Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Korban Lusi ke Istana Negara

Posted by agorsiloku pada April 25, 2007

Dengan berbagai cara, korban lumpur Sidoarjo berangkat ke Jakarta meski “polisi” (baca : Pemerintah) berusaha menghalangi kepergian mereka sejak dari Surabaya naik kereta api. Kejadian ini, menunjukkan betul bahwa pada dasarnya pemerintah memang tidak serius mempertimbangkan korban manusia. Agustus lalu, saya berharap lumpur tidak menciprati Istana Negara, meskipun dugaan ke arah sana sudah ada :

Jika resiko sudah di depan mata, lalu tidak ada persiapan penduduk untuk menangani bencana (tanggul bobol) maka: Apakah ini bencana real, atau ketidakpedulian Pemerintah terhadap rakyat di Porong sehingga kita melihat berlarian akibat tanggul darurat bobol itu sebagai… Nah… tahu rasa lu …. Sungguh saya menilai Pemerintah kita, terutama Pemerintah Kab. Sidoarjo sangat tidak santun menangani musibah. Kita memang tidak belajar banyak dari cobaan ini….

Skala perhatian ini, setelah sekian bulan tidak kunjung membaik.  Berbagai akal yang dibangun dan skala musibah yang terjadi – harus jujur diakui – tak mampu ditangani.  Semua tindakan pintar manusia, tak cukup piawai mengatasi “kehendak” alam yang tak suka perbuatan manusia.

Lapindo Brantas sebagai aktor intelektual tentu punya strategi, yang menurut saya secara terus menerus dikendalikan dengan baik agar beban musibah bisa didistribusikan ke Negara.   Lalu, puncak frustasi  mereka akhirnya harus dilakukan dengan mencipratkan lumpur ke Presiden.  Mereka harus datang ke istana negara untuk menemui orang nomor satu di negeri ini.

Perlu waktu 10 hari untuk seorang Presiden menerima mereka (korban lumpur) diterima oleh Wapres dan Presiden.  Syukurlah akhirnya Presiden mau menerima, meskipun adalah juga bentuk ketidakpedulian ketika jubir presiden bilang :”Salah alamat”.  Kalau janji terucap hanya sekedar “tebar pesona”, saya kira betul-betul lumpur itu akan menyiprati Pemerintahan SBY.

Terimakasih juga kepada calon mantan Gubernur DKI yang rela memfasilitasi untuk memenuhi tuntutan warga Sidoarjo. Ini satu sisi yang layak dihargai sehingga mereka bisa menemui Presiden.

Semoga pula ditindaklanjuti di daerah dengan benar dan sungguh-sungguh.  Sejak dari awal, saya melihat (dan merasakan) bahwa begitu tipisnya perhatian Pemerintah pada korban bencana lumpur panas ini.  Semua langkah pemerintah tidak cukup sungguh-sungguh.  Mudah-mudahan ada keseriusan setelah pertemuan Presiden dan Korban lumpur.  Kalau ini juga hanya sekedar agar “mereka” korban lumpur itu keluar dari  Jakarta, sungguh nista negara ini kepada rakyatnya.

Perlu waktu lagi untuk membuktikan kesungguhan Pemerintah untuk memanusiakan korban bencana.  Saya percaya, Allah lebih mendengar do’a orang teraniaya.

Pesona itu sudah semakin tipis.

Iklan

6 Tanggapan to “Korban Lusi ke Istana Negara”

  1. raffaell said

    Utang IMF da lunas, apa harus Ngutang lagi gara gara perusahaan migas ini ???

    @
    Aduh… 😦 inikah sebuah pilihan !?

    Suka

  2. kangguru said

    duh manusia juga kan harus dimanusiakan

    @
    dan sekaligus menunjukkan kearifan seorang SBY. Apakah untuk itu perlu menunggu satu tahun lagi. Apakah dalam satu tahun itu yang akan terjadi. Kenapa nggak, bayar saja korban Lapindo oleh Pemerintah secara benar dan wajar, lalu sita semua asset Lapindo yang nyata-nyata telah menyebabkan kerusakan. (Tapi harga Lapindo sudah dijatuhkan sejatuh-jatuhnya dan beralih kepemilikan, toh ini sudah dalam skenario Lapindo juga).

    Suka

  3. Evy said

    iya tuh kok ga selesai2 ya masalah di tumpuk terus sih SBY kasihan puyeng kali dia

    @
    Itulah… makanya orang bilang SBY menjadi Semakin Bimbang Ya… (aduh nggak enak tenan). Pak SBY sudah jelaskan bahwa beliau bukanlah “peragu”, tapi hati-hati dan sistematis. Itu ciri orang pinter sih… Tapi, apa perlu waktu 10 hari untuk dapat menerima korban lumpur yang datang “menangis” ke Jakarta?. Mengapa mereka harus sembunyi-sembunyi datang ke Jakarta. Apakah ini ciri hati-hati…. saya jadi bimbang juga….

    Suka

  4. […] dehc pada Right or Wrong Is My STPDN/IPDNAga pada Adakah Mahluk Berakal di Luar Bumi? -2Evy pada Korban Lusi ke Istana NegaraandRie pada Hukum Benford : MATEMATIKA ALAM SEMESTAandRie pada Jeritan Siksa Dari Alam Kuburdeedhoet […]

    Suka

  5. […] Apa kami orang Kalimantan bukan rakyat Indonesia sehingga kami harus terisolir seperti ini? Atau korban Lumpur Lapindo di pulau Jawa. Apakah mereka juga bukan rakyat Indonesia sehingga ga berhak dapat keadilan? Sila […]

    Suka

  6. Tonas said

    “Semoga pula ditindaklanjuti di daerah dengan benar dan sungguh-sungguh. Sejak dari awal, saya melihat (dan merasakan) bahwa begitu tipisnya perhatian Pemerintah pada korban bencana lumpur panas ini. Semua langkah pemerintah tidak cukup sungguh-sungguh.”

    Kenyataannya sampai dengan hari ini hal itu hanyalah “HARAPAN BELAKA”, tidak akan pernah tercapai, dan warga sudah tidak punya kekuatan Lagi untuk “mendobrak” ke Pemerintah maupun LAPINDO. Semuanya pada sibuk mempersiapkan “Proyek”-nya masing-masing, Antara Lain ; Pemerintah Daerah Sibuk menyiapkan “lahan” Relokasi-nya yang nota-benya memanfaatkan Tanah-tanah KAS DESA, Minarak Menggandeng “Boneka” DEVELOPER-nya, yang bernama “WAHANA ARTA RAYA / KAHURIPAN VILLAGE, “Para-Pejuang” yang di amanahi oleh Warga sibuk dengan LOBBY-2 BISNIS-nya baik dengan Pemerintah Daerah maupun dengan Minaraknya sendiri, dengan “janji” Bonus yang sangat menghiurkan, dan yang jelas WARGA KORBAN AKAN TETAP DIJADIKAN OBJEK KORBAN DAN DIKORBANKAN.

    @
    Saat ini (mungkin prasangka berlebih, tapi juga kadang merasakan).
    Ketika “keuntungan” itu diterima, “mereka” berucap syukur kepada Allah lalu menyedekahkan mungkin sebagian harta aniayanya dengan penuh bahagia. Kita sudah terbiasa begitu. Ketika seseorang mendapatkan jabatan tinggi dan dengan segera dapat meningkatkan kesejahteraannya, maka rasa syukur dengan syukuran dan undang-undang kerabat juga dilakukan. Kita sudah tidak mau tahu lagi :”kira-kira” sumbernya dari harta jenis apa ya… !.

    Ketika saya diundang oleh kawan yang rajin korup, lalu makan di restoran yang menurut saya cukup mahal juga untuk ukuran kantong… antara lapar dan hati kecil menolak. Ketika tetangga yang anggota DPR terhormat mengirimkan sedikit penganan tanda syukur… ingin dan hati kecil menolak. Ketika daging kurban diterima dari tetangga, padahal kami juga berkurban, hati kecil juga bertanya….

    Ah banyak sebenarnya yang menggelisahkan hati….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: