Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Amerika Menurut Seorang Amerika

Posted by agorsiloku pada Maret 20, 2007

H.Muh.Nur Abdurrahman.
KUMPULAN TULISAN H.M. NUR ABDURRAHMAN
(Dari Kolom Tetap Harian FAJAR bertajuk “Wahyu dan Akal – Iman dan Ilmu”)

Firman Allah:
— WADZA QYL LHM LA TFSDWA FY ALARDH QALWA ANMA NhN MSHLhWN (S. ALBAQRt, 11), dibaca: wa idza- qi-la lahum la- tufsidu- fil ardhi qa-lu- innama- nahnu mushlihu-n (s. albaqarah), artinya: Apabila dikatakan kepada mereka, janganlah kamu berbuat bencana di muka bumi, mereka berkata, sesungguhnya kami berbuat kebajikan (2:11).

Seorang Amerika itu, yang termaktub dalam judul di atas, Noam Chomsky namanya. Ditengah arus besar “memerangi teroris”, ada seorang Noam Chomsky yang berteriak nyaring: Amerikalah Sang Teroris!

Marilah kita putar jarum jam ke tahun 1977. Dalam tahun itu di Philadelphia, Pennsylvania, sekejap sebelum Dr. William Chomsky menutup mata untuk selamanya; di depan Elsie Simonovsky, istri dan kedua anaknya Noam dan David Chomsky, imigran Yahudi asal Rusia ini menuturkan beberapa bait pesan. “Anakku, jadilah engkau seorang individu terdidik yang memiliki integritas, bebas dan independen dalam berpikir, peduli dalam upaya meningkatkan dan mendorong kehidupan dunia, dan berpartisipasilah menciptakan hidup yang lebih bermakna dan bermanfaat bagi semua,” ujar Yahudi berkebangsaan Rusia yang hijrah ke Amerika pada 1913 ini.

Pesan terakhir ini berdampak besar bagi Noam Chomsky, anak pertamanya. Sebagai pribadi, jadilah Noam, kini profesor linguistik di Massachuset Insitute Technology (MIT), seorang yang punya integritas tinggi, bebas, dan independen dalam berpikir. Ia, melalui karyanya berjudul Pirates and Emperor : International Terrorism in the Real World, yang telah diterjemahkan oleh Mizan dengan titel Maling Teriak Maling,; Amerika Sang Teroris ? membongkar kedok Amerika. Selama ini, Amerika, dengan gurita media massanya, telah menancapkan sebuah pemahaman yang keliru atas semua peristiwa dunia. Dengan jaringan media sebagai tentakelnya, Amerika memaksakan American Ideological System untuk mengontrol pikiran manusia melalui kata-kata dan pemberian makna tertentu. ‘Kamus Adikuasa’ itu menterjemahkan semua peristiwa menjadi sebuah keuntungan bagi Amerika.

Dalam buku itu, Chomsky, mencap Amerika sebagai “Kekuatan teroris utama” , yang menggunakan standar ganda dalam berbagai kasus. Yaitu dengan memproduksi “Newspeak” – ucapan baru. Terjadilah dua dunia dalam benak orang: dunia nyata dan dunia Newspeak. Chomsky telah menginventarisir sejumlah kata yang telah diserongkan maknanya.

Bila negara-negara Arab menerima posisi AS, mereka disebut “moderat’. Bila menolak disebut “ekstremis”. Dalam benak orang disuntikkanlah melalui mas media bahwa kata “ekstremis”, termasuklah di dalamnya a.l. PLO, Libya, Iran, , Thaliban dan Iraq.

Kata-kata berikutnya adalah “terorisme”, yang pada mulanya berarti tindakan kekerasan yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti lawan. Dalam Kamus Newspeak, terorisme adalah tindakan protes yang dilakukan oleh negara atau kelompok-kelompok kecil yang anti Amerika. Pembunuhan tiga orang Israel di Larnaca adalah terorisme, tetapi penyerbuan sasaran sipil di Tunisia, pembantaian Sabra dan Satila dan penyiksaan warga palestina disebut “pembalasan” atau “tindakan mendahului” (preemptive).

Dalam medan konflik Asia Barat (sudah berulang kali saya tulis, jika memakai predikat Timur Tengah, berarti kepala kita dipenggal, kaki berjejak di Indonesia, kepala ditaruh di Amerika) . Makna Newspeak “Proses perdamaian” berarti “usulan perdamaian yang diajukan oleh Amerika Serikat”. Usulan-usulan perdamaian, yang dikemukakan oleh negara-negara Arab-apalagi Palestina (betapapun realistisnya)-dianggap sebagai penolakan. Untuk itu diciptakan sebuah Newspeak buat usulan yang tidak sama dengan usulan AS, yaitu rejeksionisme. Orang yang terbius oleh Newspeak itu akan bersimpati kepada AS yang selalu bersusah payah menciptakan perdamaian. Pada saat yang sama orang yang terbius itu membenci negara-negara Arab yang rejeknionis.

Pada Oktober 1980, misalnya. Presiden Amerika Jimmy Carter berkolusi dengan Jose Napoleon Duarte, salah satu kelompok yang bertikai di El Savador, melakukan penggilasan dan penyembelihan terhadap 50 ribu rakyat disana dengan dalih “memberantas gerilyawan pemberontak”. Peristiwa mirip El Savador itu juga terjadi dilain tempat, yaitu Palestina, Kuba, Jepang, Guatemala, Vietnam, Korea Selatan, Iran, Iraq dan, yang terakhir Afghanistan. Rakyat Afghanistan, dibalut duka yang ditebar ‘burung-burung besi pembunuh’ AS. Langit Afghan yang selama ini berisi awan dan pelangi berubah menjadi gelaran karpet kematian.

“Kami hanya melihat ibu dan anak-anak kami mati. Mengapa anda bunuhi kami? Apa sih yang kami lakukan, para warga sipil ini kepada anda,” ratap Khawaja Ahmad (25), bersama dua anaknya yang kini mengungsi di Jalalabad, seperti dikutip koran USA Today. Ia menjadi saksi hidup penghancuran ratusan rumah mereka dan puluhan orang meregang nyawa.

Chomsky, Profesor linguistik yang telah menulis lebih dari 30 buku, sejak 1965 konsisten mengkritik keras kebijakan luar negeri Pemerintah AS. Ia menjadi figur yang cukup disegani lantaran kekritisannya. Namun, ia bagai teriak di lorong yang sunyi di tengah arus besar, apa yang mereka sebut, ‘Perang melawan Teroris’. Mampukah teriakan Chomsky menghentikan teror bagi rakyat sedunia?

Ala kulli hal, mampukah Pemerintah RI bertahan dari tekanan Amerika, yang sesungguhnya kedaulatan kita telah didaulat Amerika melalui IMF? WaLlahu a’lamu bishshawab.

*** Makassar, 20 Oktober 2002 [H.Muh.Nur Abdurrahman]

Iklan

11 Tanggapan to “Amerika Menurut Seorang Amerika”

  1. Evy said

    Orang Amerika nasionalisnya gede pak, mereka dr kecil udah dididik cinta tanah air, terbiasa dg diversity karena isinya emang multibangsa sbnrnya, tapi mereka itu takut kemana2 wanine cuman sekitaran sini aja, kali banyak musuh iku, dadi wis wedi dewe, hidup disini juga cukup nyaman, yg males aja di kasih duit. Tapi aku tetep ingin pulang kok, bosen hehehe

    @
    Ya.. betul mereka terbiasa dengan diversity. Pengalaman perang saudara di Amerika di masa lalu mengajarkan pentingnya untuk bertanya dan ramah juga : “What’s up guy”. Jaman koboy sudah usang, tapi pemimpinnya sampai sekarang tetap koboy. Nasionalisme mereka tinggi, american dream….

    Suka

  2. syahrul said

    sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga, walaupun sekarang amerika masih bertengger di puncak klasemen suatu saat akan terdegradasi juga, saat ini yang penting bagi kita adalah persiapkan diri kita untuk segera meninggalkan zona degradasi, meskipun kita gak tau pasti kapan itu terwujud. yang penting kita bangsa indonsia berbenah diri untuk menjadi lebih baik, agar siap untuk melepaskan diri dari rongrongan amerika. roda pada hakikatnya ingin berputar, jika statis bukan roda namanya.

    @
    Saya sering berpikir begitu juga…..

    Suka

  3. Fourtynine said

    Apakah ini bisa dikatakan sebagai kelanjutan dan tanggapan dari komentar saya di artikel ini?

    @
    Bahkan lebih lugas dan jernih dari yang saya duga 🙂

    Suka

  4. Fourtynine said

    Puas, setidaknya saya dan teman saya tidak salah dalam menafsirkan konspirasi dan kepentingan politik (sebagian oknum)Amerika.

    @
    Sebagian dan sejarah menunjukkan bahwa garis-garis batas negara ditetapkan juga oleh kepentingan politik minyak (di Timur Tengah). PBB pada dasarnya kekuasaan antar negara dikuasai oleh mereka yang memiliki hak veto. Yang sebenarnya menyedihkan (dan saya yakin ini terjadi) proses pemiskinan negara, bangkrutnya negara dunia ketiga, tidak lepas dari kekuasaan-kekuasaan politik negara (Termasuk tentunya adidaya). Begitu juga persenjataan pemusnah masal. Mereka boleh punya, negeri muslim… mana boleh. Sedihnya lagi, Indonesia ikut-ikutan pula menekan Iran….

    Suka

  5. […] mengingat saya pernah berkomentar di blog yang saya kagumi milik mas Agorsiloku. Contohnya di sini, di sini, dan di sini. Begitu juga dengan komentar saya di sini, di blog milik ressay. Kalau gambar […]

    Suka

  6. elza said

    JawaPOS, NUSANTARA, Selasa, 01 Mei 2007
    Amerika Mengincar Uranium Kalimantan

    JAKARTA – Diam-diam Amerika Serikat (AS) mengincar potensi tambang uranium di Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur. Itu dilakukan setelah negeri yang mengklaim sebagai polisi dunia itu gagal menekan Iran untuk mendapatkan sumber bahan nuklir tersebut.

    Kabar itu diungkapkan Drs H Abdul Latif Abdul Hamid MSi, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kuala Kapuas, Kalteng, yang mengikuti seminar tentang teknologi, termasuk pembahasan masalah uranium di Jakarta, Sabtu 28 April. “Sebenarnya seminar membahas persoalan khusus teknologi. Tapi, narasumber dari Iran dan Turki sempat mengungkapkan permasalahan itu kepada peserta seminar. Pernyataan mengenai rencana AS menguasai Kalimantan itu bukan materi pokok seminar, namun menjadi sangat menarik,” kata Latif.

    Pria yang sekarang menempuh program S-3 di sebuah perguruan tinggi di Jakarta itu mengungkapkan, narasumber mendukung pernyataan tersebut dengan data intelijen yang bersumber dari foto satelit. “Kalau Iran dan negara Timur Tengah lainnya bisa dikuasai AS dengan isu-isu nuklir seperti sekarang, wilayah Kalimantan aman. Tetapi, kalau gagal di Timur Tengah, sasaran berikutnya adalah Indonesia, dalam hal ini Kalimantan,” ujarnya.

    Dalam seminar terungkap bahwa kandungan uranium di bumi Borneo, termasuk Kaltim, lebih tinggi dibanding kandungan uranium lain yang ditemukan di dunia. Potensi uranium ditemukan di wilayah pedalaman Kutai Barat, Kutai Kartanegara, serta di beberapa wilayah di Kaltim.

    Kandungan uranium di Kalimantan mencapai 24 ribu ton yang setara dengan kebutuhan listrik 9.000 megawatt selama 125 tahun. Lokasinya di Desa Kalan, Kecamatan Ella Hilir, Melawai, Kalimantan Barat. Kabarnya, uranium di kawasan itu sudah ditambang secara misterius oleh pihak asing, yang disebut-sebut dari Prancis. (ari/jpnn)

    @
    Wajar saja, Indonesia pilihan empuk untuk diacak-acak, apalagi Pemerintah Indonesia saat ini paling doyan menjual asset-asset negara untuk bangsa lain… Semen, Sumber Alam, Indosat, Bank, .. wah.. banyak sekali… dan karenanya, kita senang memelihara kemiskinan. Amerika wajar mengincar Indonesia, ini adalah negara yang sumber daya alamnya banyak, dan sumber daya manusianya ramah dan bisa diobok-obok….

    Suka

  7. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Soal “MALING teriak maling”, biasalah itu.
    Baru-baru inikan si Amrik lagi punya rencana untuk memasukkan Garda Nasional Iran kedalam daftar terrorist. Jadi siaapun yang dirasa bakal menggangu kepentingan Amerik, baik diluar negeri apalagi didalam negeri, maka negara atau kelompok tsb. bisa dan harus dimasukkan dalam kelompok terrorist dan “wajib’ diperangi.
    Apakah ini sifat nasionalis?. Tidak. Ini adalah cermin rasa ketakutan yang teramat sangat. Seorang yang takut kegelapan, maka bayangannya sendiri juga dirasakan seolah-olah mengejar dirinya dan akan membunuhnya. Apa lagi Amrik. Ketakutan dan kebencian sudah melebur jadi satu. Phobia terhadap Islam sudah merasuk jauh kedalam jiwa dan organ tubuh sebagian besar para penguasa Amerik, kalaulah tidak bisa dikatakan kedalam seluruh sendi kehidupan bangsa Amrik itu sendiri. Jadi apapun yang berhubungan dengan Islam, dicari dan diusahakan bahkan kalau perlu direkayasa titik gelapnya. Apapun yang mereka lakukan terhadap negara Islam maupun kelompok Islam, dicarikan pembenarannya, kalu perlu memanfaatkan siapa saja, apakah itu organisasi, orang perorangan bahkan kelompok Islam, yang bisa mereka beli atau yang mau mereka kibulin.
    “MALING teriak maling” adalah cara untuk mengalihkan perhatiaan orang banyak. Kalau orang banyak sudah bisa dialihkan perhatiannya, maka “Sang MALING” dengan leluasa menjarah sasaran yang sudah direncanakan. Contohnya, Afghanistan, Irak, Sudan, Palestina dan banyak lagi termsuk Indonesia.
    Soal alasan pembenaran mereka itu tidak terbukti. Siapa takut. Karena mereka percaya, tidak akan ada satu negarapun yang bakalan berani macam-macam. Kalau hanya sebatas protes, demontrasi, bakar-bakaran bendera. Kecil itu. Kalau perlu mereka ongkosi, biar rame. Itung-itung buat nambah kolom berita. Asyik bukan. Mari kita juga ikut-ikutan “MALING teriak maling”. Sekali lagi biar rame.
    Wassalam,

    @
    Wass.wr.wb.
    Karena terbiasa dalam prasangkaan, dan dugaan-dugaan itu begitu suburnya ….

    Suka

  8. sikabayan said

    euh.. kasihan endonesa yah?… apalagih rakyatnyah yang sangat2 ramah teh.. yang engga dikasih tahu.. kalau dari tambang tembaga teh.. yang disedot sama diangkut teh raw hasil tambangnyah… bukan tembaganyah..
    beu.. didalem raw teh padahalmah sekian persennyah emas atuh.. belum lagih persen2an yang lainnyah… 😦

    @
    Indonesia menurut orang Indonesia… terasa kita begitu lemahnya ya….

    Suka

  9. sikabayan said

    euh.. ditambah aneh tapi nyata nyah.. bantuan i em ep teh.. semuah negara yang dibantunyah… terbukti menjadi acak2an dan sekaligus bangkrud… 😯

    @
    Adakah tulus membantu?, atau kita merasa lemah dan semakin lemah karena dibantu?.

    Suka

  10. […] mendapat jawaban pasti. Saya coba coba membuka kembali postingan Mas Agorsiloku di sini dan di sini. Setidaknya argumen saya tidak salah pada saat itu. Sebelumnya,haraf di catat baik baik. Untuk […]

    Suka

  11. indra said

    takjun dan bingung………

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: