Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Anti Harun Yahya dan Evolusi ?

Posted by agorsiloku pada April 28, 2007

Ada komentar yang masuk ke Blog sederhana ini, dari Mas Nur Iswantoro. Yang menarik, tentu saja nama site : Anti Harun Yahya – Mencoba berpikir lebih rasional. Buat saya, ini tentu saja menarik. Sayang kalau site ini dilewatkan begitu saja. Minimum, melengkapi perbendaharaan informasi yang sebelumnya telah disusun, antara lain “Beberapa Kesalahan Fatal dari Harun Yahya” atau topik mengenai penolakan mengenai Teori Darwin dari Taufikurahman menarik untuk disimak. Begitu juga penilaian bahwa “boleh jadi” menjadi dungu kalau membaca buku Harun Yahya.

Karena memang saya juga merasa bodoh dan juga rada-rada dungu, maka tidak terlalu masalahlah dengan wacana di lingkungan perdunguan. Yang selalu saya anggap menarik adalah tesa dan antitesa. Dinamika ilmu tentu saja tidak statis, memahami ayat juga tidak statis. Baik dan buruk juga bisa berubah dari satu pandangan ke pandangan yang lain, bergerak bersama dengan meningkatnya pemahaman. Karena itu, membakukan (baca : membekukan pemikiran) pada satu judgment tertentu akan memasukkan kita pada satu lingkup fanatisme sempit.

Menarik untuk disimak bahwa di Amerika sendiri, pandangan kurikulum terhadap teori evolusi sebenarnya mendua. Ada yang menganggap teori ini very good atau exellent, misalnya di beberapa negara bagian yang liberal, tapi ada juga yang menilai tidak layak diajarkan. Terbelah !. Berbeda dengan di Indonesia, mengajarkan teori evolusi dan sekaligus tidak menghargai ilmuwan lain yang menolak teori ini. Kalau memang ragu dengan wahyu Allah atau sebab lainnya, setidaknya dari sisi pengajaran dan pendidikan, sangat wajarlah jika antara yang menolak dan setuju, semuanya dipaparkan secara ilmiah. Site penolakan teori-teori lemah dari Evolusi dan beragam argumen, secara menarik bisa kita jumpai di sini.

Kembali kepada judul di atas. Bagaimanapun ada satu kearifan yang bisa jadi hilang (atau paling tidak berkurang), yaitu penulisan site Anti Harun Yahya. Ini jelas memberikan pengertian keseluruhan, padahal tentu, tidak setiap dari pemikiran Harun Yahya salah (termasuk juga yang tidak bersetuju dengan penolakan Harun Yahya). Satu bagian yang berbeda atau tidak bersetuju, tidak berarti keseluruhannya.

Bahkan dari segerombolan penjahat yang kerjanya menyamun pun, namanya manusia selalu memiliki juga unsur-unsur kebaikan dan manfaat. Jadi kita perlu memilah pada bagian mana sependapat, di bagian mana berbeda. Sebagai proses, maka menganalisis pada sisi-sisi objektif akan lebih baik dari pada menemakan pada keseluruhan subjek, padahal penekanan sebenarnya hanya pada subjek-subjek tertentu saja.

Namun, tentu saja itu hak segala jenis orang. Inipun layak kita hargai.

Begitulah sebuah proses. Bukan kata akhir. Sains sebuah proses. Yang hari ini kita anggap benar, besok berubah. Yang diyakini hari ini terhadap sains, besok sudah bisa jadi berubah teorinya.

Kalau menurut saran agor nih, lebih baik yang ditentang (kalau berbeda) adalah base pemikirannya bukan subjeknya.  Subjek bertumbuh dinamis untuk lebih mengerti sesuai dengan perkembangan akal dan wawasannya sampai suatu saat akan dikembalikan lagi pula ke masa sebelumnya.

Lebih dahsyat lagi yang berpendapat (dan ini pada sebagian besar) bahwa Al Qur’an tidaklah memerinci keberimanan dan sikap hidup juga hukum-hukumnya.

QS 6. Al An’aam 114. Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.
QS 10. Yunus 37. Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.
QS 11. Huud 1. Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,

Ataukah sebenarnya, dengan segala kelemahan dan kekurangan kita, maka terjadi kecenderungan untuk mencari-cari dari sisi-sisi lain dan juga memahami terperincinya Al Qur’an adalah juga dengan meyakini penjelasannya yang rinci.

Tapi kan, Al Qur’an tidak menjelaskan caranya berhaji dan beragam masalah teknis lainnya.  Ya… dalam perkara teknis ikuti saja yang disampaikan rasul.  Itu juga disebutkan kan dalam Al Qur’an!.  Lalu, apakah tepat kita mengatakan, Al Qur’an tidak lengkap hukum-hukumnya sehingga kita harus dst… Apakah ketika kita mengatakan hal ini kita sedang menentang ayat di atas? atau sebenarnya kita sedang “tidak mengerti” batasan-batasan hukum yang telah diciptakanNya lalu kita “menjudgment” Al Qur’an dalam konteks masyarakat kekinian, seolah kita berada pandangan Allah tidak bisa membuat ayat yang terperinci sampai akhir zaman?. Apakah kita sedang meng-fait a compli – Allah?.  Semoga tidak demikian. Tidak disadari, kita sering berkata :”kembalikan kepada kita masing-masing”.  Dan Al Qur’an menyampaikan kalau berselisih pendapat dalam masalah agama, hendaknya dikembalikan ke Al Qur’an  (dan hadis) .

Namun, hal seperti ini kadang menjadi tak mudah ketika kita mencap dan mengklaim yang benar hanya pada persepsi apa yang kita inginkan.  Bahkan Al Qur’an dan hadis pun diambil untuk disesuaikan dengan keinginan penyampainya.  Ambil yang cocok, buang yang tidak sesuai (tidak diinginkan).

Wallahu ‘alam.

Hanya pendapat saja.

Iklan

35 Tanggapan to “Anti Harun Yahya dan Evolusi ?”

  1. madsyair said

    Setuju!!! Kalau tidak setuju subyek,biasanya apapun dari subyek dianggap salah,walaupun kadang yang disampaikan benar.

    @
    Iya, saya kira Harun Yahya, boleh jadi salah (tidak bersetuju) tapi belum tentu semuanya menjadi salah. Begitu juga kita melihat saudara-saudara kita yang lain atau golongan lain. Sepertinya kurang afdol kalau tidak menilai mereka sebagai “calon ahli neraka”. Mungkin karena pepatah kita cenderung fatalis : Sekali lancung ke ujian seumur hidup tak dipercaya, karena nila setitik hancur susu sebelanga, panas setahun hapus oleh hujan sehari. Jadi memang prosesi budaya kita cenderung pukul rata untuk segala peristiwa, seolah kita melihat orang yang salah akan selamanya menjadi salah.

    Suka

  2. deking said

    Lagi2 kebiasaan men-generalisasi secara buta…
    Betapa susahnya untuk melakukan penilaian secara obyektif…

    @
    memang itulah bagian dari persoalannya ya, orang menilai objektif, tapi mengambil keputusan tetap subjektif……

    Suka

  3. Oooh,, (Ma lagi mikuir dulu,,)

    jadi agak kaya ‘jangan benci orangnya, benci sifatnya’, gitu?? tapi agak sussah,

    @
    Kenapa harus benci?. Benci kan proses “berpikir” dari hawa nafsu yang semestinya kita kendalikan. Dan itu memang susah, bahkan buat yang menasehatinya sekalipun. Berpikir positif melihat dari sisi baik dan berpikir asertif adalah berkomunikasi secara arif ketika kita mengemukakan pikiran kita kepada yang lain, kita menghargai perbedaan dan memahami perbedaan. Tiap orang memiliki level kompetensi yang berbeda dalam mengerti dan memahami masalah. Apalagi jika kita tidak mengenali pribadi manusianya, hanya mengenal sebagian saja dari pikiran dan pemikirannya yang dinamis. Dalam sebuah peperangan, sahabat nabi sudah akan menebaskan pedangnya ke leher “musuh”-nya. Ketika si musuh itu meludahinya, malah dia berhenti menggerakkan pedangnya. Persoalannya, antara menegakkan syariat Islam kepada “musuh” Islam, khalifah Umar (kalau nggak salah ceritanya), untuk Allah atau untuk hawa nafsunya. Setidaknya, ini juga adalah satu hal yang bisa kita ambil hikmahnya.

    Suka

  4. Amd (Gak Login) said

    Menjadi Obyektif itu emang susah ya Mas?
    Kalau tidak setuju dengan pendapatnya, kenapa harus ANTI?

    @
    Tul, setidaknya kita musti bisa juga belajar dialogis. Masalah rasional, bagusnya objektif rasional juga. Dan ini memang yang kadang susah, tapi tidak ada salahnya dicoba kan….

    Suka

  5. maksud Ma bukan dari ‘benci’nya, tapi dari misahin antara orang-nya ama sifatnya, sesuai kata mas,,

    “lebih baik yang ditentang (kalau berbeda) adalah base pemikirannya bukan subjeknya” dan itu juga susah,,

    kaya ‘don’t hate the player, hate the game,,’ (dan lagi lagi bukan dari hate-nya)

    tapi Ma tetep suka tanggepannya,, 🙂

    @
    Iya Ma Adlia, betul makanya biar saya bisa nulis begitu, tetap saja saya juga tandai :”bahkan untuk saya sendiri, hal ini bukan hal yang mudah”, karena kita kan biasa terjebak ke sana. Karena itu, saya juga berusaha menghindari menyebut golongan atau menjadi golongan tersendiri. Soal ini memang susah, setuju buanget. Susah emang. Tapi, kan paling tidak kita tahu itu susah`!?, itu kan sudah lebih baik dari pada sebaliknya kan… 😀

    Suka

  6. […] oh generalisasi … kenapa begitu besar pengaruhnya dalam menciptakan pandangan atau tanggapan kepada hal-hal […]

    Suka

  7. dirga primawan said

    Menarik juga mencermati mengenai perdebatan antara sains dan agama. Apakah anda pernah mendengar juga tentang saintisme, sebuah paham yang mendasarkan diri pada pengagungan sains semata? Metodologi atau cara kerja sainslah yang paling utama dan paling benar dalam menjelaskan realitas. Agama dipandang tidak ada artinya, karena itu hanyalah spekulasi hampa. Di sinilah para penganut paham saintisme masuk dalam sebuah situasi dimana agama dianggap tidak relevan lagi. Agama tidak memberi sumbangan apa-apa bagi kemajuan manusia. Kiranya perdebatan antara paham evolusi ataupun mengenai Wahyu dalam Kitab Suci tentang penciptaan dunia, bisa dilihat dari kancah tersebut. Penganut saintisme cenderung membuat klaim-klaimnya sendiri melebihi batas-batasnya sendiri, yakni pada klaim pemaknaan. Padahal sains cukuplah berbicara pada tataran metodologis dan bukannya pada tataran pemaknaan yang menjadi kawasan filsafat maupun teologi. Ketika seorang saintis melalui kajian ilmiah berkesimpulan bahwa tidak ada Tuhan, di situlah ia telah lompat dari ranah sains, karena sains hanya berurusan dengan metodologi semata, dan bukan merujuk pada kesimpulan yg merujuk pd pemaknaan. Sains memang penting dalam kehidupan manusia, tetapi bukanlah satu-satunya bidang yang dapat membantu manusia dalam memahami realitas dunia. Bagaimana pandangan Anda?

    @
    Satu kenyataan, ketika sains berbicara keluar dari ranah positivisme yang tertangkap indera dan pembuktian (logika atau empiris), maka pemaknaan sains juga akhirnya “terpaksa” lari pada wilayah yang dia sendiri tidak dapat mengukurnya. Itu juga satu pandangan yang akhirnya menampakkan dirinya, bahwa sains tidaklah bebas nilai.

    Suka

  8. Keadilan said

    Kalian yang anti harun yahya telah membangkang tanpa usul periksa..adakah kalian percaya pade darwin..kalian percaya kalian dari beruk atau kera.

    Pimikiran yang kolot atau x terima akal..kalau teori evolusi darwin itu benar,mengapa beruk tidak berevolisi nseper ti manusia..dan ikan di laut masih dilaut,tidak ke darat untuk berevolusi seperti beruk untuk menjadi manusia..Cuba kalian fikirkan?kalau teori darwin benar..sudah semestinya manusia sahaja tanpa hewan2 lain dimuka bumi ini.Ini kerana semuanya berevolusi menjadi manusia..Tidak begitu?

    Kalian jangan menyalahi Al-Quran,kitab ini benar.Banyak perkara yang benar berlaku.Cukup lah Tsunami yang melanda di Acheh.Bangunan apa yang di Acheh,IndonesiA yang tidAK roboh ketika tsunami berlaku.

    Itu cukup menunjukkan kebesaranNya,kalian cari jalan kebenaran sebenar2 dengan cara mudah hanya menghina agama lain.Sesuatu yang sungguh memalukan………

    @
    Mas sudah membaca postingan ini dengan teliti. Selalu dianjurkan, telitilah sebelum membeli eh… berkomentar. Paling tidak, menunjukkan kehati-hatian, kedewasaan, dan kearifan.

    Suka

  9. Bayu_Glass said

    JANGAN BINGUNG!!!..gini deh..tolong saya diberi tahu apakah memang ada (atau pernah ada) ilmuwan yang pernah membuat MATERI HIDUP dari MATERI YANG TIDAK HIDUP, atau adakah SEL MUTASI yang dapat benar – benar BERGUNA bagi makhluk hidup karna sepengetahuan saya dimana-mana yang namanya mutasi selalu merugikan bagi makhluk hidup itu sendiri, :b kalo menurut aku sih..Darwin itu cuma sebagai wacana aja, tapi untuk percaya DARWIN yah..MAAF AJA, aku lebih percaya ama yang CIPTAIN DARWIN…Wassalam

    @
    Wass.wr.wb.
    Masa nggak percaya ama yang CIPTAIN DARWIN…
    😀

    Suka

  10. Dwiyono Y. Prayitno said

    Darwin kan cuma bikin teori “evolusi” yang seolah-olah didukung data ilmiah. Yang namanya teori akan gugur bila ada teori yang lebih kuat argumentasi ilmiahnya. Kalo saya sih yakin haqqul yakin dengan Al Qur’an sebagai hukum yang tak terbantahkan. Ini tantangan untuk membuktikan bahwa teori darwin itu lemah. Satu bukti kelemahan dari teori darwin kalau benar bahwa manusia berasal dari “kera” yang berevolusi, kenapa kera-kera zaman sekarang tidak ada yang terus berevolusi menjadi “manusia” ?

    @
    ujung persoalan memang manusia bertanya, siapa yang datang/asalnya dari kera?. 😀

    Suka

  11. dualapan said

    Dalam tulisan karya Harun Yahya sudah sangat jelas bahwa Teori Evolusi Darwin sudah terbantahkan, jadi untuk apa lagi tetap dipertahankan. Jika segala sesuatu sudah bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits, jelaslah bahwa bahwa hal tersebut adalah Salah. Biarlah mereka yang tdk sepakat menjadikan itu sebagai wacana. BTW ada blog bagus neh buat bahan diskusi and kasih komentar.
    http://sora9n.wordpress.com/2007/08/22/harun-yahya-roy-suryo-dan-misinformasi-di-masyarakat/

    @
    Menurut karya Harun Yahya, memang teori Evolusi Darwin terbantahkan. Namun, tidak terbantahkan dengan pendekatan empiris yang sama. Jadi penolakan, memang dasarnya dari basis berbeda (meskipun tentunya bisa dipahami bagi konteks teisme).
    Link yang ditunjukkan, terimakasih. Saya termasuk juga yang kerap berkunjung ke rumah beliau… 🙂
    Terimakasih juga sudi berkunjung ke sini.

    Suka

  12. Anonim said

    Mener Darwin ngomong begitu, k’rna keadaan fisiknya yg mirip2 ama ‘kera’ gitiuu..hihihi…100X. Betulll…???

    @
    Konon, dari sakibul hikayat… waktu Darwin menjelaskan teorinya. Dia kagak pernah (belum) menyinggung soal kera. Dalam “seminar” itu, seorang peserta (katanya sih dari salah satu agama) bertanya :”kalau begitu, bisa disimpulkan bahwa manusia itu berasal dari kera. Pertanyaannya, dari kera betina atau dari kera jantan?” Penonton jadi riuh, dan teori Darwin itu disimpulkan berdasarkan pertanyaan itu. Bahwa ada kebenaran, Darwin menolak kehadiran sang pencipta dari perjalanan teorinya, tapi belum sampai sih pada kesimpulan ini. Ini yang saya tahu dari ingatan…

    Suka

  13. wulan said

    mmm.. saya setuju dengan ambil yang baik tinggal kan yang jelek, hanya saja sekarang banyak sekali mengambil ayat setengah untuk membenarkan tingkah sendiri, apa itu di benarkan juga om?? makasih pencerahan nya..

    @
    Allah mengingatkan kita untuk tidak setengah-setengah, mengambil sebagian dan melupakan (sengaja) melupakan sebagian yang lain untuk kepuasan/kesenangan kita….
    Di satu sisi, untuk tuntas memahami, terus terang saja “om” juga sangat jauh dari mampu….
    Hanya satu proses belajar dari sebuah perjalanan belaka….

    Suka

  14. Aline said

    opo rek iki? memang ada yang kenal sama darwin disini? ndak ada toh? wong anak zaman kini kok masih bahas omongan orang tua yang melantur, mending kita buat teori evolusi baru saja, manusia berevolusi jadi alien hahahaha

    Suka

  15. herman said

    Alhamdulillah, Akhirnya saya dapet pencerahan di sini, emang sih dari golongan muhammad bin abdul wahab anti banget dgn ini, dan saya juga pernah dgn untuk seputar sifat 20 golongan mereka juga nggak mengakui dan sepertinya di dalam dunia tasawuf hakikat materi ini bukan hal baru tapi tidak untuk disebar luaskan takut terjadinya fitnah tapi dgn adanya karya Harun Yahya ini mudah2an ahli2 tasawuf tidak takut lagi akan terjadinya fitnah karena sudah didukung dgn ilmu pengetahuan modern.
    Mas tolong pencerahan dan koreksinya untuk saya yang awam ini.

    @
    Alhamdulillah… , perihal hakikat materi… ini memang yang “ditanyakan” oleh dunia sains… sedangkan soal pengikut syeikh Muhammad bid abdul wahab (1701 M) yang kemudian dikenali sebagai pendiri wahabisme, terus terang saja saya tidak begitu memahami. Saya lebih berfokus pada bagaimana kita melihat satu persoalan dan bersama mempelajari dengan sesedikit mungkin menjustifikasi pada pengelompokkan tapi lebih pada tema yang dibahas.

    Namun… tampaknya asyik juga ya mempelajari ragam berpikir syeikh yang terkenal kecerdasan berpikirnya….

    Suka

  16. kdgdhs said

    ente yang anti harun yahya kayanya bahlul semua,ente bisa nya cuma mengkritik orang, ente sendiri bisa gak menumbuhkan pemikiran sehebat harun yahya??? bisanya kok cuman ngritik orang!!!!

    @
    Kadang, betapa perlunya untuk membaca lengkap. Sebuah keterampilan yang diperlukan ketika begitu banyak informasi bertaburan di tengah sempitnya waktu untuk membaca kata per kata, kalimat per kalimat, paragraf per paragraf sampai menjadi satu runtutan logika yang terpahami utuh. Salah satu prasyarat yang dibutuhkan untuk menjadi objektif. Namun, pada basis sains sekalipun, ketika nilai keobjektifan sangat diagungkan, tetap juga ada pandangan filosofis yang ditemakan (menjadi kerangka berpikir) seseorang. Namun, keengganan untuk membaca tuntas karena keterampilan “scanning” sebuah bacaan dapat menimbulkan kesalahpahaman berpikir. Ini manusiawi juga seeh.

    Suka

  17. ROHIDZIR RAIS said

    saya malaysian seorang penerjemah juga studi biologi dan al-quran di al-Azhar. Saya udah terjemah 30 buku harun yahya ke bahasa melayu… terus terang saya udah baca komentar antiharunyahya… kesimpulannya… penulis web itu sendiri tidak mengkaji buku harun yahya dengan baik… banyak hujah lawannya tidak berasas dan terawanga-awangan… kosong ajer… kalau orang malaysia cakap HAMPEH!!!

    PERLU SEDAR PERCAYA KEPADA EVOLUSI KAMU UDAH MURTAD KERANA MENOLAK ALLAH SEBAGAI PENCIPTA!!!

    @
    agak bingung juga dengan kalimat terakhir dari Tuan Rohidzir Rais ini, kepada siapa ditujukan, mengapa juga murtad?. 😀

    Suka

  18. daeng limpo said

    Saya pikir…. mungkin lebih baik begini….(kayak judul lagu aja)….Harun Yahya mengemukakan teorinya tentang penciptaan….nah para penentangnya membuat penyangkalan….lalu para pengikut Harun Yahya….membuat sanggahan ..lalu dialam akhirat….Darwin ….ketawa-ketiwi…..guwe tipu loe…

    @
    Baik penentang maupun pendukung, sepertinya seeh tidak ada yang membuktikan kebenaran berdasarkan hasil penelitian, kecuali pengumpulan bahan dan logika. Yang pertama ingin menolak keberadaan Penguasa Tunggal dalam konsepnya, yang kedua memberikan argumen adanya dimensi maha cerdas yang mengatur segala sesuatu….

    Namun, bagaimanapun saya tidak bisa bersetuju, di alam akherat nanti Darwin ketawa-ketiwi…. kok enak tenan…. sudah dikibuli di dunia, di akhirat ketawa-ketiwi…. 😀

    Suka

  19. Satria. said

    Ada tambahan:
    http://indonesianmuslim.com/evolusi-masih-sulit-diabaikan.html

    @
    trims mas Satria kunjungannya… saya baru membacanya… dan memberikan komentar. Semoga berkenan.

    Suka

  20. neil said

    “Namun, tidak terbantahkan dengan pendekatan empiris yang sama. Jadi penolakan, memang dasarnya dari basis berbeda (meskipun tentunya bisa dipahami bagi konteks teisme).

    1. saya orang awam. sebagian besar yang saya baca adalah buku atau ebook karangan Harun Yahya. adapun saya jadi kritis, apa yang om maksud dengan kalimat “Namun, tidak terbantahkan dengan pendekatan empiris yang sama.”
    memangnya pendekatan yang bagaimana yang dilakukan Darwin?

    sedikit kritikan, kalimat om “KONON, dari sakibul hikayat… waktu Darwin menjelaskan teorinya. Dia kagak pernah (belum) menyinggung soal kera. Dalam “seminar” itu, seorang peserta (katanya sih dari salah satu agama) bertanya :”kalau begitu, bisa disimpulkan bahwa manusia itu berasal dari kera.”

    2. kalimat “konon” sangatlah tidak ilmiah, karena tidak ada sumber rujukannya. darimana om tahu kalau itu benar2 terjadi? setidaknya dari rujukan mana?

    3. sebenarnya teori evolusi yang bagaimana yang diungkapkan darwin sehingga tidak bertentangan dengan penciptaan? dan apa saja yang salah dari fakta2 ilmiah yang diungkapkan Harun Yahya?

    tks atas jawabannya.

    @
    Betul, saya gunakan kata konon karena saya tidak jelas rujukannya meskipun kisah ini menjadi sangat terkenal bahwa Darwin tidak membahas soal manusia menjadi monyet dalam The Origin of Speciesnya.

    Nomor 3 : Darwin dalam otobiografinya menulis :Argumen disain yang selama ini sangat meyakinkan, ternyata telah gagal. Kini hukum seleksi ilmiah telah ditemukan. Sekarang kita tidak dapat lagi mengatakan bahwa engsel kerang yang indah, misalnya, harus merupakan hasil perbuatan suatu Wujud yang cerdas (Tuhan), sebagaimana engsel pintu harus merupakan hasil perbuatan manusia. Saya postingkan kecil “di sini

    Suka

  21. PakDhe Nono said

    Aku suka dan kagum pada indahnya film2 produksi HY.
    Bab inti lainnya . . . . walahualambisawab.

    @
    😀

    Suka

  22. juple in rain said

    entah..apa..
    setahuku.
    darwin tidak mengatakan
    inilah teori evolusi..
    seleksi alam…
    berbeda lamark(bner ya nulisNYa??)..
    dia hnya menyebutkan bahwa..
    jerapah yang panjang lehernya bisa bertahan hidup karena mampu menjangkau pohon yang tinggi sehingga ia bisa mmmakan daun dari pohon itu, dan jerapah yang pendek kkuranagn makanan dan mati..
    seleksi…
    hnya seleksi..
    tak ada evolusi..
    sudah ada jerapah panjang dan
    jerapah pendek…
    tidak ada evolusi , pendek jadi panjang sperti lamark..

    mohon di ganti kata ANTI harun yahyanya..
    tpi KLo memeng brtujuan menarik peMbca sehhh..
    ya OK..
    tapi..
    mohon dipkirkan ulang..
    TRims..
    wassalam..

    @
    Anti Harun Yahya adalah sebuah blog (tapi kini sudah suspend) atau hilang dari linknya. Postingan tidak menjelaskan mengenai topik evolusinya, tapi mengarah pada cara pandang/menyikapi satu cara pandang. Saya termasuk yang tidak bersetuju generalisasi dari suatu model berpikir yang menjustifikasi perbedaan menjadi keseluruhannya…

    Suka

  23. dan said

    hi argo,

    terus terang gua termasuk yang berada di tengah-tengah. hati kecil pinginnya percaya ajaran agama, tapi di sisi lain sains terasa lebih masuk akal.

    satu yang gua sayangkan dari tulisan-tulisan yang membela agama, rata-rata mereka menulis dengan penuh amarah dan kebencian. kadang malah ada yang mencaci maki. hal seperti ini yang gua pikir justru menjauhkan orang dari ajakan mereka. bukankah seseorang yang percaya agama itu seharusnya santun dan mentolerir kepercayaan orang lain?

    menurut gua sains juga semacam kepercayaan.

    anyway, mungkin ini pertama kalinya gua baca artikel dari seseorang yang percaya agama namun ditulis dengan santun. salut.

    keep up the good work,
    –dan

    @
    Hai Dan… terimakasih sudi berkunjung ke sini. Betul memang sains terasa masuk akal dan memang dielaborasi dari kemampuan akal manusia. Agama dipahami sebagai “musuh akal” ketika dilihat dari sisi pengetahuan manusia dan ketika manusia mencapainya juga dengan seluruh keinginan untuk mengalahkan segenap keberakalannya. AQ dalam pemahaman saya adalah agama yang mengagungkan akal dalam konteks keberimanan. Sedangkan sains ingin mencapainya melalui pembuktian dan logika. Keduanya akan bermuara ke tempat yang sama juga dalam perjalanan berbeda. Karena itu, tidak keliru juga jika sains juga semacam kepercayaan (yang menuntut pembuktian)….

    Suka

  24. haniifa said

    @Dan
    “menurut gua sains juga semacam kepercayaan.”
    Betul sekali pendapat mas
    Yang saya lihat kebanyakan orang, sering keliru antara sains dan scince.

    Suka

  25. haniifa said

    Wahhh…sori mas dan koreksi: antara sains dengan science lupa nggak pake kacamata 😀

    Suka

  26. Ayruel chana said

    Indonesia ini negara yang terkutuk….
    Kalau belum Merubah Kurikulum pendidikan kita

    Selagi pelajaran agama islam masih minim di sekolah2
    Tetap aja Indonesia punya label Negri Terkutuk

    Suka

  27. haniifa said

    @Ayruel Chana
    Rasanya yang dikutuk menurut AQ menjadi Moyet adalah bani israil diluar itu… mbo jangan saling mengutuk, apalagi anda mengunakan bhs Indonesia.
    So…yang pasti syaithan yang paling terkutuk.

    Suka

  28. abrah said

    harun Yahya is the best

    @
    😀

    Suka

  29. abrah said

    Kesalahan lain Harun Yahya yang pernah saya temukan mengenai Wihdatul Wujud. Tulisan tersebut dikeritik oleh saudara kita yang juga pasti seorang muslim golongan atas namanya Abu Hudzaifah al-Atsari. Abu Hudzaifah mengeritik Harun Yahya tentang pandangannya tentang Tuhan, dimana Harun Yahya yakin bahwa tuhan itu ada dimana-mana dan meliputi segala manusia sedangkan Abu Hudzaifah menyalahkannya dan mengatakan bahwa tuhan itu berpisah dari makhluknya. Abu Hudzaifah pun membawa nama Ahlus Sunnah, bahwa Ahlussunnah meyakini bahwa Allah SWT beristi’wa di atas arsy-Nya di atas langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.
    Menurut saya, keritik Abu Hudzaifah itu tidak kuat karena dalam tulisannya itu dia tidak memiliki landasan yang kuat, sedangkan Harun Yahya berlandas pada firman Allah surah Al-Baqarah: 186, Al-Isra’: 60) dan Al-Waqi’ah:83-85), ayat tersebut berbunyi yang artinya:

    ”Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186).

    ”Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.” (Al-Israa’ : 60)

    ”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih
    dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Al-Waaqi’ah : 83-85)

    Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: kemudian Dia bersemayam diatas arsy. Dia mengetahui apa yang keluar dari padanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan dia bersama kamu dimana saja kamu berada. dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan. ” (Q.S. Al-Hadid: 4)

    Satu lagi dari saya(pengirim komentar)
    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengatahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Q.S. Aq-Qaaf: 16)

    Demikianlah alasan Harun Yahya yang bersumber dari Al-Qur’an itu sendiri. Sungguh Abu Hudzaifah menyalahkan orang tapi dia tidak melihat kesalahan dirinya. Semoga keritiknya itu tidak berdasarkan pada nafsunya. Saya tidak mendukung keritik Abu Hudfzaifah karena dia punya keyakinan bahwa tuhan itu ada di Arzy sedangkan Arzy menurut dia itu ada dilangit. Memang banyak ayat Al-Qur’an menyatakan bahwa tuhan itu besemayam di Arzy, tapi tak ada ayat dan hadist yang menyebutkan bahwa Arzy itu ada di langit dan tak ada ayat dan hadist yang menyebutkan bahwa Allah berpisah dengan makhluknya. Al-Qur’an hanya menjelaskan bahwa Allah itu dekat, lebih dekat dari urat leher manusia itu sendiri. Bisa saja Arzy-Nya Allah itu ada di sekitar kita dan bisa saja Arzy-Nya itu meliputi manusia itu sendiri sehingga sesuailah ayat di atas bahwa Allah sungguh sangat dekat dan meliputi segala manusia dan bahkan Allah lebih dekat dari pribadi kita sendiri.

    Abu Hudzaifah memahami Arzy atau kursinya Allah itu seperti kursi-kursi yang sering kita lihat, dimana kursi Allah itu dia pahami adalah sebuah tempat. Sedangkan tuhan itu tidak bertempat. Kapan tuhan bertempat berarti dia bukan tuhan yang sebenarnya alias tuhan bohong-bohongan, karena yang bertempat itu pasti sesuatu yang terbatas dan bisa terbayangkan. Sedangkan tuhan itu tak terbatas dan otomatis tak bisa terbayangkan. Kalaupun ada yang mengatakan bahwa tuhan itu berwujud juga merupakan pernyataan yang salah. Segala sesuatu yang berwujud itu sudah pasti sesuatu yang terbatas. Adapun di Akhirat kelak dimana ada sebahagian manusia dipilih khusus oleh Allah untuk saling bertatap muka merupakan sesuatu yang tidak boleh dibesar-besarkan dan tidak boleh dibayangkan. Karena bertatap muka menurut Allah yang tercantum dalam A-Qur’an itu sudah pasti berbeda menurut gambaran kita. Kalaupun seorang Nabi pernah bertemu langsung dengan Allah juga merupakan sesuatu yang tak perlu dibayangkan dan dibesar-besarkan. Yang pasti Nabi tersebut tidak melihat Allah, yang ia lihat hanyalah sifat wujud Allah bukan ke-Dia-an Allah.SWT.

    @
    Sangat tidak mudah memahami, khususnya bagi agor mendalami konsepsi Wahdatul Wujud yang dicetuskan oleh Ibn Arabi dalam segala cara pandangnya. Manusia tidak ditakdirkan untuk memahami Dzat maha pencipta selama kehidupannya di dalam kefanaan.
    Pemahaman Allah adalah dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita. Bersatunya yang dicipta kepada Yang mencipta mudah dipahami dan disalahpahami.
    Boleh jadi yang setuju atau menolak, karena berdasarkan basis ayat yang sama sebenarnya perbedaan itu tidak ada (atau hanya diada-adakan) karena pemahaman dan kemampuan untuk menguraikan dalam kata/kalimat tidaklah terlalu mudah untuk dijelaskan.

    Yang menyatakan Allah bersatu dengan mahluknya (entah pada kondisi apapun) adalah pernyataan yang juga ada landasan : Segala sesuatu kembali kepada Allah, Sang Pencipta. Ayat Allah Swt yang menjelaskan hal ini jelas menunjukkan bahwa Allah berdiri sendiri, Allah itu ahad dan kita tidak pernah akan punya wawasan yang cukup untuk memahami ahad juga. Karena manusia dan segala yang diciptakan Allah memiliki saling ketergantungan bersistem dalam segala aspeknya. Dan segala sistem yang saling berkait dan kebergantungan itu membutuhkan Allah untuk memelihara dan mengontrolnya.

    Ayat Kursi begitu menjelaskan mengenai kekuasaan Allah yang meliputi segala sesuatu di langit dan bumi. Kekuasaan ini tentunya jangan dibandingkan dengan kekuasaan versi manusia yang hanya dapat memerintah pada punakawan atau sebagian sangat kecil dari perilaku. Namun kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu dalam segala control gerak dan segala sifat fisis sampai apa yang dibisikkan oleh hati manusia.

    Meliputi dan bersatu adalah hal yang berbeda. Karena jelas Allah Azza wa Jalla itu Esa, maka segala yang membentuk pemahaman bersatu pada yang diciptakan, dalam logika haruslah ditolak. Mengapa?. Karena ini Satu atau kesatuan adalah “sesuatu” yang tidak bisa digambarkan dalam otak berpikir manusia. Segala apa yang diciptakan adalah kebergantungan. Jika bersatu dalam pemahaman hakikat akal sekalipun maka tidak ada yang bisa dijelaskan lagi. Manusia yang bersatu dengan Allah tidak bisa dipahami dalam kriteria manusia menjadi bagian dari Allah, karena itu mengartikan Allah tidak esa. Manusia akan kembali dan dikembalikan kepada Allah menjelaskan bahwa Allah menerima kembali ciptaanNya dalam satu arena (akhirat).

    Mengenai Arasy, Arsy.
    Pembahasan mengenai Arsy Allah, jelas tidak banyak dipahami oleh kita. Namun, yang sudah disampaikan oleh Allah SWT melalui Al Qur’anlah yang dapat kita ketahui/pahami.
    Yang dijelaskan adalah : Allah pemilik Arsy. Allah bersemayam di atas Arsy. Malaikat menjunjung/memikul Arsy dan bertasbih memuji Allah dan memohon ampunan untuk manusia. Malaikat berkeliling di seputar Arsy dan memuji (Al Zumar 75). Arsy yang besar. Bersemayam di atas Arsy dan mengatur segala urusan (AQ 10:3)

    Kita tidak tahu besar Arsy. Bisa jadi alam semesta itu terlalu kecil dibanding Arsy.

    Berangkat dari catatan ini, maka ijinkan saya memberikan catatan dari apa yang mas sampaikan :

    … Memang banyak ayat Al-Qur’an menyatakan bahwa tuhan itu besemayam di Arzy, tapi tak ada ayat dan hadist yang menyebutkan bahwa Arzy itu ada di langit dan tak ada ayat dan hadist yang menyebutkan bahwa Allah berpisah dengan makhluknya…

    Di sini ada hal yang menurut saya krusial untuk dipahami. Ayat yang menjelaskan arsy ada di langit (alam semesta) justru membatasi pemahaman arsy. Langit itu ciptaan, arsy juga ciptaan. Arsy besar, kita tidak tahu ukurannya. Kalau alam semesta itu besarnya sudah sangat luar biasa dan tak terukur, maka apalagi arsy. Jadi memahami arsy di atas langit adalah proses berpikir yang menyempitkan arti arsy. Sedangkan Nabi pun, sewaktu Isra Miraj, dijelaskan : diperlihatkan sebagian kekuasaan kami… perhatikan kata “sebagian”.

    Allah berpisah dengan mahluknya –> banyak sekali ayat yang menjelaskan. Secara wujud fisik, jelas manusia terpisah dengan Allah. Secara kontrol, jelas kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Kalau dipahami menyatu dalam artian fisikal (dalam akal berpikir manusia), jelas ini melanggar pengertian keesaan Allah (Al Ikhlas).

    Bersatu dalam pengertian dekat, tentu itu adalah harapan dan impian kita. Namun, kebersatuan itu tidak bisa diartikan sebagai kebersatuan fisis atau logika sejenisnya dalam membangun wujud. Namun, keikhlasan dan ridha Allah kepada kitalah yang dijadikan pemahaman bahwa kebersatuan itu terjadi.

    Pembahasan yang menarik.
    Terimakasih untuk komentarnya. Saya postkan kembali ya….

    Suka

  30. […] Komentar Terakhir Jerry di Flying book 0e3-ejaan al qur… Hariss di Masuk ke Dimensi 4 – NOUN… haniifa di Perbedaan Pramugari Garuda Air… Mbah Langgeng di Al Qur’an menjelaskan t… Mbah Langgeng di Al Qur’an menjelaskan t… M Shodiq Mustika di About Me teknisi pesawat di Perbedaan Pramugari Garuda Air… tya di Kalau Boleh Saya Berkata … marinki di Sedikit Keberanian Kita Untuk … haniifa di Ghaib, Gaib itu apa sih… arief rahman di Ghaib, Gaib itu apa sih… Afnan di Materi dan Anti-Materi dendy di Di Alam Kubur atau Di Dunia, S… abrah di Anti Harun Yahya dan Evolusi… abrah di Anti Harun Yahya dan Evolusi… […]

    Suka

  31. […] Catatan yang menarik, juga cara pandangnya. Di blog ini, kalau dicari dengan kata Harun Yahya, beberapa tulisan bercerita tentang karya beliau. Tulisan yang diungkapkan pada postingan ini, […]

    Suka

  32. Ali murni said

    Kaum wahabi dan antek-anteknya memang bersatu padu dg tetangganya si darwin dkk melawan kebenaran yg tercantum dalam Alquran dan terbukti diteliti berdasarkan Sains. Wahabi sangat terpukul dg kenyataan bahwa aqidah wahabi telah dipatahkan oleh alquran dan sains. Apa beda wahabi dg darwin ya? Kok wahabi jd mendukung darwin. Tapi kalau dilihat dari sejarah dan sepak terjangnya dari dahulu s/d sekarang mereka memang sependapat dan sehaluan. Materialisme, leterlek, kaku dan tajsim. Tajsim = jisim = benda kasar = alias materi. Cinta dunia dll. Tapi ngaku ahlu salaf dan pengikut nabi paling asli. Padahal ajarannya baru muncul pada abad ke 18 sezaman dg abad kemunculan darwinisme.

    Suka

  33. logik said

    Teori evolusi adalah teori ilmiah, didirikan di atas bukti2 ilmiah. Kalau mau membantah atau meruntuhkan atau tidak setuju…. lakukan dengan bukti2 ilmiah. Jangan pakai kitab suci tertentu. (Ada lho kitab suci yang selaras dengan teori evolusi Darwin).
    Sebelum komentar ttg teori ini pelajari dulu Biologi, baca buku2 yang relevan. Jangan buku2nya HY. Itu mah pseudo-science.

    @
    Darwin benar-benar juga mengembangkan pseudo religion, hanya setelah meneliti fosil kemudian menarik kesimpulan yang benar-benar lucu :
    Argumen disain yang selama ini sangat meyakinkan, ternyata telah gagal. Kini hukum seleksi ilmiah telah ditemukan. Sekarang kita tidak dapat lagi mengatakan bahwa engsel kerang yang indah, misalnya, harus merupakan hasil perbuatan suatu Wujud yang cerdas (Tuhan), sebagaimana engsel pintu harus merupakan hasil perbuatan manusia.

    (Band., Nora Barlow (ed.), The Autobiography of Charles Darwin (London:Colin, 1958), h. 87. Dikutip dari, Mulyadhi Kartanegara, Mengislamkan Nalar, Erlangga, 2007, h. 12)

    Benar-benar deh Darwin dari sini konyolnya luar biasa… dia berbicara tentang tuhan hanya dengan menyeleksi kerang. Benar-benar pseudo religion yang amburadul…. 😀

    Bahkan kemudian yang kita juga tahu persis bahwa yang dikerjakan Darwin adalah membuat taksonomi kemiripan… dan logika yang diambil seperti Lamark tentang jerapah juga….

    ha…ha…ha… sains memang tidak untuk berbicara tentang penciptaan….

    (ha..ha…ha.. adu argumen yang benar-benar debat kusir) –> sambil mengetawain apa itu pseudo sains … sama tak bermutunya dengan berbicara pseudo agama…..

    Jadi siapa yang menjebak bikin istilah baru… yah istilah yang sama bisa diterapkan juga….

    Jadi, kita bisa bilang juga… kalau mau bicara tentang Tuhan… jangan pakai darwin atau pakai engsel pintu.. eh engsel kerang gitu….

    Suka

  34. zey said

    menurut gue kenapa musti anti, toh semua yg dipaparkan adalah suatu kebenaran yang tidakbisa diingkari kalau kita menggunakan akal kita lagian Sang Pencipta memberi kita alak untuk digunakan bukan cuman mengisi tengkorak kepala..he..he..he..he.
    kate Einstein “Ilmu Pengetahuan tampa agama adalah pincang”
    Kate gue ” Agama tampa Ilmu pengetauan adalah HAMPA”
    dan tidak beragama dan ber ilmu adalah buta seperti darwin…he..he..he..keturunan satwa,dan otak satwa yang terfikirkan oleh nya adalah bertahan hidup dan siapa yg kuat dialah yg akan bertahan hidup dan satu lagi kita harus menggunakan akal baru ber iman, jangan mempunyai keiman tampa menggunakan akal akan rusak tuh…

    Suka

  35. Zey said

    @
    ma’af mas Agor koreksi 🙂
    kutipan diatas..

    ” Menurut gue kenapa musti anti, toh semua yg dipaparkan adalah suatu kebenaran yang tidak bisa diingkari kalau kita menggunakan akal kita, Sang Pencipta memberi kita akal untuk digunakan bukan cuman mengisi tengkorak ” :))

    @
    Tentang :
    “Abu Hudzaifah mengeritik Harun Yahya tentang pandangannya tentang Tuhan” seharus nya ini tidak perlu terjadi”

    sedikit saya menambahkan semoga kita semua diberi jalan yg benar oleh Nya…Amin…sahabat-sahabat yang ada di blog ini, menurut saya kalau kita mau belajar atau menggunakan akal dan ke imanan kita akan menemukan Nya, didalam Al-Qur’an pada surat Al-Fatihah ayat 2 telah di terangkan dan kesimpulan nya semua yang ada di langit dan di bumi adalah bagian dari Allah,…bukan wujud/zat Allah dan bukan Allah, itu sudah jelas secara ilmiah dan akidah nya.. 🙂

    thx mas agor salam kenal dan numpang lewat
    sekali lagi ma’af klu ada salah tulis..:)
    keyboard sering macet pednya…:))

    semoga bermanfa’at…

    @
    Benar.. kenapa musti anti.. sebuah tesa akan berhadapan dengan anti tesa. Keduanya membawa kita kepada pengertian baru, yang boleh jadi lebih berharga untuk dipahami.
    Salam kenal kembali dan terimakasih mau numpang lewat… 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: