Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Memburu Planet

Posted by agorsiloku pada April 5, 2007

Yohanes Surya (UPH)

FILM-film fiksi ilmiah sering menampilkan impian terpendam akan adanya dunia lain di jagat raya ini. Sejauh mana kebenaran film-film tersebut? Apakah memang ada “bumi” di sistem tata surya lain yang mirip dengan sistem tata surya kita ini? Kalaupun ada, bagaimana cara kita menemukannya? Kita bisa minta bantuan Fisika untuk menjawab ini!SISTEM tata surya kita terdiri dari satu bintang terang, yang kita kenal sebagai Matahari, yang dikelilingi sembilan benda bulat yang kita sebut planet. Kita sendiri hidup di salah satu bola bulat tersebut yang bernama Bumi. Bola-bola yang mengelilingi bintang terang yang panasnya mahadahsyat itu tidak bisa memancarkan cahaya sendiri. Cahayanya berasal dari cahaya Matahari yang mengenai permukaan planet dan kemudian dipantulkan. Planet yang paling dekat dengan Matahari adalah Merkurius.

Karena orbitnya yang sangat dekat dengan sumber panas dan energi itulah Merkurius menjadi planet yang paling panas, diikuti oleh Planet Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Pluto merupakan planet yang terjauh dari Matahari sehingga memiliki temperatur paling dingin.

Empat planet yang paling dekat dengan Matahari sering kita sebut sebagai inner terrestrial planets. Planet-planet ini (termasuk Bumi) terbuat dari batu dan dikelilingi oleh lapisan- lapisan gas yang kita sebut atmosfer. Empat planet berikutnya termasuk dalam kategori outer gas giants atau disebut juga Jovian Planets.

Sesuai dengan namanya, planet-planet yang termasuk dalam kategori ini berukuran raksasa, dengan massa beberapa kali massa Bumi. Planet-planet ini diselubungi lapisan atmosfer yang penuh dengan gas hidrogen, helium, amonium, dan metana. Planet terjauh dari sistem tata surya kita, Pluto, memiliki komposisi yang lebih mirip asteroid dan komet (tersusun dari campuran bebatuan dan es) sehingga masih banyak kontroversi mengenai klasifikasinya sebagai planet.

Komet dan asteroid yang berseliweran dalam sistem tata surya kita dapat menabrak Bumi dan memusnahkan kehidupan di planet kita. Untung saja sistem tata surya kita memiliki satu planet raksasa, Jupiter, yang gaya gravitasinya begitu besar sehingga selalu menarik komet dan asteroid yang berseliweran itu. Hasilnya, komet dan asteroid yang sedang bergerak dalam kecepatan tinggi justru pecah berkeping-keping akibat gaya tarik gravitasi Jupiter sehingga pecahannya tidak lagi berbahaya bagi Planet Bumi.

Selama ini para peneliti dan ilmuwan fisika banyak mengamati planet-planet dalam sistem tata surya kita untuk mencari kemungkinan adanya “bumi” lain. Matahari (bintang) tentunya terlalu panas untuk dijadikan tempat tinggal. Cahaya dari Matahari menjadi sumber energi bagi kehidupan di planet-planet yang mengorbit. Tetapi makhluk hidup tidak hanya butuh panas atau energi saja. Manusia dan makhluk hidup lain juga butuh cairan (misalnya air). Pada planet yang terlalu dekat dengan Matahari, suhunya terlalu tinggi sehingga cairannya pasti sudah berada dalam fasa uap (gas) atau sudah mendidih.

Pada planet yang terlalu jauh dari Matahari, temperaturnya terlalu dingin sehingga cairannya sudah berada dalam fasa padat (es). Dengan pertimbangan tersebut, diambil kesimpulan bahwa dalam sistem tata surya kita hanya ada dua planet yang memungkinkan adanya kehidupan, yaitu Planet Bumi dan Planet Mars. Planet Mars terus diamati, sementara para peneliti mencari juga planet-planet lain di luar sistem tata surya kita.

Untuk mencari planet-planet dalam sistem tata surya lain, Fisika punya teknik-teknik jitu. Padahal ini bukan tugas yang mudah! Cahaya dari Matahari (bintang) di sistem tata surya lain pasti sangat terang dan menyilaukan sehingga kalaupun ada planet yang mengorbit di sekelilingnya, pasti susah untuk ditemukan. Itulah ajaibnya Fisika!

Para Fisikawan selama ini menerapkan tiga metode untuk mendeteksi keberadaan planet-planet dalam sistem tata surya kita, yaitu Astrometri, Spektroskopi Doppler, dan Fotometri.

Astrometri melibatkan pengukuran posisi bintang terhadap lokasi pengamatan di Bumi. Dalam suatu sistem tata surya, planet-planet dapat mengorbit karena adanya gaya gravitasi bintang. Gravitasi planet itu sendiri juga menarik bintang sehingga terjadi sedikit pergeseran posisi bintang (pergeserannya sangat sedikit tetapi tetap ada). Dengan mengukur secara tepat perubahan posisi ini, kita dapat menghitung periode wobble (pergerakan) bintang tersebut, periode planet yang mengorbit, jarak planet dari bintang (radius orbit planet), dan massa planet. Apa artinya ini? Artinya, jika kita bisa mendeteksi wobble yang besarnya luar biasa kecil itu, kita bisa menyimpulkan bahwa sistem tata surya yang sedang kita amati tersebut memiliki setidaknya satu planet yang mengorbit. Planet itulah yang menyebabkan the very slight wobble.

Spektroskopi Doppler didasarkan pada fenomena Efek Doppler, yang menyatakan bahwa sumber gelombang yang sedang bergerak mendekati pengamat memiliki frekuensi lebih besar dibanding saat bergerak menjauh. Slight wobble bintang karena adanya gravitasi planet (planetnya tidak terlihat karena cahaya bintang terlalu menyilaukan) menyebabkan perubahan jarak bintang terhadap Bumi (titik pengamat). Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan spektrum cahaya bintang. Saat mendekati pengamat, gelombang cahaya bintang memiliki frekuensi lebih tinggi (panjang gelombang lebih pendek). Saat menjauh, frekuensinya lebih kecil (sesuai Efek Doppler) karena panjang gelombangnya lebih besar. Jika kita mendeteksi adanya pergeseran frekuensi ini, kita bisa menyimpulkan bahwa di sistem tata surya tersebut terdapat setidaknya satu planet yang mengorbit. Kecepatan pergerakan bintang dapat pula dihitung menggunakan metode ini sehingga bisa memberikan informasi tentang ukuran dan jarak planet yang mengorbit (radius orbit). Kalau kecepatannya besar, berarti planetnya besar (gravitasinya juga besar).

Fotometri memanfaatkan perubahan intensitas cahaya bintang sebagai indikator keberadaan planet yang mengorbit. Saat planet berada di antara bintang dan Bumi, terjadilah “gerhana”. Dua sampai lima persen cahaya bintang terblokir oleh planet sehingga cahayanya meredup.

Dengan ketiga konsep sederhana tadi, para ilmuwan sudah berhasil menemukan banyak planet di luar sistem tata surya kita. Sayangnya, planet-planet tersebut merupakan planet-planet raksasa seukuran Jupiter, bahkan ada yang besarnya sampai lima kali lebih besar dari Jupiter. Ini disebabkan planet yang kecil terlalu susah untuk dideteksi. Analoginya seperti berusaha melihat (dari Bumi) seorang astronot yang sedang berada di bulan. Efek gaya gravitasi planet tersebut terhadap bintang terlalu kecil untuk dideteksi. Begitu pula perubahan intensitas cahaya bintang akibat revolusi planet. Perubahannya terlalu kecil untuk dideteksi. Padahal yang kita butuhkan justru planet-planet yang mirip Planet Bumi yang dapat mendukung kehidupan. Bagaimana cara Fisika memecahkan masalah ini?

Terrestrial Planet Finder (TPF)! Itulah metode yang sedang dikembangkan NASA bekerja sama dengan Jet Propulsion Laboratory (JPL) di California Institute of Technology (Caltech). Metode ini melibatkan proses nulling, yaitu reduksi cahaya bintang yang diamati. Cahaya bintang diberikan interferensi sehingga tidak lagi menyilaukan, dan planet kecil tersebut bisa terdeteksi.Sekali lagi, Fisika membantu menjawab misteri jagat raya!

Sumber : Kompas (23 Juli 2004)

Iklan

8 Tanggapan to “Memburu Planet”

  1. antobilang said

    *celinga celinguk*

    yah, pertamax deh!!!

    @
    🙂 🙂

    mo bagi-bagi pertamax…. ?

    Suka

  2. antobilang said

    *serius*

    pak agor, apakah bisa kita menjamin kalau manusia mulai mempelajari jagad yang maha luas itu, justru semakin tunduk dengan hukum-Nya pak?

    @
    Kalau dari beberapa ayat yang direferensikan di bawah ini, sepertinya saya cenderung akan menjawab tidak, kecuali mereka yang tidak mengingkari petunjuk Allah atau Allah memberikan hidayah bagi yang dikehendakiNya.. Kalau agor pahami, kesombongan kita sebagai manusia, adalah salah satu yang menyebabkan jauhnya kita dari hidayahNya.

    Dalam ayat yang menjelaskan “menunjuki orang yang dikehendakiNya”… jelas kita tidak punya pengetahuan “siapa” yang dipilih oleh Allah. Namun, dari kesalehan dan kepasrahannya, kita mungkin dapat menangkap “nuansanya”.

    QS 58. Al Mujaadilah 11. Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    Terj. Depag Ind.

    QS 10. Yunus 25. Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam)[685].

    QS 2. Al Baqarah 6. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman

    QS 7. Al A’raaf 193. Dan jika kamu (hai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka ataupun kamu berdiam diri.

    QS 3. Ali ‘Imran 190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

    Suka

  3. deKing said

    OOT:
    Saya kemarin baca di internet (lupa situsnya) kalau baru2 ini ditemukan oksigen di luar angkasa, cuma saya lupa tepatnya ada di mana

    @
    Oh ya… Saya juga sudah pernah baca lama. Namun oksigen di angkasa luar bukan hal yang terlalu luar biasa, saya kira. Karena air (H2O) atau CO2 kalau nggak salah terdapat di beberapa planet kita, sampai ke planet yang jauh. Molekul-molekul itu, seperti CO2 dengan energi listrik atau apalah… kan bisa terurai. Pak Urip pasti tahu itu…. Hal ini tentu memberikan peluang kemungkinan adanya mahluk hidup. Lain kali mo ta cari deh referensinya…..

    QS 21. Al Anbiyaa’ 30. Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

    Suka

  4. dalamhati said

    heleh.. fisika!
    ( garuk-garuk kepala )

    @
    🙂

    Suka

  5. madsyair said

    Asyiknya kalau bisa menguasai ilmu, kita bisa lebih bisa berpikir kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa.

    @
    ya, apakah menguasai ilmu akan semakin berpikir kebesaran Allah?…
    semoga.

    Suka

  6. Evy said

    waaah jagad alam semesta yang luas, aku pribadi percaya ada kehidupan lain di luar bumi, tapi gataw di mana, untuk apa Allah Yang Maha Kuasa menciptakan segitu luas zagat raya apa gunanya ya kira2? Seperti Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi, tentu semua ada gunanya dan maksudnya, gimana pak?

    @
    Wah mba, saya juga nggak tahu. Tapi kalau saya tanya sama Mba, itu bakteri yang ada di mulut, ada berapa banyak, apa fungsinya bagi manusia, terus bakteri itu apa sama untuk seluruh tubuh manusia apa beda-beda?. Terus bakteri yang dimulut monyet sama yang di manusia sama nggak ya? Andaikan bakteri di mulut itu bisa bertanya (karena bisa berpikir), adakah dunia lain di luar mulut ini?….. Apa tugas saya di alam saya (yang ada dimulut)?…..

    Terus plankton, misalnya… apa sih hubungan plankton dengan keinginan Amerika menyerang Irak dan Iran.

    Terus berapa ukuran plankton itu dan peranannya sejak jutaan tahun yang lalu.

    Terus kenapa Allah hanya menjelaskan fungsi bintang itu sebagai alat petunjuk manusia?.

    Peranan seperti apa, sebesar apa dan sekecil apa dalam fungsinya masing-masing. Setidaknya, kita belajar bahwa relevansi ukuran alam semesta yang sangat luas bukan sebagai asumsi bahwa karenanya “harus ada” mahluk lain secerdas manusia.

    Saya juga, masih percaya ada kehidupan di luar bumi. Tapi manusia lain di luar bumi, kalau dari Al Qur’an, berdasarkan pengertian saya (berbeda dengan yang lain). Memang alam ini hanya diberikan untuk manusia saja, sebagai khalifah…. Jadi nggak bakalan deh kita ketemu sama alien yang super cerdas

    Kalau mengikuti singularitas penciptaan awal, beberapa ilmuwan menawarkan kehidupan paralel, ada peluang kemunculan jutaan alam semesta dari sejak penciptaan pertama. Setiap singularitas memungkinkan memiliki peraturan hukumnya sendiri.

    Mungkin diberitakan, mungkin tidak diberitakan oleh Al Qur’an. Tentu kita bisa juga berpikir bahwa di alam semesta lain terdapat pula banyak jenis kehidupan lain yang tidak dikenali oleh alam semesta ini. Apakah Allah hanya menciptakan alam semesta ini dan tidak menciptakan alam semesta yang lain?. Nah kalau begitu, alam semesta yang luas, tidak bisa dijadikan ukuran bahwa alam semesta itu hanya satu-satunya……

    Subhanallah.

    Suka

  7. Echy said

    Spektroskopi Bintang ????????

    @
    Pada artikel, spektroskopi doppler. Spektroskopi adalah ilmu yang mempelajari effek pergeseran cahaya berdasarkan pergeseran doppler…
    Bintang bercahaya (mengeluarkan gelombang elektromagnetik) pergeserannya dibanding dengan pergerakan bintang yang kemudian diamati… 😀

    Suka

  8. echy said

    bukan itu yang saya maksud!!!! yang saya maksud itu pengertian spektoskopi bintang secara umumnya, bukan secara epitemologinya!! bantu dong!!!!!!

    @
    Ini saya temui di sini :
    http://cosmicemission.wordpress.com/2007/06/15/kelas-spektrum-bintang/
    http://id.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_bintang
    http://id.wikipedia.org/wiki/Joseph_von_Fraunhofer
    Mudah-mudahan membantu… 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: