Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pandangan Bebas Nilai Sains dan Islam

Posted by agorsiloku pada Maret 20, 2007

Sebuah komentar dari seorang yang kebetulan mau menjenguk blog ini mengingat saya kembali akan pandangan sains yang bebas nilai dan Islam yang menjadi jalan keselamatan bagi yang berada di jalur asa dalam kehidupannya. Catatan komentar Joesath tertulis :

…… oleh para “mereka yang mengaku menganut suatu manhaj”, ketika saya berbicara dari sisi sains, saya malah dikatai sebagai ahli bid’ah dan bahkan kafir (

Menggelitik?. Ya… Sains bebas nilai, objektif dan diolah melalui pengamatan berkesinambungan, terus menerus, dan disempurnakan. Hadir dari filsafat positivisme yang mengangungkan pendekatan material dan harus terukur secara inderawi (melalui metodologi keilmuan tentunya).

Karena objektivitasnya pada pandangan indrawi dan harus teruji, maka sains mendekati dari kacamata agama (Islam) menjadi susah.  Islam tidak bebas nilai.  Islam berbicara pada sudut-sudut yang tidak dimiliki oleh ilmu (pengetahuan).    Karena itu pula, Jamaluddin menulis dalam artikel yang dikomentari Joesath : “tidak ada sains islam yang ada adalah saintis islam dan bukan saintis islam”.

Saya sendiri termasuk yang punya pandangan sains tidak bebas nilai.  Kenapa?.  Ya, yang namanya manusia tetap saja punya keinginan-keinginan untuk menyimpulkan sesuatu atas dasar cara pandangnya.  Ketika Eistein mengeluarkan kata yang terkenal : “Sains tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu pincang” atau Stephen Hawking berkata :”saya membaca pikiran-pikiran Tuhan”, sangat jelas bahwa persepsi pengetahuan dan kemampuan memahami fenomena alam melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang tidak bebas nilai.

Sains juga ditelaah dengan segala kemajuannya semakin (menurut agor) semakin juga terjerembab pada pertanyaan-pertanyaan yang semakin tidak ada jawabnya jika diolah dari pengetahuan inderawi, terukur, dan objektif.  Karena, semakin di dalami, semakin tampak bahwa penelitian-penelitian yang terjadi, indikator-indikator yang terjadi mengarah pada substansi yang tak tertangkap oleh inderawi.  Paling minimal, indikasi makin mengetahui menjadi semakin tidak mengetahui.  Misalnya saja, ketika bicara alam, muncul pemikiran alam paralel, materi gelap, ketiadaan materi dalam teori dawai.  Wujud menjadi sesuatu yang pseudo.

Jawaban-jawaban kemudian sangat tampak subjektif atas objektif yang diamati atau diteorikan.  Jadi, semakin tampak bahwa sains harus (baca : kemudian) semakin subjektif dan tidak bebas nilai.  Kesulitan sains mempertahankan posisi untuk bebas nilai semakin sulit karena fakta indera menangkap begitu banyak masalah-masalah di luar dimensi-dimensi fisik yang terukur pada bidang-bidang fisika, kimia, biologi, astronomi tampaknya semakin menekan ilmuwan untuk melihat dan harus melihat tidak hanya pada realitas objektif, tapi juga realitas relatif terhadap spirit atau metafisik.

Agama (dalam tulisan ini khusus Islam) membawa alur pemahaman spiritual, metafisis dalam 3 pengamatan : Inderawi, logika (akal), dan intuisi/naluri/kalbu.  Dengan begitu, masalah-masalah nonobjektif ilmu pengetahuan inderawi hanya menjadi bagian dari nilai sains Islam.  Dengan begitu pula, sains bukan berada di luar pemahaman ketika seseorang beragama (Islam), tapi seluruh pemahaman sains menjadi bagian dari nilai-nilai dari transedental kehidupan.

Kemudian, apakah memahami sains dari sisi pandang agama (Islam) adalah bid’ah dan kafir.?

Wah… no commentlah.

Iklan

4 Tanggapan to “Pandangan Bebas Nilai Sains dan Islam”

  1. Sebenarnya ilmu alam adalah ilmu untuk mempelajari ayat2 Allah juga toh, Kenapa masih saja ada yang berpandangan mengkafirkan seseorang seperti itu?

    @
    Kafir dipahami artinya tertutup. Menurut definisi Al Qur’an, yang paling terkenal ya QS Al Kafirun, … Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, Yang menyimpang dari jalan Allah (QS 4:89), orang yang diberi peringatan atau tidak sama saja bagi mereka (QS 2:6), Al Qur an itu tidak lain adalah kebohongan (QS 25:4), kaum yang tidak mengerti (QS 8:65), yang berputus asa pada rahmat Allah (QS 12:87), menyombongkan diri dan berbuat dosa (QS 45:31), kaum yang dimurkai Allah (QS 60:13), kaum yang fasik (QS 9:80), yang mendapatkan siksa yang pedih (QS 9:3), mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat (QS 16:107).

    Tanya kenapa (mode oon)?

    Suka

  2. Chairul said

    Bismillah…

    “Menurut definisi Al Qur’an, yang paling terkenal ya QS Al Kafirun, … Aku tidak menyembah apa yang engkau sembah dan kamu penyembah Tuhan yang aku sembah.,..

    Artian yang anda berikan salah pak!

    Terjemahan Surah Al-Kafirun Surah Al-Kafirun:
    1. قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ Katakanlah: “Hai orang-orang kafir,
    2. لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,
    3. وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
    4. وَلا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
    5. وَلا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
    6. لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku

    btw, sy belum menangkap maxud pak argo melampirkan referensi ayat-ayat tersebut??

    saya tdk tahu apa yg dimaxud ‘org-org ber-manhaj’ dgn mengkafirkan seseorang itu, krn komenya ndak jelas mas… 😀 siapa dan knapa mreka mengkafirkan org yg dimaksud.

    kalau sy, mari kita kembalikan ke Al-Qua’an dan Sunnah Nabi SAW.
    karena…pasti ktika Nabi SAW diwahyukan dgn “IQRO’…” “Bismirobbikaladzi kholaq…” sudah jelas toh!! Ilmu harus dilandaskan keimanan!!
    klo ndak salah, Nabi SAW pernah berkata, ‘jika kita ingin meraih dunia harus dgn ilmu, jika kita ingin meraih kebahagiaan akhirat dgn ilmu…’ tapi kt org bijak, “semua harus didasarkan pada keimanan kepada Allah SWT”

    Wallahua’lam bisawaf….!!

    @
    Mas Chairul, terimakasih… betul-betul sudah ngantuk ngetiknya… trims, saya langsung juga koreksi.
    Maksud agor menampilkan referensi tersebut karena arti kafir harus dipahami dari Al Qur’an, jangan dipahami hanya dari segi bahasa atau asal katanya (kafara) atau artinya tertutup atau yang sejenisnyalah. Beberapa ayat yang disebutkan itu menjelaskan mengenai kata kafir, jadi sebenarnya kalau merujuk pada komen … sains… bid ah… kafir, hanya menegasi kita semestinya proposional dalam melakukan judgment.. Sekali lagi trims koreksinya.

    Suka

  3. Chairul said

    Koreksi…

    “btw, sy belum menangkap maxud pak argo melampirkan referensi ayat-ayat tersebut??”

    maaf, sy sdh cb paham referensi ayat-ayat yg diberikan pak argo.

    Suka

  4. Chairul said

    Koreksi…

    “btw, sy belum menangkap maxud pak argo melampirkan referensi ayat-ayat tersebut??”

    maaf, sy paham referensi ayat-ayat yg diberikan pak argo.

    @
    trims…. tersirat memang, tapi tak mau membuat definisi lain kecuali yang dirujuk oleh yang mahaKuasa. 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: