Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tausyiah Shubuh : 35 Kematian dan Penganiayaan di IPDN/STPDN

Posted by agorsiloku pada April 6, 2007

Tausyiah shubuh di mesjid dekat rumah memang tak pernah banyak dihadiri. Sholat shubuh saja hanya belasan orang saja, 80% nya sudah usia pensiunan. Sehabis shubuh, masih sekitar 4-5 orang bertausyiah. Yah, betul-betul ala kadarnya saja. Biasanya sampai jam 6 pagi, tapi lebih sering sampai jam setengah enam saja. Maklumlah, kehidupan Jakarta. Untuk pergi ke kantor, jelas harus berangkat lebih pagi. Hanya pada hari libur, kami bisa bercengkrama sampai jam 6 pagi atau sedikit lebih. Hanya belasan menit memang, nyaris setiap hari. Namun, rasanya setiap pagi saya mendapat siraman rahmatNya.

Pak Tua Yang Menangis saat tausyiah lalu, kembali mengurut dada atas kematian seorang siswa IPDN akibat kekerasan. “Itu sekolah layak dibubarkan”, kalau calon pengurus negara seperti itu dan ditimpali imam masjid yang katanya sudah 34 yang meninggal akibat kekerasan sejak didirikannya, maka bisalah kita mengerti juga bahwa mereka-mereka itu, lulusan stpdn di Pemerintahan juga berkontribusi pada “kebrengsekan” Pemerintah kini. Tentu jangan digeneralisir, tapi bisa saya bayangkan bahwa mutu dan mental mereka jelas tidak memenuhi kriteria priyayi. Tidak memenuhi spirit bangsa untuk membangun.

Blog Dhita menjelaskan cukup menarik, begitu juga penjelasan dari ragam peristiwa di STPDN di sini, layak benar untuk dipahami. Kematian akibat penganiayaan adalah peristiwa tragis dari anak-anak brandal STPDN. Ini mewakili prototipe bangsa ini. Berita lainnya, saya kira akan cukup banyak.

Kematian pasti datangnya. Tidak ada tawar menawar. Kematian adalah keniscayaan. Cara mencapainya adalah pilihan-pilihan atas takdir. Saya tak pernah bisa mengerti, tapi sungguhlah kematian akibat penganiayaan menimbulkan rasa marah dan kebencian pada STPDN maupun IPDN. Apalagi mendengar kembali apologi dari berita RCTI sore ini, hanya 3 sebenarnya yang mati dari tiga puluhan yang pernah belajar di sekolah yang melegalkan kekerasan ini. Membunuh tanpa hak, sama saja dengan membunuh seluruh manusia. Ganti nama, tidak ada gunanya sepanjang spirit untuk berbuat jahat hanya hukuman untuk siswanya. Seharusnya, yang masuk penjara adalah pengajar, pelatih, instruktur, pembina, direkturnya, wakil direkturnya. Karena mereka itulah yang sesungguhnya jadi biang kejahatan itu, terutama pemimpinnya. Hanya pemimpin yang jahat yang mengajarkan kejahatan dan memeliharanya dari tahun ke tahun.

“Ya, Allah saya lebih mempercayai berita itu sebagai kebohongan!”. (berita hanya korban 3 orang. Sumber lain jelas menyebutkan 35). Kita masih akan mendengar lagi tangisan orang tua, saudara-saudara lainnya yang akan masuk dalam berita lagi sepanjang sekolah hobi kekerasan ini dipertahankan.

Pendidikan begitu, mengajarkan moral, tapi tidak mendidik moral. Mengajarkan etika tapi tidak mendidik etika. Pengajar/pembinanya adalah batu tanpa hati.

Saya melangkahkan kaki pulang dari tausyiah itu dengan penuh rasa marah, mungkin begitu pula peserta tausyiah lainnya. Tak terbayangkan kalau anak saya harus berangkat menuju kematian untuk memperoleh perlakuan jahat dalam proses pendidikan. Beribu orang tua dan berjuta anak bangsa, semoga mengutuk proses di IPDN dan mampu membubarkannya atau menjadikan mengerti artinya pendidikan.

Iklan

12 Tanggapan to “Tausyiah Shubuh : 35 Kematian dan Penganiayaan di IPDN/STPDN”

  1. deking said

    Saya sebenarnya berpikir apakah ada korelasi antara legalisasi kekerasan dalam pendidikan tsb dengan sikap kerja setelah lulus (dan jadi pejabat…kan IPDN sekolahnya calon pejabat).
    Kalau alasan pendidikan ala militer adalah untuk melatih kedisiplinan sich masih bisa sedikit diterima, tetapi apakah semuanya harus dilakukan ala barbar? Asal hajar…yang senior mempunyai hak dan kuasa untuk menghajar melatih kedisiplinan para junior.
    Gaya pendidikan seperti ini hanya akan memunculkan lingkaran setan kekerasan dalam pendidikan…setelah yunior beranjak menjadi senior maka mereka juga akan melakukan kekerasan serupa sebagai aksi balas dendam dengan (lagi2) dalil kedisiplinan.
    Apakah setelah para praja lulus dan masuk ke dunia kerja dinas, instansi, departemen dan sejenisnya mereka lantas memiliki kedisiplinan tinggi (seperti harapan dari gaya pendidikan sok militer)? Ataukah malahan mereka menjadi para calon pejabat yang sewenang2 dan main kekerasan dalam memimpin? Mereka lantas menjadi Adigang-adigung-adiguna…
    Apakah kedisiplinan tidak bisa dilatihkan dan diajarkan dengan cara selain kekerasan ala militer?

    @
    Tentu ada. Karena pendidikannya tidak mendidik moral secara cukup. Kalau mengajar moral sih…penjahat juga bisa mengajarkan harus berbuat baik. Tapi tidak ada keteladanan, maka moral pejabat lulusan IPDN, pastilah jelek. Tidak pukul rata, jelek dalam arti hati nuraninya sudah terlanjur beku. Pastilah itu juga akibat pembina dan direkturnya juga berkualitas sama.
    35 mati karena penganiayaan, sebagian tidak diusut hanya mungkin jika sekolah itu selevel dengan kualitas penjara….
    Kesewenang-wenangan hanya mungkin berhenti jika pemimpinnya punya hati nurani. Jadi saya bukan hanya tarunanya.

    Soal keras, banyak perguruan silat yang juga melatih dengan keras, tapi keras dan konyol dan jahat kan beda. Mengikuti hawa nafsu dengan melatih mental baja itu beda. IPDN lebih terdengar sebagai gerombolan jahat yang akan menjadi pemimpin negeri ini. Saya tidak tahu, apakah mereka juga jadi pamong praja, satpol yang suka ngusirin pedagang kaki lima tanpa hati. Jika itu terjadi, saya semakin maklum. Cuma yang saya sedihkan, kok hanya seniornya, kenapa nggak sekjen depdagri, pembina dan direkturnya. Mereka memberikan kontribusi pada kejahatan. Pembiaran adalah kejahatan juga.

    Sekali lagi, pelatihan ala militer, bukan salah, yang salah itu adalah pembinanya tidak punya kualitas moral yang dibutuhkan.
    Waktu dulu, guru beladiri saya sangat santun dan tidak pernah memukul orang sama sekali. Padahal, kalau saja dia seorang brutal, entahlah lempengan beton pun dia patahkan….

    Kita sering menyalahkan oknumnya (termasuk seniornya), padahal jelas direktur dan pembinanya memberikan kontribusi yang besar sehingga “kejahatan itu terjadi”. Hanya memang, Pemerintah, termasuk menterinya memaafkan, melupakan. Toh Clif hanya orang kecil saja….

    Suka

  2. madsyair said

    Penegakan disiplin dengan kekerasan, hanya menimbulkan disiplin semu. Latihan disiplin dengan menekankan pelaksanaan ibadah yang baik, akan menjadi disiplin yang sesungguhnya. sholat dan puasa adalah salah satunya.

    @
    Tidak ada disiplin begitu… lebih jahat dari gerombolan penyamun… Penyamun mengaku penyamun, tapi ini pembunuhan terencana dengan alasan ketidak sengajaan dan penegakan disiplin. Masyarakat pun sedang dibodohi dan sebagian besar anggota masyarakat akan terjebak dengan istilah ini. Jahat benar itu pemimipin dan pembinanya.

    Suka

  3. Pendidikan itu memanusiakan manusia. Kalau membinatangkan manusia, penyesatan namanya…

    Dan mereka calon pemimpin negeri ini?

    @
    penyesatan yang dilegalkan. Jahat-jahat sekali.

    Suka

  4. Saya lebih menyetujui kalau semua elemen sekolah itu dirombak secara total, dan lebih menekankan unsur akedemisnya, misalnya dengan menanamkan ESQ, ahlak dan moral agama kepada mereka. Bukanlah bangsa kita sedang membutuhkan pejabat yang agamis dan moralis agar bangsa ini keluar dari keterpurukan multidimensional ?

    @
    Betul Mas, masyarakat harus mendorong Pemerintah untuk tidak zalim dengan membentuk kader-kader yang zalim dan (akhirnya) korup. Makin banyak dicari sumber-sumber mengenai IPDN/SPTDN, makin terasa bahwa mereka menjadi salah satu kontributor rusaknya bangsa ini.

    Menyedihkan.

    Saya lebih percaya, usulan seperti Mas yang sebenarnya sangat membumi dan tepat, hanya akan masuk tong sampah. Hanya pemimpin yang punya hati nurani saja yang mau memikirkan dan melaksanakan tindakan konstruktif pada sekolah dan bangsanya. Ini yang sudah nyaris tidak ada di lingkungan IPDN dan atasan-atasannya.

    Suka

  5. Saya kira sudah pantas kalau IPDN dibubarkan dengan membaca tulisan Dhita yang Sampeyan angkat. Menurut Effendi Ghazali pada acara news dot com kemarin bukan 34 atau 35 melainkan sudah ada 46 korban nyawa melayang sia-sia dari STPDN – IPDN itu.

    @
    Astagfirullah… sudah semestinya kejadian busuk pada calon-calon birokrat negara ini ditindaklanjuti. Jangan biarkan negeri kita dirusak oleh para pelaku kejahatan ini.

    Suka

  6. […] Bahkan sampai sekarang masalah ini masih hangat dibicarakan oleh rekan-rekan blogger, sebut saja Agorsiloku, Kang Kombor, Wadehel, Erander, Layudhi, (maaf kalau ada rekan-rekan blogger yang belum […]

    Suka

  7. alah emboh lah… ora nggenah kabeh

    @
    benar-benar ora nggenah…

    Suka

  8. Alief said

    setuju. bubarkan saja.

    @
    Hari ini berita dibekukan satu tahun untuk memutuskan rantai kebiadaban yang terjadi. Rektornya sudah diadukan oleh LSM. Lucu ya, kasus hukum pidana kok diadukan. Kayak delik aduan saja. SBY masih setengah hati dan masih ingin memelihara kebiadaban itu.

    Suka

  9. Anonim said

    saya sangat setuju kalau IPDN dibubarkan saja.dari pada negara mencetak calon-calon pemimpin yang seperti preman,lebih baik bubarkan saja.Anaki Madiun.

    @
    Saya sampai sekarang tidak habis mengerti, mengapa Presiden SBY membekukan hanya satu tahun, mengapa rektor beserta aparatnya tidak segera dihukum secara administrasi dan dilanjutkan ke pengadilan apa saja. Mengapa kematian dari tindakan kejahatan hanya dianggap sekedar isu. Mengapa kita harus punya calon pemimpin yang bersikap preman dan dibayar oleh uang rakyat. Pengadilan HAM mana?, kezaliman yang dibiarkan adalah kejahatan terencana. Sungguh, ini potret nista bangsa Indonesia. Biarlah dunia tahu, seluruh dunia, bahwa barbarism dipelihara oleh Pemerintah Indonesia. Andaikan yang disiksa sampai meninggal itu anaknya Presiden atau Menteri Ad Interim Widodo -> Akankah bersikap sama?????

    Suka

  10. pendy said

    IPDN tidak bagus cara mencetak pemimpin ,karena dengan cara yang arogan akan menjadi pemimpin yang rusak juga mentalnya. Kenyataan di lapangan setelah menjabat menjadi penjabat yang rusak juga. ingak …. ingak…ting

    @
    Yang Mas Pendy sampaikan itulah yang membuat saya merasa terhina sebagai rakyat. Rakyat memimpikan pemimpin yang adil, jujur, beretika dan tidak berotak udang. Ternyata uang negara dihambur-hamburkan untuk mendapatkan kader jahat. Apa kita nggak sakit dan kian sakit.

    Suka

  11. Tetanggamu said

    Aduh Pak Rektor kasiaan donk Mendagri lagi sakit jantung tuh,,jangan yang aneh-aneh deh, klo salah ya ngaku ajalah, Nanti kan Mendagrinya shock,wong kita ja negara miskin ngaku kok, ya klo miskin atau salah jangan sombong lah, OK Boss??
    Klo nggak,bakalan jatuh satu korban lagi,,hati-hati ya,,

    @
    Iya Mas Tetanggaku… semoga Mendagri cepat sembuh ya. Keluarga Cliff dan 35 korban penganiayaan yang mengakibatkan kematian beserta keluarganya tentu tak dapat melupakan kejadian kematian anggota keluarganya. Seandainya, adik atau mas yang jadi korban premanisme pendidikan ini, apa yang akan mas pikirkan….

    Suka

  12. […] Pengaruh Hoax Keagungan Allah?Apakah Teori Evolusi Didasari Alasan Penolakan Adanya Tuhan?Tausyiah Shubuh : 35 Kematian dan Penganiayaan di IPDN/STPDNMemburu PlanetAyo, Kalau sudah Pintar : Kesimpulan ini apa?Penting : Kemampuan Menarik Kesimpulan […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: