Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mengamati Transit Kembaran Bumi dan Gempa Bintang

Posted by agorsiloku pada Maret 18, 2007

Taufiq

Perburuan planet-planet Kembaran Bumi (Earth-like Planets) secara fisis merupakan planet bebatuan beratmosfer (terestrial planets) atau planet Kebumian akan sangat meriah pada satu dasawarsa ke depan.

Berbagai jenis teleskop antariksa dengan beragam teknik diluncurkan dan beroperasi. Planet Kebumian diduga kuat berada di lokasi yang dinamakan habitable zone, pada rentang 1-2 AU (Astronomical Unit), atau antara Bumi dengan asteroid, dari bintang induk. Pada lokasi ini planet tidak terlalu panas dan terlalu dingin sehingga jika air berada di sana akan dalam kondisi cair.
NASA meluncurkan Teleskop Kepler tahun 2007 untuk mendeteksi 100.000 bintang dan target menemukan lebih dari 600 planet Kebumian. Tahun 2010 Terestrial Planet Finder (TPF) diluncurkan guna mengamati 5.000 bintang terdekat dalam radius 90 tahun cahaya. Sementara, ESA meluncurkan teleskop Eddington pada tahun 2007 dengan target pengamatan 500.000 bintang.

Dilanjutkan dengan peluncuran teleskop Darwin setelah tahun 2009 untuk mengamati 300 bintang dalam radius 50 tahun cahaya. Dan misi pencarian planet Kebumian yang bakal pertama kali diluncurkan antara tahun 2005 hingga 2006 adalah teleskop Corot (Convection, rotation, and transits) milik Perancis untuk mendeteksi 50.000 hingga 60.000 bintang terdekat.

Semula, penemuan planet di bintang lain (extrasolar planets) dengan menggunakan teleskop landas Bumi menggunakan metode astrometri, spektrometri Doppler, dan fotometri. Sayangnya, ratusan planet yang telah ditemukan hingga kini merupakan planet raksasa gas (gas giant planets) berukuran sama atau lebih besar dari Yupiter (Jupiter-like planets).

Planet kecil, seukuran Bumi (sepersepuluh diameter Yupiter) sulit sekali dideteksi. Pencarian planet Kebumian ini tidak lepas dari upaya manusia dalam menjawab pertanyaan, “Apakah ada kehidupan lain dari luar Bumi, apa pun itu bentuknya?”

Karenanya teknik pengamatan yang telah ada dikembangkan dan disempurnakan sehingga diperoleh teleskop yang jauh lebih peka. Hal ini seiring dengan tahapan pencarian planet di luar Tata Surya yang meliputi pencarian planet raksasa gas, lalu menemukan planet seukuran Bumi, dilanjutkan menganalisa kondisi atmosfer, dan terakhir menentukan keberadaan aktivitas biologi.

TPF dan Darwin memiliki perangkat teknologi yang menggunakan teknik nulling interferometry, yaitu kemampuan mereduksi cahaya bintang dengan interferensi sehingga planet kecil yang mengorbit sumber cahaya (bintang) bisa teramati. Sedangkan Corot, Kepler, dan Eddington menggunakan teknik fotometri yang telah disempurnakan.

Namun, yang menarik dari ketiga teleskop terakhir ini adalah misi yang diemban bukan hanya diperuntukkan menemukan planet Kebumian, namun juga mengamati kondisi bintang induk guna menentukan struktur bagian dalamnya (asteroseismology).

Misi g

Corot yang dibuat oleh Badan Antariksa Nasional Perancis (CNES) akan menjadi pioner pencarian planet mirip Bumi sekaligus menentukan struktur bagian dalam bintang. Dengan kapasitas teknologinya saat ini, Corot didesain mampu mengamati planet Kebumian berukuran skala menengah, yaitu lebih besar dari Bumi namun lebih kecil dari planet raksasa gas, ketika transit atau melintasi bintang induknya.

Teleskop ini merupakan batu loncatan pengembangan teknologi untuk misi yang lebih ambisius, yaitu Eddington dan Kepler, yang nantinya mampu mendeteksi planet Kebumian berukuran setengah ukuran Bumi.

Corot adalah teleskop kecil dengan diameter cermin utama hanya 27 cm ditambah 4 buah kamera CCD (charge-couple device) dan bekerja dengan teknik fotometri dengan kemampuan presisi yang amat tinggi.

Kedua jenis perangkat ini dibagi dua bagian untuk mengemban dua tugas, yaitu pengamatan transit planet Kebumian dan asteroseismologi. Masa tugas selama tiga tahun dengan target menemukan puluhan planet Kebumian dan beberapa ratus planet raksasa gas.

Dalam mengerjakan proyek ini, CNES dibantu oleh beberapa negara seperti Spanyol dalam pembuatan antena, Austria, Brasil, Belgia, Jerman, Pusat Penelitian dan Teknologi Antariksa Eropa (ESTEC) di Belanda dalam pembuatan optik, dan Badan Antariksa Eropa (ESA) dalam pengiriman dan pengolahan data.

Melalui teknik fotometri ini akan dapat ditentukan periode orbit, kemiringan bidang orbit, dan radius planet serta jarak planet ke bintang.

Asteroseismologi

Atau dinamakan Seismologi Bintang merupakan teknik dalam menentukan struktur interior bintang dengan mengamati osilasi atau getaran di permukaan bintang. Untuk Matahari dinamakan helioseismologi. Untuk pengamatan Matahari, ESA telah meluncurkan Solar and Heliospheric Observatory (Soho) pada tahun 1995.

Teknik di atas diilhami oleh teknik pengukuran bagian dalam dan susunan kerak Bumi melalui gelombang gempa bumi (earthquake), baik yang terjadi secara alami ataupun buatan, dinamakan seismologi. Melalui perhitungan cermat, kecepatan gelombang yang merambat dari satu titik ke titik lain di permukaan Bumi dengan seismometer, baik jenis gelombang kompresi/primer maupun gelombang menggunting/sekunder, maka dapat diperkirakan susunan dan bentuk interior Bumi. Pasalnya, kecepatan gelombang yang merambat di dalam Bumi tergantung medium yang dilewati.

Metode itu dipakai untuk penentuan interior bintang setelah diketahui bahwa Matahari (bintang) berosilasi yang berasal dari daerah konveksi melalui gerakan yang bermacam-macam arahnya. Akibatnya, bintang bergetar. Diistilahkan dengan starquake atau gempa bintang. Untuk Matahari, osilasi yang terjadi memiliki periode 5 menit yang merupakan gabungan dari 2.000 buah osilasi dengan frekuensi berbeda.

Seperti penentuan struktur interior Bumi, kecepatan rambat gelombang osilasi itu ditentukan oleh temperatur dan komposisi medium yang dilewati. Pengamatan terperinci hal ini dapat menentukan struktur interior, seperti kerapatan, temperatur, tekanan, komposisi kimia, termasuk massa dan umur bintang tersebut.

Mencari keterkaitan

Dalam kaitan pencarian planet Kebumian, tidak bisa dilepaskan dari kondisi bintang induknya. Apakah hanya bintang-bintang yang mirip Matahari (sun-like star) saja, dengan kesamaan massa, umur, dan komposisi kimia yang ditasbihkan memiliki planet Kebumian. Atau dimungkinkan pula keberadaan bintang yang lain dengan kondisi berbeda.

Penemuan keterkaitan kondisi dan jenis planet yang terbentuk secara teori akan memudahkan pencarian jenis planet Kebumian dari ratusan miliar bintang di galaksi Bima Sakti. Banyak teori mencoba menjelaskan hal itu seperti kajian Stephen J Kortenkamp dari University of Maryland yang dimuat di Journal Science edisi 10 Agustus 2001 yang mengatakan keberadaan planet Kebumian di bintang ganda.

Teori ini berbeda dengan Teori Model Standar yang mengatakan pembentukan planet hanya di sekitar bintang tunggal seperti Matahari.

Hingga munculnya persamaan Rare Earth hasil racikan Peter Ward dan Don Brownlee dalam bukunya Rare Earth: Why Complex Life is Uncommon in the Universe yang merupakan modifikasi dari Persamaan Drake (dalam menghitung keberadaan Extra-Terestrial Intelligence) dan telah menimbulkan perdebatan hangat.

Taufiq Ketua Klub Astronomi Bondowoso
Sumber : Kompas

Iklan

2 Tanggapan to “Mengamati Transit Kembaran Bumi dan Gempa Bintang”

  1. Waaah.. Saya bisa menemukan kembaran saya tidak disana?

    *komentar seorang tunaastronomi dan payah terhadap posting seismologi.

    @
    Tulisan astronomi di atas itu mencari planet sejenis bumi di alam semesta ini lho, betul-betul murni sains. Berbeda dengan “alam semesta paralel”, dunia paralel yang walaupun itu sempat dicetuskan oleh beberapa ilmuwan top, lalu kemudian banyak di-hollywood-kan tapi saya sendiri tidak jelas dan tidak mengerti posisi alam semesta paralel itu bisa ada dalam konteks apa. Di Al Qur’an sama sekali saya belum menemukan pendekatan yang mengarah pada alam semesta paralel (kembaran), jadi saya juga tidak berani memasukkan sebagai bagian dari artikel di blog ini. Teori alam semesta paralel dikembangkan setelah teori superstring dikembangkan. Jadi, pertanyaan : “saya bisa menemukan kembaran saya tidak di sana?” adalah pertanyaan fiksi sains.
    Ini masih terlalu pseudo buat saya….
    Namun, trims atas komentarnya.
    Soal seismologi, saya juga nggak tahu juga. Mungkin tanya ahli geolog saja. Dia lebih tahu kayaknya.

    Suka

  2. Sepertinya dari blog ini cocok untuk siswa saya yang akan ikut olimpiade astronomi tingkat kabupaten nanti yah… siiip makasih pak.

    @
    🙂 Namun, sangat agor sarankan siswa Pak Urip berkunjung ke sini. Ini adalah site yang sesungguhnya, selain link-link astronomi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: