Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Standar Mutu dan Ujian Nasional

Posted by agorsiloku pada Maret 24, 2007

Karena banyak diajari oleh Pak Guru Helge, mau tak mau terbaca juga persoalan Ujian Nasional. Beberapa topik terangkat sangat menyedihkan (baca : memprihatinkan), misalnya “Guru Menjadi Penghianat” atau “Penyebab Ternodanya Ujian Nasional“. Sisi tentang ujian nasional diberikan catatan oleh Yan, juga menarik untuk disimak. Pandangan agak lama tapi juga cukup membumi disampaikan oleh Y. Suwarna, “Menyelenggarakan Ujian Nasional, Siapa Takut?”

Komentar-komentar dari blog Pak Guru di atas, yang dijadikan acuan utama wacana ini cukup menarik. Ada yang jelas menolak, setengah-setengah, meragukan. Dan yang tampak memprihatinkan adalah adanya kecenderungan hilangnya spirit dari ujian nasional yang diselenggarakan (dan akan diselenggarakan Mei 2007 ini) karena perilaku oknum-oknum yang terpaksa dan harus untuk menyelamatkan muka sekolah, para pejabat lingkungan pendidikan, sampai Bupati, Gubernur dan juga muka dari Pemerintah Pusat.

Standar Mutu dan Kelulusan.

Manajemen Berbasiskan Mutu, berbasiskan sekolah menghendaki peran sekolah (guru, sekolah, serta perangkat lainnya) untuk mengatur sendiri kehidupan pendidikannya. Meskipun, fakta birokrat diknas tentu saja terlibat. Apalagi yang menyangkut pengeluaran anggaran Pemerintah. Tidak jarang dan bahkan nyaris selalu terlibat jika berkaitan dengan dana. Bahkan, industri yang berkait erat dengan sekolahpun ikut terlibat menentukan. Nggak percaya?. Coba saja tanya pada para pelaku bagaimana dana DAK, Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), Dana Bantuan Operasional Pendidikan, Dana Pembangunan Sekolah, dan lain sebagainya dilaksanakan. Ada memang Komite Sekolah yang orang tua murid ikut terwakili. Namun, fakta lapangan tidak bisa berjalan. Semua intinya, sama, bergulirnya rupiah dan hilangnya spirit dunia pendidikan mewarnai pembusukan dari berbagai segi.

Kembali ke standar mutu !. Saya termasuk setuju bahwa kelulusan siswa ditentukan oleh sekolah sepenuhnya. Mengapa?. Ya sederhana saja, 3 tahun belajar. Sekolah dan guru tahu muridnya semampu apa!. Jadi yang lulus dan tidak lulus, janganlah ditentukan oleh satu kali peristiwa. Satu kali ujian nasional. Itu nggak cengli (tidak wajar). Apalagi yang diuji hanya beberapa mata pelajaran saja.

Jadi silahkan saja sekolah menetapkan standar kelulusan siswa di sekolah masing-masing. Rambu-rambu telah ditetapkan oleh Pemerintah, Kurikulum yang berganti-ganti sesuka hati telah dibuat. Itu sudah cukup. Silahkan saja siswa idiotpun diluluskan, atau siswa pintar tidak naik kelas. Semua logis dan tidak logis adalah bagian dari proses pendidikan.

Namun, jika kita kemudian bertanya seberapa mampu kita memberikan penilaian pada ribuan sekolah, jutaan siswa yang mendapatkan nilai sembilan atau lulus. Samakah satu sekolah dengan sekolah lain. Jelas, harus diakui beda. Pengambil keputusan selanjutnya, sampai di dunia kerja, membutuhkan informsi standar mutu antar ragam nilai yang sama mutu berbeda dari para lulusan. Contoh kongkrit, seperti nilai Toefl (test kemampuan berbahasa Inggris) sebagai alat ukur untuk bisa masuk ke perguruan tinggi di luar negeri. Itu dibutuhkan dan mutlak harus nilai sekian dan independen harus dilaksanakan oleh lembaga yang juga teruji. Berlaku di seluruh dunia?. Yes.

Pemerintah juga begitu, birokrat pendidikan juga begitu, masyarakat juga begitu. Perlu memahami dan mengetahui gambaran mutu pendidikan melalui suatu standar baku. Tanpa standar mutu baku secara nasional, kurikulum yang ditetapkan dan segala perangkatnya hanya teruji di alam mimpi. Karena tanpa standar menyeluruh, semua sekolah bisa suka-suka menjalankan semua perintah kurikulum dengan rambu-rambu dalam interpretasinya sendiri. Nah, di sini perlu adanya ujian nasional yang memberikan acuan mutu dari setiap sekolah, setiap daerah, setiap desa, setiap kota. Berapa deviasi dari setiap kejadian terhadap standar mutu nasional yang dikehendaki.

Saya tidak tahu, bagaimana di negara lain. Tapi, saya yakin standar mutu itu harus ada dalam mengelola sesuatu. Bukan hanya pendidikan, tetapi juga hampir di semua bidang kehidupan.

Kelulusan.

Spirit kelulusan, seyogyanya ditetapkan oleh sekolah. Tapi standar mutu, perlu dibangun. Ini bisa setiap tahun diuji, bisa diakhir masa pendidikan. Sekolah bisa meluluskan semua siswa pemalas dan tidak masuk untuk belajar dengan angka 9 semua, tapi jelas dia tidak akan memiliki nilai baku mutu yang memungkin dirinya dihargai di pendidikan lanjutan. Kalau dia putus sekolah, terus bekerja sendiri jelas dia perlu lulus tapi tidak perlu mencapai standar mutu yang ditentukan. Tapi kalau dia (siswa) melanjutkan ke jenjang-jenjang lebih tinggi, jelas standar mutu yang dikehendaki oleh si penerima diperlukan. Saat ini, pendidikan lanjutan juga “terpaksa” harus melakukan uji sendiri untuk menerima siswa atau mahasiswa baru, karena jelas standar baku mutu tidak cukup kuat untuk dijadikan prasyarat masuk ke jenjang lebih tinggi atau masuk ke dunia kerja.

Jadi, plis deh… bedakan antara lulus ujian nasional dengan lulus dari tingkat pendidikan.  Tanpa spirit yang tepat, kita akan bekerja di level amburadul……

Iklan

5 Tanggapan to “Standar Mutu dan Ujian Nasional”

  1. Pokok soalnya, Pertama, guru memang payah dalam menerapkan kurikulum. Kalau muatan pelajaran berjalan sebagaimana di dimuat kurikulum lancar, apapun bentuk evaluasinya, siswa akan mampu. Ini kelemahan sekaligus kesalahan guru. Ngak usah berkilah atau cari berbagai alasan dan argumen.
    Kedua, sistem UN memang ngak macthing, baik teoritis maupun aplikatif. Lebih pada kebijakan nasional yang tidak bijak. Sistem pendidikan tidak sistemik karena memang dikendali dengan tidak cerdas, sekalipun mungkin oleh orang-orang cerdas.
    Ketiga, kita selalu ribut pada hal periferal bukan substansial makanya setiap ada ‘aksi’ selalu ada ‘reaksi’. Begitulah bangsa yang tidak bekerja secara sistemik.
    Kalau begini ceritanya, harus ada ‘pemotongan generasi’ bari bisa pendidikan nasional dan bangs ini akan baik. Semakin diberantas korupsi, semakin gede korup-korupnya. Kenapa? Yang dicabut bukan akarnya tetapi ujung dahan.
    Salam kenal.
    @
    Salam kembali. Sungguh catatan yang bernas.

    Suka

  2. @ Pa Ersis
    Bapak kan salah satu pengajar di ‘pabrik guru’ pak? Kalo guru da kualitet, berarti andil produsen juga dunk?
    He…

    Suka

  3. Evy said

    Setuju sama pak Ersis, berantas korupsi, majukan pendidikan, bekerja sama secara simultan, tapi gimana caranya pak? salam kenal ya pak…

    Kasihan juga guru dan murid yg di uyo2 kebijakan2 ajaib

    @
    Yap, di uyo-uyo oleh korupsi… duh Gusti….

    Suka

  4. Bener saja… guru banyak yang tidak serius menjalankan tugasnya, asal saja. Ini faktor utama, saya juga merasa seperti itu. Meskipun tidak yakin bisa mengubah keadaan, saya selalu mencoba untuk sedikit lebih baik meskipun lingkungan sulit.

    @
    Orang tua mana yang melihat pendidikan untuk anak sebagai bagian penting, selain kebanggaan pada secarik kertas berlabel lulus…..
    Do’a kami Pak Helgeduelbek, semoga guru-guru yang seperti “Oshin” dirahmati olehNya, mempusakai bumi Nusantara dari petaka tak berkeputusan.
    Oshin spirit is a great deal for our Indonesian….

    Suka

  5. H.N. Wawan said

    Pokoknya yang teroris berkedok agama dan menyebarkan penyakit TBC [Tahayul, Bid’ah, Syirik] adalah wahabi salafy/i deh… mau berontak…???

    @
    ha…ha…ha… 🙂 terimakasih undangan Mas HN Wawan. Undangan yang benar-benar Cerdas bin Bid’ah ….
    Terimakasih juga atas ketukan pintu ke rumah agor. Biar nyaring, tapi tak merusak kaca pintu kok…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: