Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kerja Keras Untuk Bahagia dan Bersantai

Posted by agorsiloku pada April 30, 2007

Walah saya lupa, cerita ini dari mana sumbernya.  Begini ceritanya :

Seorang nelayan tidak terlalu tua, usia paruh baya,  sedang bersantai di tepi pantai.  Berleha-leha.  Seseorang anak muda berjalan ke tepi pantai dan terjadi dialog tentang etos kerja.

“Bapak sedang istirahat?”, sapanya ramah.

“Iya!.  Hari ini sudah cukup untuk makan sampai besok”, sahut nelayan yang tampak biasa saja”.  Menjawab dengan sederhana pula.

“Kenapa Bapak tidak bekerja keras !”

“Emangnya kenapa?”

Kalau Bapak bekerja keras, Bapak bisa mengumpulkan hasil ikan lebih banyak lagi.  Kemudian Bapak bisa menabung, lalu Bapak bisa kaya”. Bla… bla… bla….

“Lalu kalau sudah kaya kenapa?”

“Yah… Bapak tidak usah bekerja keras lagi.  Bapak bisa bersantai, menikmati masa tua?”

“Anak muda !.  Tidakkah kamu mengerti !?”, Seru Bapak nelayan itu meninggikan suaranya.

Lalu, apa yang sekarang ini sedang saya lakukan ini !“, Kata nelayan itu tersenyum….
#$?###

Iklan

17 Tanggapan to “Kerja Keras Untuk Bahagia dan Bersantai”

  1. wak SOMAD said

    Assalamualikum wr wb
    Saat Ini manusia begitu YAKIN bahwa Kebahagiaan adalah apabila hidup dikelilingi oleh kebendaan.
    Saat ini manusia begitu YAKIN untuk mendapatkan kebendaan diperlukan uang yang banyak.
    Dan manusia begitu YAKIN untuk mendapatkan uang yang banyak diperlukan kerja keras.
    KEYAKINAN seperti ini adalah KEYAKINAN yang Bathil, dan apabila KEYAKINAN seperti ini dibawa sampai mati, maka manusia akan celaka.

    @
    Was Wr.wb..
    Iya, begitu wak, kita jadi musafir yang berpikir bahwa kita akan hidup selama-lamanya di dunia…

    Suka

  2. Raffaell said

    Istirahat, menikmati hidup yah….
    Ironis juga ceritanya

    @
    Yah… seperti kita berputar-putar agar hidup tenang nantinya karena panjangnya keinginan agar kita bisa “hidup” lebih tenang, lebih tentram sehingga kita harus bekerja “super keras” supaya bisa berleha-leha nantinya. Padahal sejak awal, sebenarnya kita bisa melakukannya. (tapi bukan maksud jadi tidak usah kerja keras ya) 😀 Sersan saja, serius tapi santai.

    Suka

  3. deking said

    Itu terjadi karena adanya perbedaan definisi santai, bahagia, menikmati hidup dll
    Bagi seorang pembuat kerajinan keramik mungkin menemukan tanah liat dengan kualitas bagus di suatu ladang merupakan suatu anugerah yg sangat besar.
    Tetapi bagi seorang petani, adanya kandungan tanah liat di ladangnya bisa saja merupakan suatu musibah karena itu berarti tanahnya tidak bagus untuk pertanian.
    Mungkin dalam kisah di atas si anak muda masih memiliki sudut pandang yg sangat sempit akan kehidupan sehingga dia selalu mengaitkan kesenangan (atau kebahagiaan versi dia) dengan harta.

    @
    Kebahagiaan ada di depan mata, tapi merasa harus mencarinya dengan seluruh perhatian dan kerja keras… ini memang pikiran materialistik kita…

    Suka

  4. madsyair said

    Nelayan tua yang cerdas!!

    @
    Dan santai juga untuk menikmati kehidupan….

    Suka

  5. erander said

    Paradoks kehidupan .. ketika seorang ga pernah mau mencuci pakaian dengan alasan karena dia bilang nanti juga akan kotor lagi. Hal ini sama dengan ketika lapar, ngapain juga makan. Nanti juga lapar lagi. Cool .. ceritanya mencerahkan. Maaf lama ga blogwalking ketempatmu. Kabarmu baik2 aja kan?

    @
    trims, paradoks kerja… yang dicari sebenarnya yg terdekat juga bisa kita lakukan… Iya mas, baik-baik saja, saya juga sudah lama nggak jalan-jalan… bulan Apr-Mei ini, tampaknya banyak benar blogger yang sibuk sampai harus bercuti ria. Mungkin karena banyak ujian… 🙂 Madiun juga baik selalu kan…

    Suka

  6. KaiToU said

    Kadang saya merasa sangat tertinggal dalam kuliah saya.
    Kalau sudah begitu, ingin rasanya memunculkan semangat tuk kerja keras mempelajari kuliah2 yang tertinggal.
    Tapi biasanya pikiran itu diiringi pikiran saya yang lain-lain, bahwa kuliah/ belajar itu harus santai juga.
    Lalu muncullah suatu teori pembelajaran versi saya sperti ini:
    “Main-main (bersantai) banding Kuliah haruslah seperti dua berbanding satu, artinya, kalau mau belajar (Kuliah) giat, maka harus bersantai-santai dulu dua kali lipatnya”
    –> paling nggak, sebelum belajar harus santai, sesudah belajar pun harus santai juga 😛

    gak nyambung, ya? emang koq.
    *kabuuurrr :P*

    @
    Belajar memang harus santai. Katanya, santai membuat pikiran bisa mengalir lebih lancar dan tenang. Karena itu dengarlah bethoven atau alunan nada pelan, atau alunan orang mengaji, atau gemericik air sungai, atau tiupan sahdu angin menyentuh dedaunan, atau gemericik suara daun bambu bergesekan, atau memorabilia… senandung hati, membuka pintu akal dan memperlancar kemampuan belajar. Belajar semakin nikmat, tidak terpaksa, menjadikan sebagai bagian dari kesenangan. Ini loncatan besar dalam belajar :”Quantum Learning”. Selebihnya, apapun bahan pelajarannya, yang penting minumnya “teh sosro” 🙂
    Kata ilmuwan, kemampuan otak kita hanya digunakan 10% saja.

    Suka

  7. Evy palsu said

    belajar sambil nge blog neeh pak… gpp to… aku kerja emang ga buat cari duit kok pak, spt nelayan itu aja menikmati kerjaan… klo kerja capek tidurnya nyanyak bener… apalagi klo banyak PR halaah tambah nyennyak

    @
    iya seperti nelayan, menikmati pekerjaan. Alangkah bahagianya ya….

    Suka

  8. elzach said

    tiap detik waktu hidup di dunia tak ternilai harganya
    menangis hingga remuk penghuni kubur berandai-andai..
    andai mereka beramal lebih banyak…
    andai mereka berzikir lebih banyak…
    andai mereka menolong lebih banyak…
    andai mereka sholat lebih banyak…
    andai mereka ingat lebih banyak..
    andai mereka berbuat lebih banyak..
    andai mereka memberi lebih banyak…
    andai mereka…diberi waktu setahun lagi…
    jika tidak… sebulan..seminggu..sehari…
    jika tidak…sejam saja…
    .. semenit saja…
    Demi Allah…sepuluh detik saja..
    untuk bersyahadat..

    @
    Terimakasih diingatkan Mas Elzach, sedikit dari kita yang bisa bersyukur dan memohon setiap saat ampunanNya. QS 67. Al Mulk 23. Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.” (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.

    Suka

  9. Roffi said

    saya orang yang terlalu santai tapi mendadak bisa bekerja keras jika terangsang.. pokoknya fleksibel lah

    @
    cuma beda ya Mas, santainya di negeri orang dengan di negeri sendiri…..

    Suka

  10. Dimas said

    Salam’alaikum mas agor 😉
    Memang membahas kebahagiaan ini menarik karena tidak pernah ada ujungnya. Kalo tak pikir-pikir semua manusia memang ujung-ujungnya mencari kebahagiaan. Cari uang agar bahagia, cari istri agar bahagia, cari kedudukan agar bahagia, cari surga agar bahagia…hehehe.
    Seorang guru berkata, kebahagiaan sejati bersumber dari hati dan hati hanya bisa tenteram ketika ia mengingat kampung halamannya.
    Tapi ada lagi guru yang edan mengatakan…
    Belajar untuk mengheningkan pikiranmu. Tidak ada miskin tidak ada kaya. Tidak ada kesedihan tidak ada kesenangan. Tidak ada kegagalan tidak ada kesuksesan. Tidak ada penderitaan tidak ada kebahagiaan. Dua hal berlawanan di atas hanyalah permainan pikiranmu saja.
    Lantas apa yang ada?
    yang ada hanya Tuhan!
    Wah ini guru memang edan! hehe

    @
    Wass. wr.wb. Saya juga belum betul-betul memahami konsep wahdatul wujud ini. Pada batasan mana berada pada permainan pikiran, pada bagian mana proses penciptaan sebagai suatu realitas keadaan dan keberadaan. Betul-betul bukan hal mudah….

    Suka

  11. Dimas said

    Salam’alaikum
    Waduh mas! maaf kalo komen aku bikin bingung, adalah tidak baik membuat orang lain bingung atas apa yang aku katakan. Terima kasih mas sudah mengingatkan, niat berbagi tapi kalo orang lain malah menjadi bingung tidak jadi manfaat. Aku juga terkejut ketika mas agor ngomong wahdatul wujud. Sebenarnya niat aku bukan ke arah sana walaupun ujungnya bisa sampai kesana. Jadi ngak enak ama mas agor. Aku bikin komen satu lagi agar komen diatas tidak membingungkan orang lain.Insyaallah
    Apapun yang Allah lakukan semuanya bermanfaat dan dilakukan atas dasar Kasih Sayang, Rahmat dan AnugerahNya. Jadi semua tindakanNya atas dasar Cinta dan Kasih SayangNya.
    “tidak ada miskin tidak ada kaya”. Terkadang ketika kita susah kita mengeluh kenapa cobaan menimpa kita. Dalam keadaan seperti ini iman kita meningkat karena kita butuh Dia agar bisa mengeluarkan kita dari keadaan ini. Ketika kita banyak rezeki terkadang iman kita turun karena lupa kepada Allah. Nah dari dua hal diatas terdapat suatu hikmah yaitu bahwa ketika kesulitan datang kepada kita, sebenarnya hal itu adalah Rahmat Allah, karena ketika manusia ditempa dalam hidupnya ia akan menjadi lebih bijak, lebih dewasa dalam memandang kehidupan. Sebaliknya ketika dalam keadaan rezeki banyak, hal itu juga anugerah dari Allah karena hal itu melatih kita untuk lebih bersyukur lagi. Jadi dua keadaan diatas sebenarnya sama indahnya jika manusia bisa mengambil hikmahnya.
    Begitu juga dengan keadaan sedih dan bahagia. Didalam kesedihan ada hikmah untuk merenung, bertafakur, melihat-lihat kembali apa yang salah dari kehidupan kita.Dan perenungan ini membuat kita lebih dekat kepada Allah.Sebaliknya ketika bahagia, hal ini membuat kita bersyukur atas ketenangan hati yang kita dapat dan hal ini mendekatkan kita kepada Allah.
    Maka dari itulah didalam kehidupan setiap keadaan membawa kita lebih dekat kepada Allah. Karena itu guru diatas mengatakan “tidak ada sedih tidak ada bahagia, yang ada hanya Cinta dan Kasih Sayang Allah dalam setiap gelombang naik-turun kehidupan”
    Mas agor, maaf jika terkesan menggurui. Tidak ada niat untuk itu, Astagfirullah. Saya hanya ingin berbagi. Lagipula mas agor ilmunya lebih banyak, jadi siapa tau dengan berbagi kepada mas Agor saya akan mendapatkan ilmu lebih banyak dari mas Agor.Insyaallah
    Semoga Cinta dan Kasih Sayang Allah selalu bersamamu sahabatku 🙂
    Wassalam
    @
    Wass Wr.Wb.
    Kalau saya berkunjung ke blog Mas Dimas, meski tidak mudah berkomentar, tapi tidak jarang saya membacanya berkali-kali. Bukan karena tidak mengerti, tapi tidak cukup mengerti. Bukan karena kata-katanya sulit, tapi ada getaran yang membuat keniscayaan itu begitu dalam terasa. Warna blognya juga memberikan kekuatan nuasa itu. Pilihan warna dan kata mendeklarasikan “sesuatu” kepada sesuatu.
    Saya keliru memang menanggapi komen Mas Dimas, mungkin karena kebisaaan lari ke ujung dulu (scanning membaca), sehingga ketika muncul kata :”yang ada hanya Tuhan”… langsung pikiran ngelayap pada wahdatul wujud…. sehingga tahapannya malah nggak diperhatikan lagi. Kebetulan pula, saya termasuk belum bisa memahami pikiran Ibnu Arabi ini….
    Dimas : Nah dari dua hal di atas terdapat suatu hikmah yaitu bahwa ketika kesulitan datang kepada kita, sebenarnya hal itu adalah Rahmat Allah, karena ketika manusia ditempa dalam hidupnya ia akan menjadi lebih bijak, lebih dewasa dalam memandang kehidupan —>

    Betul sekali, tidak ada kesulitan/musibah bagi seorang muslim, kecuali Allah mengampunkan sebagian dari kesalahannya. Selain bagian dari pengampunanNya. Tidak ada ujian kekayaan, kecuali sebagai bagian pahala dunia (dan semoga tidak dihabiskan di dunia dan tak bersisa di akhirat). Agar kita bisa manfaatkan amanatNya kepada dunia.
    Trims Mas Dimas, tidak di hati saya digurui, karena saya memang ingin belajar dan berbagi, biar sedikit ilmu dimiliki, tapi berbagi menjadi kesenangan tersendiri. Begitu juga, ketika hati sedang “dingin”, caci maki juga menjadi anugerah. Soal ilmu lebih banyak?… ha…ha…ha… kalau ilmu agor lebih banyak itu jelas kebohongan, tapi kalau saya menulis lebih banyak… ini ada buktinya…. Tapi ini nggak pentinglah….
    Mas Dimas, semoga rahmatNya menyertai kita semua. Wass, agor.

    Suka

  12. Ibrahim said

    rasanya cerita/artikel ini juga ada di:
    http://www.conectique.com/enlight_your_life/archieve.php?start=0&num=50&cat=/enlight_your_life

    disitu juga banyak artikel artikel bagus lainnya buat perenungan.

    wassalam.

    Suka

  13. sae said

    Hidup untuk bekerja, bekerja untuk hidup. lihatlah kisah si belalang sama si semut. belalang menghabiskan musim panas bernyanyi sambil makan. semut bekerja mencari makanan sambil makan untuk menabung suatu saat musim dingin yg panjang.

    @
    Semut dan belalang mendapatkan instruksi untuk menjalani hidupnya… tanpa pilihan lain. Manusia dibekali kemampuan untuk merekayasa sambil kadang menjadi bingung juga… untuk apa hidup dan bekerja keras…. kalau tujuannya mau santai dan memancing….:D

    Suka

  14. […] Begitu melenakan, begitu melalaikan.  Kita bekerja keras, sepenuhnya untuk meraih cita-cita.  Meraih impian…. Ketika dunia ini menjadi TIDAK PENTING, dan hanya sebagai stasiun bis kota saja, aspek dimensi […]

    Suka

  15. Allah menciptakan Alam Semesta itu sudah komplit dengan segala isinya yang bermafaat untuk Makhluk ciptaanNya termasuk manusia.
    Untuk memanfaatkan isi Alam semesta ini, manusia sudah dibekali senjata yang Dahsyat yaitu “Pikiran” dan “Hati Nurani”, lho cuma 2 tho? .. iya 2 aja sudah bingung .. apalagi lebih.
    Hanya dengan modal 2 senjata itulah manusia ini bisa memenuhi semua keinginannya.
    Nah sekarang tinggal manusia itu sendiri mau dibuat seperti apa Pikiran & Nuraninya.
    Jadi gunakan Pikiran & Nuranimu (Perasaan) untuk hal yang baik-baik saja, agar hal-hal uang baiklah yang datang kepadamu. Bekerja keras itu bagian dari ibadah, maka bekerja keraslah untuk kebaikan.
    Salam Sukses Selalu.

    @
    Itulah manusia ya Mas… diciptakan tergesa-gesa…
    menggunakan nurani… dan bekerja keraslah untuk kebaikan…
    amin.
    smoga ya.. betapapun kecilnya…

    Suka

  16. Aburahat said

    Kita dlm menjalankan kehidupan didunia ini ingin mendapatkan KEBAHAGIAAN didunia dan akhirat. Kita bekerja cari nafkah utk kelanjutan hidup kita. Kalau kita bekerja, kita tdk mengharapkan belas kasihan orang. Yg kita harapkan dari Allah.
    Setelah kita mendapat hasil dari keringat kerja kita, maka harus dinikmati. Bagamana cara menikmati tergantung masing2 pribadi. Tdk perlu kita hiraukan bagaimana cara dia menikmati, selama dia menikmati hasilnya dan tdk menggangu kita. Biarlah. Apabila orang tua tadi dgn santai beristirahat mungkin dia sedang membayangkan Keagungan Maha Pencipta. Bagaimana klu seseorang bekerja ngumpul duit utk kaya. Setelah terkumpul tiba2 mati. Siapa yg menikmati jerih payanya itu?

    Suka

  17. Siska said

    Euheuheu..
    Jadi senyum deh saya.
    Jadi kesimpulannya apa neh?
    Yah, pokona mah silahkan nikmati hidup dg caranya masing2 asal halal dan thoyib. Kitu kali
    Salam kenal ya. Terima kasih

    @
    😀 betapa seringnya kita perlu merasa berbahagia dengan mencapai cita-cita yang hanya fatamorgana. Menikmati dan bersyukur dengan apa yang telah dianugerahkan kepada kita….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: