Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Accidental Leader

Posted by agorsiloku pada Februari 28, 2007

Meskipun ada dalam lintasan pikiran, tapi ketika Boss memanggil untuk membahas kelanjutan dari rencana penerapan sistem dan prosedur baru perusahaan dan memberikan laporan perkembangan terakhir dari rencana implementasi yang sudah bertahun-tahun dibahas ini. Saya sedikit terperangah. Siapa yang menjadi Project Officernya?. Terus terang, saat itu saya lebih siap menerima pertanyaan teknis tapi bukan pertanyaan mengenai hal-hal yang menyangkut sumber daya manusia. Namun, lintasan pikiran adalah juga peluang. Tidak ada artinya mempersiapkan sesuatu sebaik apapun sistemnya, tapi tidak menyediakan orangnya. Intuisi pilihan terkadang sangat singkat, jadi saya tunjuklah seseorang. Sebuah pilihan sangat subjektif dan tanpa analisis mendalam.
Itulah bagian dari sisi pilihan.
Keputusan memang bukan berada pada rasionalitas, tapi pada kesempatan, kesingkatan dan lintasan pikiran. Pertanyaan seperti : Apakah Soekarno menjadi pemimpin bersejarah ataukah sejarah yang melahirkan pemimpin bernama Soekarno?. Pemimpin atau keputusan selalu dilakukan dengan penuh subjektivitas. Dalam pomeo SDM sering dijelaskan. Seluruh alasan dalam pengambilan keputusan atas sumber daya manusia adalah entiti rasional, yang tidak rasional hanya satu : keputusan itu sendiri. Dan, tampaknya dunia hidup bukan atas alasan rasional, tapi ada untuk memahami ketidakrasionalan dalam dimensi-dimensi hakikinya.

Buat sebagian orang, accidental leader adalah ketertiba-tibaan, sebuah sentakan bagi kehidupan. Dalam hati, saya sering bertanya, ketika melihat sikap dan sebuah perilaku dari sejumlah rekan di sekitar. Kita sebenarnya tidak pernah tahu, apa yang sedang dipersiapkan oleh Allah terhadap hambaNya. Boleh jadi sebenarnya, accidental leader tidak lebih dan tidak kurang, kehadiran seseorang menjadi pemimpin yang hadir dari satu letupan peristiwa dalam satu rencana besarNya. Ini terjadi baik dalam lingkup terkecil dari satu lingkungan sampai pada ukuran-ukuran pemimpin dunia.

Iklan

2 Tanggapan to “Accidental Leader”

  1. erander said

    First ..

    Hidup selalu ada permulaan. Selalu ada awal. Bisa hadir dengan persiapan, bisa juga datang mendadak. Begitu juga pemimpin .. ada yang siap menjadi pemimpin, ada juga yang tidak siap. Contoh Soekarno – seperti di atas – memang sudah siap menjadi pemimpin negara ini. Contoh yang sama – Habibie – pada jaman yang berbeda dan moment yang sama yaitu accidental leader .. tapi hasilnya beda. Karena selama ini, berkutat dengan teknologi dan perusahaan. Tapi apapun .. semua harus jalan. Ketika amanah itu dibebankan ke pundak. Kembalikan kepada Yang Di Atas, Insya Allah pasti kita dibantu. Jadi .. jika kita termasuk orang yang bertakwa, pasti kita siap dalam keadaan apapun.

    @
    Yap, seseorang harus siap menjadi pemimpin, karenaNya dan karena kemampuannya juga. Kadang dan memang kita tidak pernah mengerti atau tahu, apa sebenarnya yang Allah kehendaki dari peran setiap hambaNya. Kita menyiapkan segala sesuatu, namun boleh jadi pula kita dipilih karena sesuatu yang lain, yang tak pernah sesungguhnya itu menjadi pilihan dalam hidup.

    Suka

  2. Jadi siapa dong project officernya? proyek apa sih? penasaran nih

    @
    🙂 akhirnya saya mengangkat (menunjuk) seorang yang masa kerjanya baru 2-3 bulan saja sebagai Project Officer dari penerapan sistem integrasi yang dikenal sebagai ERP (Enterprise Resources Planning). Kejadian yang lalu, ketika itu saya masih bekerja sebagai konsultan partner dari sebuah steering commite yang diperlukan untuk implementasinya… gitu. Karena main tunjuk pada sebuah kondisi ketertiba-tibaan, maka semuanya menjadi bergerak di luar rencana, tapi harus disesuaikan. Harus bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuat. Dan, untung juga, nggak terlalu salah pilih, yang menjadi project officernya memang cukup piawai dan rajin, meskipun cukup menggegerkan karena yang diangkap adalah orang baru, bukan orang lama. Nah, bukankah dalam kondisi itu, sering terjadi bahwa kita melakukan hal yang sebenarnya tidak kita rencanakan. Ya… seperti ke super market dengan membuang 90% daftar belanjaan dan menggantikan 200% dengan belanjaan yang lain. Intuitif. Yang dipilih, boleh jadi Allahlah yang menunjukkan pilihan itu pada kita. Karenanya, kita sesungguhnya tidak tahu apa yang sedang dipersiapkan untuk kita. Ini pointnya Mas Urip. Mudah-mudahan nggak penasaran lagi… agor….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: