Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Parodi Mati Karena Banjir Jakarta 2007

Posted by agorsiloku pada Februari 9, 2007

Cerita bebasnya begini, satu kali sahabat bertanya sama Nabi : “Ya, Nabi mengapa Engkau berpindah dari dinding yang akan rubuh itu?, bukankah kejadian apapun yang menimpa kita adalah kehendakNya?”. Beliau menjawab :”Saya pindah dari satu takdir ke takdir yang lain?”. Maksudnya, Nabi menghindari tertimpa dinding yang akan rubuh tersebut. Mencari tempat yang aman.

Jadi kalau hewan saja migrasi, cari tempat yang lebih afdol. Lalu manusia tidak bisa (tidak mampu dan tidak mau pindah) sedang setiap tahun menderita karena banjir. Menurut saya kagak boleh bilang : “ini kan musibah dari Allah SWT, jadi kita-kita ini terima saja dengan ikhlas, ridha, dan takwa. Semoga saudara-saudara sebangsa dan setanah air sudi kiranya memberikan harta yang telah diterimanya dari Allah untuk berbagi dengan saudara-saudara kita yang kedinginan, kelaparan, rumahnya hancur, pakaian hanyut, badan gatal terkena kutu air dan racun kimia limbah pabrik, serta sampah-sampah yang mengeluarkan aneka bau dan penyakit.”

Tentu saja, kita ulurkan tangan pada saudara-saudara kita yang sedang menderita. Jangan pernah bertanya apa sebab dan alasannya. Menderita adalah menderita, butuh pertolongan adalah perlu bantuan. Jangan cari dulu sebabnya, tapi obatilah, hiburlah, gembirakanlah. -> kita setuju di sini kan?.

Yang musti disadarkan oleh para ulama, ulul albab, ulil amri itu : jangan biarkan menjadi fatalis. Jangan biarkan musibah sebagai pembenaran untuk menerima, sehingga mengartikan tawakal adalah ridha tanpa usaha (usaha yang memadai). Inilah kesan saya ketika sejumlah orang miskin lagi di wawancara di tv oleh seorang ulama kondang. Tak sempat melihat banyak sih, karena keburu harus ngantor, tapi kira-kira isinya seperti dalam kisah ini. Cenderung fatalis.

Pindah dan persiapkanlah ke arah takdir yang lebih baik. Jangan biarkan takdir kebanjiran menjadi “hadiah” dari kedunguan kita bertahun-tahun (dulu kami tinggal di tepi sungai dan setiap beberapa tahun sekali mengalami kebanjiran, masuk ke rumah. Dan faktanya, kami dungu absolut sampai akhirnya Pemerintah menyodet belokan sungai, meluruskannya sehingga kami tidak kebanjiran lagi –> dalam bahasa lain : Pemda telah mengubah jalur takdir ke takdir lainnya). Dungu, karena kami tidak memiliki kemampuan finansial dan pertimbangan lain utnuk pindah dari langganan banjir ke langganan lainnya.

Nah, bagaimana dengan Takdir Banjir Jakarta. Siapakah yang salah?.

Inilah parodi pembelaan seorang yang mati hanyut di kali saat banjir Jakarta Pebruari 2007 di hari kebangkitan.

Menurut saya, yang salah itu HANYA PEMERINTAH.

  1. Rakyat buang sampah sembarangan, karena Pemerintah tidak becus mengajarkan dan menyediakan tempat buang sampah yang benar. Lihat saja, buang sampah ke kali sudah menjadi kebiasaan. Sungai bukan hanya tempat mandi dan cuci (dulu dan sekarang), tapi juga buat buang feces, buat buang sampah, buat buang limbah industri, buat buang apa saja yang bisa dialirkan. Pelakunya, mulai dari orang miskin sampai ketua RT, RW, Lurah, Camat, Gubernur, dan Presiden. Sama, mereka membuang sampah sembarang. Termasuk Gubernur?, Termasuk Pak Sutiyoso?. Ya, jelas dong. Pak Sutiyoso juga buang sampah sembarangan. Termasuk Gubernur Jabar juga?, Walikota Bogor juga?. Ya iya dong. Hakikatnya, seorang penguasa punya hak dan kewajiban mengatur warganya. Menegakkan aturan. Kalau perdanya ada, tapi tidak pernah dilaksanakan, siapa yang bersalah?. Ya mereka-mereka itu. Pemimpin-pemimpin itulah yang membuang sampah sembarangan. Kalau Pemerintahnya bebal dan zalim, mana bisa mereka memikirkan dengan cukup sungguh-sungguh dan adil.
  2. Pemerintah DKI Jakarta dan Pemerintah Jabar dan Banten, bersama-sama berkolusi untuk menghancurkan untuk memiskinkan penduduk miskin biar disergap banjir termasuk juga ruko-ruko di Kelapa Gading dan akhirnya merembet ke seluruh Jakarta. Anggota DPR juga terlibat, karena nggak menggolkan biaya untuk memperlancar hujan. Bayangkan, Banjir Kanal Barat dan Timur Jakarta itu sudah disiapkan oleh konco-koncone penjajah untuk membuat Jakarta aman dari banjir, tapi berkat rahmat dan kedogolannya Pemerintah, bukannya disempurnakan buatan penjajah itu, malah disemprul-semprulkan.
  3. Pemerintah juga telah dengan sengaja melakukan pembunuhan terencana pada kami,  rakyat miskin ini  dengan cara membiarkan mereka tinggal di bantaran kali yang berbahaya. Coba kalau mereka tidak punya rencana itu, maka jika ada yang mau bunuh diri di situ, tentu Pemerintah segera mengusirnya, melarang, dan melestarikan kali Ciliwung, Cisadane, Passangarahan, Condet, dan buanyak lagi kali yang masuk ke Jakarta.
  • Ulama juga ikut berdosa, karena mereka juga mengajarkan kami pasrah menerima tanpa mengajarkan bagaimana kami harus bertawakal dengan benar.

“Maka dari itu, Ya Allah, Yang Mahapenyayang lagi Mahapemurah, kami ini sama sekali tidak bersalah atas kejadian buruk ini. Kami tidaklah bunuh diri atau sengaja berlaku aniaya pada diri kami, karena kami memang tidak berdaya. Mereka itulah yang sesungguhnya telah menganiaya kami, mereka juga melanggar aturan dan hukum yang mereka buat sendiri itu”.

“Itulah pembelaan kami ini, mengapa kami mati terapung-apung di sungai pada tahun 2007 ini.”

“Oleh karena itu, dengan segala pertimbangan ini : “Cemplungkanlah mereka itu ke dalam neraka dan angkatlah kami ini ke surgaMu….

—-

Sapenakmu lah….

Iklan

4 Tanggapan to “Parodi Mati Karena Banjir Jakarta 2007”

  1. Salah pemerintah, salah rakyat juga pak, yang milih pemerintah kan rakyat?

    @
    Betul, rakyat juga salah. Ia jumlahnya banyak dan memilih yang salah. Apakah kriteria pemimpin yang harus dipilih rakyat?, dalam Islam, bagaimanakah pemimpin itu dipilih?. Saya tidak mengerti ranah politik dan kenegaraan. Saya cuma pingin bilang, jadi pemimpin itu berat benar, karena dia bertanggung jawab dan mengambil tanggung jawab untuk menerima amanat rakyat di dunia dan juga akherat. Seperti juga manusia, sudah nekad menjadi khalifah di muka bumi ini. Setiap diri kita juga pemimpin, meski skalanya barangkali hanya sekotak kamar tidur saja. Salam, agor

    Suka

  2. Yang salah kenapa kita hanya diam…tidak bertindak
    @
    Ya, tanya kenapa? (mode *oon*)

    Suka

  3. ira said

    suatu waktu aku wawancara seorang artis yang di tv terlihat pintar dan cerdas, tentang tanggapannya terhadap banjir. “ya… gak bisa salahin pemerintah, kan masyarakat juga yang buang sampah sembarangan…”
    degh…langsung ilpil….gak kagum lagi deh.
    rakyat buang sampah disalahin, yang bangun gedung di jalanan aer sape…???

    @
    Ya, betul…. buang sampah sembarangn harusnya didenda, ditangkap atau dipenjara. Niscaya kebersihan menjadi bagian dari watak bangsa. Ini semua digerakan oleh mesin politik pemimpin. Jadi, sepanjang hukum disimpan di bawah karet. Penguasa yang salah. HANYA PENGUASA. Karena ia memiliki senjata dan kekuatan cukup untuk melakukannya, dan itu tidak dilakukan. Mewacanakan, tidak bisa disalahin Pemerintah adalah kebodohan dan ketidakmauan mengambil tanggung jawab. Ini memang kebiasaan terburuk bangsa ini. Karena semuanya bertanggung jawab sama artinya kemudian menjadi semua tidak bertanggung jawab…..

    Suka

  4. El Zach said

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Kebiasaan yang buruk dari kita adalah saling menyalahkan, bahwa kesalahan bukan terletak di kita, bahwa orang lainlah yang berhak salah.
    masing-masing dari kita memikul tanggung jawab, diri kita ini, keluarga kita, masyarakat kita, pemerintah kita.
    sebaiknya kita biasakan untuk jadi orang yang mampu memberi solusi.
    tetapi menjadi orang seperti ini syaratnya berat, yaitu ‘ikhlas’, baru kualitas, karena jaman sekarang ini orang selalu minta imbalan, krn semua bisa diperdagangkan, mampukah kita ikhlash seperti Rasulullah yang memberi solusi tanpa minta imbalan. Biarlah Allah nanti yang memperhitungkan amal kita, jangan sungkan-sungkan atau ragu untuk memberi solusi.
    Hindari sikap mencela, carilah solusi yang terbaik, dan berikanlah dengan ikhlash.
    Kelak akan diketahui, siapa yang paling berkualitas dan paling ber-untung di akhirat.

    ***
    ada banyak hal yang bisa dilakukan supaya Jakarta tdk banjir, secara teknis :

    1. buat sungai buatan yang melingkar diluar Jakarta, sehingga jika air berlebihan masuk jakarta, dengan warning elektronik, maka arus air bisa diarahkan ke sungai buatan tersebut.

    2. keruk sungai jakarta hingga melebihi estimasi limit banjir.
    tanah kerukan bisa untuk meninggikan lokasi 2 yang rawan banjir.

    3. buat pusat-pusat pengelolaan sampah yang dikelola swasta, sehingga menyerap seluruh sampah baik organik maupun un organik untuk menjadi barang yang berguna. sebaiknya diserahkan swasta, krn swasta kan bersungguh-sungguh mengelola, bahkan bisa dieksport. Jangan dikelola pemerintah, karena pemda maunya hanya uang iurannya tapi nggak mau peduli sampahnya.

    4 benahi tata kota, pilih orang-orang di tata kota yang nggak korup, sehingga nggak gampang disogok untuk ijin mendirikan bangunan diatas tanah yang seharusnya jadi jalur air atau jalur publik lainnya.

    5. pilih pejabat yang nggak cuman mikirin perutnya, yang mau peduli utk memikirkan bagaimana org-org di bantaran kali bisa hidup lebih layak, entah itu diberdayakan di industry, atau diberi lahan untuk produktif di lain daerah seperti masa transmigrasi dulu, atau cara-cara lain (mungkin anda lebih punya ide yg bagus) sedemikian hingga tidak ada toleran lagi mendirikan gubuk di bantaran kali yang bisa merugikan kesehatan semua pihak.

    6. Buat seluruh bantaran kali menjadi tempat wisata/ taman, sehingga semua pihak mau nggak mau akan jadi wajib menjaga kebersihannya, contohnya seperti di tepi kali Balai Kota Malang, dulu juga kali tempat buang sampah yang super berat, sekarang jadi tempat wisata, cuman sayangnya cuma beberapa meter saja.

    7. didik disetiap di lembaga pendidikan mengenai pentingnya kebersihan, dan bahayanya tidak disiplin, seperti TK-TK di Jepang, mereka diajarkan bgm buang sampah ditempatnya, antri yang bagus bgm, akibat kalau tidak displin bagmn, semua diajarkan secara sebab-akibat, sehingga memeiliki kesadaran penuh sejak kecil, sederhana tapi efektif, krn merekalah yg akan mewarisi jakarta dan indonesia ini.

    banyak kok solusi, dan itu ada ditangan kita semua.

    anda bisa sampaikan langsung ke para pejabat, atau anda sendiri yang bakal jadi pejabat, tapi ingat, harus ikhlash, krn kalau nggak ikhlash ya nggak dapt pahala apa-apa kecuali kota yg bersih aja atau sekedar duit dari manusia yang tidak kita bawa mati.
    ketergantungan pada balas jasa manusia, berakibat kita saling masabodoh dgn lingkungan kita yg berimbas dgn buruknya situasi semua, siapa yang bergantung pada manusia, maka siap-siaplah untuk kecewa, tapi siapa yg berharap kepada Allah, maka tak setitik amalpun yang tidak diperhitungkan-Nya

    Wassalamu’alaikum wr wb.

    @
    Secara hakikat, saya memang sependapat semua bertanggung jawab. Namun dalam hal kepemimpinan, pemerintahlah yang bertanggung jawab. Rakyat adalah segerombolan kambing, bukan segerombolan singa. Segerombolan singa dipimpin oleh kambing lebih buruk daripada segerombolan kambing dipimpin oleh seekor singa. Seluruh solusi, selalu bertumpu pada seekor singa. Wujud singa itulah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dan sesuai namanya, eksekutiflah yang membawa armada kapal mencapai tujuannya. Ini yang terasa kurang sekali ya. Kita tidak punya pemimpin berkharisma dan bisa kita teladani lahir batin…. Yah, ini pendapat agor, boleh jadi dan sangat boleh jadi keliru….. Masalahnya kadang bukan pada solusi, tapi seperti Mas El zach sampaikan niat baik, ikhlas.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: