Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Di Batas Angan-angan

Posted by agorsiloku pada Februari 23, 2007

Luar biasa, manusia itu akan terus bertanya sampai di batas angan-angan.  Akan terus bertanya, dan terus bertanya sampai di satu titik pertanyaan membuat manusia tergelincir di batas pertanyaan : Siapa Yang Menciptakan Tuhan?.  Filsafat dimulai dari bertanya, mulai dari pertanyaan sederhana sampai pertanyaan yang rumit atau mengarah ke wilayah-wilayah yang “tak terjangkau akal”, namun akal selalu berusaha mengelaborasinya, mencari jawaban-jawabannya.  Setiap jawaban melahirkan lagi lebih banyak pertanyaan.  Oleh karena itu, mencermati pertanyaan terkadang menjadi lebih penting dari mencermati jawaban.  Setiap jawaban menimbulkan lagi lebih banyak pertanyaan sampai di suatu titik, bukan lagi pertanyaan apa hakikat kehidupan, hakikat keberadaan, hakikat mengapa aku ada?, mengapa aku diciptakan?. Pertanyaan yang karena  memikirkan terus menerus sehingga yang diciptakan akan bertanya : Siapakah Engkau yang menciptakan aku dan bertanya mengapa Engkau ada?.  Di ujung perbatasan, karena pilihan pertanyaan adalah angan-angan tanpa batas, kemudian bertanya kembali : Siapakah yang menciptakan Engkau?.  Yang mendekati pertanyaan ini adalah pertanyaan paling populer dalam “arogansi sok filsafat”. Tuhan Maha Kuasa, Apakah Tuhan dapat menciptakan batu seberat-beratnya sehingga Tuhan sendiri tidak mampu mengangkatnya?  Pertanyaan yang persis seperti olah manajemen dengan 2 peraturan 1).  Boss tidak pernah salah 2) Jika Boss melakukan kesalahan, maka lihat peraturan pertama.  Jadi logika binernya 1 dan 0 saling menelisiki, saling diadukan yang tentu saja bisa logis secara akal, tapi tidak logis secara matematis. (Ini nggak usah terusin dibahas, karena sudah pasti debat kusir.)

Dan manusia berputar-putar di wilayah ini.  Karena itu, menjadi penting untuk orang beriman untuk menetapkan batas-batas pertanyaan.  Bukan pada batas-batas jawaban.  Boleh jadi kita sedang berada pada posisi : Mengapa berfilsafat?, tapi boleh jadi pula kita sedang mengelola angan-angan tanpa batas.

Ilmu pengetahuan memprediksi bahwa alam semesta memiliki usia dan akan berakhir.  Akhir dari alam semesta dikenali dalam wawasan agama sebagai hari kehancuran (saqar)  dan dilanjutkan dengan hari kebangkitan (kiamat).  Di situ, kita tidak bertanya lagi dan tidak ada pertanyaan apapun lagi kecuali menunggu ketika Allah langsung berperan aktif dan nyata pada setiap produk penciptaanNya.  Kalau kita meyakini sebagian yang lain di awal, mengapa meragukan di sebagian akhir yang lain?.  Boleh jadi, di sini posisi orang beriman bertanya, sambil tetap mendapatkan hidayahNya untuk mengerti sampai batas mana pertanyaan harus berhenti.

Iklan

7 Tanggapan to “Di Batas Angan-angan”

  1. El Zach said

    Banyak manusia yang suka dan sering mempersulit dirinya sendiri, padahal telah dilimpahkan segala kenikmatan yang tak terhitung dan hikmah hidayah yang apabila diikutinya dengan benar akan membahagiakannya di kehidupannya sendiri di dunia hingga akhhirat. Ya sudahlah, mungkin manusia memang ingin mendapat kesulitan abadi, maka telah disediakan neraka abadi sesuai pilihan manusia-manusia yang ingin kesulitan itu.

    @
    Karenanya, manusia ketika bertanya perlu menjaga perbatasan dimana pertanyaan akan berkelanjutan dan kapan harus menghentikannya. Alasannya, tentu seperti yang Mas sampaikan.

    Suka

  2. 72623 said

    […] jiwa dari raga 🙂 , tidur , coret-coretan… , kehidupan sehari-hari , Hati setelah baca tulisan om agor, saya jadi mau curhat sedikit tentang pengalaman masa […]

    Suka

  3. terimakasih atas tulisannya.
    jadi ada inspirasi buat nulis…. 🙂

    selamat tidur 🙂

    @
    sama-sama.
    Met tidur lagi….
    agor

    Suka

  4. […] *Mengenai pendapat saya tentang lapisan boks ini, Pak Agor menjelaskannya dengan baik disini. […]

    Suka

  5. […] Kadang-kadang, angan-angan jauh melewati batas akal. […]

    Suka

  6. madopolo said

    Bertanya tdk perlu dibatasi. Silahkan ia bertanya sampai kepertanyaan Siapa Pencipta yg Mencipta Alam semesta ini dgn segala isinya. Kan tdk semua pertanyaan hrs dijawab. Klu yg bertanya ingin jawaban suruh ia sendiri mencari jawabannya.
    Ia sendiri aja tdk tau mengapa ia diciptakan kok mau pertanya siapa pencipta Engkau

    Suka

  7. haniifa said

    Halahhh… wes dengkul-mu bengkak n bengkok, kentut dimana-mana lagi ?!! @Madopolo —::Jawab dunk:: 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: