Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Olah Pikir dan JIL, sebuah pengalaman dalam kesendirian

Posted by agorsiloku pada Februari 23, 2007

Membaca Kompas hari ini, JIL (Jaringan Islam Liberal) berulang tahun yang ke 6. Musti saya akui bahwa JIL telah banyak memberikan “masukan” dalam memilah dan memilih mana jalan yang benar dan mana yang tidak benar, yang terdeviasi.

Cukup mengasyikan membaca uraian-uraian JIL yang jelas dan jernih, tapi kadang juga penuh emosi. Saya juga ikuti milis mereka. Masukan dari JIL dan bukan JIL cukup membantu memahami apa itu liberal, inklusivitas, publik dan privat, ekskusif, Kurzman, Nurcholish, Fazlur R, dan banyak lagi. Istilah hermeunetik pun, baru sedikit saya ketahui.

Tokoh-tokoh muda dan tua dari JIL adalah orang-orang cerdas dan berpengetahuan luas. Bahasa Arab pun dan falsafah-falsafahnya terkuasai dengan baik. Jadi asyiklah, “ini dia yang saya cari”, begitu bisik hatiku mengenai kiprah mereka itu. Inilah pengalaman “pertama” mengolah pola pikir dalam agama, setelah sekian banyak waktu dicurahkan pada urusan-urusan memenangkan urusan dunia.

Tadinya saya ingin bergabung dengan mereka, karena saya memang suka berdiskusi, yah…sedikit-sedikit suka membaca begitu, meski tidak begitu suka berorganisasi.

Karena itu, secara aktif saya ikuti segala pergelutan dan pertentangan yang muncul dalam JIL, baik dari yang mendukung dan yang menolak. Pada tingkat tertentu, menurut saya, keduanya sama-sama genit, sama-sama keras, dan sama-sama membela kebenaran masing-masing.

Toh, kemudian terpahami juga, olah pikir ini bukan semata baru-baru ini, tapi jauh di abad-abad sebelumnyapun telah ada. Jadi wajar saja upaya-upaya cerdas itu muncul.

Kemudian ada istilah yang saya tidak kenal : “Kaffah?” (bego ya, sekian puluh tahun punya KTP Islam, tapi kaffah saja nggak ngerti). Alangkah terbelakangnya?, alangkah lalainya. Namun, kata ini mendorong saya memahami apa artinya totalitas, apa artinya Islam dalam kehidupan modern, kehidupan sosial yang kompleks, dan lain sebagainya.

Dalam perjalanan memahami ini, saya membeli mungkin tidak kurang dari 100 lebih buku berkenaan dengan Islam, pembahasan-pembahasan yang ringan dan lucu saja yang saya beli. Maklumlah, kalau yang berat-berat, nggak ada waktu. Saya juga lebih serius bertanya : “Siapa Engkau ini?”. Saya memang sholat, tapi semata untuk mengugurkan “kewajiban” saja, bukan untuk menghadapNya dan berkomunikasi denganNya. Jelas sebuah pola pikir yang sangat keliru.

Karena kebiasaan untuk biasa menelaah (sok ya) maka latar belakang menjadi penting. Apa motif dibalik motif, istilah kerennya cek n ricek. Saya musti lebih banyak lagi membaca, apakah JIL adalah jalan yang saya “impikan”, atau bukan. Saya kumpulkan semua artikel-artikel mendukung dan pro. Biar nanti kalau sempat bergabung di Utan Kayu, nggak kampungan-kampungan banget. Begitu pikiran saya (kayak sok pede ya bakal diterima?).

Saya sendiri merasa, termasuk jenis yang “mengagungkan akal”. Kalau ditanya penting mana wahyu (ayat) dibanding akal, saya akan lugas menjawab akal dulu baru wahyu. Logikanya, kalau nggak punya akal, nggak ada manfaat wahyu Ilahi. Wahyu itu untuk orang berakal dan beriman. Itu kata kuncinya. Jadi, kalau nggak punya dua-duanya, ya payah deh…

Sisi lain, saya juga “bosan” dengan pembenaran-pembenaran atau pembelaan-pembelaan kelompok dan kebanggaan kelompok. Rasanya, saya tidak menjadi mengenal diri sendiri dan Allah, ketika “keributan” kelompok lebih diributkan dari energi untuk melihat dan melaksanakan kebenaran.

Sampai sekarang JIL di mata saya “berjasa” dengan seluruh elaborasinya, saya kemudian memahami, betapa pentingnya mengerti apa itu hidayah, memahami bergaul dengan orang shaleh, memahami apa yang hak dan yang batil, dan berusaha dugem dengan yang maha Pencipta, berusaha untuk tidak melalaikan sholat shubuh, serta tentu saja kadang-kadang masih berkunjung ke site JIL, siapa tahu ada pikiran lain yang bisa dipetik. Bukankah kita mengerti artinya sehat ketika sakit, bukankah kita mengerti artinya gembira setelah dilanda kesedihan, kita hayati kebersamaan setelah tahu betapa kosongnya jiwa ketika dalam kesendirian, betapa dekatnya kuasa Ilahi setelah sekian lama menjauhiNya.

Yah, sejauh ini masih berusaha, dunia itu kan cuma main-main saja, meskipun tidak diciptakan dengan main-main.

Sepanjang perjalanan itu, saya rasakan, semua jawaban ternyata begitu sempurna ada di Al Qur’an dan Hadis. Kalau begitu, tidak ada lagi rujukan seindah ini. Tiga belas tahun junjungan berkiprah, dunia tunduk padanya. Insya Allah sampai seluruh dunia digulung kembali…..

Iklan

8 Tanggapan to “Olah Pikir dan JIL, sebuah pengalaman dalam kesendirian”

  1. papabonbon said

    milis INSIST : insist-net@yahoogroups.com
    milis JIL : islamliberal@yahoogroups.com
    ada baiknya main ke kahmi-pro-network@yahoogroups.com kalau sampaean anak HMI dulunya.

    sering baca baca blognya kang nadir, atau main di milis wanita-muslimah@yahoogroups.com juga membuka daya pikir dan hati.

    @
    Trims infonya, saya senang yang membuka daya pikir dan hati, dan bisa saya simpan linknya seperti milik sendiri.
    Sejak ada blog, saya agak kurang berlangganan milis karena ternyata blog lebih asyik. Tapi, thx infonya lho.
    Saya sudah pernah jadi anggota mils islamliberal, tapi kurang aktif. Jadi saya masukkan lagi ke laci…

    Dari keseluruhan, saya rasanya saya sudah bisa mengambil kesimpulan, baju mana yang saya merasa cocok memakainya.
    salam.

    Suka

  2. sumeleh said

    Kalo membaca tulisan-2 JIL, kenapa ya saya merasakan seperti membaca tulisan anak nakal yang kurang ajar. Mungkin pikiran saya yg belum sampai kali ya ?

    Berbeda dengan membaca tulisan Emha Ainun Najib atau Jalaludin Rachmat, walaupun banyak pikiran-pikiran baru dan kadang-kadang nakal juga, tapi beliau tetap konsisten dalam keIslaman-nya. Tidak genit seperti tulisan2 JIL, yang nampak terlalu membanggakan pemikir-pemikir barat.

    @
    tiap orang berbeda dalam memahami satu masalah dan ragam masalah, agor sih hanya belajar memahami hanya dari Al Qur’an dan hadis. Bahkan hadis itu dinomerduakan dulu. Pertanyaan yang masuk dari mana saja, sepanjang urusan kehidupan, dilarikan dulu ke sini. Barat – timur tak begitu penting, Emha, k. Jalal atau Mutahhari atau Syeikh atau Nurcholish atau Ghazali atau Araby, atau siapa gitu, yang kadang dibaca kutipan-kutipan dari orang tidak terlalu agor utamakan. Kalau baik, agor coba ambil, kalo jelek dibuang. Tapi bisa juga, yang jelek diambil, yang bagus dibuang (kaya bertukar sandal di mesjid usai sholat), tapi kepada Al Qur’an, agor berusaha, mengambil semuanya, berusaha menyelami dengan segala keterbatasan yang ada.
    Jadi nakal tidak nakal tidak penting lagi, genit tak genit tak penting lagi.
    Soal konsisten, menurut agor cuma sekedar proses komunikasi. Yang di seputar itu, barat timur atas bawah adalah wawasan semut terhadap gula belaka…..

    Suka

  3. yudha said

    salam ‘alaikum
    boleh ikutan dong diskusinya
    oy gimana kabar temen2 Insist n JIL
    ada perdebatan apa?

    asas tunggal parpol masuk wilayah agama gak? diblas oyi
    syukron
    @
    Wass…
    Dalam kesendirian… seperti judul postingan 😀

    Suka

  4. tanto said

    JIL , hanya orang pinter keblinger yang percaya dan belum memahami islam dengan kaffah

    Suka

  5. tanto said

    kalian telah teracuni

    Suka

  6. Muslim said

    Saya sebenarnya malas sekali membaca blog ini yang membahas tentang JIL.
    Cuma menurut saya aneh sekali bagaimana mungkin orang2 yg belajar Islam (Pentolan JIL)
    di kampus USA yang notabene pengajarnya orang NonMuslim. Aneh kan.Apa yg diajarkan?
    Bahkan orang2 JIL itu kalau yg sudah jadi pentolannya itu makin
    ngga takut meninggalkan sholat. Jadi kenapa Agor masih mikir mau ikut pola fikir JIL.
    jangan2 karena Agor baru belajar Islam wah kasihan banget.

    Suka

    • agorsiloku said

      Membahas JIL, dalam area dan sudut pandang tertentu, melakukan evaluasi tanpa emosi berlebihan menurut saya penting. Lepas dari setuju atau tidak setuju.
      Betul, agor baru belajar Islam dan pengalaman itu yang dituangkan dalam postingan ini. Bahwa agor JIL atau bukan atau dan lain sebagainya, tentu saja akan tampak dalam ragam tulisan yang lain.

      Di Kampus USA itu, pengajarnya Nonmuslim dan fasihnya terhadap AQ juga hebat, begitu yang saya dengar?. Seperti juga salah satu bagian dari sejarah Aceh yang dikalahkan oleh jenis manusia seperti ini.

      Namun, Mas Muslim, meskipun malas, tapi tidak ada salahnya memahami model berpikir dan bagaimana mereka menunjukkan dirinya. Dengan begitu, orang seperti Anda akan lebih mengenal bagaimana mengatasinya, bagaimana menjaga ummat atau Saudara Mas yang lain agar “tidak tercemar”. Dalam dunia marketing mengenali pesaing adalah seni kekuatan, begitu juga dalam perang, selalu ada pesan : Kenalilah musuh Anda.

      Kita juga tidak pernah tahu, kapan dan kepada siapa hidayah turun kepada manusia, apakah dia sebelumnya belang, putih, penjahat atau apapun. Terbayang nggak Mas, ada jutaan seperti Agor yang harus dikasihani ! dan mereka dirangkul oleh golongan lain. Apakah usaha yang dilakukan cukup bilang kacian deh loe !

      Suka

  7. qarrobin said

    Dengan adanya pembanding, wawasan kita akan lebih luas, kita bisa melihat dari berbagai sudut dan mengambil keputusan menurut al quran dan aqal. Kalo kita taunya cuma Muawiyyah aja atau Syi’ah aja, atau haniif aja, yang kita dapat hanya taqlid

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: