Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Intelligent Design = Pencampur Aduk Sains dan Agama

Posted by agorsiloku pada Februari 10, 2007

Tulisan/diskusi di bawah ini, saya nilai cukup menarik, meskipun saya sendiri lebih suka disebut dungu (lihat catatan terakhir dari artikel ini) dari pada disebut/dikelompokkan sebagai tidak beriman. Perancangan Cerdas (Intelligent Design sebagai paham kreasionisme yang ditolak habis-habisan oleh banyak ilmuwan, bahwa ilmu adalah bebas nilai, empiris, falsafah positivisme dan lain-lain tidak akan menggoyahkan keyakinan pada kitab wahyu karena kami meyakini kebenarannya dan tidak ada keraguan padanya. Jadi, marilah para dunguwan atau dunguwati, kalau suka, membaca artikel di bawah ini. Al Qur’an, jelas berbicara dan menjelaskan bagian-bagian yang ilmu pengetahuan merayap-rayap menjelaskannya.

Radityo :

Intelligent Design : Pencampur aduk sains dan agama 30th October 2005

Mas Harlan dan teman-teman yth,
Sebelumnya pernah saya posting tentang siapa Harun Yahya. Saya sebut Harun Yahya karena dialah yang secara terang-terangan mengklaim telah berhasil meruntuhkan Teori Evolusi – walau cuma lewat tulisan di salah satu bukunya. Ia sendiri (dan tim kerjanya) tak menciptakan teori baru untuk menyanggahnya,
tapi cukup mencari celah dan titik-titik kelemahan dari temuan paraevolusionis plus berbekal kitab suci saja. Teori lama yang sudah diperbarui oleh ilmuwan lainnya pun masih mereka perdebatkan. Seolah meruntuhkan teori ilmiah yang sudah berusia ratusan tahun lamanya itu bagai mencomot durian
gratisan yang runtuh dari pohonnya saja. Langkahnya lazim disebut ‘science berbungkus agama’.

Saya tampilkan sosok Harun Yahya karena Anda pernah menyebut tentang “Intelligent Design”, dan juga dipostingan sebelumnya sekilas pernah menyebut tentang “dari kera jadi manusia”, “missing link”, dan majalah “Scientific America”. Terkait dengan statement “dari kera jadi manusia”, pertanyaan saya: “Apakah Anda sudah membaca buku The Origin of Species”? Kalau belum, maklum ada pernyataan seperti itu. Kalau sudah, di bab mana dan di halaman berapa kalimat itu tercantum? Intinya, teori evolusi (Darwinisme) cuma menduga bahwa nenek moyang species manusia dan species kera/monyet itu adalah sama, bukan dari berwujud kera lalu dalam prosesnyamenjadi manusia.

Lalu tentang majalah “Scientific America”. Kalau tak salah, Anda pernah studi di AS kan? Atau sekarang masih mukim disana? Coba cek di toko buku sebelah, bentuknya seperti apa majalah “Scientific America” tersebut. Atau kalau Anda sudah mengoleksinya, coba buka halaman demi halaman. Lalu simpulkan,
redaksionalnya condong ke arah mana. Majalah itu adalah salah satu publikasi milik kaum kreasionis,
tak bisa disejajarkan dengan “Nature” dan lainnya. Mungkin majalah itu bisa disejajarkan dengan majalah “Dharmais” terbitan kroni Soeharto yang dulu sempat terbit di Indonesia. Isinya ya mau tidak mau musti memuji langkah-langkah Soeharto di masa lalu. Terbukti majalah itu lalu mati berkalang kubur, karena ya jumlah pembacanya amat-amat terbatas. Mana mau sih masyarakat kita yang sudah cerdas – namun dengan kantong cekak – mau membeli ‘kemasan propaganda’? Linknya kok tidak disertakan? -> Anda menulis: “Selain itu silakan baca tulisan Prof. Jeff Harwell (cari di homepage beliau). Dia juga ilmuwan yang kebetulan beragama kuat.”

Kreasionis vs Evolusionis (tolong jangan dibaca Science vs Religion)

Kembali ke Harun Yahya. Sebagaimana kita tahu, Harun Yahya hanyalah satu dari sekian ribu kreasionis yang rajin merecoki temuan para ilmuwan. Mereka boleh dibilang sebagai “kelompok pengganggu” temuan-temuan dari para ilmuwan murni, bukan ilmuwan gadungan. Mereka inilah kelompok yang suka mencampur adukkan antara sains dan agama.

Mereka juga hobi mencomot ‘nama’ untuk menjustifikasi suatu kebenaran saintifik. Ini kebiasaan buruk para kreasionis, yang suka mencantumkan nama-nama terkenal dan deretan gelar akademis (bahkan sering tidak punya kaitan) untuk ‘pamer’ bahwa kreasionisme juga bagian dari sains. ‘Tokoh kreasionis’ lainnya bisa disebut nama Michael Behe, Duane T. Gish, Ken Ham dan lainnya. Mungkin profesor yang Anda sebut itu termasuk dalam kelompok ini.

Beragam publikasi untuk membentuk opini masyarakat mereka terbitkan dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Tak cuma media massa konvensional, mereka juga merambah ke internet dengan berbagai situs web-nya yang ‘penuh keajaiban’.

Bahkan di AS, para kreasionis mendirikan sebuah museum berkonsep sesuai dengan apa yang dia mau tentang penciptaan manusia. Tak heran kalau di salah satu etalasenya bertengger patung Adam Hawa yang dikelilingi dinosaurus, seolah mereka pernah hidup sezaman. Juga ada patung Noah lagi naik kapal untuk
menghindari banjir bandang yang melanda. Mereka juga rajin ‘mengilik-ilik’ pemerintah federal agar
mengajarkan teori penciptaan di sekolah-sekolah sesuai kitab suci bukan menurut teori evolusi. Lalu terciptalah istilah ‘creationism vs evolutionist’.

Lalu dari mana duitnya? Tentu saja para kreasionis ini punya pendana – mereka yang punya kepentingan (Alangkah indahnya andai dana itu disalurkan ke orang-orang papa yang bertebaran dimana-mana, biar tak mubazir tentu saja).

Biarkan sains dan agama berjalan di relnya masing-masing

Jangan heran kalau saya pernah tuliskan “Biarkan sains dan agama berjalan di relnya masing-masing, tak perlu dicampuradukkan”. Kalau kita bicara soal spiritual yang menyemangati hidup kita semua okelah, tak sebatas pada ajaran agama saja. Kalau Anda bilang, “Agama seharusnya tidak boleh bertentangan dengan sains. Jika saat ini tampak bertentangan, kitanya yang masih belum cukup pandai”.

Saya pribadi tak setuju dengan pendapat itu. Ini sama saja mengatakan, “Sains tak boleh bertentangan dengan agama.” Seperti kita tahu, klaim ini berakibat serius, dimana pada masa lalu ada ilmuwan dihukum gantung, dibantai, atau minimal dikucilkan karena temuannya dianggap bertentangan dengan dogma agama.

Dulu dipercaya bumi itu datar atau mirip topi, tapi kenyataannya bumi itu bulat. Namanya juga relnya berbeda, antara sains dan agama tak perlu dicampur adukkan, apalagi dipertentangkan. Untuk apa? Kecuali kalau sains dan agama dipaksakan berjalan di rel yang sama. Kalau pada zaman kini isue itu
dimunculkan, amat bertentangan dengan kebebasan berekspresi.

Belum lagi kalau kita bicara soal temuan kloning yang oleh otoritas Vatikan sudah buru-buru dilarang. Ada pihak yang sudah mengkomersialkan jasa kloning, seperti kloning anjing dan kucing dengan tarip sekian dollar. Dan tak lama lagi bakal ada manusia yang hidup di bumi karena hasil kloning, dimana para ilmuwan sedang membuat genome makhluk sebanyak-banyaknya dalam proyek ‘Noah Ark’. Mirip seperti film
Schwartzenegger “6 Days”. Apakah kelak MUI juga akan mengeluarkan fatwa haram untuk kloning?

Terbukti apa yang dilakukan kaum kreasionis ini berupaya menubrukkan gerbong sains dan agama, namun langkahnya sia-sia belaka. Para ilmuwan tak peduli dan tak menanggapi apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka perbuat. Bukannya mereka sok atau angkuh, tapi kenyataannya walau berbau-bau
ilmiah, karya para kreasionis dianggap sama sekali tak ilmiah, karena mencampur adukkan sains dan agama. Kecuali kalau artikel karya Harun Yahya dan lainnya termuat di majalah NATURE,
baru mereka tanggapi secara ilmiah. Mungkin saja para kreasionis pernah mengirimkan seonggok artikel ke meja redaksi NATURE, tapi oleh redaksinya dibuang ke tong sampah karena tak layak muat.

Serangan Harun Yahya

Menurut Harun Yahya, teori evolusi tidak mempunyai dasar ilmiah. Namun kebanyakan orang di dunia tidak menyadarinya, dan menganggap evolusi sebagai fakta ilmiah. Indoktrinasi dan propaganda sistematis melalui media adalah kunci keberhasilan penipuan ini.

Singkatnya, media dan kalangan akademisi yang menjadi pusat-pusat kekuatan anti agama, mempertahankan pandangan evolusionis dan memaksakannya kepada masyarakat. Pemaksaan ini begitu efektif sehingga akhirnya evolusi menjadi sebuah gagasan yang tidak pernah ditolak. Penolakan terhadap teori evolusi dianggap bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan mengabaikan realitas-realitas mendasar. Karenanya, meski banyak kelemahan telah tersingkap (terutama sejak 1950-an), dan kenyataan ini diakui ilmuwan evolusionis sendiri, mustahil menemukan kritik terhadap evolusi dalam
lingkungan ilmiah atau dalam media.

Kaum evolusionis mendapat banyak keuntungan dari program “cuci otak” media. Banyak orang percaya begitu saja pada evolusi tanpa merasa perlu bertanya “bagaimana” dan “mengapa”. Ini berarti evolusionis dapat mengemas kebohongan-kebohongan mereka sedemikian rupa sehingga mampu meyakinkan orang dengan mudah.

Seperti dikatakan seorang ilmuwan terkemuka, teori evolusi adalah dongeng untuk orang dewasa. Evolusi adalah skenario yang sangat tidak masuk akal dan tidak ilmiah, yang menganggap benda mati memiliki kekuatan dan kecerdasan ajaib untuk menciptakan bentuk-bentuk kehidupan yang kompleks.
Kisah panjang ini mengandung fabel menarik tentang beberapa subjek. Beberapa media yang ia tuding diantaranya adalah Nature, Time, National Geographic, Scientific American, dan Focus. Harun Yahya menuduh bahwa deretan media massa prestisius yang dibaca jutaan umat manusia di berbagai
belahan bumi itu mengambil teori evolusi sebagai ideologi.

Rangkuman dari forum diskusi

Karena menyangkut isue kreasionis vs evolusionis, wilayah diskusi saya persempit tidak sains secara keseluruhan, tapi tentang evolusi. Harun Yahya pernah menuliskan dalam bukunya bahwa teori evolusi adalah kebohongan yang terbungkus rapi. Nah, kebetulan, setahun lalu topik ini pernah dibincangkan. Ada baiknya saya sajikan rangkuman dari diskusi tersebut (mohon maaf buat yang sudah pernah baca):

Ferry RKP <ferry_rkp@…> mengaku pernah membaca tentang Teori Magnetik Bumi. Ilmuwan di bidang ini telah menganalisa kedalaman Bumi dan memperkirakan bahwa umur Bumi hanya sekitar
30.000 tahun. Tentu saja teori ini berlawanan dengan penemuan fosil-fosil manusia purba yang berumur jutaan tahun – otomatis umur Bumi pun pasti jutaan bahkan puluhan juta tahun. “Temuan ini amat
menarik, karena sejak pertama kali Teori Darwin dikemukakan telah terjadi pertentangan antara ilmuwan yang pro dan kontra, bahkan perseteruan tersebut berlanjut hingga kini,” ujar Ferry.

Ia juga pernah membaca buku berjudul “Sains, Iman dan Teknologi” – nama pengarangnya ia lupa. Buku itu bertutur tentang sebuah peristiwa di Lousiana, AS era 70-an. Kala itu kalangan Kristen tak mengizinkan pengajaran Teori Darwin di sekolah-sekolah di negara bagian tersebut. Kemudian ilmuwan pro Darwin membuat suatu konspirasi. Mereka membujuk seorang guru untuk mengaku mengajarkan teori tersebut. Kemudian Louisiana gempar, karena guru tersebut diprotes (ini memang yang
diinginkan para ilmuwan pro Darwin).

Kemudian para ilmuwan pro Darwin mengajukan kasus ini ke pengadilan. Mereka menyewa pengacara-pengacara tenar untuk membela guru tersebut. Dan akhirnya mereka menang dan teori Darwin akhirnya diajarkan di negara bagian tersebut dan juga negara bagian lainnya. Beberapa waktu setelah kejadian itu, guru itu ditanya mengenai hal tersebut, ia mengaku tidak yakin apa ia pernah mengajarkan Teori Darwin atau tidak…

Zhao Yun <zhaoyun1964@…> coba meluruskan info dari Ferry.
Menurutnya, pengarang buku itu pasti pro-kreasionis. “Sering saya temui para ‘die hard creationist’ yang tidak segan-segan memanipulasi informasi, bahkan sering tidak jujur secara intelektual serta ‘licik’
dalam berbagai hal, demi mengkampanyekan ‘fundamental belief’ mereka,” ujar Zhao Yun (ZY).

Tentang umur bumi yang diklaim para kreasionis, ZY bilang, “Beberapa website dari para kreasionis mengutak-atik fenomena peluruhan (decay) medan magnet bumi, kemudian secara ngawur diekstrapolasi. Dan, voila, didapat umur bumi kurang dari 20.000 tahun. Kesimpulannya, mereka ingin membentuk opini bahwa Bumi diciptakan Allah seperti tertulis di Kitab Genesis.”

ZY lalu memberikan dua contoh website kreasionis yang menurutnya ‘ngawur’, yaitu:

Crying Voice: http://www.cryingvoice.com/Evolution/AgeEarth1.html

Genesis Mission: http://genesismission.4t.com/emf.html

Menurut ZY, kedua website tersebut sebenarnya adalah pesan yang dibungkus dengan embel-embel sains. “Scientifically, both are crap!”

Ejekan dan sinisme yang paling klasik terhadap evolusionis – para pendukung Teori Evolusi Darwin – adalah olok-olok bahwa kaum evolusionis itu keturunan monyet. Ejekan seperti ini – jika terus
dilontarkan – maka sebenarnya membuka ‘borok’ ketidak tahuan diri sendiri akan Teori Darwin – yang kemudian dikembangkan menjadi Teori Evolusi. “Dari tanya jawab dan diskusi dengan para penentang teori evolusi yang pernah berdebat dengan saya, hampir semuanya belum pernah membaca buku ‘The Origin of Species’ yang boleh dibilang menjadi salah satu referensi utama – kalau bukan cikal bakal – teori evolusi modern,” keluh ZY. “Kalaupun ada yang sudah membaca, umumnya sulit secara jernih mengambil saripati dan ‘keindahan’ teorinya Darwin ini. Saya curiga bahwa mereka terlalu banyak ‘denial’ dari dalam diri mereka sendiri akan ‘kebenaran’ teori ini. Sebab, saya ragu kalau mereka bodoh. Apalagi mengharapkan mereka membaca ulasan-ulasan yang lebih modern tentang teori evolusi dari para kampiun evolusionis seperti Richard Dawkins ataupun Stephen Jay Gould, agar diskusi lebih terarah,” tambahnya.

Menurut ZY, salah satu sumber informasi tentang evolusi yang terolah dengan baik adalah Talk Origins <www.talkorigins.org>. Tentang ‘Earth Magnetic Field Decay Theory’ bisa diklik di:
http://www.talkorigins.org/faqs/magfields.html

“Di situs Talk Origins, berton-ton informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan teori evolusi bisa Anda dapatkan disini. Sanggahan dan analisisnya cukup baik dan terstruktur. Setelah itu Anda bisa cari
aspek-aspek lainnya lewat search engine, misalnya: bagaimana proses terjadinya fosil, bagaimana prinsip radiodating, paleontologi tentang hominid dan sebagainya. Itu semua bisa didapat secara gratis, kecuali
pulsa internet, tentu saja. Dan percayalah, untuk mengerti dasar-dasar keilmiahan teori evolusi tidaklah dibutuhkan kesarjanaan S1 ataupun S3, tapi cukup bermodal cara berpikir yang jernih dan tidak bias,”
ujar ZY.

Di akhir emailnya ia memberikan saran, “Kalau mau melihat ragam analisa ilmiah, tolong cari sumber-sumber yang kompeten serta tidak memihak. Last but not least, tolong telaah sendiri, apakah sumber informasi atau sanggahan yang saya sodorkan di talkorigins.org tersebut bermutu atau tidak. Kalau kurang bermutu, tolong tunjukkan tidak mutunya dimana, dan mungkin kita bisa berdebat lebih lanjut tentang ‘Earth Magnetic Field Decay Theory’.

Kreasionis ala Indonesia

Handita B.M. <handita@…> berkomentar, kreasionisme – sebagai lawan evolusionisme – telah berkembang cukup lama. Sejumlah publikasi sudah terbit tahun 1960-an, bahkan sebelumnya. Beberapa institut kreasionisme yang amat banyak jumlahnya dapat dibaca pada link website ini:

http://www.creationism.org/topbar/linksWeb.htm

Lembaga ICR <www.icr.org> sebagai salah satu lembaga riset kreasionism bahkan memiliki museum kreasionisme <http://icr.org/museum/&gt;

Tentang Harun Yahya, ia agak ragu kalau dia adalah pembawa gagasan pertama tentang ‘creasionism’ – seperti dicitrakan pada sejumlah buku – sekalipun tidak dipungkiri kompilasinya cukup banyak beredar
di Indonesia akhir-akhir ini. Di Indonesia, tokoh kreasionisme antara lain Dr. Stanley Heath, dosen Teknik Kimia ITB. Ia juga menerbitkan buku yang menentang sejumlah pandangan kaum evolusionis di awal tahun 70-an. Sebagai catatan, edisi pertama buku tersebut masih dicetak dengan stensil dan masih bisa ditemui di Perpustakaan Kalam Hidup, Bandung.

“Persoalan terhadap ‘kreasionisme’ adalah sejauh mana klaim-klaim yang bersumber pada kitab-kitab agama tersebut dapat dijadikan bukti ilmiah. Perkembangan interpretasi teks buku agama juga banyak yang condong ‘bukan’ pada penafsiran literal. Tetapi melihat kisah penciptaan dan tokoh Adam-Hawa sebagai metafora yang bermakna relijius. Jadi lepas dari keilmiahan evolusi diteropong dari tafsir
teks agama, tafsir terhadap teks tersebut perlu sungguh-sungguh dicermati. Sejauh mana tafsir itu dapat ditarik ke wilayah sains sebagai ‘bukti’,” ujar Handita.

Modal kaum kreasionis itu-itu saja

Rekan Babat Gongso <bgongso@…> yang sudah ‘googling’ di Talk Origins mengiyakan pendapat ZY, “Talk Origins benar-benar menjawab dengan tegas ‘isu gombal’ teori magnetik bumi karangan para kreasionis.” Menurutnya, sains itu logikanya tidak ‘bolong-bolong’ -tak seperti mitologi atau legenda – karena garis besarnya sudah koheren, walau detailnya bisa terus diisi. Soal umur Bumi, bukti-bukti geologis, bukti-bukti fossil itu tidak ada yang bertentangan satu sama lain, walau mudah sekali terjadi pertentangan jika dipikirkan, karena masing-masing cabang ilmu itu tidak ‘bersekongkol’ – satu sama lain masih asyik dengan dirinya sendiri. “Berdiskusi soal evolusi selalu geger – karena campur tangan orang-orang yang tak tahu sama sekali apa yang mereka ucapkan, namun ‘penuh dendam’ hanya karena ‘engkong’ mereka dulu bersabda untuk tidak percaya pada teori ini,” tegas Babat.

“Modal kaum anti-evolusi ya itu-itu terus. Kalau muslim ya Harun Yahya, kalau Kristen ya kreasionis dalam berbagai bentuknya. Secara realistis, jika sistem pendidikan di AS saja tetap dirongrong oleh
agamawan yang masih ngotot kalau teori evolusi itu hanya omong-kosong belaka – maka di negara-negara lain pasti lebih parah kondisinya. Plus masih banyaknya ‘pseudo-science’ yang saling silang.”

“Di Wired ada ulasan kejadian baru-baru ini di AS tentang serangan gegap-gempita dari kaum ID yang menghajar kurikulum SD dengan mengatakan bahwa teori evolusi itu baru ‘work-in-progress’ jadi harus diberikan ‘teori alternatif’nya yaitu ID alias creationism alias ‘bible-talk’: penemuan sains itu ‘tidak lengkap’, asumsinya isi kitab-suci itu sudah lengkap.”

Agama berangkat dari meyakini, sains berangkat dari menyangsikan Menurut rekan Babat Gongso <bgongso@…>, pernyataan Tular Sudarmadi (dosen Arkeologi UGM) tentang ‘science vs faith’ benar-benar diplomatis. “Kalau mau berdiskusi itu memang tergantung dengan lawan bicara. Kalau mau bicara agama ya agama lah, kalau dicap bidaah malah celaka. Jika bicara kenyataan, apa yang sesungguhnya terjadi, ya lain lagi. Sains membahas apa yang sesungguhnya terjadi secara faktual, ya
evolusi itu, homo sapiens adalah percabangan lanjut dari genus homo yang diawali dengan Homo erectus. Sedangkan Homo floresiensis adalah suatu cabang lain dari Homo erectus Asia – most likely – ini suatu penemuan penting dalam evolusi.”

“Nah, thread yang perlu dibuka adalah debat penerjemahan alegori mitologi agama: seberapa jauh ajaran agama itu berguna bagi umat manusia? Karena ‘kegunaan’ ajaran agama itu bukan dalam penunjukan
fakta kenyataan pada manusia, tetapi suatu ajaran moralitas tentang kehidupan – yang dibakukan berdasar pengetahuan pada saat pembakuan. Beda sekali tujuannya, seperti membandingkan tujuan R & D Department yang meriset dan mengembangkan produk yang efisien dan bermutu, dan tujuan Marketing Department yang merancang, mengemas, menjual produk/jasa dan menetapkan harga yang diterima konsumen dalam suatu perusahaan. Beda sekali. Dua-duanya penting, tetapi beda penekanannya.”

Wallacea, sumbangan Indonesia untuk Teori Evolusi

IGG Maha Adi, mantan wartawan Majalah TEMPO yang kini gabung di majalah National Geographic, menyarankan agar kita harus berhati-hati untuk mengkaji ilmu pengetahuan apabila “alat” yang dipakai adalah agama. Bila kurang hati-hati, percayalah, keduanya akan tampak saling berlawanan. Untuk sebagian besar kasus, mungkin sulit sekali melihat keduanya bertemu dan “berdamai” di satu titik – entah dimana. “Jadi kalau membahas teori evolusi, mari kita tengok dulu bukunya Darwin, atau terjemahannya yang juga digarap dengan bagus, penerbitnya Yayasan Obor Indonesia,” ujar Adi.

Menurutnya, sumbangan Indonesia untuk teori evolusi lumayan banyak, tentu saja lewat Wallacea yang saat itu verifikasinya ditunggu Darwin sebelum menyelesaikan bukunya. “Oleh sebab itulah, dulu saya sempat pusing mencari kalimat di buku itu yang menuliskan ‘manusia adalah keturunan kera’ atau sejenisnya. Apakah benar Darwin menyatakannya? Di buku itu tak ada sama sekali pernyataan itu. Dan kalimat pada diskusi lalu yang saya baca: ‘Agama berangkat dari Meyakini dan Sains berangkat dari Menyangsikan’, kurang lebih bisa menggambarkan polarisasinya kan?” Jelas Adi.

Erich Fromm bicara

Rekan Robertus Budiarto aka Bobby <budiartobobby@…> dengan hati-hati berpandangan bahwa bahwa filsafat dan agama itu tidak perlu dipertentangkan. “Sekularitas dan spiritualitas itu adalah harmoni.
Yang selalu bertentangan biasanya ISME melawan ISME. Yang selalu harmoni biasanya TAS dengan TAS. Bukti bahwa agama dan filsafat bisa harmoni mungkin perlu menunggu perkembangan lebih lanjut dari Fisika Modern yang menggunakan istilah a-nihilasi dan kreasi, konsepnya mirip dengan transendensi dan imanensi atau apalah,” ujar Bobby.

“Yang jelas, saya sulit menerima jika manusia tidak boleh menggunakan akal budi. Tuhan atau siapapun yang menciptakan kita pasti mempunyai maksud mulia memberikan manusia akal budi/nurani. Kadal, gajah, kecoa, jangkrik dan lainnya tak diberi akal budi/nurani – cuma manusia yang dapat keistimewaan itu. Lha kok nggak boleh digunakan? Tentu saja yang harus dihindarkan adalah pendapat: “akulah yang paling benar”. Dengan meyakini akulah yang paling benar, maka aku mengambil posisi Tuhan. Dan ini sepertinya malah jadi dosa yang paling besar.”

“Mengenai ajaran bahwa nenek moyang manusia adalah Adam dan Hawa, menurut penafsiran Erich Fromm, itu adalah bahasa Tuhan pada masyarakat patrilineal. Ketika umat manusia masih kanak-kanak,
Tuhan tampak sebagai ayah yang menghukum anak nakal dan memberi hadiah anak yang baik. Khusus mengenai Adam dan Hawa, ini mitos yang menerangkan pada umat manusia bahwa manusia itu harus dewasa, tidak bisa kembali menjadi kanak-kanak. Manusia harus berkembang terus dan makin bersikap dewasa. Dan (ingat), masyarakat patrilineal dengan pasti lebih menonjolkan tokoh laki-laki. Laki-laki menjadi dewasa ketika dia telah mampu menerima “apel” dari seorang perempuan.”

Lalu kenapa Adam diusir dari surga? “Surga adalah pangkuan Ibu dan perlindungan Bapak. Pengusiran itu menyimbolkan betapa berat hukumnya jika manusia tidak mau dewasa tapi mau kembali menjadi kanak-kanak lagi, mau netek terus. Kembali ke surga berarti kekacauan sosial bahkan kosmologis. Jagat akan ‘gonjang ganjing’ (atau sudah?). Bukankah zaman edan ini kebanyakan disebabkan oleh orang-orang
berbadan bongsor tapi bermental kanak-kanak alias infantil? Bukankah anak-anak sering menangis karena Ibu tidak ada di sekitarnya? Demikian juga manusia fanatik. Fanatikun persis seperti anak kecil yang
kehilangan Ibu, makanya mereka menjadi agresif jika ada yang berani mengusik keyakinannya. Agresivitas itu sesungguhnya adalah manifestasi ketakutan, ketakutan kehilangan sesuatu.”

“Tidak heran teori evolusi misalnya dilihat sebagai ancaman, bukan karena teori ini berbeda dengan ajaran gereja atau agamanya. Tapi karena fanatikun memegang terlalu erat keyakinannya. Karena apa?
Karena keyakinan bagi fanatikun adalah payudara Ibu. Payudara seorang Ibu adalah sebuah kepastian atau gandulan hidup. Bayi mana yang tidak marah jika lagi asyik menyusu terus dicabut susunya?”

Menurut Wishnu Sukmantoro <wishnubio@…>, sebuah teori ilmiah mengandung arti kebenaran, dan juga penyimpangan. Teori yang belum mengandung kebenaran mutlak, dapat saja salah atau benar secara mutlak di kemudian hari. Adalah hal yang bijaksana apabila mereka atau anak-anak kita sekalipun tidak dijerumuskan dalam satu pilihan pemikiran. Biarkan mereka memilih dan menentukan pikiran-pikirannya secara baik sehingga dapat menentukan pilihan yang setidaknya benar menurut mereka.

Ia memberikan ilustrasi tentang teori Generatio Spontanea yang dikemukakan Aristoteles pada 300 SM, sampai Needhant pada abad 18. Teori ini sampai ribuan tahun lamanya tetap bertahan sebagai suatu
kebenaran mutlak. Pada masa Spalanzani sampai pada eksperimen Schultz dan Schwann, teori Generatio Spontanea mulai goyah. Puncaknya adalah percobaan yang dilakukan Pasteur pada 1865. Teori Generatio
Spontanea pun runtuh melalui suatu percobaan yang sederhana. Tetapi di sini ada proses berjalannya waktu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, logika berpikir dan teknologi. Kontribusi kuat terhadap runtuhnya generatio spontanea secara tidak langsung adalah dari penemuan mikroskop yang pada abad sebelumnya belum pernah diciptakan. Sama halnya pernyataan ‘bumi itu bulat’ yang dibuktikan dengan teknologi dan perkembangan cara berpikir manusia yang maju. Tumbangnya teori Darwin atau kebenaran mutlaknya teori ini terletak pada perkembangan teknologi saat ini dan di masa datang.

Pada saat dimana teori tersebut hanya diperdengarkan atau diperdebatkan suatu forum tanpa bukti konkrit, teori Darwin tetaplah menjadi teori. Teori kuantum yang ramai dibicarakan saat ini, ataupun studi bintang muda sebenarnya dapat menjawab dari kebenaran Darwin, tetapi terbatasnya teknologi luar angkasa saat ini, sehingga belum bisa menyajikan secara lebih jelas dan detail mengenai perkembangan suatu tata surya apalagi terhadap sebuah kehidupan. Terjadinya suatu ‘spesiasi’, allopatrik dan mutasi adalah sebuah misteri yang berkenaan dengan perubahan material genetik yang dipengaruhi oleh lingkungannya dalam kurun waktu panjang. Perkembangan ras-ras manusia di dunia dan
perkawinan diantara ras-ras (cross breeding) tersebut merupakan suatu hal yang luar biasa dari perkembangan kehidupan manusia.

Pertentangan-pertentangan diantara manusia sendiri yang saling mengalahkan: yang kaya mengalahkan yang miskin, yang memiliki kekuasaan mengalahkan yang lemah, yang berteknologi maju membasmi bangsa yang tertinggal. Evolusikah itu? Mungkin iya. Karena dalam ‘natural selection’ hal-hal
seperti itu mungkin alami, dimana kompetisi seperti itu akan menghasilkan pemenang yang ‘kosmopolitan’ dan unggul. Pihak yang tidak unggul pun dimusnahkan, atau musnah dengan sendirinya. Dan ini sedang terjadi, kan?

Kebenaran absolut vs fakta ilmiah

Octa aka Angelo Shien <dayan@…> berpendapat: “Jika kita mengatakan bahwa sesuatu itu adalah kebohongan, tentu kita berpijak pada kebenaran yang kita yakini. Itu pulalah yang kita alami
ketika mengatakan bahwa teori evolusi adalah suatu kebohongan, karena kita berpijak pada kebenaran absolut dari kitab suci yang mengatakan bahwa manusia pertama adalah Adam dan Hawa.”

“Tetapi menurut Darwinian dan ilmuwan penerus teorinya, bahwa evolusi adalah suatu kebenaran dengan berbagai macam fakta ilmiah yang mereka temukan. Ini semua tentu berdasar pada rasionalitas manusia
yang ingin mencari jawaban atas apa yang mereka temukan.” “Kitab suci tak pernah menyinggung masalah dinosaurus dan makhluk-makhluk lain pada zamannya. Tetapi, ketika para ilmuwan itu – yang mungkin sebelumnya juga yakin bahwa manusia pertama adalah Adam dan Hawa – mendapati bahwa ada sisa-sisa peningggalan biologis yang notabene berasal dari jenis makhluk mirip manusia, tetapi tidak persis seperti manusia pada umumnya. Mirip hewan bukan seperti hewan-hewan yang kita ketahui saat ini. Hal ini tentu saja membutuhkan sebuah jawaban yang paling tidak mendekati kebenaran tentang apa pun itu yang mereka telah temukan dan klaim sebagai manusia purba, dinosaurus, dan sebagainya.”

“Ilmu pengetahuan memang ada batasnya. Saya yakin, pada dasarnya ilmu pengetahuan dikaruniakan oleh Tuhan bagi manusia yang berakal budi bukan untuk mencari kebenaran baru – karena kebenaran sudah pasti seperti yang kita yakini selama ini, yaitu Tuhan YME – tetapi untuk membantu manusia mengarahkan diri kepada kebenaran itu sendiri. Apapun bentuk penemuan manusia selama ini, menurut hemat saya pada dasarnya itu semua merupakan bagian dari rencanaNya dengan akal budi kita.”

Periode Legenda dan Sejarah

Octa lalu mencoba mengklasifikasikan periode sejarah pada kitab suci. “Mohon maaf, ini hanya sebatas yang saya tahu, mohon kritik dansaran Anda,” ujarnya. Menurutnya, klasifikasi periode sejarah kitab
suci terbagi dua, yaitu Periode Legenda dan Periode Sejarah. Periode Legenda ini dimulai dari periode penciptaan manusia (Adam & Hawa) hingga zaman Nabi Nuh (termasuk kisah nabi Sulaiman dan
lainnya). Sebagai catatan, kisah penciptaan manusia pada kitab suci serupa dengan kisah penciptaan manusia yang berasal dari daerah Skandinavia, hanya nama tokohnya saja yang berbeda. Sedangkan Periode Sejarah dimulai semenjak Nabi Musa, Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad SAW. “Saya membagi periode ini dengan dasar historis ada tidaknya catatan-catatan sejarah pada masing-masing periode,” ujarnya.

“Lalu bagaimana dengan cerita mengenai manusia purba, dinosaurus, dan sebagainya yang saat ini saya akui memang masih kontroversial, terutama bagi kaum agamis? Apakah kita menyangkal teori evolusi itu dan mengatakan bahwa fosil-fosil itu bukan dari makhluk yang menjadi nenek moyang kita, tetapi mungkin berasal dari spesies makhluk tertentu yang pernah hidup? Bisakah kita menjelaskannya dan mencari jalan tengah yang – paling tidak – mendekati kebenaran?”

“Manusia diciptakan dengan disertai akal budi. Sedangkan segala bentuk penemuan artefak pra-sejarah tak lepas dari kerangka sains yang tentunya didasarkan pada akal budi manusia itu sendiri. Apakah dengan kata lain kita juga menganggap karunia Tuhan yang satu itu tidak benar ketika akal budi itu menuntun manusia kepada sebuah penemuan yang disebut evolusi?” “Kita bisa saja memangkas perdebatan ini dengan beralih pada apa yang dikatakan oleh kitab suci. Tetapi cukupkah itu menjawab beberapa misteri
yang masih tersisa? Apakah lalu kita mengarang-ngarang saja mengenai asal-usul suatu fosil, yang penting pokoknya manusia pertama adalah Adam dan Hawa. Secara iman ya, tetapi secara ilmu pengetahuan tidak.
Saya pikir biarlah masing-masing berjalan pada relnya: iman & sains. Tetapi pada hal yang mendasar, yaitu iman, ada sesuatu yang tidak mungkin kita ganggu gugat. Memang tak mungkin mempertemukan iman dan sains ketika muncul sebuah dikotomi dalam memandang sebuah masalah.”

Kebenaran adalah hak prerogatif Tuhan?

Octa melanjutkan argumentasinya, “Secara biologis, seks merupakan bagian dari proses regenerasi manusia, tetapi agamalah yang membuat aturan main untuk hubungan seks yang benar menurut Tuhan. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan mencari, merumuskan, dan menemukan jawaban bagi persoalan hidup manusia yang sifatnya duniawi. Tetapi agamalah yang menentukan aturan main bagi batas-batas antara yang benar dan yang tidak benar dari ilmu pengetahuan itu sendiri untuk kita terapkan. Dengan
catatan bukan untuk memvonis bahwa ilmu pengetahuan itu salah. Salah atau benar hanya Tuhan yang tahu, dan tentunya dengan penemuan-penemuan manusia, Tuhan punya maksud atau rencana tertentu,
yang pasti adalah untuk makin memuliakan NamaNya, bukan agar kita dapat menentukan apakah itu salah atau benar. Karena kebenaran adalah hak prerogatif Tuhan. Sama halnya ketika menentukan apakah
seseorang berdosa atau tidak, dan seberapa berat kalau memang berdosa, atau seberapa bersih kalau tidak berdosa. Tanpa akal budi, kita pun tidak akan mungkin mengenal Tuhan.”

Rekan Handita <handita@…> mengaku tak memiliki persoalan dengan Teori Evolusi, karena teori ini terbit dari tradisi ilmiah yang terbuka, berlangsung sekian lama dan setiap saat bisa disanggah atau diruntuhkan dengan temuan atau argumen-argumen baru sepanjang bisa dipertanggungjawabkan. “Untuk membantah teori ini, berarti kita musti menyiapkan argumentasi cukup komprehensif dari area evolusi yang
demikian luas, mulai dari astronomi, geologi, paleontologi sampai biologi dan lainnya.
Kreasionisme justru problematik. Di satu pihak ia meletakkan kaki pada tradisi teks agama dengan sistem kepercayaannya, di lain pihak dia bersikap semi-ilmiah dengan ‘menggugat’ Teori Evolusi namun tidak pada forumnya, melainkan langsung ke publik dalam bentuk ‘perang-perang gerilya’. Bisa dikatakan ‘peperangan’ ini lebih bersifat politis dibanding ilmiah,” ujar Handita.

“Persoalan lain kreasionisme, sejauh mana teks tersebut dibaca dalam konteks zaman dan budayanya? Mengambil kesesuaian kata tetapi bukan makna – diluar konteks kosmogoni & teologi bangsa Israel atau pembaca tradisi Taurat (Pentateuch) – saya kira tidak bijaksana,” jelasnya.

Teilhard: Memanusiakan manusia

Menurut Handita, Teori Evolusi kini sudah jauh lebih kompleks dari Darwinian. Sebuah upaya ‘sintesis’ yang cukup menarik antara iman dan evolusi dapat ditemukan dalam karya Teilhard de Chardin asal Perancis. Karya Teilhard cukup menarik karena sempat dilarang: disingkirkan dari rak dan laci para pejabat agama di Vatikan. “Info ini mungkin punya arti penting bagi mereka yang skeptis
dengan netralitas agama,” ungkap Handita.

Teilhard yang meraih gelar profesor pada usia 25 tahun, karya-karyanya diakui sarjana ilmu bumi, paleontologi, dan antropologi. Bersama paleoantropolog G.H. Ralph von Koeningswald, ia pernah berpetualang ke Indonesia, menyisir tepian sungai Trinil, Ngandong dan Sangiran. Dia pulalah yang menemukan fosil-fosil ‘Sinanthropus’ di Mesir dan karya monumental lainnya.

Teilhard punya pandangan bahwa evolusi tidak berhenti pada visi-visi morfologis, tetapi antropologis. ‘Memanusiakan manusia’ adalah tema yang amat mendalam baginya, juga kesadaran-kesadaran moral, sosial dan kosmis. Paling tidak, terlepas sejauh mana kebenaran Teori Teilhard, gagasan evolusinya menepis pandangan oposisi biner: ‘Jika evolusionis pasti atheis, jika kreasionis pasti theistis’. “Kedewasaan kita mustinya sudah mampu menyelamatkan kita dari simplifikasi semacam itu,” tegas Handita.

Yang menarik dari gagasan-gagasan Teilhard adalah tentang evolusi peradaban manusia dan kemanusiaan menuju pada ‘cyber consciousness’. Sebuah tulisan yang beranak-pinak dari gagasan Teilhard dapat ditelusur dari ratusan link di internet, berikut salah satunya: Cyberspace and the Dream of Teilhard de Chardin:

http://theoblogical.org/dlature/unit…er/noosph.html

Reny di Australia bertanya: “Kenapa ya kok cuma Darwin yang diserang teorinya? Biar adil, sekaligus bahas dong mengenai teori creationism (young earth creationism, old earth creationism yang dibagi lagi menjadi theistic evolution dan progressive creationism). Nah, ini baru teori creationismnya Kristen lho, belum yang milik Islam. Untuk Islam, memangnya hanya Harun Yahya yang diakui? Dan bagaimana dengan agama-agama lain atau malah sekte lain seperti Raelian? Tapi tolong penjelasannya ‘step by step’,
biar kami yang awam ini jadi mengerti alurnya”.

Indoshepherd <indoshepherd@…> ikut nimbrung. Menurutnya, teori evolusi Darwin bukan saja belum terpatahkan, melainkan teori itu adalah SATU2nya teori ilmiah yang ada kita miliki. Teori2 lain,
seperti antara lain teorinya para kreasionis, adalah omong-kosongnya mereka yang tidak mengerti apa itu science. Mereka tidak tahu apa syarat2nya suatu science, dan bagaimana caranya menyusun suatu teori yang scientific. Oleh karena itu dalam dunia science, teori kreasionis itu tidak digubris, sekalipun mereka
teriak2 setinggi langit. Sebagaimana layaknya setiap teori ilmiah, teori evolusi juga terus berkembang.
Artinya beberapa pendapat yang selama ini dianggap benar, bisa dibantah berdasarkan fakta-fakta yang baru diketemukan, hingga perlu diperbaiki. Tidak ada ilmu yang statis, melainkan setiap cabang
ilmu itu berkembang dengan cara demikian. Demikian juga perkembangan teori evolusi belum pernah terputus sejak dari mula digagaskan oleh Darwin. Cobalah anda kunjungi website majalah2 ilmiah profesional, nanti akan anda temukan bahwa (a) SEMUA karya ilmiah yang mutakhir tentang perkembangan makluk hidup SELALU berdiri diatas landasan teori evolusi, TANPA KECUALI. (b) TIDAK ADA SATUPUN karya yang muncul di majalah ilmiah profesional itu didasarkan atas kepercayaan,
misalnya menyebut-nyebut ayat2 Kitab Injil atau kitab suci lainnya, atau bahkan Tuhan sekalipun. Ini bukan disebabkan oleh karena para scientist dewasa ini semuanya atheist, tetapi se-mata2 sebab kita
ini umumnya berkiblat kepada filsafat Logical Positivism (Mach, Bohr, Heisenberg, Einstein, Planck dll) yang mengharuskan science melulu membicarakan hal2 yang bisa ditangkap oleh pancaindera dan
100% menghindari hal2 yang metafisis, seperti kepercayaan, agama dlsbnya.

Adalah NONSENSE untuk membicarakan hal-hal yang tak bisa ditangkap pancaindera, sebab hal-hal demikian terbukti TIDAK SAMA bagi masing2 individu, hingga tidak ada kriteria apapun untuk
objektivitas serta penilaian salah dan benar. Jika ada karya pseudo-ilmiah yang berani me-nyebut2 hal2 demikian, karya tersebut automatis akan di-diskualifikasi, sebab tidak berguna, yaitu tidak bisa dikonformasi/dialami oleh setiap orang. Legitimasi buat filsafat Logical Positivism ini adalah hasil2 IPTEK yang gilang-gemilang yang bisa kita nikmati sampai hari ini, yang dirintis oleh Newton, Leibniz dkk sekitar akhir abad ke-17 dengan berdiri di atas prinsip2 ilmiah yang kemudian diformulasikan oleh para filsuf Wiener Kreis (Vienna Circle) setelah lahirnya teori relativitas Einstein dan mekanika kuantum.

Bangsa yang dungu?

Sebagai penutup, saya sampaikan opini dari Jusfiq Hadjar <jusfiq_cadangan@…> di Belanda. Ia menilai bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia tentang Teori Evolusi sepertinya minim walau sekelumit diajarkan di sekolah-sekolah. “Seingat saya di Indonesia yang berpenduduk lebih dari 250 juta manusia itu harusnya ada museum natural history. Di Belanda saja yang cuma ‘negeri selebar sapu tangan’ dengan jumlah penduduk yang tak seberapa dibandingkan dengan Indonesia dan tidak punya homo wajakensis, homo soloensis atau biawak komodo, punya museum naturalis yang dengan jelas menunjukkan
tahap-tahap evolusi itu terjadi,” keluh Jusfiq. Menurutnya, dengan adanya museum natural history, anak-anak sejak dini segera tahu apa itu Homo neanderthal, Australopithecus afarensis dan lainnya.

“Di Belanda, berita tentang ditemukannya homo floresiensis saja dimuat di halaman pertama harian nasional seperti NRC-Handelsblad. Secara berkala BBC juga menyampaikan berita tentang penemuan terakhir paleontologi yang makin menunjang teori Darwin. Kalau cuma baca tulisan Harun Yahya ya bangsa kita akan jadi semakin dungu,” tambahnya.

Note:
Ada laporan dari seorang wartawan yang mengikuti acara kunjungan SBY ke NY beberapa waktu lalu, bahwa selama di dalam pesawat SBY sibuk membaca buku-bukunya Harun Yahya. Apakah dia juga ingin belajar jadi dungu?

__________________________________________________ ______________
Harlan Isjwara” <harlan_isjwara@…>
Date: Mon, 24 Oct 2005 20:02:00 -0700 (PDT)
Subject: Re: [mediacare] Beda rel dan keterbatasan bahasa – Re: BA (Before Adam)

Dear Mas Radityo,
OK deh, kita sepakat untuk tidak sepakat. 🙂
IMHO agama seharusnya tidak boleh bertentangan dengan ilmu. Jika saat ini tampak bertentangan, kitanya yang masih belum cukup pandai. (Ini mungkin yang anda maksud dengan FAITH – harus percaya/ber-Iman; yang menyebabkan anda melihat dua rel berbeda).

Jika anda baca e-mail saya tentang gajah, saya sama sekali tidak menyatakan, bahwa gajahnya mati di Arab. Saya lupa dimana mereka mati. Dan juga apakah cholera atau small-pox saya lupa (makanya saya beri tanda “?”. Terus terang saya tidak serajin anda mencari data. Yang teringat ditulis, yang lupa apa boleh buat). 🙂 (Sorry, not scientific. I treat this as discussion between friends, not formal presentation).

Nah, apakah gajah efektif atau tidak … well, saya pikir gajah efektif buat musuh yang belum pernah
berlatih untuk melawan gajah. Ketika Hannibal bawa gajah lewat pegunungan Alpina di musim salju, semua
orang juga bilang mustahil (gajah ‘kan bukan makhluk udara dingin). But he did it. Tentara Romawi yang saat itu ‘the best in the world’ saja kalah. Demikian juga ketika Genghis Khan membawa ribuan kuda dalam kampanye di Timur Tengah. Kata orang : tidak mungkin bisa survive tanpa air dan rumput yang banyak. Toh dia berhasil. Jadi saya sceptic tentang “mustahil”-nya gajah dibawa perang di Arab.

Jika belum ada bukti archaelogy, OK, tetapi missing link juga belum ada buktinya, toh kita dapat terima
“its possibility”.

Jadi saya belum dapat menerima argumen Mas Radityo. Mungkin Mas benar, tetapi mungkin juga salah.
Untuk mendukung pikiran tentang kesesuaian agama dan ilmu, silakan baca tulisan para ahli yang mendukung “Intelligent Design”. Kalau tidak salah majalah Scientific American pernah membahasnya secara mendalam (beberapa tahun yang lalu). Selain itu silakan baca tulisan Prof. Jeff Harwell (cari di homepage beliau). Dia juga ilmuwan yang kebetulan beragama kuat. Enjoy. Bon appetit.

Dan sekali lagi, saya salut kepada Mas Radityo yang rela membagi ilmu dengan kita semua. Thanks.

Iklan

24 Tanggapan to “Intelligent Design = Pencampur Aduk Sains dan Agama”

  1. Kalau sudah pakai kaca mata kuda dan merasa keyakinan kita yang benar, kita juga tidak perlu mencari kesalahan pihak lain. Tapi diskusi yang luas seperti itu, bisa dijadikan khasanah pikiran. Lantas apakah perlu kita menempatkan di posisi tertentu? Kebenaran ada dimana-mana, tinggal dilihat dari mana.
    @
    Betul, setuju Mas Helge, tapi juga sekaligus tidak. Tentu saja saya meyakini apa yang dituliskan oleh Allah adalah sebuah kebenaran mutlak dan tidak ada tawar menawar (Pokoke). Pihak yang tidak bersetuju (menolak) harus dipahami pula dasarnya, sebabnya. Boleh jadi kita salah menafsirkan (memahami) ayat-ayat Allah yang tertulis ketika kita memahami ayat-ayat yang berserakan di alam semesta ini. Boleh jadi pula, mempelajari di wilayah penolakan adalah juga syiar kita untuk menyampaikan kebenaran yang kita yakini (soal diterima atau tidak, sama sekali bukan tanggung jawab/urusan kita). Ketika anak kita atau murid kita meyakini yang salah dan membuktikan keyakinan yang salah, maka slow but sure, guru akan membimbing kita untuk membuat pembuktian yang baru tanpa pernah kita memaki murid kita sebagai bodoh. Bagaimanapun, sebagaimana Kitab Wahyu (Al Qur’an) sebagai pelajaran bagi orang berakal, begitu juga ilmu dan pengetahuan, adalah produk dari orang-orang berakal dan seringkali pula ilmu dan pengetahuannya, kedalamannya memahami jauuuuuh di atas kita. Dialektika berpikir, tesa dan antitesa meneguhkan pemahaman-pemahaman baru dalam kehidupan kita selama ini, tanpa harus kita kehilangan prinsip dasar dari tujuan hidup kita : beribadah dan mengenalNya. Bukankah juga dalam ilmu, kita tidak mengenal kesalahan (mistake), tapi kita mengenalnya sebagai deviasi (agak sulit dalam bahasa Indonesia, karena kedua istilah itu sama). Salam, agor dan mohon maaf ya, kok jadi menggurui. Kurang ajar tenan si agor ini.

    Suka

  2. *mode berpikir on*

    Fisika saya SMA dulu dapat 4! Tapi nilai agama juga ga bagus-bagus amat? Bukti kalo sains bisa sejalan dengan agama kan pak?

    @
    Sains seperti buliran padi yang dipelihara dan diurus oleh petani, teknologi sebagai produk sains meningkatkan kualitas padi dan dimakan setelah ditanak sehingga enak dimakan.
    Agama adalah jalan memelihara kehidupan, Al Qur’an adalah petunjuk menjalani kehidupan (jalan yang lurus). Jadi, kalau pernyataannya agama, mungkin sulit bersetuju, karena definisi agama menjadi banyak, tapi kalau pernyataannya: Bukti kalau sains sejalan dengan Al Qur’an, maka saya sih akan menjawab : untuk sains yang terolah dengan benar (kaidah-kaidah yang shahih) pada beberapa bagiannya telah ditandai oleh ayat-ayatNya yang diposting oleh Allah melalui Al Qur’an. Itu pikiran saya, koreksi ya kalau salah. Wallahu ‘alam.

    Suka

  3. gatti said

    HAloo..salam kenal
    Ada hal yang ingin saya katakan tentang sains,yaitu suatu arah yang pasti dari suatu kebenaran nantinya, dan yang paling penting dari suatu konsep agama ialah “keyakinan”, Yang saya lihat saat ini banyak yang berusaha mendakatkan suatu hal yang bersifat keyakinan kepada suatu kepastian ( ilmu/teori ), menurut saya itu cukup logis, mengingat semakin banyak penemuan sains di dunia ini, yang saya tekankan bukan pada usaha saya untuk mengecilkan arti sains tapi membentuk lagi konsep keyakinan yang lebih baru dan jelas dan tidak meragukan, karana banyak ayat al Quran yang menekankan tentang keimanan atau Keyakinan…………..

    @
    Hallo, salam kenal kembali…
    Iya setuju betul, saya tidak menempatkan perbenturan sains dan agama, saya hanya menempatkan sains yang dipelajari dalam kerangka berpikir seorang yang beragama, dalam hal ini sebagai seorang beriman. gitu aja kok.
    Seperti kita makan, kita tidak bertanya buah ini masuk kelompok mana, apa dan bagaimana, saya hanya bilang basmallah saja sebelum dimakan. Intinya kesana. Karena itu saya pakain inreligion, nggak versus atau against. Lha tidak ilmiah dong makan dengan mengucapkan basmallah. Al Qur’an menekankan keimanan atau keyakinan, tentu saja. Salam, agor.

    Suka

  4. El Zach said

    sudah lama saya tdk membaca situs ini,

    hm…, saya sendiri sangat suka disebut dungu, hahaha, hayo siapa yg berani menganggap dirinya pandai?
    hanya Tuhan yang berhak menyombongkan diri.
    dengan merasa dungu saya akan terus berkeinginan belajar sesuai perintah Allah untuk selalu belajar, yang dimulai dengan perintah belajar membaca (Iqra’).
    ‘membaca’ tidak hanya sekedar tulis baca huruf atau angka tapi juga analisa terhadap apapun yg ada disekitar kita sehingga akhirnya bermanfaat bagi kehidupan kita.
    dan perlu diingat, bahwa kehidupan yang sedang dan akan kita hadapi tidak hanya kehidupan dunia yang sementara ini tapi juga kemudian kehidupan abadi di akhirat.

    dengan demikian kita perlu belajar keduanya, baik itu ilmu dunia yang bisa menciptakan teknology, maupun kehidupan di akhirat yang akan kita jalani abadi.

    tidak perlu dipersoalkan sebenarnya ilmu tentang keduniaan dan ilmu akhirat, karena keduanya kita perlukan.

    akan tetapi kemudian menjadi masalah, ketika ilmu dunia menyebabkan kita mengingkari kehidupan akhirat yang nyata-nyata akan kita hadapi setelah kematian.

    Yang dikhawatirkan dari ilmu pengetahuan dunia adalah apabila pengetahuan sains atau apapun namanya yang dibangga-banggakan manusia itu membuat manusia menyimpulkan bahwa agama itu tidak perlu atau tidak benar, padahal kebenaran sains manusia itu relative, artinya selalu berubah sepanjang masa, sementara umur manusia tak lebih dari 100 tahun, artinya kita semua akan segera menghadapi kematian.

    Seorang Muslim menyandarkan pedoman hidupnya kepada ajaran Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadits rasulullah SAW.
    Yang menerangkan banyak hal yang tidak terjangkau oleh sains,yang diterangkan oleh Yang Maha Kuasa sang pencipta manusia sendiri.

    krn itu bagi kita umat Islam, belajar sains bukan masalah, tapi jika tampak menyimpang dari ajaran agama, maka itu mungkin saja terjadi karena ilmu sains manusia sangat-sangat-amat terbatas, sesuai keterbatasan panca indera manusia yang berusaha menggapai kebenaran ilmu alam secara bertahap.

    silahkan saja belajar sains, tapi jangan lupa untuk selalu beribadah dan BerTaqwa kepada Allah SWT, krn pertanggung jawabannya segera akan kita hadapi saat kematian datang menjemput kita.

    @
    Orang “dungu” percaya bahwa dunia itu diciptakan, orang berbeda berpikir bahwa alam semesta tercipta spontan, akibat fluktuasi kuantum (disampaikan oleh stephen hawking di awal-awal beliau dikenal sebagai ilmuwan kaliber dunia). Agamawan ingin menegasi adanya proses penciptaan oleh Allah, sedangkan sebagian ilmuwan, ini “menganggu” kebebasan ilmiah. Usaha menghindari kata “penciptaan” itu sendiri menunjukkan bahwa sains juga tidak bebas nilai.

    Suka

  5. SISWADI said

    BACA QUR’AN RENUNGKAN DAN TEMUKAN “APAKAH DI QURA’AN ITU DITERANGKAN TENTANG ILMU PENGETAHUAN ATAU TIDAK “KALAU ILMU PENGETAHUAN DIPISAHKAN DENGAN AGAMA BERJALAN DIRELNYA MASING-MASING BAHAYA TIDAK?

    @
    Kalau perenungan saya (padahal nggak merenung, cuma lintasan pikiran saja 🙂 ) Al Qur’an menandai beberapa titik mengenai ilmu dan pengetahuan manusia agar manusia bersyukur dan berpikir, masing-masing berada pada relnya masing-masing. Urusan dunia, kitalah yang lebih mengerti, jangan tanyakan ke Al Qur’an atau hadis. Nabi juga ogah menjawab ketika ditanya itu.

    Suka

  6. randri said

    wah cukup panjang ungkapan pendapatnya.
    saya sendiri sangat menyukai sains sekaligus merasa haus dengan nuansa spiritual.bagi jawaban filosofis mengapa saya ada di sini dapat dijawab dengan sains dan religi. Sains memberi jawaban yang sifatnya ekstrinsik (dari luar via indera diolah di otak) sedang religi atau agama dalam hal ini: Islam)memberi cahaya petunjuk dari dalam (intrinsik). Quran itu dekat di lidah, bersemayam di hati,dekat di mata.Quran/kitab suci yang diturunkan itu ilmiah sekaligus ghaib. Idealnya memang manusia itu seperti Quran yang hidup.(Mungkin teman-teman yang Kristen juga selalu diarahkan oleh gereja untuk menjadi Living Bible).
    Tentang misalnya harun Yahya itu digolongkan creasionis,yang konon merecoki saintis, bukan masalah.menurut pandangan filosofis, tesis dan antitesis itu akan ada.
    mari kita gunakan keduanya bukan untuk membuat kehancuran, tapi untuk menjaga dunia kita, bumi kita, negri kita, kampung kita, keluarga kita, dan diri kita damai bahagia sejahtera sampai sama-sama kita tinggalkan segala bentuk tesa dan antitesa itu saat kita tinggalkan dunia ini.

    @
    setuju, dan juga mengakui (bukan hanya memahami), apa yang Allah sampaikan pada seluruh alam.

    Suka

  7. hmmmmm tulisan yang bagus

    @
    hmmmm….

    Suka

  8. adepainkiller said

    Kalo saya sih gampang aaajah…
    Teori Evolusi itu selamanya akan menjadi TEORI bukan FAKTA atau sekedar Hipotesa bukan Kesimpulan.
    Mengapa? karena hipotesa menjadi kesimpulan apabila manusia meneliti langsung dan di hadapannya terjadi sesuatu yang berkaitan antara awal dan akhir riset, kemudian muncullah penyimpulan yang menghubungkan antara keseluruhan proses sebab akibat itu.

    Sedangkan Teori Evolusi, sama saja dengan orang yang menemukan :
    Bangkai Sebuah pesawat terbang yang memakai baling-baling diperkirakan usianya 75 tahun
    Kemudian juga menemukan bangkai pesawat Jet diperkirakan usianya 25 tahun.
    KEMUDIAN orang itu menyimpulkan bahwa sebuah pesawat terbang BISA berubah sendiri dari Bermesin baling-baling menjadi Jet.
    Tentu saja orang itu ngelantur
    Gitu aja kok Repot…

    Sejak Awal teori evolusi itu mengundang Kontroversi. Sehingga apakah aneh jika hari inipun masih kontroversi?

    Saya Sepakat bahwa AGAMA harus Selaras dengan SAINS…
    Mengapa? Karena bagi saya jika Agama adalah ciptaan Tuhan YME, maka Agama juga Mustahil bertentangan dengan ciptaan Tuhan yang lainnya misalnya bertentangan dengan Sains.

    Kecuali jika Anda adalah Penganut 2 AGAMA, misalnya saat berdoa anda memilih Agama tertentu, namun saat belajar Anda memilih untuk mengesampingkan Agama Anda tadi, dan merubah Agama Anda menjadi Agama SAINS..sehingga SAINS menjadi agama sendiri.

    Artinya…Jika terlihat terjadi pertentangan antara Agama dan Sains, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa agama terpisah dari Sains..Berarti kitalah yang terlalu terburu-buru dalam Sains atau terlalu tekstual dalam memahami ayat suci.

    Misalnya, Dalam Agama Islam (Mhn Maaf contohnya dari Agama ini karena ini agama saya sendiri) disebutkan bahwa Adam dan HAwa merupakan nenek moyang “Manusia saat ini”. Saya beri kutip nenek moyang “Manusia Saat Ini”. Artinya saat kita menemukan bukti terdapat mahluk mirip manusia “HANYA MIRIP” cuma sedikit lebih mirip manusia dibanding Gorila sekarang Jutaan tahun lalu yang secara historical usianya seharusnya lebih tua dari usia turunnya Adam, maka bukan berarti Manusia itu adalah lebih BAPAK dibanding Adam. Tentu saja manusia purba itu bukan nenek moyang kita.
    Saat kita menemukan manusia yang lebih mirip di usia setelah turunnya adam, maka bisa jadi itu memang keturunan Adam. karena Dalam Islam, Adam memiliki puluhan pasang anak laki-laki dan perempuan yang BERBEDA-BEDA warna kulitnya, tingginya, hingga bentuk tubuhnya. misalnya Qabil memiliki kulit putih, tinggi dan tampan (mungkin seperti Eropa Timur) sedangkan Habil memiliki kulit hitam legam, pendek dan muka jelek (mungkin seperti negro kerdil).
    Sehingga fosil manusia-manusia purba yang lebih mirip manusia yang usianya baru sekitar belasan ribu tahun dan mirip, bisa jadi memang keturunan Adam juga, namun jika dia lebih mirip kera, maka mungkin saja memang itu Kera.

    Apalagi Dalam agama Islam tidak pernah disebutkan apakah Allah pernah/tidak pernah menciptakan makhluk yang mirip manusia sebelum penciptaan Adam.

    Dan tentu saja bagi saya, Agama yang paling benar adalah agama yang paling sejalan dengan Fakta Sains. Anda boleh berbeda dalam hal ini.

    Sehingga, Agama sama sekali tidak boleh bertangan dengan FAKTA ILMIAH (bukan teori ilmiah), misalnya bahwa bumi itu Bulat, maka Al Quran mustahil menyatakan bahwa bumi itu Datar. Bahkan banyak ayat yang menyatakan secara tidak langsung bahwa bumi itu bulat.
    Dan banyak sekali buku-buku yang mengungkapkan keselarasan Agama dengan Fakta Sains.

    Saya menghargai Perbedaan Anda

    @
    Saya Sepakat bahwa AGAMA harus Selaras dengan SAINS... –>

    Pada batas tertentu ya. Namun, lebih banyak lagi sains tertatih-tatih menyeleraskan pemahamannya terhadap wahyu Allah. Sains adalah bagian kecil saja dari filsafat Islam, meski sains memberikan makna besar/tinggi bagi nilai-nilai kehidupan, khususnya ketika outputnya menjadi teknologi.

    Saya menghargai Perbedaan Anda –>
    Kurang saya pahami, “Anda” itu siapa?. Tapi tak apa-apa, perbedaan ataupun persamaan adalah proses.

    Suka

  9. Recool said

    Saya tertarik dengan tanggapan “adepainkiller” (kok kaya nama narkoba hi..hi..) khususnya terutama pada ungkapan :

    “Dan tentu saja bagi saya, Agama yang paling benar adalah agama yang paling sejalan dengan Fakta Sains.”

    Menurut saya ungkapan ini sangat berbahaya, dan cenderung bisa menjadi propaganda dimana Sains akan dijadikan alat untuk propaganda agama. Jika terjadi demikian, maka jika suatu waktu terdapat fakta yang berlawanan dengan agama, maka fakta tersebut pastilah akan ditutup-tutupi demi mengamankan “agama” tadi, sehingga akan menyebabkan stagnasi pada ilmu pengetahuan.
    Atau yang lebih buruk akan terjadi pendiskreditkan agama tertentu akibat perbedaan penafsiran pada fakta sains.

    @
    Memang mengandung bahaya, ini bisa disadari karena landasan sains itu sendiri tidak selengkap sandaran agama. Fakta sains juga di wilayah tertentu, terutama di wilayah fisika teoritis misalnya tidak menemukan fakta-fakta kecuali asumsi dan logika. Di wilayah ini, sains justru gamang dengan tesa-tesanya.

    Suka

  10. adepainkiller said

    OK..kalau begitu coba fokus sebentar ke evolusi
    Saya ingin menganalogikan teori evolusi
    Sebenarnya, tanpa ada bantahan pun, bukti-bukti yang digunakan oleh para evolusionist tetap akan mencapai pada 2 kesimpulan :

    1. Bahwa makhluk-makhluk itu ada karena berevolusi, sehingga saling terkait, dimana dukungannya adalah adanya kemiripan dari berbagai makhluk yang ada maupun yang ditemukan.
    2. Bahwa makhluk-makhluk itu ada dan saling mirip karena memang mereka diciptakan dengan bentuk yang saling terkait, bukan berarti berevolusi.

    Menurut saya, kedua-duanya pula peluang yang sama selama tidak ada seorang pun yang mampu menyaksikan dengan mata kepala sendiri kejadian evolusi

    Adapun kemiripan yang ada pada setiap makhluk adalah bukti Sang Pencipta tetap menggunakan kaidah Sunnatullah atau hukum sebab akibat alam. Karena Sang Pencipta selain menciptakan makhluk juga menciptakan sebab akibat, cara kerja, sifat benda dan lain-lainnya yang saling berhubungan sebab akibat agar manusia bisa menggalinya untuk kemaslahatan manusia itu sendiri..Misalnya mengapa sungai mengalir ke hilir, atau mengapa bisa terjadi hujan, semua itu memerlukan sebab akibat.

    Misalnya kemiripan jantung manusia dengan tikus, bukan berarti manusia dan tikus punya nenek moyang yang sama. namun memang karena jantung tikus dan jantung manusia memiliki fungsi yang mirip maka ia pasti memiliki prinsip-prinsip kerja yang juga mirip. jika sebuah jantung memiliki fungsi yang agak berlainan, misalnya pada ikan, maka jantungnya juga tidak terlalu mirip dengan manusia, karena ada perbedaan cara kerja yang mengharuskan perbedaan fisik jantung.
    Nah hubungan sebab akibat itu akan mempermudah manusia misalnya melakukan eksperimen obat, daripada langsung ke obyek manusia mungkin bisa ke hewan yang mirip. Begitu juga hal lainnya, pasti terdapat hukum sebab akibat yang mempunyai kemiripan.

    Menurut saya, (mohon dipikirkan dengan cermat) justru kemiripan-kemiripan ini membuktikan bahwa Evolusi tidak terjadi. Mengapa? Karena Evolusi menganut juga teori Randomize Design, nah teori randomize design yang dipelopori oleh DNA ini memiliki banyak sekali kemungkinan yang hampir tak terhingga. Walaupun evolusionist menggunakan teori seleksi alam (natural selection) untuk menjawab hal ini, namun belum terjawabkan.
    Misalnya, seharusnya akan muncul banyak varian yang berbeda namun mirip di sisi tertentu, mungkin ada “sekelompok” manusia yang jarinya cuma empat namun punya otak yang sama (bukan cuma satu hasil, atau sekelompok manusia yang tulang rusuknya jumlahnya berbeda, atau kakinya seperti kuda, atau hal-hal lainnya yang tentunya sangat mungkin jika terjadi random design. Memang disebutkan bahwa terjadi seleksi alam. Namun Menurut saya, tanpa terjadi evolusi pun seleksi alam akan ada, yang tentunya akan menyebabkan kepunahan suatu makhluk. Namun ini tidak ada hubungannya dengan sempurna atau tidak sempurna. karena kata “sempurna” itu sangat relatif. Misalnya jika suatu makhluk berevolusi menjadi ratusan spesies menghasilkan manusia berjari empat, berjari lima, atau berjari enam, dll. apa alasan manusia berjari lima lebih tahan dibanding yang lain sehingga manusia berjari lima dapat bertahan hidup?.
    Lagipula faktanya tidak pernah ditemukan fosil manusia yang berbeda itu. yang ada justru yang mirip-mirip yang menurut saya justru melumpuhkan teori random design.

    Perusahaan Boeing, membuat pesawat yang berbeda, namun teknologi yang digunakan pasti mirip-mirip, mengapa, karena selama pesawat yang dibuat tidak mampu melawan gravitasi, maka pesawat harus mampu terbang dengan cara menopang dirinya pada udara melalui kecepatan dan sayapnya. Nah prinsip-prinsip sebab akibat inilah yang menyebabkan miripnya penciptaan berbagai pesawat terbang.

    Demikian juga makhluk hidup seperti yang sudah saya bahas tadi tentang tikus dan manusia.
    Awal dari munculnya teori evolusi adalah karena sejak awal Darwin sudah tidak menggunakan logika Agama”. dan menolak campur tangan Tuhan.

    Bagaimanapun Sains suatu saat akan terbentur pada keharusan mengikutsertakan “Tuhan” dalam sains itu sendiri.
    Tidak percaya? sekarang mari kita coba membayangkan :
    Kita sekarang ada dibumi, batas bumi tentu saja tidak diragukan, kemudian bumi ada di tata surya yang ukurannya terukur, tata surya kita terletak di Bimasakti yang diameternya saja 100.000 tahun cahaya (6,3 miliar km), Bimasakti dengan 18 galaksi lainnya membentuk gugus lokal, gugus lokal ini bersama gugus-gugus lainnya membentuk lagi gugus baru yang lebih besar….
    Pertanyaannya dimanakah habisnya ruang alam semesta ini????
    jika ada habisnya, maka apa bentuk penghabisan itu ?
    Jika penghabisan itu berbentuk ruang kosong, maka ruang kosong itu ujungnya berakhir dimana? Jika Ruang kosong itu berakhir lagi pada sebuah tembok maha raksasa, maka setebal apa tembok itu??
    Dibalik tembok itu ada apa? ada ruang kosong lagi??
    Jika kita tidak menghubungkan fakta ini dengan “Tuhan” kita Pasti akan GILA!!!!
    Jika kita terpaksa menghubungkan dengan Tuhan, maka kita juga dipaksa untuk menghubungkannya dengan Agama….
    Jika Kita telah menghubungkannya dengan agama, maka pastilah kita harus memilih….
    Oleh karena itu tidak heran jika terdapat ilmuwan yang pindah agama karena ilmu pengetahuan.

    @
    Komentar yang panjang tapi asyik… nanti saya jadikan satu artikel ya… trims lho

    Suka

  11. adepainkiller said

    Tapi by the way buat moderator, kelihatannya diskusinya kebanyakan ditanggapi oleh yang Anti-Evolusi nih…walaupun diskusi dibuka oleh moderator dari kutipan blog yang pro-evolusi, moderator sendiri pinginnya disebut Dungu (he..he..) yang mungkin juga berarti anti-evolusi..mana nih yang pro???

    @
    Dari kutipan proevolusi, satu hal yang menarik adalah mekanisme berpikirnya. Bagaimana membangun klasifikasi. Itu menariknya. Perjalanan panjang dan pencarian yang sungguh-sungguh untuk menemukan “apakah benar” teori evolusi, termasuk membangun alasan-alasannya (yang menurut saya, kadang konyol) tetap merupakan khasanah yang menarik. Ngototnya proevolusi (dan juga anti evolusi) adalah perdebatan/wacana yang menarik, seperti yang saya pernah tulis “Teori Evolusi dan Teori Pokoke
    Namun begitu, Anda dan juga saya serta Dunguwan yang lain tetap kan dapat menilai positip dan menangkap nuansa ilmiah dari taksonomi yang mereka susun. Kita tetap bisa belajar dari Darwin, juga Harun Yahya. Biarpun disebut “dungu”., sedang yang tidak dungu juga boleh jadi sedang berkubang lumpur kebodohan dalam pandangan kepintarannya…..
    Jadi lepas dari pro dan kontra, kita melihat bagaimana tesa dan antitesa sedang berunjuk gigi. Mudah-mudahan mencerdaskan ya.

    Suka

  12. Ok bro…untuk selanjutnya saya akan menanggapi blog anda dengan inisial aricloud

    @
    Oke…. trims kesediaannya berbagi ya.

    Suka

  13. haniifa said

    Dunguwan ? Ya kita dungu.
    Dunguwan ? Tidak kita Cerdas.
    Silahkan ambil sendiri jawabanya.
    Hanya disini perlu diingatkan.
    Kaum pengikut kapal nabi Nus a.s ? Dunguwan atau cerdaswan.
    Kaum pengikut Luth a.s ? Dunguwan atau Cerdaswan.
    Mbahnya Fisika : “Sains tampa agama adalah buta”, Pokoke percaya ada manusia pernah ke bulan di tahun 60-an, padahal teknologi informasi terkini “serat Optic” baru tahun 2000-an, tapi film di bulan kok tampa delay yach, yang memuja iptek saja tampa agama ? Dunguwan atau Cerdaswan.
    Seorang yang nggak lulus SD tapi rajin shalat & zakat kemudian dia lebih baik naik perahu sampan dibandingkan ilmuawan (nggak shalat dan kikir) dan berjas naik kapal titanic ? Dunguwan atau Cerdaswan.
    Orang pandai membuat tulisan, buku atau rajin membaca buku-buku asing (pokoke asing) mau bener atau salah menurut nalar sendiri ? Dunguwan atau Cerdanwan.
    Alhamdulillah pilihan saya sesuai dengan petunjuk Allah.
    Sekarang silakan anda pilih sendiri.

    @
    seperti pada artikel itu, saya lebih suka disebut “dunguwan” saja 😀

    Suka

  14. Sahabat said

    Yang saya baca dari tulisan-tulisan pro-evolusi, adalah sebuah usaha yang amat sungguh-sungguh untuk mencari PEMBENARAN dari teori evolusi, bukan sebuah usaha sungguh-sungguh untuk mencari KEBENARAN. kadang saya tak habis pikir, mengapa mereka selalu menganggap bahwa “Divine Power” is not a science? say jadi ingat sebuah kutipan dari Dr. Wernher von Braun:

    “…as I became exposed to the law and order of the universe, I was literally humbled by its unerring perfection. I became convinced that there must be a divine intent behind it all… My experiences with science led me to God. They challenge science to prove the existence of God. But must we really light a candle to see the sun?”

    kadang-kadang para “saintis” merasa perlu menyalakan lilin untuk melihat matahari ketika mereka mengatakan “Mana Tuhan itu? Saya tidak melihatnya.”

    @
    Dan kadang begtu tampak dipaksakan ya… 😀

    Suka

  15. Odi said

    @sahabat Von Braun berhasil dalam mengantarkan misi manusia ke Bulan karena dia tidak sekadar berhenti pada titik percaya pada Divine Power saja. Apakah manusia ke luar angkasa sekadar dengan percaya pada Divine Power ? Kalau benar mengapa USSR juga bisa mengirim kosmonot ke luar angkasa ?
    http://www.adherents.com/people/pv/Wernher_von_Braun.html
    His entire work for space was solidly based on the exact laws of natural sciences. In his life as a human among humans, he advocated and tried to follow the rational, fundamental, time-honored rules of high morality and ethics. In his religious beliefs, it was different.

    @
    Saya kurang juga memahami mengenai hal ini. Missi manusia ke bulan, selain persaingan super power, tentunya memahami asal usul dan global oneness adalah sebabnya.

    Suka

  16. ridwan said

    hy anda mau agama dipisahkan dari kehidupan? salah besar! manusia diciptakan oleh allah SWT dalam keadaan yang tidak tahu apa-apa. Allah maha tahu. bahkan teori yang sekarang baru-baru ditemukan sudah dijelaskan 14 abad lampau apakah anda bukan termasuk orang yang berfikir.

    mudah-mudahan anda termasuk orang yang diberi petunjuk dan mau benar-benar beragama untuk bekal nanti dialam kekal.

    @
    Semoga Mas… juga Mas, termasuk orang-orang yang diberi petunjuk. Diskusi pada postingan ini sangat tajam dan hangat, tapi juga perlu dibaca runtut dan pelan boleh jadi ada manfaatnya… 😦

    Suka

  17. ummi said

    saya setuju bahwa agama dan sains harus sejalan dan saya rela disebut orang dungu baru di diskusi ini ,setelah saya baca postingan ttg agama vs sains dan pembelaan teori evolusi justru saya menyimpulkan beliau memang telah membaca habis bukunya darwin tapi sekaligus fanatik berat kepada darwin sehingga saya yakin karya karya harun yahya belum beliau baca 10 % juga tidak sampe,bahkan alquran sendiri mungkin belum membacanya sehingga serta merta menggugat harun yahya padahal kalo beliau membacanya akan merasa malu,evolusi dan darwin bukan saja berdarah darah sejarah mengulas akibat teori ini, juga penuh dengan kebohongan yang dipaksakan,mungkin beliau benar bahwa karya karya agamawan belum dimuat di NATURE tapi harus diingat sains dari dahulu dikuasai oleh orang orang anti agama maka pantas ada sebab politis disini bukan sebab kebenaran,,maka dari itu disini beliau seperti maling teriak maling,,mengatakan kami belum tuntas membaca buku the original of species punya nya darwin dan anda belum tuntas membaca alquran yang syarat dengan pernyataan 2 ilmiah dan belum tuntas membaca karya harun yahya ,,jadi anda fanatik juga dong .

    @
    Betul Mba’, saya juga tidak pernah membaca teori darwin dari buku aslinya. Hanya membaca kesimpulan-kesimpulan dari berbagai orang saja. Membaca al Qur’an apalagi, saya tidak pernah habis membacanya. Bahkan rasanya tidak akan pernah habis-habis. Tapi itu memang bukan menjadi dasar bahwa pendekatan Harun Yahya keliru. Tapi, memang tidak mudah menjelaskan iman kepada yang tidak mau beriman. Akibatnya juga ada phobia, bahwa pernyataan kitab suci tidak bisa sejalan dengan ilmu pengetahuan, karena kitab suci itu “bodoh”, sedang saya “pintar”. Jadi timbul pikiran bahwa petunjukNya tidak sesuai.
    Di sisi berbeda, petunjukNya harus dipahami bukan berada pada metodologi sains. Jadi memang berbeda.

    Soal fanatik… he…he..he.. benar… bahkan terhadap manapun, kita jangan fanatik karena fanatik akan mudah terjerembab pada pemahaman tunggal yang diyakini. Padahal segala pemahaman ini memiliki lapisan pemahaman yang mungkin kedalamannya tidak sampai akal kita dapat memahami.

    Hanya dalam konteks iman, kita fanatik. Tapi memahami iman itu sendiri tidak perlu fanatik jika pengertiannya membawa pada kebekuan akal dan hati.

    Suka

  18. wulan said

    apa benar iman itu bisa dijelaskan om?? maaf pertanyaan saya yang bodoh ini..

    @
    Tentu saja iman bisa dijelaskan, kenapa tidak. Sama dengan menjelaskan kenapa tidak beriman pula (sebagian). Allah menjelaskan begitu rinci sifat iman, ciri-cirinya, dan lain sebagainya … juga perlawanan untuk tidak mau beriman dan segala yang menimbulkan ketidakimanan. Hanya kebanyakan yang memilih tidak beriman, mereka mengunci (dan Allah menguci hati mereka) dari pengetahuan tentang keimanan….

    Suka

  19. just only u said

    ehmm…bingung..
    nMpang tnyA??
    mgKin sya bLUm dngan Cermat mmbca dan mngRti mKsud dan tjuan psting ini..
    Tapi..BnarKah Sains Dan Agama puNya rel masING2??
    bUKankah Al-Qur’an berisi sains??

    @
    Pendekatan berpikir bahwa sains dan agama berada pada relnya masing-masing adalah salah satu berpikir sistematis untuk melakukan telaahan. Sains adalah pengamatan, model telaahan, dan rasio manusia terhadap ilmu dan teknologi. Sedang agama (dalam konteks ini agama Islam) adalah pesan Allah SWT kepada manusia. Mendudukkan sains sebagai produk kebanggaan manusia, sebenarnya tidak relevan juga untuk disandingkan dengan Al Qur’an karena kedudukan dan porsi tujuannya yang berbeda. Sains hanyalah bagian kecil dari tujuan jangka pendek manusia. Sedangkan agama adalah petunjuk, ancaman, bench mark terhadap manusia dan kemanusiaan yang didalamnya juga terkandung pesan-pesan segala zaman yang menjadi petunjuk sepanjang zaman bagi manusia yang meyakininya.

    Al Qur’an menyampaikan pesan sains, tapi bukan metodologi atau khazanahnya (paling tidak sampai pemahaman saat ini).

    Suka

  20. Haniifa said

    @Just Only U
    Numpang bingung…??
    sains“… 😀

    Suka

  21. Ryan said

    Jika teori evolusi adalah teori yang dibuat untuk menjelaskan fakta-fakta ilmiah, dan penerapan teori evolusi telah dilakukan di berbagai bidang (termasuk untuk kekebalan terhadap hama), maka intelligent design dalam kata paling bagus cuma bisa dianggap opini belaka.

    Dan bagaimana teori evolusi dianggap sebagai akar kejahatan? Teori evolusi tidak membawa filosofi seperti materialisme atau sejenisnya, teori itu cuma menjelaskan mengenai perubahan dan perkembangan makhluk hidup.

    Perbudakan gan rasisme serta genosida sudah berusia ribuan tahun, muncul sebelum teori evolusi berkembang. Tokoh seperti Hitler bukan pendukung Darwinisme (kemungkinan malah menentang), dan merupakan pendukung kemurrnian ras yang gak ada kaitan dengan darwinisme. Apa yang disebut Darwin ras yang unggul adalah ras makhluk hidup yang berhasil survive, bukan ras manusia tertentu. Bagi darwinisme dan teori evolusi, semua manusia modern adalah sama, jadi jelas darwinisme tidak bersifat rasis.

    @
    penjelasan yang bisa dipahami juga. Dalam otobiografinya, Darwin menuliskan : “Argumen disain yang selama ini sangat meyakinkan, ternyata telah gagal. Kini hukum seleksi ilmiah telah ditemukan. Sekarang kita tidak dapat lagi mengatakan bahwa engsel kerang yang indah, misalnya, harus merupakan hasil perbuatan suatu Wujud yang cerdas (Tuhan), sebagaimana engsel pintu harus merupakan hasil perbuatan manusia.”
    Betul, teori ini “cuma” berusaha menjelaskan mengapa terjadi variasi bentuk dan ragam mahluk hidup. Sebagai hipotesis tentunya. Bahwa kemudian berselisih dengan pemahaman yang lainnya baik dlm sains maupun (terutama) agama adalah sisi-sisi dimana terjadi pergesekan ini memang telah ada sejak awal hipotesis ini dimunculkan darwin.

    Suka

  22. […] Tulisan ini tidak sedang membahas kebohongan atau kebenaran teori evolusi.  Karena masing-masing punya fans berat yang tampaknya sulit diganggu gugat.  Sama susahnya dengan kritikan evolusionis terhadap kreasionis : “Semestinya, kalau memang ada, kreasionis buat donk teori baru yang punya bukti-bukti sevalid teori evolusi, jadi bukan soal percaya atau tidak, soal iman !.”  Dalam ranah ilmu pengetahuan, jangan campur adukan agama dan sains. […]

    Suka

  23. anon said

    Orang bodoh adalah orang bertambah pengetahuannya, tapi tak bertambah keimanannya

    Suka

  24. ɮ1ΔИϬ Ƙ4ɭд said

    gue CURIGE nih:
    TONGKRONGANNYE SYAITAN adalah KUBURAN:
    dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah, berkata:
    Pada PEKUBURAN itu TERDAPAT TEMPAT MANGKALNYA para SYAITAN.
    (dalam Majmu Fatwa 19/41)

    AKTIFITAS SYAITAN adalah MALAM hari:
    dari Jabir bin Abdullah ra,
    saw bersabda: “Apabila hari menjelang MALAM..SYAITANPUN BERKELIARAN..”
    (HR. Muslim, 1281)

    RITUAL PENYEMBAHANNYE adalah MALAM hari di KUBURAN:

    dari Aisyah ra, berkata: “saw KELUAR pada MALAM NISFU SYA’BAN ke PEKUBURAN BAQI’ mengangkat KEPALANYA kearah LANGIT,..”
    saw bersada: “SUNGGUH ilah arab TURUN ke BUMI pada MALAM NIFSU SYA’BAN..”
    (HR. Ahmad, hadits no.24825)

    PERTANYAANNYE adalah:
    siapakah ILAH ARAB itu nyang HAQ..?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: