Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Blog, Blogger, dan Angka : Hukum Klik 2

Posted by agorsiloku pada Maret 29, 2007

Memandang Betul dan Salah.

Ada cerita kuno, begini ceritanya. Ada seorang anak dan ayahnya menuntut seekor keledai kecil di jalanan berpapasan dengan segerombolan orang, muncullah komentar-komentar.

“Kasihan tuh anak itu, harus berlelah lelah menuntun keledai. Mbo ya, suruh naikkin itu keledai, biar Bapaknya yang menuntun keledai itu”

Oke, diturutilah nasehat itu. Tak lama, berpapasan dengan rombongan lain yang kemudian memberikan komentar.

“Dasar anak tak tahu diri, Bapaknya kecapean, anaknya ongkang-ongkang saja di keledai itu. Mbo ya Bapaknya yang sudah tua gitu yang naik, bukan anaknya yang sehat dan segar bugar begitu”

Oke, diturutilah nasehat itu. Anaknya menuntun keledai, Bapaknya yang naik keledai. Tak jelang siang, berpapasan lagi dengan rombongan lain yang berkomentar :

Dasar Bapak tidak tahu diri. Keledai kecil begitu dinaikkin. Dasar Bapak tidak berperikebinatangan”.

Oke, diturutilah nasehat itu. Kini Bapaknya turun dari keledai itu, lalu dipanggullah keledai itu oleh Bapak dan anak sekaligus, menuruni jalan berbukit dan bebatuan, sampai berpapasan lagi dengan rombongan lain yang berkomentar :

“Tuh lihat, ada Bapak dan Anak yang sama gilanya. Seekor keledai dipanggul. Benar-benar tidak masuk akal”

Bapak dan anak kelelahan, ternyata tidak ada pilihan yang tepat menurut setiap pandangan. Ada pilihan lain mungkin, sembelih saja keledainya (?).

Kalau keledai itu sama dengan blog gratisan itu, maka pilihan yang benar hanya ada di tangan kliker yang membaca site kita. Menjawab setiap persepsi terhadap pembacanya, maka selalu akan mendapatkan jawaban yang keliru sesuai sudut pandangnya.

Namun, saya lebih memilih bahwa setiap penilaian memiliki unsur kebenaran, sesuai hukum kliknya yang berlaku. Jadi hargai saja, jangan hakimi pandangan yang diberikan. Kalau tidak, tidak akan lagi yang mau berkunjung ke blog kita. Inilah Hukum Klik yang Kedua.

Menyatakan apa yang Tidak Dimiliki.

Ada cerita lainnya, juga sebuah cerita tua :

Nasrudin dan hakim saling berdebat untuk memilih apa jika ditawari “kebijaksanaan” atau “kekayaan”

“Kalau saya akan memilih kekayaan”, Kata Nasrudin yakin dalam obrolan warung kopi dengan rekannya seorang hakim.

“Kalau saya, jelas dengan jabatan saya seorang hakim membutuhkan kebijaksanaan. Saya akan memilih kebijaksanaan. Ini sudah jelas dan tak mungkin ditawar-tawar lagi”.

“Oke”, Sahut Nasrudin berkata dengan santun : “Setiap orang pasti memilih apa yang tidak dimilikinya“.

Jadi

hukum klik ke 3 : “Setiap orang akan mengambil dan menyatakan apa yang tidak dimilikinya“.

Selanjutnya, tentu saja setiap blogger bisa membuat hukum-hukum sesuai dengan KUHS-nya masing-masing (Kitab Undang-undang Hukum Seenaknya).

Sudah dulu ah.

Iklan

9 Tanggapan to “Blog, Blogger, dan Angka : Hukum Klik 2”

  1. deking said

    Mmm… analogi yang bagus Pak.
    Kalau kita menulis hanya memikirkan antara kita (sebagai penulis) dan para pembaca semua maka akan jadi lumayan rumit…
    Pandangan versi manusia secara individual itu relatif subyektif, kalau kita menulis hanya berdasarkan pikiran kitalah yg paling benar maka itu tidak baik..tetapi kalau kita mnuruti keinginan pembaca juga repot karena para pembaca mungkin memiliki pandangan yg berbeda2 (kayak ttg keledai itu), jadi bagaimanapun juga kita masih sedikit membutuhkan suatu patokan-mungkin norma, “aturan” atau mungkin juga hati nurani- ketika kita “menaiki keledai” (menulis di blog)kita. Dan benar juga kalau kita harus menghargai pendapat orang lain…tetapi sepertinya masalah benar-salahnya sekali lagi berdasarkan suatu patokan…
    Hehehe…maaf kalau ngawur, sekarang dalam kondisi setengah sadar (ngantuk sekali 😀 )
    Saya tidur dulu saja ah…daripada semakin ngawur

    BTW saya sendiri sebenarnya masih otoriter dalam menulis karena saya senang maksa hehehe…

    @
    Mas Deking, selamat tidur ya… kita sedang menyindir diri kita sendiri di hukum klik ini….

    Suka

  2. pak agor hukum klik ke duanya mana yah kok langsung ketiga, mestinya di tandai dengan warna merah yah 🙂

    @
    Eh iya ya Pak Urip, terlalu buru-buru. Lagi belajar bikin polling sih… Kesalahan diperbaiki. 🙂

    Suka

  3. madsyair said

    jadi diri sendiri aja ya, pak. kritik baik jadi bahan perbaikan, kritik jelek tinggalkan.) salam kenal. btw,suka cerita2 lama, pak?

    @
    Ya, jadilah seperti adanya, mensyukuri yang diberikan kepada kita ya. Kritik, ya… jadi bahan perbaikan, tapi biar searif Presiden…., gerah juga tuh sama kritik. Semakin tinggi jabatan, kritik sepertinya makin menuai badai. Namun, “kalau bisa”, kritik yang kita nilai jelek kita terima justru dengan “suka cita”, karena ia mengasah pedang semakin tajam. Saya terkesan, tapi sama sekali tidak bisa meniru kisah dari Republika yang saya simpan di blog ini, ….Pengemis Buta….

    Salam kembali Mas Madsyair, iya… suka cerita-cerita lama namun selalu segar. Kisah keledai itu, sering sekali saya ceritakan kalau mau berdiskusi dan bertukar pandangan dengan rekan.

    Suka

  4. Evy said

    hehehehe pak Agor lagi mbahas statistik rupanya pak? Wadduh tadinya aku ga kepikir sm statistik, karena aku menulis pake hati bukan kebutuhan click… tapi aku setuju point 2 hargai saja pendapat org, sebenernya aku dah bahas ttg org yg memberi komentar itu kenapa ya kebanyakan juga ingin ikut rame2 aja sambil ga ngerti perkarane… ya udahlah sing pening kita sudah ingatkan, bangsaku ini emang unik ya suka sekali ribut bukannya mengambil poinnya.., tapi aku tetep mencintai bangsaku kok..

    @
    he..he…he…, Mba perhatikan lho. Mencari judul yang tepat, mengambil isu-isu ringan banyak diusahakan para blogger untuk masuk area agar hit-nya (dihitung sebagai pahala malah), termasuk memberikan komentar sebagai “salam” kehadiran dan kunjungan ulang tentunya. Maknanya kan positip, saling berbagi, silaturahmi kan?. Oh ya, mengenai : Kenapa ya kebanyakan juga ingin ikut rame2 aja sambil ga ngerti perkarane?. Ini jelas menyangkut hukum klik ke 3 dan hukum klik yang ke 4. Agor juga ingin dan mau belajar mencintai bangsa sendiri juga.

    Suka

  5. raffaell said

    Iya, saya setuju dengan perspektif semacam itu, karna manusia memiliki sudut pandang yang berbeda beda dalam memandang sesuatu.

    tapi, kalau menurutku, kalau hukum itu harus eksak dan tepat kan, ngga berbeda beda, misalnya hukum newton *halah*

    Nah kalo hukumnya dinamis gini ya jadi KUHS deh (istilah yang bagus)

    @
    yap, setuju saja…. ini memang rada-rada guyon sih.

    Kalau pernyataan : Hukum itu harus eksak dan tepat?. Nah, ini sebenarnya asyik juga tuh untuk dibahas. Percaya nggak Mas, sesungguhnya tuh, segitiga itu tidak 180 derajat, Misalnya tinggi Mas 1,75 meter di Amerika, itu berbeda dengan tinggi Mas di Indonesia, karena yang disebut tinggi itu adalah jarak antara dua titik. Titik itu berada pada suatu bidang ekuipotensial. Jadi selisih titik kaki mas dan ujung kepala Mas harus berada pada dua bidang ekuipotensial yang melingkupi bumi. Karena masa bumi tidak homogen, maka bidang ekuipotensialnya juga tidak benar-benar sempurna (bulat), tapi agak lonjong dikitlah. Karena itu tinggi Mas di Amerika, beda dengan tinggi Mas di Indonesia. Nah… mana yang benar-benar eksak. satu tali yang direntangkan lurus, katakanlah A dan B. Jarak dari A ke B itu; “sesungguhnya” tidak sama dengan jarak dari B ke A. Tidak pernah benar-benar tepat, tergantung angka berarti yang dipakainya. Gitu juga hukum Newton, benar-benar deh penyederhanaan habis-habisan….. Tapi, jangan tanyakan lagi… aku ora mudeng juga…. udah terlalu lama ditinggalkan…. Salam…

    Suka

  6. joerig said

    Full of wisdom …

    seperti yg aku bilang sama bu Evy,… Pa Agor itu kalo nulis pake otak dan bu Evy nulis pake hati, tapi bukan berarti pa Agor ngga pake hati dan bu Evy ngga pake otak …. hehehe

    (padahal kan pake tangan, and ini kan diketik bukan ditulis…hehehehe…guyon lho pak, sumpah !!, tapi yg diatas serius … 🙂)

    @

    Joerig benar-benar menunjukkan kecantikan hati, logika, dan pikirannya. Salam ya Joe Can.

    Suka

  7. joerig said

    eh pa Agor, sorry mau koreksi dikit … joerig itu dibaca jurig … bukan jorig …. nanti bisa berabe kalo dibaca jorig… 🙂

    @
    Kan agor tulis Joe Can, bukan Jo Can…..

    abis, kumaha atuh, maenya agor nyarios : “Teh Jurig”, “Ka jurig nyauran Teteh…..”

    Joe Can is better than Teh Jur, right?….

    Suka

  8. Mr. Geddoe said

    Ini bukan plagiarisme ‘kan? *dibakar massa* ^^

    @
    Untuk tingkat akademisi, plagiarisme tentu saja kuat keniscayaannya.
    Di blog ini, agor selalu (dan sebisa mungkin) cantumkan sumbernya. Namun, untuk kisah tradional, kisah lama yang jika diurut, sulit mencari sumber aslinya, agor hanya sebutkan :…cerita kuno. Jelas di sini agor tidak klaim sebagai cerita milik pribadi (saya yang mengarang), tapi cerita dari masa lalu, entah kapan. Agor membaca cerita ini 30 tahun yang laluan juga sudah ada. Mungkin nenek agor juga sudah pernah membaca.
    Tapi, jangan karena ini ya, dibakar masssa. Kok serem kali.

    Begitu juga cerita kedua, ditulis juga “sebuah cerita tua”, tokohnya Nasrudin. Jelas, bukan karangan agor, tapi memang dibahasakan (diceritakan kembali) oleh penulisnya.

    🙂

    Suka

  9. […] membuat hukum baru yang unik dan lucu, tapi keren! Hukum yang dimaksud adalah Hukum Klik Satu, Dua dan […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: