Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perbedaan Cara Pandang Saintis dan Pakar Filsafat Ilmu

Posted by agorsiloku pada Februari 11, 2007

NETRALITAS SAINS

T. Jamaluddin (Dimuat atas permintaan “Radar Bandung”, Ramadhan 1424, 10 & 11 November 2003)

Di kolom “Hikmah” Republika 6 Maret 1999 saya mengulas tentang sains (dalam hal ini sains alami – natural science) yang sering disalahartikan dalam hal netralitasnya terhadap sistem nilai. Dalam tulisan pendek tersebut saya menyatakan bahwa dari segi esensinya semua sains sudah Islami. Islamisasi sains sungguh tidak tepat. Tidak ada sains Islam dan sains non-Islam. Yang ada saintis Islam dan saintis non-Islam. Saintisnya yang tidak bebas nilai, tata nilai yang dianutnya tidak akan lepas dari pikirannya yang mungkin muncul dalam pemaparan yang bersifat populer, bukan pada makalah teknis ilmiah. Demi kesahihan argumentasi ilmiahnya, tata nilai harus dilepaskan dalam pemaparan yang bersifat teknis ilmiah karena saintis harus berpijak pada rujukan yang dapat diterima semua orang.
Pada saat yang sama muncul tulisan Freddy P. Zen dan Husin Alatas di IDEA edisi Maret 1999 berjudul “Islamisasi Sains atau Islamisasi Saintis”. Ide pokoknya sama dengan tulisan saya tersebut, bahwa sains itu bebas nilai. Hal penting yang perlu dilakukan adalah Islamisasi saintis.
Secara umum itulah pandangan saintis. Almarhum Prof. Abdus Salam (pemenang Nobel Fisika 1979, Fisikawan Muslim asal Pakistan — yang dianggap kontroversial sebagai pengikut Ahmadiyah) menyatakan secara tegas di dalam pengantarnya untuk buku “Islam and Science : Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality” (Hoodbhoy, P. 1992) menyatakan “There is only one universal science, its problems and modalities are international and there is no such thing as Islamic science just as there is no Hindu science, no Jews science, no Confucian science, nor Christian science.”

Tulisan Zen dan Alatas tersebut ditanggapi oleh Herman Soewardi, Guru besar sosiologi dan filsafat ilmu, dalam makalah yang disampaikan di Pusdai. Dengan menggunakan terminologi dari Tarnas, SBS (Sains Barat Sekuler), tulisan tersebut menilai sains tidak netral. Pandangan bahwa sains netral dianggapnya “terbelakang” dan “sudah ketinggalan zaman”. Dilandasi pandangan para pakar filsafat ilmu, pandangan ketidaknetralan sains tampaknya didasarkan pada dampak buruk SBS yang, katanya, berpokok pangkal pada kesalahan (controverted, disaproved). Pandangan seperti itu akhirnya sampai pada kesimpulannya Kegley bahwa sains itu “paradigm-bound phenomenon”, yang berarti tidak mungkin netral.
Saya menilai perbedaan pendapat tentang netralitas sains tersebut bersumber dari sudut pandang yang berbeda. Saintis berangkat dari makna fisis didasari norma-norma profesionalisme yang selalu digelutinya. Para pakar filsafat ilmu berangkat dari makna filosofis yang belum tentu sesuai dengan makna fisisnya. Saintis mengambil kesimpulan dari data-data yang ada dengan menyadari kesalahan-kesalahan (deviasi) yang harus selalu dinyatakan untuk dapat dinilai akurasinya. Pakar filsafat ilmu menggali lebih dalam, mungkin melibatkan juga metafisika, yang di luar lingkup tinjauan sains.
Dengan memodifikasi gambaran komparatif tentang sains oleh Prof. Herman Suwardi, saya membuat dua klasifikasi: Pertama, Sains versi saintis (yang oleh Prof. Herman Suwardi disebut SBS) yang berangkat dari premis-premis empiris. Sains tidak mungkin dibangun dari sumber-sumber non-fisis yang tidak mungkin dikaji ulang oleh saintis lainnya. Betapa pun rendahnya akurasi data empiris tersebut (tergantung perkembangan teknologi observasi dan analisisnya) tidak dapat dikatakan “salah”. Nilai kebenaran sains memang relatif, tergantung bukti-bukti dan argumentasi fisis yang jadi landasannya. Selama belum ada bukti yang menggugurkan suatu teori sains, maka teori itulah yang dianggap benar.
Ke dua, “sains” versi filsafat yang, katanya, seharusnya berangkat dari premis-premis transendental. Karena berangkat dari premis transedental bisa muncul sebutan “sains” Islam, “sains” Kristen, “sains” Yahudi, “sains” Hindu, “sains” Shinto, dan sebagainya. “Sains” seperti ini dibangun dari nilai-nilai kebenaran yang dipandu wahyu atau sumber transedental yang diakui oleh kelompok tersebut. Nilai kebenaran sains versi filsafat ini mutlak bagi yang mengakuinya, tetapi mungkin dianggap salah total bagi yang tidak mengakuinya.
Untuk memperjelas perbedaan sudut pandang tersebut, saya bahas dua contoh kasus yang disebut dalam makalah Prof. Herman Suwardi.
Teori Relativitas
Teori relativitas ada dua: Teori Relativitas Khusus dan Teori Relativitas Umum. Teori khusus menyatakan bahwa masing-masing pengamat yang bergerak seragam (tanpa percepatan) akan menyatakan hasil pengukuran yang berbeda, misalnya tentang panjang, waktu, dan energi. Asumsinya, prinsip relativitas dan kecepatan cahaya yang konstan. Salah satu bukti kebenaran teori ini yang dikenal masyarakat adalah teori kesetaraan massa dan energi, E=mc2, bila ada m massa yang dihilangkan akan muncul energi sebesar E. Teori inilah yang menjadi dasar penggunaan energi nuklir, baik untuk maksud damai maupun untuk maksud merusak.

Teori umum memperluas teori khusus dengan meninjau pengamat yang bergerak dipercepat relatif terhadap lainnya akibat gravitasi. Teori ini memperkenalkan kelengkungan ruangwaktu. Sumber gravitasi besar menyebabkan kelengkungan ruangwaktu yang dalam. Karena kesetaraan massa dan energi (antara lain cahaya), gravitasi bukan hanya mempengaruhi massa tetapi juga cahaya. Cahaya akan dibelokkan mengikuti geometri ruangwaktu di sekitar sumber gravitasi tersebut. Misalnya, cahaya galaksi yang jauh yang melintasi galaksi lain sebagai sumber gravitasi kuat akan dibelokkan sehingga tampak bukan pada posisi sesungguhnya. Fenomena ini juga dikenal sebagai lensa gravitasi, sehingga satu galaksi yang berada jauh di belakang galaksi lain, tampak seperti beberapa galaksi sejenis di sekitar suatu titik sumber gravitasi.
Teori sains seperti itu, menurut saintis, netral, bebas nilai. Teori tersebut bebas dibuktikan oleh siapa pun. Teori tersebut makin kuat posisinya karena semakin banyak bukti yang mendukungnya. Hukum alam yang diformulasi teori tersebut bukan buatan manusia, tetapi hukum Allah (sunnatullah). Einstein dan para saintis lainnya hanya memformulasikannya. Hukum Allah itu telah ada bersama dengan alam yang diciptakan-Nya. Siapa pun yang memformulasikannya dengan benar akan menghasilkan teori yang sejalan.
Bukti bebas nilainya sains dapat juga ditunjukkan dari lahirnya teori penyatuan gaya lemah dan gaya elektromagnetik yang dirumuskan secara independen oleh Abdus Salam (seorang Muslim) dan Steven Weinberg (seorang ateis). Dua orang yang berbeda sistem nilainya dapat menghasilkan teori yang sama. Mungkin ada motivasi ketauhidan pada diri Abdus Salam, bahwa Alam yang diciptakan oleh Allah yang esa hukum-hukumnya mempunyai keterkaitan yang dapat dipersatukan dalam satu teori besar (Grand Unified Theories — GUTs). Tetapi motivasi dan argumentasi ketauhidan seperti itu tidak akan muncul secara formal dalam publikasi saintifik, karena belum tentu dapat diterima semua orang.
Teori relativitas pun tersebut juga dapat dikatakan Islami. Artinya, mengikuti hukum Allah (Islam dalam arti yang umum berarti berserah diri). Teori yang mengungkapkan bagaimana alam tunduk pada hukum Allah sudah pasti berarti juga mengikuti hukum Allah.

Hukum gravitasi Newton telah mengungkapkan hukum Allah yang mengatur gerakan-gerakan planet mengitari matahari. Orang kemudian melihat suatu keanehan dengan orbit planet Merkurius yang orbitnya selalu bergesar. Bila orang menganggap hukum Newton sebagai formulasi hukum Allah yang sempurna, boleh menyatakan bahwa Merkurius “membangkang” dari hukum Allah. Ternyata kesan “pembangkangan” planet Merkurius disebabkan karena keterbatasan formulasi teori Newton. Karena alam semestinya taat pada hukum Allah sesuai dengan janji ketika diciptakan (Q. S. 41:11), mestinya ada formulasi yang lebih baik yang bisa menjelaskan bahwa planet Merkurius tidak “membangkang” hukum Allah. Teori relativitas menjelaskan bahwa karena posisi Merkurius dekat dengan matahari, ada tambahan gaya dorong yang menyebabkan orbitnya berubah. (Ini contoh pemaparan saintis Islam tentang teori sains yang bebas nilai itu).
Itulah esensi teori sains. Menjelaskan hukum Allah sebatas pengetahuan manusia karena keterbatasan ilmu manusia (Q. S. 17:85). Tidak ada seorang saintis pun yang dapat mengklaim suatu teori sains yang paling benar secara mutlak. Ungkapan yang bisa dinyatakan adalah “bukti-bukti pengamatan saat ini membuktikan teori inilah yang paling kuat”, artinya bisa saja suatu saat ada bukti lain yang menggugurkannya.

Dalam sains tidak masalah “…create more problems than they solve” (mengutip ungkapan tentang SBS dalam makalah Prof. Herman Suwardi), tentu dalam konteks problem saintifik. Karena, saintis selalu merasa tertantang dengan problem-problem baru. Banyak orang tidak menyangka bahwa sebenarnya sebagian besar waktu saintis digunakan untuk merencanakan cara memperoleh data baru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saintifik terbaru.
Dalam tinjauan filsafat ilmu (mengutip makalah Prof. Herman Suwardi), teori relativitas dipandang makna filosofisnya bahwa ada banyak alternatif untuk menampakkan kebenaran dan kita tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar, atau mana yang mendekati kenyataan. Karena itu orang tidak mungkin tahun (“know”) tentang alam. Maka, mengutip Tarnas, realitas atau “scientific truth” sekarang menjadi kabur. Seseorang tidak mungkin mempunyai akses rasional pada kebenaran universal. Observasi merupakan titik lemah dari sains karena obyektivitas observasi tidak mungkin. Karena semua orang memandang segala hal yang ada di alam empirik ini dengan mata yang dilapisi oleh “lensa” dan setiap orang memiliki lensanya sendiri. Sehingga sains dianggapnya sebagai fenomena yang terikat pada paradigma. Karenanya, beralasan bila dengan cara pandang demikian dan menghendaki kebenaran hakiki (hal yang lazim dalam filsafat) sampai pada kesimpulan “sains” tidak tidak netral. Memang, mengkaji secara mendalam mencari kebenaran universal yang hakiki mau tidak mau akan bersentuhan dengan sistem nilai yang dianut dalam kajian tersebut.
Sebenarnya, mencari kebenaran hakiki bukan lagi ruang lingkup kajian sains. Karena sains tidak mungkin sejauh itu. Sains berkepentingan pada kebenaran saintifik berdasarkan bukti-bukti yang diakui menurut kaidah-kaidah ilmiah. Diharapkan kebenaran saitifik tersebut mendekati kebenaran hakiki, tetapi tak seorang saintis pun berhak mengklaim itulah kebenaran hakiki. Jadi, definisi “sains” yang disebut tidak netral oleh pakar filsafat ilmu pasti bukan sains yang dimaksud oleh para saintis.
Kerusakan Lapisan Ozon
Dampak buruk perkembangan sains dan teknologi sering dijadikan legitimasi bahwa sains tidak netral dan tidak Islami. Sains yang berdampak buruk itu diasosiasikan sebagai sains barat sekuler (SBS). Sebagai alternatifnya ditawarkan sains Islam yang dipandu wahyu yang semestinya tidak akan berdampak buruk. Karena Islam dijanjikan Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.
Ada yang rancu di sini. Antara sains dan dampak dari sains. Dampak dari sains (dan teknologi) sudah melibatkan penggunanya (manusia) yang di luar lingkup kajian sains alami. Dalam hal ini, sistem nilai bukan berpengaruh pada sains, tetapi pada perilaku manusia penggunanya. Sains itu ibarat pisau. Netral. Tidak ada spesifikasi pisau Islam, pisau Kristen, pisau tukang sayur, atau pisau tukang daging. Dampak pisau bisa negatif bila digunakan untuk merusak atau membunuh. Tetapi bisa juga positif.

Sains dihadapkan pada masalah kerusakan lapisan. Satelit mendeteksi lapisan di atas antartika yang menipis yang dikenal sebagai lubang ozon. Sains mengkaji sebab-sebabnya. Ada sebab kosmogenik (bersumber dari alam), antara lain variasi akibat aktivitas matahari. Ada sebab antropogenik (bersumber dari aktivitas manusia). Sains juga akhirnya menemukan sumber antropogenik itu salah satunya CFC (Chlor Fluoro Carbon) atau freon yang banyak digunakan sebagai media pendingin kulkas dan AC. Kini sains menemukan bahan alternatif yang tidak merusak

Dapatkah sains dipersalahkan dan dijuluki sains barat sekuler yang merusak? Kebetulan yang menemukan freon adalah saintis non-Muslim. Karena sains bersifat universal, sebenarnya mungkin juga saintis Muslim yang menemukannya. Bila demikian yang terjadi, bolehkah pada awal penemuannya bahan yang sangat berguna dalam proses pendinginan diklaim sebagai bagian dari hasil sains Islam, sains Barat, atau lainnya? Karena keterbatasan ilmu manusia, tidak semua dampak dapat diprakirakan. Ketika kini diketahui dampak buruknya, tidaklah adil untuk melemparkan tuduhan bahwa itu produk sains barat sekuler. Bisa jadi, bila dulu yang menemukannya seorang Muslim dan diklaim sebagai hasil sains Islam, maka sains Islam yang akan dihujat.

MungkinkahMewujudkan Sains Islam?

Para saintis segera menjawab pertanyaan seperti itu, “Tidak mungkin mewujudkan sesuatu yang tidak ada!”. Karena sains bersifat universal dan bebas nilai, tidak ada sains Islam. Tetapi bagaimana bila diujicobakan dengan usulan menjelmakan ilmu tauhidullah dengan mengganti premis-premis empiris yang sembarang dengan premis-premis transendental?

Pada awal 1980-an Pakistan dibawah kepemimpinan Zia ul Haq yang mencanangkan Islamisasi di segala bidang sudah mencoba mengkaji penciptaan sains Islam. Berdasarkan premis transendental dalam ayat-ayat Al-Quran bahwa jin terbuat dari api tanpa asap, pakar energi ada yang menawarkan energi alternatif: menangkap jin sebagai sumber energi yang gratis. Ada yang mengkaji secara kimia, jin kemungkinan besar terbuat dari gas metan dan hidrokarbon jenuh sehingga bila terbakar tidak mengeluarkan asap. Tetapi tidak dijelaskan bagaimana merealisasikannya. Itulah contoh upaya menjelmakan sains Islam yang dinilai para saintis tidak realistis dan memalukan (Hoodbhooy, 1992). Ada metode yang ditawarkan dengan menggunakan “hati” sebagai penangkap keghaiban untuk memperoleh premis-premis transendental. Karena metodenya bukan metode fisis, maka hasilnya tidak dapat dianggap sebagai sains. Jadi, metode ini tidak mungkin menghasilkan sains Islam. Lagi pula, siapakah yang dapat mengklaim bahwa premis-premis yang digunakan benar-benar bersifat transendental sehingga menjamin “sains” yang dihasilkan bebas dari limbah berbahaya.
Metode menggunakan “hati” serupa itu pernah dicoba oleh seorang mahasiswa ITB aktivis masjid pada awal 1980-an. Dia bercerita kepada saya bahwa ia berkelana untuk mencari ilmu “laduni” (maknanya ilmu dari sisi-Ku, sisi Allah) yang dia percayai bisa mengatasi segala persoalan, termasuk masalah iptek yang rumit. Saya tidak tahu berhasil atau tidak dia mencari ilmunon-fisik itu. Namun, awal 1990-an saya mendengar dari seorang kerabatnya dia mengalami stres berat. Ini hanya suatu peringatan bila suatu masalah fisis didekati dengan pendekatan non-fisis dengan harapan yang terlalu besar untuk mendapatkan problem-solving yang ideal.

Iklan

14 Tanggapan to “Perbedaan Cara Pandang Saintis dan Pakar Filsafat Ilmu”

  1. joesatch said

    sayangnya, oleh para “mereka yang mengaku menganut suatu manhaj”, ketika saya berbicara dari sisi sains, saya malah dikatai sebagai ahli bid’ah dan bahkan kafir 😦

    @
    Wah saya termasuk orang yang sangat tidak mengerti manhaj, juga tidak mengerti bid’ah itu apa, apalagi jika itu dikenai pada pengertian-pengertian sains atau sejenisnya. Saya hanya ingin “dan” berharap Allah memberikan hidayahNya agar bisa mensyukuri nikmatNya, beriman dengan baik, menafkahkan rejeki yang diberikanNya, bersedekah ilmu, bersedekah harta, bersedekah do’a dalam segala keterbatasan yang dimiliki. Juga belajar, untuk memahami apa yang bisa dipahami, bisa dimengerti, dalam segala keterbatasan saja. Salam, Mas Joesatch. 🙂

    Suka

  2. […] Sehari SemalamEvy pada Alam Semesta Biologis (?)anonim pada Memilah dan Memilih Takdirjoesatch pada Perbedaan Cara Pandang Saintis dan Pakar Filsafat Ilmuhelgeduelbek pada Mengamati Transit Kembaran Bumi dan Gempa BintangEvy pada Karakter Manusia […]

    Suka

  3. dwi tutut said

    saya mau tanya apa berguna menyalurkan film hidayah untuk menyalurkan agama islam dan kenapa sekarang masih byk yg menyadarinya kl ada tuhan dan tidak takut dosa

    @
    kalau menurut saya :
    saya mau tanya apa berguna menyalurkan film hidayah untuk menyalurkan agama islam –> kalau film hidayah yang mengurut pada peristiwa kubur meledak, jejadian, dan lain sebagainya ini adalah usaha sistematis untuk mengaburkan makna Islam, membodohi ummat, dan pekerjaan sejenis pekerjaan sesat lainnya. Ujung-ujungnya, menyudutkan Islam sebagai agama tanpa akal. Lucunya, dibungkus kesalehan dan do’a-doa yang diperdagangkan untuk tontonan….. Luar biasa emang TV kita ini apalagi kemudian ditutup dengan kemunculan ustad. Itu ciri dari bangsa yang menderita, bangsa yang sedang menaruh harapan pada keseluruhan mimpi-mimpi.
    Jadi berguna atau tidak, ya bergunalah, untuk tujuan begitu….


    kenapa sekarang masih byk yg menyadarinya kl ada tuhan dan tidak takut dosa
    –> Orang tahu prinsip-prinsip moral dan kebaikan, tidak berarti karenanya orang berbuat baik, begitu juga orang yang tidak belajar moral dan kebaikan, bukan berarti tidak akan berbuat baik. Baik menurut standar moral dan agamanya. Kebanyakan manusia kan lebih takut berdosa pada nenek moyang, takut sama pohon angker, kuburan orang besar, atau berharap pada kerbau bule memberi berkah. Bahkan tahinyapun dipungut karena yakin memberi berkah. Tentu saja mereka tidak takut sama Allah.

    Suka

  4. imam akbarulloh rohman said

    newton,einstein,graham bell, seorang nabi…?
    itulah yang menjadi pertanyaan oleh sebagian orang yang menyukai filsafat, betapa tidak, bukankah nabi adalah pembawa kabar gembira? mungkin dalam benak kita sebagai muslim siapapun yang menyatakan pendapat bahwa mereka adalah nabi dihakimi ‘kafir’. hal ini berdasarkan kepercayaan umat islam yang meyakini bahwa nabi muhammad adalah nabi dan rasul terakhir. Lantas sebutan apakah yang pantas bagi newton,einstein,& graham bell? mungkin kata yang pas adalah ilmuwan sejati yang telah ikut memajukan peradaban umat manusia.

    @
    artikel di atas tidak menjelaskan Newton, Einstein, Graham Bell seorang Nabi kan?. Saya meskipun tidak mendalami, tapi menyukai filsafat. Mulai dari bertanya, dan secara bijak mempertanyakan segala sesuatu. Nabi Ibrahim bertanya terus siapa Allah, beliau menguji dengan akalnya, sampai-sampai matahari pun ikut disangka Allah, tapi kemudian dst (QS 6:78. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. )
    Jelas tampak bahwa Nabi Ibrahim mengalami proses dalam pencarian kebenaran, dan itu pula yang dilakukan oleh para pencari kebenaran yang merupakan komitmen penting dalam berfilsafat.
    Tentu saja pencari kebenaran yang melihat tanda-tanda keagungan Allah, menguji dan melakukan hipotesis sampai membangun apa yang disebut teori bukanlah Nabi dalam pengertian agama-agama samawi.
    Dalam lingkup filsafat, saya bisa bilang Nabi Ibrahim adalah seorang filsuf (seorang pencari kebenaran). Tapi, ya karena filsuf tidak ada apa-apanya dalam hal keberimanan kepada Allah, tentu saja Ibrahim adalah seorang Nabi. Lebih afdol dan cocok, dan itu jelas yang disampaikan Allah kepada kita yang meyakini Islam.

    Ilmuwan = ilmu dan orangnya = orang berilmu. Hanya kita sudah terbiasa menyebut dalam berbagai sisi, berilmu di bidang sains = ilmuwan, bidang matematika = matematikawan, di bidang agama = ulama, di bidang klenik paranormal. Yah… sebutan-sebutan itu semuanya.

    Salam, agor.

    Suka

  5. vikry said

    hai kenapa setiap filsafat yang kita cari tentang filsafat ilmu tidak ada apa tidak pendekatan dalam filsafat ilmu di dalam sini

    @
    Kan artikel itu tidak membahas filsafat ilmu, tapi pakar filsafat ilmu. Filsafat ilmu dan percabangannya. Kunjungi ini, berbicara mengenai apa itu ilmu dan filsafatnya, biar sedikit.

    Suka

  6. grandiosa12 said

    kang agor, maaf lho.. trackback tanpa ijin..

    @
    saya malah terimakasih ikut dipopulerkan blog ini. Itu tulisan bernas dari T. Jamaluddin, bukan agor.

    Suka

  7. […] Perbedaan cara pandan saintis dan pakar filsafat ilmu oleh Agorsiloku […]

    Suka

  8. haikal said

    menurut saya tuhan itu nyata.

    @
    wah kata ini membutuhkan penjelasan lebih rinci apa yang dimaksudkan dengan tuhan, apa itu nyata. Baik t kecil maupun t besar. Kalo bisa diberikan pandangan lebih jauh? Trims ya

    Suka

  9. adit said

    apakah berbedaan harus di pelihara dengan tanggapan dari masing subjek untuk mendapatkan bahwa A yang paling benar dan yang lain salah

    @
    Menggosok pedang, semakin mengkilat, tidak untuk mencari siapa yang paling benar. Semoga.

    Suka

  10. Eni said

    Pa sy mau tanya nih. Apa perbedaan dari ilmuwan dan filsuf? dan jelaskan persamaannya. Dan apa itu filsafat?
    Terima kasih ya pak. ini buat tugas filsafat komunikasi. Ditunggu.

    @
    Weleh…weleh… tugas filsafat komunikasi nanya sama agor?. Nggak salah nih.
    Jawabannya jadi apa ya?. Nggak tahu ya… terus dipikir-pikir, nanya-nanya tapi nggak mau dapat jawaban. Itu filsafat, ngkali… 😀 terus yang nanya terus itu ya kita sebut filsuf saja. Biar keren. Ilmuwan juga begitu, sama-sama mikir, cuma bedanya ilmuwan ngebuktiin. Ilmuwan hanya mau percaya pada pembuktian. Lha, kok ditanya persamaan, malah dijawab bedanya. Dua-duanya sama-sama nggak mau percaya pada jawaban dan mencari jawaban baru. Aduh… nyerah deh… 😉

    Suka

  11. Xeninthux said

    Well, di kampus (ITS) saya ada pakar islamisasi sains sekaligus fisika teori. Beliau pernah menyelenggarakan stadium general “Islamisasi Sains” beberapa waktu yang lalu. Beberapa bahasan di antaranya, teori atom asy’ariah, ratu semut dll.
    jujur aja, menurut saya kalo dirunut sains saat ini, misal fisika mekanika jika di telaah lebih jauh akan menuju konsep atheisme. begitu juga dengan kedokteran dll. Maka dari itu sains perlu di”islamkan kembali” karena sains juga lahir dari islam. So, saya sangat setuju konsep islamisasi sains…

    @
    Betul dan ah… rasanya tidak juga… ada memang beberapa hal yang mengganjal dari islamisasi sains dan sains Islami. Dua kata ini mungkin sangat debatable. Namun, sulit juga kita mengatakan sains yang diislamkan (atau islam yang disainskan)…
    Setidaknya juga kita perlu memahami bahwa :
    Filsafat sains selama ini tidak juga disebut bebas nilai. Artinya ada paham atau penarikan kesimpulan yang menjadi latar belakang tujuan sains atau aplikasinya dalam kehidupan.
    Sains dalam kacamata Islam, semestinya dipandang sebagai salah satu pandang/bukti keagungan Allah. Betapa segala keteraturan dan lain sebagainya menjadi bagian dari kesempurnaan karya ciptanya. Ini yang kemudian jadi warna dasar seorang ilmuwan muslim ketika berhadapan dengan teori-teori sains.
    Sains pada saat ini, jika ditelaah lebih jauh… akan menuju pada konsep-konsep yang paling awal dalam deskripsi alam. Apakah menuju pada atheisme atau sebaliknya, sangat tergantung “keimanan” dalam membaca alam….

    Dalam sebuah perenungan, tentu kita juga tidak boleh juga … rasanya sih.. gegabah untuk menjadikan sains dalam konsep Islam… karena,… sains hanyalah bagian dari Islam, bagian dari keagungan karya cipta Sang Penguasa.

    Suka

  12. haniifa said

    Salam,
    Al Qur’an, sebagai kitab yang terjaga sampai akhir “jaman” bukanlah “SCIENCE” tapi “SIGN”, atau tanda-tanda kebesaran “Allah”.
    Allah berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 164:
    “.. Sungguh (terdapat) “TANDA-TANDA” (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. ”
    Tampak jelas siapapun ber “Haq” baik Muslim atau Non Muslim untuk memperoleh “TANDA-TANDA” yang Allah berikan, selama dia tergolong kaum “pemikir”.
    —————
    “Salah satu bukti kebenaran teori ini yang dikenal masyarakat adalah teori kesetaraan massa dan energi, E=mc^2”
    Kalau pemikiran saya :
    m = E/c^2 atau Massa = Energi dibagi Kecepatan cahaya ^2, kenapa musti dibalik ?!
    Faktanya, E=mc^2 sangatlah susah dibuktikan (bagi orang awam), akan tetapi jika di balik maka dalam kehidupan keseharian teori Einstein tersebut menjadi bisa terbukti.
    E = Energi Thermo Nuclear Matahari
    c = Kecepatan sinar matahari yang menyinari bumi sedemikian sehingga hijau daun dapat berpotosintesis untuk pertumbuhkan pohon, dan dari pohon ini menghasilkan buah-buahan.
    m = buah-buahan.

    he.he.he.
    Sungguh saya merasa aneh, seolah-olah begitu “SAKRAL”nya persamaan Einstein : pokoke”E = mc^2” walaupun susah dibuktikan.
    Suatu hal yang patut saya syukuri adalah saya bukan “Fisikawan” atau “Matematikawan” sehingga saya merasa bebas

    Wassalam.

    @
    Salam.. ya sebagai tanda 😀
    Karena saya juga bukan fisikawan atau matematikawan… sama… hanya bisa bengong saja sama kesetaraan masa dan energi… 😀

    Suka

  13. kurang lengkap, tidak teliti, kurang banyak materi, jangan banyak menampilkan gambar, harus lebih detil

    @
    Trims infonya… kebetulan postingan ini tidak ada gambarnya… kalau boleh, jelaskan lagi mana yang tidak teliti… isinya ataukah kalimat atau kata-kata yang keliru… biar saya akan lanjutkan ke penulis aslinya…

    Suka

  14. ridho said

    apa perbedaan dan hubungan sains dan filsafat

    @
    Wah ini pertanyaan untuk para filsuf. Agor sendiri tidak punya penjelasan yang baik untuk hal ini. Bahkan tidak pernah memikirkannya. Sains berdiri dan berkembang dari usaha menjelaskan alam semesta dan segala isinya melalui pendekatan-pendekatan eksperimen dan deduktif, pembuktian dan rasional menjadi kuncinya. Filsafat dari akar kata yang berarti pencinta/sahabat kebijaksanaan (philosophia). Pada perkembangannya, filsafat bertanya tentang hal-hal yang berdimensi ke dalam, lebih ke arah hakikat dari persoalan atau analisis yang mendalam dari kejadian atau sumber kejadian. Filsafat mengolah pikiran, dan sains mencari jawaban dengan pembuktian (apapun bentuknya) atau alasan-alasan berdimensi rasional (masuk diakal). Sains melahirkan teknologi yang bermanfaat pada budaya dan perkembangan kehidupan manusia sedangkan filsafat mencari jati diri kehidupan yang selalu dimulai dari pertanyaan : mengapa?. Filsafat sains kalau disatukan tentunya memaknai sains sebagai usaha untuk memberikan jawaban-jawaban sesuai tujuan filsafat untuk memaknai sains agar bermanfaat bagi kehidupan…. kini ataupun nanti….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: