Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Amplop Isi Seratus Rp untuk Polisi.

Posted by agorsiloku pada Maret 3, 2007

Dimanapun, di negeri hukum Indonesia, nama polisi identik dengan pertolongan dan keburukan. Pengalaman saya bergaul dengan polisi, ditemui polisi baik dan polisi buruk. Namun, harus diakui cap (stigma) nama buruk pada polisi lebih kuat dari pada nama baik.

Pernah ingat cerita tentang polisi, begini (diceritakan bebas)

Suatu kali, seorang miskin membuat surat kepada Tuhan :” Ya Tuhan, saya ini orang miskin dan paling miskin di kampung ini. Berilah saya uang Rp 100 ribu saja”. Begitulah permintaan si miskin ini, lalu permintaan ini dimasukkan ke dalam amplop masukkan ke kotak pos (bis surat) dengan tujuan kepada Tuhan. Ketika diterima petugas pos, mereka khawatir. Jangan-jangan ini ekstrimis yang meresahkan masyarakat. Maka diberikanlah surat itu ke polisi. Pak Polisi kemudian membaca surat ini. Suratnya begitu mengharukan dan memelas, sehingga trenyuhlah polisi itu dan kemudian mereka sepakat mengumpulkan uang untuk orang miskin ini. Karena umumnya polisi juga tidak kaya, terkumpullah uang sebanyak Rp 80 ribu.

Dengan berbunga-bunga, polisi yang telah mengidentifikasi si miskin tadi, memberikan uang itu dengan amplop tertutup ke si Miskin tadi. Tentu saja si papa menerima amplop pemberian Tuhan itupun berbahagia.

Setelah polisi itu pergi, mereka kemudian mengintip apa yang dilakukan oleh si Miskin tadi, yang masuk ke rumah gubugnya. Kemudian si Miskin itu membuka dan menghitungnya. Setelah itu, terdengar lantunan do’a dari si Miskin tadi :

“Ya Tuhan, terimakasih. Engkau telah memberiku uang seperti yang kuminta. Sesungguhnya Engkau benar-benar sayang pada hambaMu ini. Namun, ya Tuhan…. lain kali, janganlah Engkau kirimkan melalui polisi, biar hambaMu menerima pemberianMu utuh…..

Anekdot ini diceritakan dari seorang teman, yang juga polisi. Sambil ha..ha.. hi..hi… dia juga bercerita :

Polisi itu abdi negara, pembela rakyat setia, polisi itu bla… bla… bla….

Lalu, dia berhenti sejenak dan berkata : “Polisi itu, saya sih bukanlah polisi itu...”

Lalu, dia berkata lagi :”Polisi yang terbaik di dunia itu, polisi….. ya… polisi tidur!

Ini cerita dari teman, sewaktu kuliah :

Satu kali, teman saya kena tilang, puluhan tahun silam. Kemudian disitalah STNKnya. Dengan jalan damai, teman ini datang ke rumah polisi. Dia siapkan amplop dengan isi Rp 100 (seratus rupiah). Lalu di rumah polisi itu, rumah sederhana seorang polisi, dia datang untuk meminta kembali STNK berikut penggantinya yang telah disiapkan.

Sejenak kemudian, dengan keramahtamahan dan kesederhanaan polisi itu yang menerima “korban”nya di rumahnya, teman saya duduk di ruang tamu yang sederhana. Singkatnya, dia seorang polisi yang memang berpangkat bawah dan pas-pasan hidupnya.

Dalam pembicaraan di ruang tamu itu, tiba-tiba terdengar suara dari dalam rumah : “Pah.. uang untuk beli beras ada nggak!?“.

Sebentar Mah… ada tamu nih“, kata polisi itu.

Teman saya di ruang tamu itu tersentak dan tersentuh :”Sungguh, saya pilu mendengarnya Gor”, katanya. Ingin rasanya mengambil kembali amplop yang diisi seratus perak itu, dan menggantinya. Tapi posisi saat itu, beliau sudah salaman untuk pamitan pulang bersama STNKnya. Awalnya saya betul-betul jengkel dengan polisi itu, tapi sekarang saya mengerti mengapa mereka”terpaksa” juga berbuat begitu. Asap dapur tak bisa tidak harus ngepul terus.

Sejak saat itu, teman saya tidak pernah lagi menolak untuk ditilang.

Memang, kemiskinan adalah warna lain kehidupan, meskipun itu juga adalah ujian bagi Polisi. Tapi, ia juga manusia biasa. Seperti profesi lain, tanpa kecukupan kesejahteraan pada rata-rata, sulit kita mengharap hukum tegak dan nama baik korps sama tegaknya…..

Iklan

Satu Tanggapan to “Amplop Isi Seratus Rp untuk Polisi.”

  1. fourtynine said

    dengan semangat disiplin dan komitmen untuk melayani dan melindungi masyaratkat, seharusnya polisi memang di gaji oleh negara dengan layak. tapi polisinya (sebagian oknum)juga harus mampu menahan diri dari godaan untuk mencari duit yang mengandung “lemak babi”

    @
    Betul Mas, saya juga merasa begitu. Polisi berada dalam pilihan :dimakan ayah mati, tidak dimakan isteri dan anak sengsara. Tentu ini pada sebagian mereka. Ini ujian untuk pribadi-pribadi dan korpsnya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: