Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menulis Buku dan Menulis di Media Massa/Blog -1

Posted by agorsiloku pada Februari 18, 2007

Saya sama sekali bukan penulis buku, tapi gpp kan menulis tentang menulis. Kan, tidak semua rumah sakit isinya dokter dan pasien, semua barak tentara isinya prajurit, semua restoran isinya juru masak, semua sekolah isinya guru dan murid. Selalu ada fungsi saling silang.
Adalah kebetulan, saya ada tetangga yang bergiat di bidang buku dan penulisan, jadi dari merekalah saya dengar-dengarkan.

Mengapa Tulisan Kita Dimuat ?

Pertanyaan ini penting dan sekaligus tidak penting. Penting karena dimuat di media massa umum, berarti pemasukan. Sedang menulis di blog, jelas tidak ada imbalan langsung didapat. Bahkan boleh jadi keluar uang untuk akses internet dan lain sebagainya.
Suatu artikel dimuat karena memenuhi syarat”. Apa sih yang disebut memenuhi syarat?. Secara teknis gampang saja. Syarat pertama : Mutu tulisan baik, enak dibaca (lugas, sederhana, mudah dipahami), sesuai dengan misi media tersebut (sifat media : politik, hiburan, agama, dll) , sesuai dengan waktu (ketepatan/timing), isinya menarik (ada gagasan asli) dan sesuai dengan tema yang sedang berkembang, analisis yang tajam. Lalu harus ada hal-hal yang baru, dan lain sebagainya.
Syarat kedua, kita (penulisnya) dikenal atau terkenal atau kebetulan mutu tulisan dan isue yang diungkapkan sesuai dengan kebutuhan penerbit koran atau majalah itu. Juga, korannya atau majalahnya mau membayar untuk penulis tersebut. Kalau kita kenal redakturnya, apalagi tetanggaan, bisa jadi tulisan kita dimuat biarpun “agak kacangan”, tapi kalau itu kita tidak punya, maka yang lain harus kita punya, yaitu mutu teknis yang bersaing, isue yang berjalan/ada, pilihan media yang sesuai misi. Jadi kalau lagi isue polligami, lalu kita menulis jauh dari situ, peluangnya kecil-kecil saja. Tapi, kalau kita sangat terkenal, publik figur gitu, ya; omongan yang pantas dibuang ke selokan juga diambil itu sama reporter atau redakturnya (tapi tergantung reporternya dan misi penerbitannya). Namun jelas, makin profesional sebuah penerbitan media massa, makin rumit syarat-syarat tertulis dan tidak tertulisnya.
Namun apapun kerumitannya, sebenarnya sederhana juga. Yang penting tulisan itu layak dimuat. Relatif terhadap misi penerbit dan kemampuan redakturnya. Tulisan yang layak dimuat adalah 70% karena mutu dan kebutuhan penerbit atas artikel tersebut, 30% siapa penulisnya. Ekstrimnya, kalau ada tulisan menteri yang relevan dengan isu tidak dimuat, kan sayang. Nanti menterinya nulis di media lain. Jadi biarpun tulisannya jelek, ya redaktur akan mengedit seperlunya. Tapi, kalau agor yang menulis, biar lebih bagus dari Juragan anu tetap saja akan dibuang saja, ganti sesuai prioritas. Hal seperti ini wajar-wajar saja. Namanya juga manusia, ada standar kualitas, standar profesi, dan standar selera. Karena tulisan di media massa itu dijual, maka pada dasarnya tulisan yang dimuat juga meningkatkan (untuk meningkatkan) mutu dari media massa itu sendiri. Karenanya, penulisnya mendapat apa yang disebut honor. Jumlahnya variasi, tergantung dari kocek dan tingkat keterkenalan dari penulisnya. Saya kira, (nggak tahu tepatnya), kisarannya akan sekitar 300-400 ribu sampai 2-3 juta rupiah per tulisan.

 

Blog dan Media Massa.

Ada kesamaan, sama-sama media. Yang ditulis juga hampir sama. Bedanya, kalau blog yang jadi redaksinya kebanyakan sendirian, sedang di media massa sudah membentuk organisasi dengan orientasi yang lebih jelas dan kuat. Kebanyakan dari penerbitan media massa didukung dana tidak kecil dan orientasi keuntungan.

Blog umumnya tidak bersifat komersial, meskipun ada yang berusaha mengkomersialkannya. Karena tidak komersial dan penulisnya juga sama amatirannya. Tentu saja, penyedia layanan akan menjadikan dan dipersiapkan untuk melayani secara komersial pula. Hanya, memang blog dan internet memiliki model-model yang berbeda dengan dunia nyata lainnya.
Pada level tertentu, kita harus akui bahwa blog dapat menjadi media efektif untuk berkomunikasi ria. Keluasan jaringan, kemudahan akses merupakan kekuatan tersendiri. Kita bisa dirikan lembaga konsumen yang dikelola oleh konsumen sendiri misalnya untuk menendang semua produk butut dari masyarakat, bisa jadi alat kekuatan fitnah yang dahsyat, dan tentu saja dengan seabreg nilai positif lainnya.

(bersambung)

 

Iklan

3 Tanggapan to “Menulis Buku dan Menulis di Media Massa/Blog -1”

  1. Lanjut saja bung ditunggu lanjutannya, baru komentar nanti, bagus ini yang mungkin perlu diketahui para blogger, tentang tulis menulis itu.

    @
    trims mas urip, masih bersambung. Mudah-mudahan ada manfaatnya. Salam selalu, agor

    Suka

  2. mrtajib said

    setuju pak urip, saya juga ternyata seneng baca tulisan berkait dengan bagaimana cara menulis…. dan ternyata, kesimpulan sementara saya, setiap orang punya cara masing-masing dalam hal menulis…..dan itu semakin memberikan nuansa minimal bagi saya…..

    @
    Yap, saya juga begitu. Belajar tak pernah habis ya Mas Tajib, tiap orang punya cara untuk menulis. Unik dan karenanya selalu ada daya tarik, karena yang membaca juga selalu unik.

    Suka

  3. dedi said

    pak urip saya memang sedang belajar untuk menulis dan saya mampir ke sini serta membaca petunjuk dari anda dan ternyata sangat memberi pencerahan kepada saya.
    mohon bisa di share lebih lanjut.

    @
    Mas Dedi, ada beberapa seri tulisan. Mudah-mudahan memberikan manfaat. Dan terimakasih sudah mau berkunjung ke sini…. Salam, agor

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: