Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Banjir : Kisah Tentang Bangsa Yang Pendek Ingatan

Posted by agorsiloku pada Februari 7, 2007

Allah mengawetkan jasad Fir’aun :QS 10:92. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.

Lalu, kenapa diawetkan?. Untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang setelahnya. Banyak kejadian yang dialami oleh peradaban manusia di”diawet”kan juga sebagai bahan pelajaran. Manusia mencatatkan sebagai pelajaran dalam bentuk tulisan (dikisahkan, dinovelkan, difilmkan) atau dalam bentuk tugu peringatan. Agar menjadi peringatan bagi generasi penerus tentang kejadian di masa lalu, untuk menjadi peringatan untuk masa datang. Allah mengawetkan jasad Fir’aun untuk kepentingan ini (dan kini jasadnya disimpan di musium bangsa Eropa).

Suatu kali, saya melihat orang tua, sekian tahun yang lalu, meletakkan karangan bunga sambil menangis dan berdo’a di depan sebuah dinding yang berisi nama-nama korban perang Vietnam. Mereka yang mati di medan perang itu dikenang oleh bangsanya sebagai korban keserakahan adidaya terhadap bangsa lain. Taman itu ada di Washington. Mereka mengingatnya. Taman itu, boleh jadi akan diperluas untuk menempatkan lagi nama-nama prajurit adidaya yang mati sia-sia di Irak, di Afganistan, di Somalia, atau dimana saja. Biarpun ada sebagai pelajaran, tapi tetap saja kezaliman yang sama bisa dan sangat mungkin dilakukan oleh satu bangsa ke bangsa lain.

Di Jepang, ada tugu Anjing di Peace Memorial Park. Kesetiaan seekor anjing terhadap tuannya yang pergi tak pernah kembali. Sisa kekejaman bom nuklir yang dijatuhkan Amerika saat Perang Dunia 2 menjadi peringatan tentang bahaya nuklir bagi peradaban. Ada juga patung anak kecil di Eropa yang dibuat karena pipisnya menyebabkan sebuah granat/bom gagal meledak atau tempat meninggalnya enam mahasiswa yang menyatukan kembali Jerman Barat dan Timur yang dipisahkan oleh perbedaan ideologi (tembok Berlin). Ini jadi tempat tujuan wisata sekaligus bagian dari pembangunan kesadaran bangsanya.

Singkatnya, kecil (kesetiaan seekor anjing terhadap tuannya) sampai ribuan kematian yang terjadi dipatrikan oleh generasi lalu untuk peringatan bagi generasi berikutnya. Bangsa Indonesia, sangat pendek ingatannya, begitu pemaafnya dan mudah sekali melupakan kejadian pedih yang terjadi pada bangsanya. Banyak sekali kejadian pedih yang tidak bisa ditarik pelajaran bagi generasi penerus karena kita cenderung mudah melupakannya. Carilah tempat di Indonesia ini yang mengawetkan kejadian sejarah penting yang meluluhlantakan negeri ini?. Hanya tempat bersejarah saja di masa revolusi sebagai tempat yang masih dilestarikan (saya kira ini pun terpaksa hanya untuk kebanggaan sejarah). Tapi, kejadian seperti Mei 98, matinya manusia karena tertimbun sampah, tidak ada tugu yang mengingatkan generasi ke generasi untuk jadi pelajaran. Kita memang bangsa (t) pemaaf.

Begitu juga banjir, saya yakin, kita akan segera melupakannya seperti kejadian-kejadian lainnya pada bangsa ini. Segera akan tergerus waktu. Tsunami, gempa, banjir, badai, semua adalah siklus rutin saja. Mr. Gubernur bilang, itu siklus haid 5 tahunan. Pintu air, saluran pengendali air yang pernah dibuat seperti juga di Bandung, Semarang, Surabaya banyak tergerus oleh pembangunan ekonomi dan keserakahan jangka pendek. Yang ada dan masih dipakai dan itupun sudah tidak optimal itu adalah sisa dari perhatian penjajah Belanda. Karena kita memang melihat penderitaan itu untuk dinikmati, kemudian kita lupakan. Begitu juga dengan banjir di Jakarta, juga tentang daerah konservasi. Begitu juga tentang korupsi. Karena kita lebih menghormati orang kaya, dari manapun sumber dan masa lalunya, tidak penting lagi. Semua terlupakan, kecuali yang bisa kita makan pada hari ini.
Banjir di Jakarta yang konon hampir 70% dari tanah daratan tergenang air akan segera hilang dari ingatan secepat surutnya air banjir itu.

Namun, entahlah bila banjir sudah tiba selutut lagi. Selutut lelaki dewasa yang tegak berdiri di Tugu Pancoran – Jakarta Selatan. Di situ, tentu tugunya adalah danau Jakarta.

Iklan

8 Tanggapan to “Banjir : Kisah Tentang Bangsa Yang Pendek Ingatan”

  1. bangsa (t) pemaaf… hehehe… bagus juga analoginya, Kang.


    he..he… pemaaf tapi lebih tepat bangsa (t) pelupa ya atau tidak bisa melihat sebagai pelajaran. Masa Ratu Yuliana dan konco-konconya saja sudah mikirin Jakarta, tapi yang menerima warisan podo lupa….

    Suka

  2. Dono said

    Ass,wr.wb,
    Ada yg mengatakan oh itu takdir, ada juga yg mengatakan untuuuuung rumahku nggak kena banjir ya.
    Tapi apakah solusinya, nihiiiil.
    Ada di tanah barat pepatah yg tepat untuk ini : setiap orang urus diri sendiri Tuhan untuk semua orang.

    Wassalam

    @
    Yah Mas Dono, Wass, Wr.Wb : tentu saja itu takdir, tapi kan juga kita bisa memilih takdir untuk tidak setiap tahun terendam kali ciliwung. Kita bersetuju takdir untuk tinggal di bantaran kali Ciliwung, karena Pemda DKI telah menakdirkan kita boleh menempat dan kian saat mempersempit serta mendangkalkan kali Ciliwung, kali Cisadane, Kali Condet, Kali Pasanggaran, Kali Malang, dan perkalian lainnya.
    Wass, agor

    Suka

  3. Bukannya kita ini selalu diajarkan untuk melupakan penderitaan, Kang? Jadi bagus dong, kalau seminggu setelah banjir surut nanti semua orang langsung melupakan derita selama banjir.

    @
    Walah, weleh… weleh….. saya belum tahu siapa ya yang mengajarkan kita untuk melupakan penderitaan?, Siapa ya, Apakah semua menderita selama banjir, atau mendapatkan kesempatan selama banjir?. Akang ini ada-ada saja, derita kok dilupakan?. Boleh saya dapat rujukannya?., agor

    Suka

  4. Pokoknya untung terus, ingatan pendek, masih mending begini coba bla-blabla…

    @
    Nggeh, untung terus itu kata lain dari bersyukur. Ingatan pendek kata lain dari masa bodo, mending begini coba bla-blabla kata lain dari wacana saja. Gitu kan Pak Gur, agor.

    Suka

  5. paknewulan said

    Susah juga ya……..saat musim kemarau kita banyak teriak-teriak kekurangan air, setelah hujan turun….kapal tenggelam lah…pesawat jatuh lah….banjir lah…….
    manusia memang nggak pernah puas ya……..tapi kayaknya juga kurang mawas diri…selalu terlena jika sedang enak..dan bengak bengok jika kena musibah….Padahal dari pak kyai khan pernah dikatakan…..Tidak ada musibah jika itu mendatangkan hikmah……….

    =====
    Iya betul kita teriak-teriak, tapi begitu dapat kesenangan sedikit saja, terus kita lupa. Kita selalu puas dengan yang kita terima, dan yang tidak puas itu sedikit saja. Cuma yang sedikit itu yang menyengsarakan yang menerima dengan puas. Iya, betul tuh kata Pak Kyai, tidak ada musibah jika itu mendatangkan hikmah (pengertian, pemahaman, sebagai pelajaran atau bagian dari pengampunan). Hikmah selalu datang, tapi yah.. begitulah… cepat lupa…. Salam Pak Abdi Negara, agor

    Suka

  6. priyanto said

    Assalamualaikum wr wbr,
    Sebenarnya kita tu mesti lebih Arif & bijak saja, menyikapi ini semua Banjir melanda dimana2, kecelakaan, ini itu lah, tapi apakah kita pernah sedikit berfikir jernih untuk itu, sudah benarkah kita selama ini atau sudah berusahakah kita selama ini , tapi apa daya kita orang 2 kicil macam kita, yang jelas harus kita renungi adalah, teguran,ujian atau laknat semua musibah ini, itu mesti yang kita harus renungi,karena semua musibah tu pasti ada hikmahnya………..

    Wasslam ,
    @
    Yah, betul mas Pri, kita jarang atau susah berpikir jernih. Daya kita sebagai orang kecil adalah bersuara menentang penzaliman penguasa ketika pelajaran itu datang pada kita. Hikmah yang diberikanNya, tidak kah akan kita sia-siakan lagi, kalau kita segera melupakannya, dan banjir Kanal dan Timur peninggalan Belanda itu tidak diteruskan?.

    Suka

  7. priyanto said

    Nah dikit lagi niii benar kah apa yang di elu-elukan oleh pemerintah baik itu pusat atau mulai dari tingkat RT. Sebagai contoh saya pernah lewat di perumahan Taman Ratu, katanya ni itu masuk Komplek Ruko elite tapi waktu bulan Januari kemari belum lama kok Sampah di kali depan ruko , itu WOW setebalk -+ 1 meter sepanjang mungkin hampir dari ujung ke ujung ruko, apa di dalam kali itu kalo bukan sampah, air tidak mengalir,wah pokoknya memprihatinkan gimana itu yang di tempat lain kalo di tempat yang katanya perumahan ternama aja sampah kaya gitu begitu kook dapat Adipura Kencana mengapa Bapak2 & Ibu 2 yang menilai sebagai Kota yang dapat adi pura, apa sebenarnya yang dinilai itu….???????
    …..

    ?????????
    @
    He…he… tentu saja masih layak, itulah terbaik di antara yang terburuk kali…., Kita kan sulit membayangkan bahwa ada orang mati tertimbun sampah (kita bersedih sambil jalan-jalan di Mall ya). Salam Mas Pri, agor

    Suka

  8. sumeleh said

    saya jadi inget prinsip yg diajarkan Aa Gym, Pak Agor.
    jika ingin mengubah sesuatu hendaknya dimulai dari 3M
    – Mulai dari diri sendiri ( kalo ada sampah jgn dibuang
    sembarangan, ke kali misalnya ). Kalo di Jepang katanya
    sampah mesti dipisahkan mana sampah plastik mana bukan.
    – Mulai dari hal-hal kecil
    – Mulai sekarang juga
    Itu mungkin usaha minimal ya, tapi kalo sudah menjadi pemerintah, level action-nya tentu penganganan level negara.
    Perbanyak daerah resapan air, perketat izin mendirikan bangunan, dan untuk planning tata kota kalo gak cukup orang pintar gpp rasanya studi banding dgn mantan penjajah Londo, yang cukup pengalaman mendisain tata kota yang ramah lingkungan…

    kali aja ya..

    @
    Betul oom Sumeleh… 🙂 kita suka buang sampah dan buang londo terlalu cepat. Coba kalau londonya masih di sini, tentu banjir kanal dan timur sudah selesai sehingga Sutiyoso nggak pusing lagi…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: