Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menulis Buku dan Menulis di Media Massa/Blog -4

Posted by agorsiloku pada Februari 22, 2007

Masalah dalam menulis Buku, tentu saja banyak. Yang paling afdol adalah bertanya sama penulis buku, apa masalahnya. Tulisan ini hanya sekedar catatan, apa yang harus dipersiapkan para calon penulis untuk menulis dari sisi berpikir kelayakan untuk diterbitkan (gila ye, si agor sok jadi penulis dan penerbit sekalian. Gpp kan, ini blog, bebas berkhayal).

  1. Berpikir siapa pasar buku Anda?. Jangan cuma menulis buku karena ingin menulis dan ingin mencerahkan isi dunia. Kita terlalu kecil dibanding semua isinya. Tapi, jangan kecil hati juga, setiap manusia adalah unik dan ingin diperlakukan dengan unik, punya bacaan unik dengan daya beli yang unik juga. Penerbit juga begitu, tidak bisa menjangkau isi dunia dengan bukunya. Jadi peluang selalu ada, kemungkinan bertumbuh juga selalu ada. Ambilah fokus, ambil sebagian kecil saja dari persoalan dimana kita memiliki kompetensi di dalamnya. Jangan menulis yang kita sebenarnya nggak kompeten. Percuma, bisa-bisa kita frustasi di tengah jalan dan membuang masa muda sia-sia belaka. Tidak ada hasil baik dari pekerjaan asal-asalan. Gitu lho falsafahnya.
  2. Pastikan pasar pembaca buku itu ada. Seorang guru memiliki sejumlah murid (itu pasarnya), seorang dosen memiliki murid, itu juga pasarnya. Ada sekian lagi murid-murid di luar sana yang membutuhkan ilmu yang sama, seorang pemuda atau remaja adalah dunianya, itu adalah pasarnya. Sedangkan dari hasil scanningnya, seorang penulis tahu persis bahwa masalah-masalah ini belum dibahas atau kurang dibahas. Makin dalam ilmu yang dibahas, tentu makin kering pasarnya karena makin sedikit yang mengerti. Tapi, di situ justru ada ceruk pasarnya. Ada baiknya pergi ke toko buku atau pasar loak, lihat buku yang ada. Lihat saja kapan tahun terbitnya, apa masalah yang dibahas, berapa banyak cetak ulang telah dilakukan penerbit. Nah, CETAK ULANG, adalah kata yang penting. Mengapa?, jelas karena cetak ulang menunjukkan bahwa jenis buku tersebut dicari oleh masyarakatnya. Buku sebagus apapun atau setebal apapun, kalau cetakannya sudah bertahun-tahun dan tidak ada cetak ulang lebih baik nggak usahlah menulis yang sama. Peluang untuk “menjadi kaya” akan lebih sempit. Hidup ini mencari kesempatan (yang halal), jadi jernihlah dalam berkarya dan mengambil keputusan di dunia ini.
  3. Pastikan ide menulis anda membumi. Kata tetangga sebelah, pastikan ide yang dimiliki ada dan terdeskripsi dengan jelas, pastikan pertanyaan di atas juga terjawab dengan baik. Berdiskusilah dengan teman di luar rumah, jangan dengan teman tidur (kecuali satu profesi). Buatlah draft awal, diskusikan, mintalah sekedar jadi reader. Jika sudah merasa oke, barulah datang ke Penerbit menjajakan dagangannya. Nah, tentu saja kalau sudah lancar, sudah berhubungan dengan penerbit, nama sudah terkenal, hal-hal seperti ini tidak diperlukan lagi. Yang sulit itu mengawali, yang membutuhkan ketekunan itu memelihara. Yang paling mudah adalah mencari alasan untuk tidak menyelesaikannya.

Apa Yang Dipikirkan Penerbit Ketika mau menerbitkan sebuah Karya?.

Ini kurang dipikirkan para calon penulis buku. Tapi, sederhananya begini : Ketika penulis datang ke kantor penerbit menawarkan naskahnya, persis seperti sutradara mencari artis atau model mana yang akan jalan di catwalk. Aha… ini menghasilkan tambahan dollar nggak buat kami?. Inilah ukuran-ukuran antara pemilik dana (penerbit) dan penulis. Keduanya tentu harus simbiose mutualistis dong. Jika penulis yang datang sudah terkenal namanya, maka sudah ada tambahan jaminan bahwa investasi yang dikeluarkan akan segera kembali. Jika itu tidak didapat, maka tidak ada pilihan, mutu dan selera pasarlah yang harus lebih cerdas dipilih penulisnya.

Penerbit memang harus hati-hati, soalnya untuk menerbitkan buku sampai dipasarkannya bisa dibutuhkan dana sedikitnya 10 juta sampai seharga rumah type 36 real estate. Kalau nggak hati-hati, bisa segera gulung tikar dan bukunya hanya cocok untuk bungkus kacang saja atau dikilo. Hanya 1 dari 3 atau 4 buku yang diterbitkan yang sebenarnya menghasilkan uang. Uang itu dipakai untuk membayar penulis yang merugikan itu sampai untuk menghidupkan buku-buku lain, memberi makan karyawan dan untuk biaya promosi buku itu. Tapi, namanya juga resiko. Hidup selalu beresiko. Nah, penerbit yang jeli, bisa makin cepat kaya karena buku yang diterbitkannya lebih laku juga dari kacang Garuda.

Singkat kata, komunitas penulis dan penerbit saling membutuhkan, saling mengisi dan saling lakukan tawar menawar. Keduanya saling memperhitungkan.

Sebagai catatan, tulisan ini sama sekali tidak mengajarkan bagaimana menulis buku atau artikel lho, hanya memberikan catatan tentang konsekuensi pilihan-pilihan dari keduanya.

(bersambung)

Iklan

6 Tanggapan to “Menulis Buku dan Menulis di Media Massa/Blog -4”

  1. venus said

    ah, puyeng. enakan ngeblog, gak pake mikir. nulis apa aja yang lewat di kepala, hehehe…

    @
    he….. he…he…, sama.

    Suka

  2. Emm setelah saya pikir-pikir nulis buku untuk level indonesia sepertinya kok tidak menjanjikan yah. Kalau buku pelajaran yg diceritain kemarin kira-kira hitungannya gimana yah? untuk mendapatkan imbalan. Saya pernah nulis buku pelajaran untuk 1 semeter yang saya garap dengan seorang temen saya dapat 500-an rb. Itu buku proyek sih.

    @
    Untuk proyek Pemerintah, permintaan diknas atau sejenisnya dengan memanfaatkan jaringan per”guru”an, kerap dilakukan oleh birokrat. Menyedihkan memang, karena rendahnya penghargaan. Dianggapnya menulis (baca : membuat buku) itu cukup dengan harga segitu, padahal minum di Strabuck Coffee saja sudah sedikitnya 50 ribuan segelas. Harga tulisan Bapak, sama dengan 10 gelas kopi di Mall. Karena itu, buku Pemerintah sering tidak bisa diandalkan, tidak bisa diupdate ketika perubahan terjadi. Di sini kembali lagi pada persoalan kompetensi Penerbit (termasuk Pemerintah). Royalti pengarang 5-20% (seperti ditulis di bagian ketiga). Kalau harga buku 22 ribu, laku 500 ribu eksemplar. Hitung deh 5% x 500 ribu x Rp 220,- = Rp 55 Juta. Itu untuk satu tahun lho, tentu kalau penerbitnya jujur. Jadi, menyedihkan dan zalim kalau satu buku (satu semester) dinilai Rp 500 ribu.
    Tapi, itu royalti, uang dari hasil penjualan (bukan uang dimuka). Menulis buku, seperti bersawah, dituai setelah ditanam.
    Sebuah buku lahir dari akumulasi referensi dan acuan, menghabiskan energi begitu banyak dan jelas, biaya yang tidak kecil. Karena itu, seharusnyalah memang kita menghargai anak bangsa, menghargai hak cipta, tidak main foto copy karya tulis. Pembajakan juga “katanya” musuh penerbit indonesia. Jadi, begitu satu buku terbit bak kacang goreng, penulisnya juga segera jadi milyuner, sawahnya telah menghasilkan….. Sayangnya, tapi menurut saya tidak sedikit pula, penerbit yang konsisten dan konsekuen…..

    Suka

  3. Evy said

    Jadi intinya musti ada nilai jual nya ya pak?
    Lha klo nulis crita masalahnya lagi pada ikutan trend, dulu jaman aku kecil, trend-nya winetou trus trio detektif, Kho Ping Ho…(hehehe hobby), sekarang kulihat waktu pulang kemarin trend-nya bergeser tuh buku remaja aneh2 critanya jelek, ga jelas kadang ga mendidik tapi malah payu…:( spt sinetron2 itu jelek2 tapi laku naikin rating,unsur pendidikan wis ga dipikirin blass…so sad)

    @
    Ya, nilai jual. Dalam tafsir marketing ada cerita, seorang produsen dengan bangga mengatakan : “Kami telah membuat lemari besi yang tahan api dan kalaupun dijatuhkan dari gedung 10 tingkat tidak akan hancur”. Marketer menjawab :”Tapi, tidak ada satupun pelanggan kami yang ingin menjatuhkan lemari besi dari gedung berlantai 10…..“. Maksudnya, untuk terjual, bukan berada pada mendidik atau tidak mendidik. Mba, bisa katakan tidak mendidik dan jelek. Tapi, bagi mereka ini sesuai dengan trend dan kebutuhannya. Sekarang, sedikit sekali yang membaca Winetou Gugur, Old Shaterland, Pendekar Super Sakti, Pendekar Bodoh, atau Gan KL, Gan KH, atau Api di Bukit Menoreh (SH Mintarja, sampai jilid 450 terlanjur dipanggil Allah SWT). Sedikit sekali yang membaca Salah Asuhan, Mencari Pencuri di Sarang Perawan, dan lain-lain. Dari kecil selama masa belajar disuguhi instant dan praktis, sudah dewasa dan remaja, jelas saja kalah “mutu” dengan buku remaja sekarang yang “memang” tidak berkelas. Apalagi, kalau yang dibaca novel atau karya pemenang nobel.
    Pesan pada artikel pendek itu adalah pahami pasar, karena di situ kunci $$.
    Sinetron itu jelek, tapi disukai, itu cermin Indonesia…..
    salam, agor

    Suka

  4. Dee said

    Untuk buku pelajaran, saya ada sedikit trik yang mungkin menarik. Konteksnya untuk SMK. Saya buat babonnya dulu. Pengembangannya tergantung pada kondisi sekolah. Selain itu, buku yang ada juga harus saling melengkapi dengan sarana praktek yang dimiliki sekolah. Atau setidaknya, kalau mereka membutuhkan sarana praktek seperti yang ada di buku itu, saya sudah memiliki prototipenya. Jadi satu paket lah, antara modul pelajaran, alat praktek, dan juga diklat peningkatan kemampuan gurunya. Tapi konsep ini baru akan saya coba di beberapa sekolah. Dan saya tidak berharap dari sisi finansialnya. Hanya sebuah idealisme saja. Sukur-sukur kalau di masa nanti bisa jadi duit, hehehe.

    @
    investasi apapun, pada akhirnya akan dipetik hasilnya. Tak akan disia-siakan oleh yang mahaPemberi, sesuai dengan apa yang diniatinya. Insya Allah.

    Suka

  5. publish or perish… hehehe

    @
    Sure, Give up?. No…..

    Suka

  6. […] (bersambung). […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: