Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ikhlas Nggak Ya Presiden Menerima Korban Lumpur di Istana?

Posted by agorsiloku pada April 27, 2007

Nggak lah…

Meskipun tampaknya santun dan “Bersama Pasti Bisa”, namun ketika korban lumpur Sidoarjo berangkat ke Jakarta dengan sembunyi-sembunyi dan baru 10 hari diterima oleh Presiden, setelah sebelumnya diterima oleh wapress ada sesuatu yang hati kecil ini bertanya :”Ikhlas nggak ya Presiden menerima pengaduan korban lumpur sidoarjo di Istananya?”

Ikhlas atau tidak, itu persoalan hati. Kita tidak bisa men”judgment” begitu saja atas segala perilaku atau sikap kepala negara dalam menerima atau menolak rakyat untuk datang. Belum tentu juga beliau tahu ada rakyat yang sedang mengadu padanya. Bukankah sudah ada sejumlah menteri yang menangani. Bahkan kata jubir presiden : Sang Andi Malarangeng :”SALAH ALAMAT”.

Di jaman dahulu, kalau tak salah cerita, di depan keraton Jawa itu selalu ada lapangan. Kalau rakyat di jaman feodal itu ingin menghadap raja atau sultan untuk mengadu, maka ia akan duduk di lapangan menghadap keraton sampai punggawa mengabari menteri nagari atau raja bahwa ada rakyat mau menghadap !. Tidak ada kata apa yang disampaikan sebelum pintu keraton di buka. Lapangan tempat rakyat memberikan informasi keberadaannya itu, tanpa bicara, adalah komunikasi verbal seorang “penderita” pada penguasanya.

10 hari waktu yang diperlukan oleh warga korban semburan lumpurLapindo Brantas untuk bisa bertemu Presiden, itupun setelah ditengahi oleh calon mantan Gubernur DKI, menurut saya adalah :

  1. Komunikasi yang SANGAT BURUK dari lingkungan kepresidenan dalam menangani korban lumpur lapindo yang jelas-jelas menuntut perhatian dan keadilan. Adalah menjadi tampak “bodoh” dan “tidak punya hati nurani” ketika menangani korban itu dilihat dari sudut kepentingan politik. Jelas, ini butuh perhatian dan penanganan. Mereka justru datang minta perlindungan, bukan mau obok-obok Pemerintah atau “semi kudeta” seperti mahasiswa demo. Masyarakat akan memandang dengan “kemarahan” kepada Pemerintah yang begitu terlambat menangani korban bencana ini. Ini adalah kesalahan “bodoh” dari biro kepresidenan dan jubir presiden dalam menangani persoalan yang sebenarnya sederhana.
  2. Juga, keikhlasan adalah sebuah nilai penting dalam komunikasi. Di sini ada unsur penting yang tidak bisa dilupakan. Yaitu, spontanitas. Ungkapan kemudian, setelah 10 hari menderita di Jakarta dan “perhatian” dari presiden tidak akan berhasil diterima dengan penuh keikhlasan oleh penerima informasi. Hati kecil mereka akan bertanya : “Bersungguh-sungguhkah Pemerintah menangani?. Bersungguh-sungguhkah, Bapak Presiden SBY dan Wapres Yusuf Kalla melindungi rakyat korban lumpur Sidoarjo”.

Ini yang tampaknya tidak terjawab tuntas. Pemerintah lebih sayang Lapindo Brantas dan pemiliknya, dari pada rasa keadilan dari korban. Menurut orang yang buta politik seperti saya, Presiden sebagai institusi dan perangkatnya bodoh dalam berkomunikasi politik. Tampaknya benar, cipratan lumpur Sidoarjo sudah mengenai muka presiden di mata rakyatnya.

Masih ada peluang untuk diperbaiki, tentu saja kalau tidak ragu dan berani menegakkan keadilan dan menyelamatkan korban. Do’a orang teraniaya itu didengar Allah. Jadi berhati-hatilah.

Pagi tadi, mereka berdemo lagi di Sidoarjo dan tangisan ibu-ibu terdengar sampai di Jakarta (melalui TV tentunya), mereka protes atas pembelian yang ditunda-tunda dan hanya dijanjikan.  Presiden juga omongannya sudah tidak ditakuti lagi oleh aparat di bawahnya (pada kasus lumpur ini).  Presiden rupanya tidak menyadari bahwa popularitas dan jaminan demokrasi tidak cukup untuk menjadi seorang Pemimpin yang adil dan lugas. Plis deh, jangan buktikan kata sebagian kecil anggota masyarakat bahwa presiden seorang peragu dan penakut.  Presiden SBY tidak usah ribut bahwa bukan peragu.  Tapi, plis deh… buktikan dong.  Sedih mendengarnya.  Tapi lebih sedih lagi awak nih, melihat korban ribuan rakyat Sidoarjo yang hanya jadi bulan-bulanan janji.

Iklan

8 Tanggapan to “Ikhlas Nggak Ya Presiden Menerima Korban Lumpur di Istana?”

  1. ndarualqaz said

    yang patut dipertanyakan “ikhlas gak ya para korban lumpur panas itu diperlakukan semena mena?”

    lho… pertamax ya… tumben

    Suka

  2. madsyair said

    Padahal hemat saya, tragedi lusi lebih dasyat dari tsunami. Tapi kok mereka dicuekin. Tanya kenapa?

    @
    dicuekin, karena …. ah jadi protes terus ya sama Pemerintah kita yang memang kurang perduli ini….

    Suka

  3. Roffi said

    maunya apa sih pemerintah?

    @
    maunya pemerintah?…. wah menang pemilu lagi kayaknya. Naga-naganya persiapan ke arah itu sudah tampak tuh… dua tahun lagi kan…. Jadi ini juga kesempatan untuk tampil arif (meskipun tidak dimanfaatkan) Minimum pilkada lah…….

    Suka

  4. kangguru said

    duh 10 hari untuk sekedar bertemu dan mendapat kata akan ……..

    @
    😦 Presiden ragu-ragu untuk menerima…

    Suka

  5. kurtubi said

    Kuala Lumpur

    sidoarjo jadi kuala lumpur
    tapi tak ada yang mau bertempur
    sebab mereka sendiri berasal dari lumpur
    melawan lumpur berarti diajak ke kubur

    bemohonlah lumpur mengadu ke sumur
    bersambut baik penuh kata tutur
    padahal sumur itu tiada berumur
    lihat saja tak satupun orang berkumur

    lalu bermohonlah lumpur pada laut
    bersambut baik saling bertaut
    padahal laut pun kini tiada jaring
    lihat saja barang2nya tlah dimaling

    lalu bermohonlah lumpur pada angin
    yang menyepi di sudut2 batu
    berharap hawa surga menyublin
    apadaya tangannya tak menyatu

    mengapa saudara begitu ragu
    bukankah kamu dicipta untuk maju
    lawanlah dengan semburmu
    tenggelamkan semua angkara batinmu

    Jakarta: 3 Mei 2007 : 4:35

    @
    Terimakasih karya syairnya. Saya naikkan ke posting ya.

    Suka

  6. Tonas said

    Ketulusan dn keikhlasan bisa di lihat sekarang ini. Aturan Main untuk menyelesaikan masalah ganti-rugi sudah di gedok di Pusat ( Perpres No. 14 tahun 2007 dan Juklak Dewan Pengarah Menteri PU ), “Air mata” Presiden mengalir dari Cikeas, dan Instruksi Presiden yakni 10 Minggu HARUS selesai untuk Pembayaran Tahap Pertama. Itu semua cuman sekedar SINETRON yang dimainkan Pemerintah dalam mencari POPULARIS murahan. Kenapa saya bisa bilang begitu, akan saya berikan sedikit gambaran akan hal tersebut, yaitu :
    1. Aturan dan arahan yang sudah pernah di sepakati bersama antara Pemerintah Pusat ( RI-1 & RI-2 ) dengan Warga Korban Lumpur, sampai dengan HARI INI BELUM SEPENUHNYA BISA DI JALANKAN DAN DI LAKSANAKAN DENGAN KONSEKWEN.
    2. Pemerintah Pusat sudah terbuai dengan Laporan yang di buat oleh “Para Makelar” dan Pejabat yang ABS ( Asal Bapak Senang ).
    3. Tidak adanya SANKSI yang tegas dari Pemerintah Pusat terhadap “Para Penghambat” dan “Makelar” Proses Penggantian tersebut.
    Ole karena itu lah sekarang ini kami memang benar-benar menanyakan DIMANA KETULUSAN DAN KEIKHLASAN HATI NURANI PEMIMPIN KITA INI….??????

    @
    Sepertinya pertanyaan ini : DIMANA KETULUSAN DAN KEIKHLASAN HATI NURANI PEMIMPIN KITA INI….?????? —> nggak bakalan ketemu deh 😦

    Suka

  7. […] lumpur lapindo.  Terlalu besar pekerjaan ini untuk seorang presiden.  Jangan tanya kalau soal ikhlas.  Oh ya, bukan soal bencananya yang diragukan, tapi kemampuan menangani korban lumpur ini yang […]

    Suka

  8. […] Daerah. Inilah yang kemudian sangat tidak ditampakkan, baik oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah. Tangis dan keinginan untuk meringankan bencana ini dari Bapak Presiden yang cukup sibuk jelas tak cu…. Buktinya jelas, pengungsi masih bertumpuk-tumpuk dan mekanisme ganti buntung juga tidak kunjung […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: