Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Suatu Pagi Di Sebuah Seminar

Posted by agorsiloku pada Maret 15, 2007

Dr. Raghib As-Sirjani, dalam buku Misteri Shalat Subuh, hlm 39, Penerbit Aqwam. Jembatan Ilmu.

Saya pernah menghadiri sebuah seminar kedokteran di salah satu kota di Amerika. Saya terkejut ketika mengetahui bahwa sesi pertama semintar tersebut dimulai jam enam pagi. Benar, jam enam pagi!.

Saat itu, waktu shalat subuh agak mundur (siang), dan saya selesai mengerjakan shalat Subuh kurang lebih jam enam seperempat (waktu setempat). Kemudian saya bergegas menuju ke tempat seminar saat itu juga. Dalam perjalanan saya membayangkan — dengan yakin — akan mendapati aula kosong. Siapa sih yang mau datang pagi-pagi buta seperti itu untuk menghadiri sebuah seminar?.

Setiba di aula, saya begitu terkejut. Apa yang saya temui jauh dari bayangan sebelumnya. Ternyata aula sudah penuh sesak. Mungkin ada sekitar tiga ribu orang. Hampir-hampir saya duduk di paling belakang.

Sambil mendengarkan isi seminar, saya tak habis-habisnya berpikir, bagaimana mereka bisa mengatur hidupnya sehingga bisa mendatangi pertemuan ilmiah –yang notabene bersifat pilihan, bukan kewajiban– pada jam enam pagi?. Di saat yang sama, mengapa sebagian umat Islam tidak bisa mengatur hidupnya untuk melaksanakan shalat, yang notabene merupakan kewajiban, bukan sekedar pilihan?

Saya yakin, jika umat Islam mampu memenuhi panggilan shalat Subuh ini, niscaya Allah akan mengokohkan agamanya di muka bumi ini.

Iklan

5 Tanggapan to “Suatu Pagi Di Sebuah Seminar”

  1. Evy said

    Saya juga yakin apabisa umat Islam menegakkan shalat dengan baik dan benar pasti kita maju pak. Pernah aku bareng team Jepang operasi di Jogja, dibilangin jam 7 mulai, eh kita udah dateng, pintu kamar operasi dibuka aja belum pegawainya belum dateng, jd duduk2 deh di luar nungguin sang juru kunci…:( malu-nya aku…

    Oh ya pak Agor jd authornya pak Shodiq juga ya, aku lihat di dash board ku ada nama pak Agor, gimana itu kok bisa nyampur2 pak, mohon penjelasan, soale pak Shodiq tak tanya belum menjawab

    @
    Betul Mba, saya pernah baca : ciri orang munafik itu adalah shalat Isya dan Shubuhnya kasep…
    Shalat Shubuh dalam berbagai hadis menjadi sangat istimewa, bahkan andaikan tahu rahmatnya, orang akan datang dengan merangkak untuk bisa ke masjid dan berjamaah. Fakta, sebaliknya.

    Perihal salat SMART, saya ikutan nulis dikit karena diundang oleh Pak Shodiq, seperti Mba juga. Jadi tiba-tiba saja masuk dalam dashbor saya juga. Padahal “invitation” -nya. nya belum saya oke kan. Ini juga saya bingung. Mestinya WordPress setting disainnya, masuk dasbor author asli kalau sudah di aksep. Soal nyampur, itu kelihatannya setting dari programnya begitu.

    Cuma saya juga belum tahu cara ngilanginnya. Soalnya, saya cari di delete blog, saya tidak bisa lakukan juga untuk ini.

    So, piye ya Mba, gimana kalau minta sama wordpress agar jangan masuk dasbor sebelum undangannya diterima/disetujui oleh orang yang menerima undangan (are invited).

    Gitu Mba ceritanya. Salam, agor.

    Suka

  2. BTW soal itu kirim aja ke pengundang agar mengalihkan ke email dengan blog baru.

    @
    Thx, berarti yang bisa melakukan untuk SMART itu, Mas Shodiq ya. Kita sendiri tidak bisa?. Mas Shodiq?, hallo. Ini usul yang bagus dari Kang Urip.

    Suka

  3. Evy said

    iya mas Shodiq…please deeh pake usul Pak Urip ajaa

    @
    Hallo Mas Shodiq, r u there?.

    Suka

  4. El Za said

    ck..ck.. apa iya ya ?(sambil nunjuk hidung sendiri)
    ***
    Karakter Manusia Indonesia Picik dan Tak Mau Kalah
    Laporan Wartawan Kompas M Zaid Wahyudi

    JAKARTA, –Manusia Indonesia dicirikan dengan karakter yang picik, solidaritas rendah, serba instan, dan sulit menerima kekalahan. Kondisi tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sosial di Indonesia sulit diwujudkan.

    Penggiat filsafat kebudaayan Tony Doludea di Jakarta, Jumat (16/3) sore mengatakan karakter manusia Indonesia adalah mudah iri hati, picik, dan tidak menyadari solidaritas untuk tujuan bersama. Mereka juga suka memperoleh sesuatu secara instan, mengabaikan proses dan kerja keras, percaya terhadap klenik, dan tidak dapat menerima kekalahan.

    ”Karakter itu ada dalam diri seluruh manusia Indonesia, mulai dari politisi, akademisi, intelektual, pemimpin, tokoh agama, hingga orang awam dan rakyat miskin,” kata Tony.

    Mental manusia Indonesia tersebut membuat masyarakat tidak lagi percaya kepada kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Kondisi tersebut membuat keadilan dan kesejahteraan sulit diwujudkan di Indonesia.

    @
    Trims infonya Mas El Zach. Biar artikel ini pendek, saya mo angkat ke posting artikel, karena isinya pada dan berisi.
    thx

    Suka

  5. […] Gelombang-gelombang Tak Terdeteksidwi pada Isyarat ’Pohon Hijau’ Dalam Al-Qur’anEl Za pada Suatu Pagi Di Sebuah SeminarEvy pada Fenomena Orang AmerikaEvy pada Suatu Pagi Di Sebuah SeminarAmd pada Fenomena Orang […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: