Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jalan Mendaki dan Sukar

Posted by agorsiloku pada Maret 2, 2007

Wah ini jalan yang paling mengasyikan, apalagi kalau kita seorang pencinta alam.

Jalan mendaki dan sukar adalah :

10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan
11. Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.
12. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?
13. (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,
14. atau memberi makan pada hari kelaparan,
15. (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat,
16. atau kepada orang miskin yang sangat fakir.
17. Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
18. Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.

tapi lebih “mengasyikan” lagi bagi orang islam.

Kenapa kita duduk manis, terbelit oleh urusan dunia, bertengkar saling perihal golongan atau dan lain sebagainya, sedangkan di jalan pulang kantor, di pertemuan meeting-meeting, di hotel, di tempat wisata, di banyak tempat kita bercerita tentang perjuangan memberdayakan kemiskinan, mengeluh korupsi, dan segala hal yang berlalu dalam ketidakpuasan kita kepada tetangga, kepada pemimpin, sampai kepada Tuhan. Seperti kita lupa, bahwa Allah memberikan pesan kepada kita untuk melakukan hal-hal di atas…..

 

Mungkinkah ini jalan terlalu sukar, terlalu sukar untuk dilakukan.

 

Iklan

2 Tanggapan to “Jalan Mendaki dan Sukar”

  1. Kalau di refleksikan kepada kehidupan bernegara menyangkut pemerintahan, sepertinya negeri ini jauh dari ajaran di atas yah?

    @
    Negara Indonesia :
    Walah… payah benar…. kita tidak punya cukup keinginan untuk memiliki apa yang disebut : social responsibility maupun social security. Ada memang hak-hak orang miskin dan tak mampu untuk dipelihara negara, Jamsostek, kartu miskin, dlsb. Tapi, karena mentalitas kebudayaan kita mengikuti penuh gaya Koencaraningrat — mental menerabas maka sepertinya betul yang disampaikan Pak Guru….

    Suka

  2. Padahal Indonesia negara penduduk muslim terbesar di dunia lho pak, orang bule aja keder, dikira muslim di sana strong banget… kalau saja ajarannya di jalankan seperti itu, beres pak, krisis moneter berkepanjangan.
    Oh ya budak itu apa sih pak? klo pembantu budak bukan? khan sekarang udah ga ada budak to pak?

    @
    Indonesia, menurut saya adalah negeri berpenduduk yang berKTP Islam terbanyak, sebagian di dalamnya terdefinisi menurut agor dalam pengertian Al Qur’an adalah (mungkin/boleh jadi) syirik dan musyrik.

    Perbudakan?…. rasanya masih ada dan boleh jadi ada sampai akhir zaman. Bukankah domestikasi Indian itu bagian dari “selimut perbudakan”, tenaga pekerja buruh yang tidak dibayar layak, penjara-penjara (penghukuman) dan pekerjaan paksa juga adalah “perbudakan”, pemerasan TKI adalah juga perbudakan, pembantu rumah tangga yang tidak boleh keluar rumah (dikurung majikan) adalah juga perbudakan (?), anak-anak kecil dipekerjakan dalam industri sehingga kehilangan hak-haknya juga adalah perbudakan, pekerja seks juga adalah perbudakan. Dan beragam perbudakan dalam sisi-sisi kehidupan, berbungkus apa saja. Intinya perbudakan adalah ketika manusia tidak diperlakukan menurut nilai-nilai kemanusiaan dan manusia kehilangan hak pilihnya dalam satu komunitas, ketika dia terpaksa menerima pilihan itu. Itulah sisi perbudakan yang diselimuti keindahan hukum.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: