya alamat email beliau. Mungkin melalui http://www.mualaf.com/ dapat dihubungi.

    Suka

  17. Dono said

    Ass.wr.wb,pak Agor.

    Ngomong2 soal agama, beberapa hari yg lalu saya bertamu ke seorang pendeta beragama kristen. Beliau banyak memberikan pertanyaan kepada saya soal islam, tapi pertanyaannya tidak saya berikan jawaban, karena saya dilarang keras untuk menjawabnya,oleh karena dia jemu tidak mendapat jawaban dari saya, dia mulai mengejek saya demikian pak Agor :
    AGAMA YG KAMU MILIKI ITU TIDAK BAIK!

    Saya katakan kepada beliau, oleh karena saya tidak boleh menjawab pertanyaan anda, saya akan berikan anda jawaban yg tepat, coba anda pandang saya dan lihat mata saya, anda akan melihat kebenaran agama saya.Pada saat beliau menatap saya, beliau jatuh tertidur.
    Keesokannya beliau bertanya kepada saya, apa yg telah terjadi padanya, saya tertawa dan menjawabnya, syeitan telah menguji saya.

    Kursi Allah s.w.t sangat luas meliputi langit dan bumi,dan Allah s.w.t tiada merasa berat untuk memelihara keduanya,Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar, pak Agor.

    Wassalam,Dono.

    @
    Wass Wr.Wb. Mas Dono… sudah lama saya tak jumpa lisan dari Mas Dono. Pengalaman indah. Subhanallah. Semoga kebaikan selalu menyertai Mas Dono. Saya tidak bisa berkomentar atas catatannya lebih dari ini.

    Suka

  18. akhi_dawam said

    Ass, wr wb
    Salam kenal dari saya, maaf saya numpang coment, bagus artikelnya, gak cuman yang ini kok semua bagus hanya saya belum sempat kasih coment ke yang lain. Pak Antonio saya pernah lihat lewat layar kaca, bagus memang orangnya, saya kagum waktu beliau ngasih ilmu cara mendidik anak, semoga saya bisa ketemu langsung dengan beliau. Amiin. dan untuk Pak Agor saya bisa minta biodata antum, kirim ke email saya ya, Syukron.
    Wass wr wb
    @
    Wass. Wr. Wb Mas Dawam. Salam kenal kembali. Terimakasih sudi berkunjung. email saya agorsiloku7@gmail.com. Terimakasih pula kesediaannya memberikan komentar. Biodata Agor,… walah agor tidak memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan. Hanya butiran pasir di samudra pasir (tag about). Semua sama. Wass wr.wb.

    Suka

  19. Odi said

    “Bahwa keluarganya menganut hukum kebebasan yang bertanggung jawab.” Pernyataan yang menarik.
    Bung Agor, kira-kira pak Antonio Syafii juga memberikan pilihan yang sama pada anak-anaknya nggak ya ? Mohon maaf saya belum mengikuti tausyiah beliau terkait hal tsb. Terima kasih atas penjelasannya

    @
    Saya tidak tahu, karena saya tidak mengenal beliau secara pribadi. Namun, kalau saya tidak salah pemahaman dalam agama : Agama bukan paksaan, anak bagaimana orang tua mengarahkannya akan jadi apa?. Setelah anaknya dewasa, apakah ia kemudian beriman atau ingkar, Allah juga yang memberikan pilihan baginya. Karena itu, kita berusaha tentu, agar anak kita tidak keluar dari kebebasannya menjadi kebebasan yang ingkar kepadaNya…..

    Suka

  20. Anonim said

    segala puji bagi alllah sesungguhnya agama yang hanya diridhai adalah islam jangan mencari agama selain islam

    @
    Amin

    Suka

  21. SIALAN TUH MALING SENDAL…
    BIKIN RUSAK CITRAX ISLAM AJA..
    SIALAN….
    AWAS AJA KLO KTEMU..!!!!
    HE..HE..

    @
    Kata teman yang hidup di desa, sandal ke Masjid adalah milik bersama. Siapapun boleh bawa dan pakai ke rumahnya… berganti-ganti… ini sudah menjadi tradisi kekeluargaan. Entahlah, saya tidak pernah hidup dalam keheningan dan kearifan desa. Jadi saya tak tahu. Namun, di kota besar, metropolis, mengambil sendal dan memakainya, tidak dikembalikan lagi ke mesjid apalagi jika pemiliknya tidak mau merelakan, tentu namanya “mencuri”.

    Tradisi di desa, tidak sama dengan tradisi di kota.

    Mencari dengan pembenaran : … ambilah yang baik, buang yang buruk…. sungguh aneh ya… kok bisa-bisanya berdalih begitu. Menjadi begitu biasa. Dan bagi orang lain, ini luar biasa janggal. Sedih juga ya, kita gagal membedakan, meski hanya urusan sandal, bahkan sandal jepit yang harganya hanya seupil saja…..

    Suka

  22. B Ali said

    Pertanyaan: Apakah Islam agama teroris?
    Jawaban: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10, 25 atau bahkan 1000? Dalam hal ini, wanita tidak lagi dianggap sebagai manusia, tapi sebagai benda terhitung dalam satuan, bijian, 2, 3, 4 atau berapa saja. Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak (wahyu Tuhan), maka umat muslim hanya menurutinya saja tanpa menggunakan nalar.

    Sedangkan, tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi Al-Qur’an betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung Al-Qur’an itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

    Saat ini, banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Disamping itu, pemuka muslim atau siapa saja yang coba-coba memberi tafsiran yang lebih manusiawi tentang Al-Qur’an pasti mendapatkan ancaman terhadap keselamatan fisiknya.

    Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

    @
    Mas B.Ali… maaf ya.. kalau bisa, jangan deh postingkan komentar yang isinya sama kemudian hanya mengganti kata/kalimat terakhirnya saja. Maaf, yang sebelumnya saya hapus postingan yang sama. Saya mempertimbangkan kenyamanan pembaca yang lain, yang tentu saja punya hak yang sama untuk berkomentar sesuai tema. Saya sangat berharap komentar postingan melengkapi topik pada postingan. Nanti, boleh juga sih saya buat postingan berjudul : Islam agama teroris. Mungkin akan ramai komentarnya kemudian saling menghujat, saling menyalahkan, saling membenci, dan berusaha menjadi ajang kebencian sepanjang masa, memecah belah manusia menjadi saling bunuh atas nama apa saja. Entah karena minyak, industri senjata, kekuasaan atau usaha-usaha agar manusia semakin jauh dari apa yang disebut sebagai “pencipta”. Saya jadi ingat diceritakan teman tentang Nabi yang dilempari kotoran atau apa deh, lalu beliau berujar :”… sungguh mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. Saya juga ingat kembali cerita tentang bencinya seorang pengemis buta pada Nabi (klik). Ah betapa sulitnya meniru seorang junjungan yang menjadi Al Qur’an berjalan. Dari padanya, kami berharap menjadi manusia yang diridhaiNya. Masih terlalu jauh, sangat jauh.

    Jadi, kalau mas melihat usaha ini sebagai sia-sia… ya itulah sebuah pandangan. Kami sendiri berusaha dan belajar menisbahkan usaha ini sebagai bagian dari kesadaran bahwa saya dahulunya hanyalah air hina yang sungguh tak berarti, dan sedang belajar (meski sering gagal) untuk menjadi manusia yang kami pahami sebagai usaha menuju jalan keselamatan. Pada blog ini, saya tidak ijinkan mencela agama atau keyakinan yang lain dan perbedaan adalah bagian dari kesadaran terhadap perbedaan itu sendiri. Soal pilihan, itu ada pada masing-masing individu.

    Suka

  23. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Sebenarnya yang saya pengin tahu, si B. Ali ini penganut agama apa sih.
    Seandainya si B. Ali ini : Atheis/Kepercayaan/Kejawen/dan sejenisnya – nggak perlu dilayani.

    : Islam (tadinya) – jelas telah keluar dari koridor Islam, jadi nggak perlu dilayani
    : Kristen – tolong dia baca The Choice ( karangan Ahmad Deedat ), Salib di Bulan Sabit ( karangan Abu Yahya Jerald F. Dirks, mantan Deacon Kristen ) dan juga Abrahamic Faiths oleh pengarang yang sama.
    Jadi kalau dia mau mendebat, tolong dia baca dan debat tulisan yang terdapat didalam 3 buku tersebut, maka dia akan tahu apakah sebenarnya Agama Islam dan Al-Quran itu dan bagaimana pula jenisnya Agama Kristen, Yahudi atau Yahudi Kristen. Terlebih lagi dia akan tahu apa sih sebenarnya kitab yang mereka agung-agungkan sebagai kitab suci Kristen itu?.
    Wassalam,

    @
    Wass wr.wb.
    Sebelum berkomentar, sedikit saya ingin memberikan catatan bahwa dalam keseharian saya banyak berteman dengan orang yang tidak seagama, saling menghormati, tidak pernah membahas keyakinan masing-masing, dan sibuk dgn kegiatan sebagai warga negara. Jadi enjoy saja.

    Menurut pendapat saya, terutama karena bacaan (terlepas mengenali atau tidak agama samawi terakhir ini), saya bisa memaklumi bahwa orang-orang seperti B.Ali itu ada dan banyak, bahkan boleh jadi lebih banyak dari orang yang memilih pilihan untuk berjuang menjadi seorang muslim. Orang-orang beragama Islam, seperti pada postingan, adalah “wajar” (wajar dalam tanda petik) dinilai aneh. Mengapa, karena begitu terbiasa untuk melihat firman Allah untuk hambaNya dalam kacamata penuh kehati-hatian, membaca huruf demi huruf, memperhatikan bunyi, makna, asal, usul, dan cenderung meminimumkan pemahaman (baca gagasan) sendiri ketika menafsirkan. Mereka tidak suka hermeneutics (salah mungkin mengetiknya 🙂 ). Dan juga ogah melayani pandangan-pandangan yang tidak sejalan dengan kitabnya. Begitu sulit digoyahkan. Inilah bagian yang boleh jadi aneh, tapi untuk kita, justru di sini terasa keindahannya, terasa ketidakberdayaannya ketika sedang berhadapan dengan Sang Pemilik segalanya. Siapakah dia, tidak begitu penting. Karena saya percaya seeh seorang Nasrani yang saleh, yang berpegang pada kitabnya, atau penyembah berhala sekalipun yang berpegang pada etika dan kejujuran hidupnya, tidak akan berlaku seperti orang yang memposting dimana-mana hanya untuk tujuan menghujat.
    Bagi kita, hujatan itu juga adalah hikmah pembelajaran yang menurut saya memberikan makna juga ketika kita mampu menyikapinya dengan arif. 😀

    Suka

  24. sejati said

    @ Raja Ahmad Ismail,

    Artikel ini menarik sekali tentang penggolongan agama termasuk agama-agama Abramamik. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/

    AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI

    Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.

    Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.

    Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).

    Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.

    Agama bumi dan agama langit.

    Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:

    “Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)

    Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.

    Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).

    Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?

    Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).

    Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.

    Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.

    Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.

    Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?

    Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.

    Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.

    Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.

    Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.

    Masalah wahyu

    Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.

    Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.

    Pertama, kesalahan mengenai fakta.

    Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.

    Kedua, kontradiksi-kontradiksi.

    Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir

    Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.

    Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.

    Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.

    Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.

    Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

    Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).

    Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?

    Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.

    Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.

    Kesimpulan.

    Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.

    Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

    Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.

    Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.

    Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.

    (Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).

    Catatan kaki:
    I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
    2). Lihat Karen Amstrong : A History of God
    3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
    4). Ibid hal 720.

    @
    Sebagai catatan, cara pandang ini menarik dan menyamaratakan peran dan fungsi agama, dengan logika-logika sosial dan bangunan pikiran. Juga menurut pandangan saya dalam ragam postingan yang disebar dalam blog ini, secara mendasar, saya tidak bersepakat dengan pandangan yang dituliskan secara baik dalam komentar yang dikutip dari artikel ini. Namun, karena pertimbangan blog ini tidak untuk “membicarakan perbandingan agama” atau membahas perbedaan dan persamaan antara pandangan-pandangan agama. Maka harapan saya, ini tidak didiskusikan lebih lanjut. Mohon maaf. Terimakasih.

    Suka

  25. Anonim said

    kalau pingin tau islam pelajari al-quran & al-hadis. gitu aja kok repot……….

    @
    😀

    Suka

  26. na said

    mestinya orang seperti antonio syafii di buat kloning sebanyak banyaknya kali ya hehehehe

    @Q
    😀
    tampaknya ide bagus 🙂

    Suka

  27. roke said

    Kalo orang mau pilih agama…

    Lihat kelakuan umatnya yang telah lama memeluk agama itu.. Bagaimana kelakuannya terhadap sesama manusia, terhadap keluarga , Isterinya…terhadap lain agama, terhadap bangsa lain… terhadap negaranya sendiri… Apakah mereka umat yang berperilaku menyejahterakan dunia…???
    Kelakuannya menunjukkan bagaimana ia diajarkan oleh nabi/pemimpin yang didasari oleh kitabnya….

    Suka

  28. rudrud said

    Ada baiknya juga setiap coment itu difilter,, saya rasa banyak jalan hikmah tnpa harus menghujat…
    Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.
    QS. al-An’am (6) : 108

    Suka

    • cekixkix said

      @Om Rudrud
      Klo maki-maki BLOG, boleh kagak @OM ?!… Cekixkix…kix..kix..
      http://jelasnggak.wordpress.com/debat/

      Suka

    • agorsiloku said

      Mas Rudrud, terimakasih sudah berkunjung dan memberikan catatan. Betul, saya memfilter jika ada kata-kata yang secara subjektif melakukan penghinaan berlebihan atau menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya. Namun, jika masih ada alasan logis (meskipun cenderung tendesius atau keras), baik ke pemilik blog ataupun ke unsur lain, masih saya pertahankan (tidak dihapus). Pertimbangan saya adalah hak seseorang untuk menguraikan berpikirnya, meski tidak selalu sepakat. Jadi diharapkan ada dialogis yang wajar. Kalau memelintir, banyak komen pula antara tesa dan antitesa, sehingga pembaca diharapkan bisa memberikan penilaian lebih objektif.
      Ayat AQ 6:108 mengingatkan kepada kita untuk tidak memaki. Kita,bukan “mereka”, jadi di sinipun ada hikmah yang bisa kita ambil untuk memperkuat dan mengajarkan kepada pemilik blog untuk mengendalikan, sampai batas tertentu untuk bersama rekan lainnya mengembangkan syiar sambil menyadari ada perbedaan-perbedaan cara pandang, fanatisme berlebih, dan lain-lain. Mudah-mudahan ada hikmah positif dari sesama muslim ataupun bukan…..

      Suka

  29. Fitri said

    Pada saat saya membaca majalah Hidayah, saya juga banyak menemukan cerita – cerita mualaf yang dulu orang tuanya meminta boleh masuk agama apapun asal jangan masuk Islam.

    Suka

    • agorsiloku said

      Mualaf di jaman seperti ini adalah orang-orang yang begitu luar biasa dan bersungguh-sungguh untuk meraih hidayahNya, sehingga mampu melihat sisi yang hanya sedikit dari manusia yang bersedia mewujudkan hatinya untuk mengambil keputusan yang berat. Semoga kelak mereka mendapatkan apa yang dicari dari sisiNya.

      Suka

  30. Bois said

    Hi!
    Assalamu’alaikum… (Ucapan salam khusus untuk saudaraku yang muslim)

    Sungguh menarik…

    Begitulah orang yang cerdas dan mau menggunakan akalnya, begitu ada perkataan “Jangan masuk Islam”, secara otomatis ia akan bertanya “Kenapa?”

    kemudian ia diberikan jawaban dan ia akan kembali bertanya “Benarkan ini?”

    Orang cerdas tentu akan berusaha mencari tahu kebenaran, ia tidak asal percaya dan mengikuti apa pun yang disampaikan kepadanya.

    Seperti Mas Agor yang membuat blog ini, berusaha mencari kebenaran melalui postingan yang dibuatnya.

    Wassalamu’alaikum… (Ucapan salam khusus untuk saudaraku yang muslim)
    bye… and Peace V ^_^

    Suka

    • agorsiloku said

      Wassalamu’alaikum…, komentar yang menarik. Makna “asalkan jangan masuk Islam” menimbulkan sejumlah pertanyaan dan proses pencarian. Yang mencari dengan kesungguhan hatinya, insya Allah akan menemui kebenaran hakikat kehidupan dan bertemu Penciptanya. Proses berkesinambungan dan tak pernah berhenti. Kita ingat pula bahwa proses pencarian yang sama dilakukan oleh Nabi Ibrahim ketika mencari siapa Sang Pencipta sesungguhnya…
      Wassalamu’alaikum… peace always… 😀

      Suka

  31. Roy Rey said

    Peri gud artkel…(ngikutin bos haniifa)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: