Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sidoarjo – skala musibah

Posted by agorsiloku pada Februari 21, 2007

Site Crisp – National University of Singapura menyajikan foto-foto satelit ikonos dan memberikan gambaran besarnya skala bencana yang terjadi di Porong Sidoarjo. Kapankah bencana ini akan berakhir, belum dapat diprediksikan. Namun, rasanya kecemasan semakin dalam dan semakin dalam lagi…..

Berita bahwa usaha menutup lumpur dengan bola-bola beton cukup menarik. Oleh karena skala musibah dan ketertarikan pada musibah ini, saya selalu mengikuti perkembangan dari dongeng geologi atau sumber lain yang relevan. Beberapanya sengaja saya kumpulkan dalam blog ini sebagai tambahan bacaan atau sekedar berkomentar :

  1. Terus terang, saya ragu bahwa Lapindo serius akan membayar ganti rugi.
  2. Tulisan seorang Brigita Iswara, Sidoarjo 3 tahun lagi menarik untuk disimak, apakah yang akan terjadi 3 tahun lagi. Barangkali 2010 kita bisa bandingkan dengan catatan beliau ini.
  3. Menurut saya, Pemerintah tidak cukup arif menangani bencana.
  4. Menyedihkan sekali anak bangsa ini, masa kambing hidup dilemparkan ke Pusat Semburan lumpur. Seharusnya mereka itu ditangkap dan diadili karena menganiaya hewan. Jahat dan tak beradab. Lebih menyedihkan lagi, prosesi ini sangat tidak berperi kebinatangan, dan yang mengetahui hanya diam saja. Astagfirullah….
  5. Ada kiriman artikel yang “wajar” tapi boleh jadi tidak wajar bagi sebagian orang, yaitu Menyelesaikan lumpur Sidoarjo dengan cara Tuhan.
  6. Dosen Universitas Brawijaya menulis : Tragedi Lumpur Lapindo, salah satu tulisan yang cukup jernih dalam mengamati persoalan perlumpuran.
  7. Tulisan di Kompas ini, menurut saya penting karena mencatat juga waktu-waktu awal terjadinya musibah : Mengapa Lumpur Panas Menyembur.
  8. Sebenarnya saya tak mengerti mengapa diledakkan (kok bisa ya), apakah ini sebuah skenario, atau ada penjelasan lain yang?

Kembali ke soal bola-bola beton, ada komentar yang saya kutipkan di bawah ini, yang menurut saya cukup menarik untuk disimak. Ditulis oleh Irawan. Sengaja saya kutipkan, karena model penyumbatan ini diperingatkan oleh beliau. Dan saya juga ikut meragukan hal ini.

Metode penyumbatan dengan bola beton atau chain-balls atau “killing mud softly” justru saya kuatir tindakan yang berbahaya. Tetapi saya berharap, semoga saya salah!

Energi yang menyembur dari kedalaman 3 Km itu tidak kurang dari 100 MegaWatt. Masih kontroversial darimana sumber energi itu, apakah sekedar hidrostatik atau subduksi lempeng bumi atau bahkan hidrothermal. Namun fakta selama 9 bulan ini yang menunjukkan terus meningkatnya besaran energi yang keluar, yang ditandai dengan kenaikan debit lumpur dan makin banyaknya uap panas yang memancar keluar, menunjukkan bahwa kemungkinan besar sumber energi itu bukanlah sekedar hidrostatik. Melainkan makin menguatkan kesimpulan adanya sumber hidrothermal atau geothermal.

Namun saat ini tidak begitu penting mempersoalkan sumber energi itu. Yang pasti, dibawah sana terdapat semacam gerakan menekan atau generator atau tungku pemanas atau ketel penghasil tekanan uap, yang terus menerus aktif mendorong 150.000 – 200.000 m3/hari lumpur naik ke atas hingga 3 Km bersama ribuan m3 uap panas.

Maka metode penyumbatan lubang semburan dengan 500 rangkaian bola beton @ 4 bola itu sama dengan sekedar mengganggu atau menghambat jalan keluar pembebasan energi. Tetapi sama sekali bukan menghentikan sumber energinya, bahkan tidak pula mengurangi daya atau besaran kapasitas sumber energi itu.

Apakah lalu bisa meredam energi semburan dengan mengubahnya menjadi energi getaran, rotasi, friksi, dan translasi oleh bola-bola beton itu? Tidak jelas, bagaimana surface contour atau bentuk permukaan bola-bola dibuat sehingga mampu melakukan gerakan rotasi dalam arus lumpur vertikal yang hampir seragam (quasi uniform) kecepatannya. Tetapi katakanlah, bola-bola bisa ber-rotasi dengan kecepatan maximum, yakni sebesar kecepatan arus lumpur yang sekitar 2,5 m/detik pada lingkar luar terbesar bola, maka energi semburan yang berhasil diredam tidak lebih dari 1%.

Lalu apa akibat dari langkah itu?
Masuknya ribuan bola itu pasti menghambat lubang saluran naiknya lumpur, yang hakekatnya adalah jalur pembebasan sumber energi dibawah sana, yang terus menerus tak henti-hentinya memancarkan energi lebih dari 100 MW atau 24 juta kalori per detik. Apabila jalur itu dihambat, maka energi itu akan terkumpul dan membentuk tenaga yang makin kuat berupa tekanan yang makin besar dan laju arus lumpur yang makin tinggi kecepatannya.

Tekanan dan kecepatan arus lumpur yang makin besar itu akan mengikis dinding, memperbesar lubang semburan, bahkan bisa menerobos membuat rekahan dan lubang-lubang baru, yang menjadii jalan keluar baru bagi timbunan energi dibawah yang berakumulasi semakin besar.

Jelas, ini bisa merupakan malapetaka yang liar dan sangat sulit dikendalikan.
Metode bola-bola beton itu awalnya akan menyajikan hiburan berupa penurunan debit semburan, mungkin 50% dan bisa saja hingga 70%. Namun tekanan yang makin besar dibawah akan memunculkan semburan-semburan baru dimana-mana berupa lumpur dan gas. Masih untung, sekiranya cuma disekitar lubang utama Banjar Panji 1, tetapi bagaimana kalau muncul di kota atau desa di pemukiman penduduk?

Sekali lagi, semoga ketakutan saya ini salah!

Namun jangan sampai terulang kisah ironis seperti pada spillway. Kegembiraan cuma berlangsung 1 minggu, kemudian kanal spillway itu dipenuhi oleh endapan padat, sehingga tidak bisa mengalirkan lumpur lagi. Padahal sebelumnya jelas diketahui, bahwa lumpur Lapindo terdiri atas butiran padat yang melayang bebas dalam air. Massa-jenis butiran padat itu jauh lebih besar daripada air+koloid yang membawanya. Dalam keadaan diam, butiran padat akan turun kebawah atau mengendap dengan kecepatan u = {4.d.g.(ρs/ρw-1)/(3.cs)}½, maka butiran pasir diatas 2 micron akan seluruhnya mengendap hanya dalam waktu 5 menit. Jika lumpur itu bergerak di kanal terbuka, maka kecepatan arusnya: v = {(8.ΔH.A.g)/(λ.L.C)}½. Format disain bangunan spillway sepanjang 400 m dengan lebar dasar sekitar 7 m dan beda-ketinggian kurang dari 2 m, hanya mengahasilkan kecepatan arus 0,52 m/detik disaat awal sebelum terjadi endapan di spillway. Jelas aliran lumpur itu tidak cukup cepat dan sifatnya tidak cukup bergolak (turbulence), sehingga sudah pasti butiran padatan mengendap sepanjang spillway.
Pertanyaannya: Kenapa disain spillway dibuat seperti itu?

Kisah ironis lain adalah puluhan pompa yang dibeli dan dioperasikan adalah jenis centrifugal. Pompa ini adalah jenis mesin kinetis yang mengkonversi energi masukan menjadi energi kinetis, yakni menaikkan kecepatan gerak pada massa fluida yang dipompa. Caranya dengan memakai roda-pusingan yang diputar sangat cepat, antara 25 s/d 50 putaran per detik, sehingga menghasilkan tegangan-geser τ = F/A yang sangat besar tetapi ideal jika fluidanya air (low-viscosity, newtonian). Namun lumpur pekat bersifat dilatant. Jika lumpur menderita tegangan-geser yang besar, maka serta-merta kekentalannya (viscosity) nya seolah-oleh naik drastis. Sehingga pompa centrifugal tidak mungkin bisa berhasil untuk menggerakkan lumpur
Maka untuk memindahkan lumpur pekat, harus dipakai pompa yang cocok untuk lumpur, yakni pompa yang menimbulkan tegangan-geser serendah mungkin ketika bekerja. Dan pompa jenis itu sudah banyak dipakai dimana-mana, termasuk untuk memompa lumpur pekat.
Pertanyaannya: Kenapa justru pompa centrifugal yang dipakai untuk lumpur Lapindo?

Realitas kegagalan yang sudah terjadi dalam penanganan lumpur Lapindo ini teramat pahit bagi ribuan rakyat yang menjadi korban.
Oleh sebab itu, lebih bijaksana, sekiranya metode penyumbatan dengan bola beton ini terlebih dahulu dikaji secara mendalam, apakah benar akan dapat mengurangi atau menghentikan sumber energi dibawah sana, bukan sekedar menghambat atau mengganggu jalan keluarnya, sehingga energi itu justru terkumpul menjadi kekuatan dasyat yang menimbulkan bencana yang lebih besar.

Wassalam,
R. Irawan

Ada juga komentar seperti ini di blog Hot Mud Flow , yang isinya seperti ini :

ada 1 hal lagi yang mungkin luput dari perhatian apabila lumpur dibiarkan saja. Hal itu adalah : Transportasi Sedimen (Transed). Pada transed dapat diketahui kecepatan aliran sedimen yang ada di dasar sungai. Ternyata kecepatan aliran sedimen sangat rendah sekali, bahkan untuk sedimen “biasa” saja sangat rendah sekali, apalagi untuk sedimen “lumpur lapindo”.

Saya khawatir usaha membuang lumpur ke sungai akan sia-sia belaka, karena lumpur akan sangat lama sekali sampai di laut. Hal ini dikarenakan kecepatan aliran sedimen amat sangat rendah sekali.

Apabila lumpur dipaksa dibuang langsung ke laut tanpa lewat sungai, hal ini saya anggap hanya buang-buang energi saja, karena di sungai yang ada aliran air saja transednya rendah sekali, apalagi dibuang langsung ke laut!!! Malah makin ga sampe.

Jika lumpur dibiarkan mengalir begitu saja, maka lumpur akan mengalir ke tempat yang lebih rendah. Dan jika di tempat itu airnya sudah hilang, maka yang tinggal adalah lumpurnya. Maka lumpur cair yang baru keluar akan mencari tempat lain yang lebih rendah. Begitu seterusnya sehingga kira-kira akan terbentuk sebuah gunung lumpur.

silakan baca http://lapindo.topcities.com untuk menambah referensi anda.

Lapindo dan pemerintah panik, dan rakyat Porong hidup semakin berada pada ketidakpastian…..

Iklan

2 Tanggapan to “Sidoarjo – skala musibah”

  1. Awal millennium ke-3 masehi era globalisasi agama akan datang terulang kemabali ilmu pengetahuan agama ajaran Adam sesuai Al A’raaf (7) ayat 27, Thaha (20) ayat 117 dari yang dahulu sesuai Al Baqarah (2) ayat 30-39.
    Akibat dari ini maka manusia akan terdiri dari:
    1. Manusia Malaikat sujud kepada ilmu Adam sesuai Al Haaqah (69) ayat 17, Al An Aam (6) ayat 9, Al baqarah (2) ayat 34,35
    2. Manusia Iblis menolak ilmu Adam karena merasa ilmunya lebih sesuai Al Baqarah (2) ayat 34, Al A’raaf (7) ayat 11,12.
    3. Manusia Setan keluar dari persatuan agama sesuai Al Baqarah (2) ayat 36.
    4. Manusia Jin beriman kepada Al Quran sesuai Al Ahqaaf (46) ayat 29-32, Al Jinn (72) ayat 1,2.
    5. Manusia Insan adalah zalim dan bodoh sesuai Al Ahzaab (33) ayat 72.
    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

    Suka

  2. […] DONGENG GEOLOGI atau dengan kata lain, mau enaknya sendiri.  Emang, dengan ragam berita dan analisis skala musibah tidak bisa memperkirakan letak pipa yang […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: