Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menulis Buku dan Menulis di Media Massa/Blog -5

Posted by agorsiloku pada Februari 24, 2007

Dari tulisan sebelumnya, menjelaskan posisi kita (penulis artikel/penulis buku) terhadap pihak ketiga (media atau penerbit). Tulisan ini memang tidak bermaksud “menggurui” tentang bagaimana cara menulis buku atau artikel, tapi hanya bertujuan membuat komparasi teman berpikir, bahwa tulisan atau buku sebelum sampai ke tangan pembacanya ada pihak-pihak yang ikut berkontribusi. Seorang penulis yang baik akan berpikir bagaimana meningkatkan mutu tulisan dan bukunya agar tersebar seluas mungkin, dan bukan sibuk mengurusi distribusi dan uang untuk kepentingan jangka pendek (asap dapur!). Kalau hanya berkutat di situ, sungguh deh. Kagak bakalan kemana-mana.

Dalam bahasa marketing, bisa dijelaskan sebagai STP (Segmentation, Target, Positioning).

Segmentasi memilah-milah dimana produk berada, target adalah sasaran dimana produk dan jasa yang ingin diraih, dan positioning adalah bagaimana memposisikan produk dan jasa di target yang diinginkan. Jadi, penulis juga harus memikirkan komponen awal marketing ini untuk menjelaskan akan kemana dan dibawa kemana tulisannya (bukunya). Biar penerbitnya lebih mengerti. Tidak sedikit penerbit yang tidak tertarik, karena tidak mengerti atau tidak kompeten pada bidang yang ditawarkan seorang penulis. Wajar saja sih, namanya juga manusia. Tidak bisa menguasai segala bidang.

Dalam rangka STP inilah, penulis harus mau mengerti bahwa sebuah karya harus dibedah sebelum dilahirkan kembali ke dalam bentuk buku. Dibedah dalam pengertian disempurnakan, dilengkapi, dipotong-potong, dan lain sebagainya. Buku harus terbit dengan kelipatan 32 halaman, misalnya karena itu sebanding dengan ukuran yang tersedia di mesin-mesin cetak. Kalau bukunya simpel saja dari penerbitan kecil, yah minimum kelipatan 16 lah.

Oh ya, harap dibedakan antara percetakan dan penerbitan. Kalau percetakan itu yang memperbanyak buku (kuantiti), sedang penerbit adalah yang membuat bukunya dengan orientasi ke arah produk dan isinya. Banyak para priyayi yang tidak bisa membedakan apa itu penerbit, apa itu pencetak.

Jadi, jangan salahkan Penerbit yang hanya berfokus pada pengarang-pengarang sudah terkenal atau memiliki arena pergaulan yang luas, atau profesor atau orang top lainnya. Karena mereka sudah punya kekuatan jual yang memadai dan pembaca yang fanatik. Sedangkan, jika semua itu kita belum punya, maka bekerjalah dengan ide. Ide yang bisa dijual.

Mungkinkah guru menulis?.

Guru/dosen, adalah orang-orang yang bergaul dengan ilmu. Mereka juga dikenal dan “sudah punya pasar”. Gurus seperti Philip Kotler atau profesor anu, atau Dr. anu, atau guru SMA anu dan seterusnya sudah memiliki dasar-dasar untuk berbagi ilmu. Mereka adalah ilmuwan penyebar pengetahuan, plagiat yang berfungsi untuk mengolah kembali temuan-temuan teoritis yang melahirkan teori-teori baru. Ilmuwan inilah yang membuat ilmu disebarluaskan dan dipahami masyarakat. Mereka itulah ilmuwan penyebar ilmu pengetahuan. Guru juga adalah penyebar ilmu pengetahuan. Saya menyebutkan plagiat dalam arti positip. Tentu saja, tidak ada satupun yang menemukan yang benar-benar baru, gagasan orisinil. Yang ada, 99% adalah kombinasi dari 1% ilmuwan asli dan selebihnya adalah kombinator ilmu pengetahuan.

Guru lebih potensial menulis karena setiap hari bekerja dengan anak didik, tiap hari berpikir bagaimana mencerdaskan muridnya dan menjawab pertanyaan muridnya. Dia juga memiliki pasar sendiri. Memang pasarnya kecil, tapi melalui mekanisme profesional tentu saja menjadi kelompok besar. Maklumlah, tidak kurang dari 30 juta siswa SD, 10 jutaan siswa SMP, 3-4 siswa SMA. Ini adalah pasar potensial. Tentu dengan segala polemiknya. Mereka juga anak-anak muda yang selalu haus bacaan. Jadi wajar saja kalau penulis datang dari kelas terdidik.

Tapi, mengapa hanya sedikit yang memiliki kemampuan menulis? (baca : kemampuan mengemukakan pendapat secara tertulis dan sistematis). Wah, nggak tahu deh. Tapi, jelas blog adalah kesempatan kedua bagi anak bangsa untuk mengasah kemampuannya. Semakin banyak penulis yang lahir, semakin kayalah bangsa ini.

Selain itu, guru juga mendapatkan pelatihan-pelatihan gratis dari negara, punya forum berkumpul, dinilai juga untuk kenaikan pangkat, dan lain-lain. Jadi, secara teoritis mereka memiliki kemampuan untuk melahirkan banyak buku bermutu.! Bukankah itu juga yang diharapkan (dicita-citakan) negeri ini.

(bersambung)

Iklan

2 Tanggapan to “Menulis Buku dan Menulis di Media Massa/Blog -5”

  1. Evy said

    ooo gitu…kalau dosen guru juga khan pak?

    @
    Tentu to, makanya saya pakai kata guru/dosen di awal kalimatnya. Bahkan untuk kelas Philip Kotler dan umumnya penulis kaliber, saya pakai kata gurus (pakai s), hanya untuk menandai penghormatan saya pada beliau-beliau itu yang karena ketulusannya menyebarkan ilmu dan pengetahuan, tempat saya tersandung-sandung memahami.

    Suka

  2. […] (bersambung) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: