Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menulis Buku dan Menulis di Media Massa/Blog -3

Posted by agorsiloku pada Februari 21, 2007

Apakah penulis buku di Indonesia itu bisa kaya?. Mmmm, kalau di luar negeri, kita ketahui banyak penulis yang menjadi milyuner. Di Indonesia, yang menjadi makmur tentu ada, tapi yang benar-benar bersumber dari tulisan (karya tulis), rasanya masih berhitung dengan jari. Kalau novel karya asing yang pop bisa membuat pengarangnya rumah real estate dan jalan-jalan ke Hawai atau Bali tentu banyak, tidak demikian dengan Indonesia. Hanya penulis buku-buku pelajaran yang bisa lebih berjaya. Ini karena bukunya bisa diserap pasar dalam jumlah besar. Sedangkan karya-karya umum dan buku perguruan tinggi, bisa cetak 10 ribu dalam satu tahun sudah termasuk superior. Umumnya penerbit mencetak tiap buku baru sekitar 2000-3000 eksemplar saja untuk masa dua tahun terbit. Jadi kalau harga buku 20 ribu, maka 3000 x 20 ribu = Rp 60 Juta. Dengan angka ini untuk masa dua tahun, royalties 10% (Rp 6 Juta dalam dua tahun) maka bisa diduga bahwa penulis-penulis kita (ilmuwan dan dosen perti) makin jarang menulis. Yah, karena royaltinya belum sebanding dengan tenaga dan pikiran yang keluar. Di sisi lain, ada nilai pengabdian (yang tidak bisa diukur dengan uang). Tapi kalau “kere” terus, tentu profesi lain lebih menggiurkan.

Tapi bukan tidak ada lho, penulis Indonesia yang bergelimang uang. Yang tiap tahun menerima royalties sampai ratusan juta rupiah dan berlangsung bertahun-tahun.

Masih ingat buku Fisika Widagdo Mangunwiyoto untuk anak sekolah SMP dan SMA. Lebih dari dua dekade, buku beliau digemari oleh berbagai kalangan dan tentu saja menghasilkan royalti tidak sedikit. Juga penulis-penulis remaja atau juga dengan kecenderungan masyarakat makin gemar membaca, saya lihat buku “Misteri Sholat Subuh” dalam dua tahun terakhir terjual 125000 eksemplar, harga 20 ribuan. Jadi, kalau royaltnya 10%, dengan hitungan di atas, tentu penulisnya bisa kipas-kipas sambil jalan-jalan ke mancanegara. Royalti untuk penulis, relatif tapi bergerak sekitar 5 – 20%.

Jadi, jangan takut untuk tidak menjadi kaya. Saat ini, kalau kita perhatikan variasi buku dan majalah yang beredar di tanah air cenderung meningkat deras. Kontribusi lebih banyak lagi penulis tentu dibutuhkan. Tentu saja yang mencari dan yang menulis harus bertemu di pasar yang sama. Yang jelas, dulu saya punya teman yang menggantungkan uang sakunya pada tulisan di media lokal dan nasional. Tidak kaya-kaya amat, tidak juga miskin, tapi yang jelas mereka orang yang percaya diri dan bahagia.

Di luar itu, tentu juga faktor pengabdian, hobbi atau minat adalah daya dorong utama seseorang menulis. Sebagian besar memang bermula dari situ. Faktor bergulirnya rupiah adalah nomor kesekian. Hanya sebagaian kecil saja yang menempatkan di halaman-halaman pertama pikirannya. Ada kepuasan “maslow” yang dipenuhi dari menulis, dan ini yang dikejar.

Menulis di Blog.

Kalau kita jalan-jalan (blog walking) dari satu site ke site lain, pertumbuhannya sungguh menjamur. WordPress sekian ribu seharinya memunculkan blogger blogger baru. Belum lagi di Multiply, Blogspot, Live Jurnal, dan terus bertumbuh. Media ini, betul betul memberi kebebasan berekspresi yang tak pernah terbayangkan ketika orang mulai mengenal media cetak (surat kabar) lalu televisi, sampai akhirnya elektronik. Ada loncatan besar yang terjadi di era informasi ketika ekspressi manusia paling sederhana sampai paling rumit menjadi satu kesatuan. Singkat kata, blog adalah wahana berekspresi dengan gagasan tertulis dan memanfaatkan multi media. Bahkan, kekuatan media massa publikpun sedikit banyak mulai tersaingi. Orang berkunjung ke detik.com, tidak perlu membaca berita di surat kabar lagi. Kira-kira begitulah. Apa saja, nyaris bisa dicari di gugel.

Namun, tentu saja media fisik pun tidak kehilangan, bahkan boleh jadi terus bertumbuh. Selain kemudahan, juga ada hambatan (keterampilan, kemudahan akses, dan lain-lain).

Keistimewaan blog, menurut agor adalah kita menjadi diri kita sendiri, menjadi redaktur dari berpikir kita, akses link dan add memungkinkan kita menghubungkan diri dalam sebuah komunitas (ini tidak bisa terjadi dengan mudah di dunia maya). Tiba-tiba seseorang menyapa kita dari sebuah tempat, yang boleh jadi dalam mimpi pun tidak ditemukan.

Siapa yang membayar blogger, tampak jelas bahwa “bayaran” yang diterima adalah hits yang rutin didapat (dengan dukungan lain, bahkan bisa bernilai uang juga karena pengunjungnya banyak dan mengklik iklan yang ditempelkan pada blog), memiliki tambahan teman diskusi, bertukar sapa, dan lain-lain.

Jadi all of all, potensi yang dimiliki secara pribadi-pribadi juga bisa dipakai sarana untuk masuk ke tataran yang lebih profesional. Artinya, setiap karya yang dibuat dihargai oleh menjadi “uang”, paling tidak bisa untuk ngopi gitu.

(bersambung).

 

 

 

 

Iklan

3 Tanggapan to “Menulis Buku dan Menulis di Media Massa/Blog -3”

  1. Haha..boleh juga tuh buat ngopi.. siapa tau suatu saat WP dibantu para donatur top dunia mampu membayar para penulis blog paling tidak 1 rupiah per karakter..hehe

    *Dan tampaknya perlu ada pansus bahasa indonesia di WP yang membahas tingkat kelayakan sebuah blog untuk memperoleh 1 rupiah per karakter tadi.. hore WP jadi tempat cari duit
    @
    donatur?… dalam industri kan tidak ada makan siang yang gratis. Dulu dan sampai kini, orang membeli koran dan membaca iklan. Yang menikmati pembayarannya adalah industri penerbitnya. Tidak ada benefit langsung seorang pembaca dari iklan yang dibacanya. Kini orang bisa dibayar berdasarkan keinginannya meng”klik”. Tetikus kecil di tangan kanan menghasilkan uang. Gugel juga sebagian hidup dari situ Add Sense Gugel dan yang lainnya bermunculan. Gugel malah bukan yang pertama. Jadi, model “promosi” dan periklanan sebagian sudah mulai bermetamorfosa…..

    Jadi bukan donatur yang akan datang ke kita, tapi pemilik industri yang menangkap perubahan akan datang ke kita. 1 rupiah per karakter, jelas bukan harga yang mahal, apalagi kalau dibaca oleh seluruh warga dunia.

    Suka

  2. Benarkah ada cahaya cerah dari menulis di blog?… Setidaknya yah untuk selalu belajar, untuk membangunkan otak kita yang sering terlelap karena kekenyangan banyak bacaan.

    @
    ah pak guru ini, sudah gaharu, cendana pula. Sudah tahu bertanya pula. Agor yakin, banyak penerbit sedang mengincar Bapak. Banyak guru mengharapkan kelanjutan cahaya cerah yang dilepaskan perlahan-lahan oleh Bapak. Bukti awal sudah jelas, over loaded hit…..

    Suka

  3. […] (Bersambung) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: