Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Go To Basic : Virus Mewabah Di Tengah Ummat.

Posted by agorsiloku pada Februari 5, 2007

Judul ini saya ambil dari “Bicara Islam : Ya Di Sini” dari sitenya MediaMuslim.info. Uraian sederhana, mengena, dan nyambung dalam hal-hal yang menurut saya juga prinsip. Prinsip, tentu saja bagi yang meyakini dan karena dapat hidayahNya maka bisa memilih dan memilih. Yang sederhana seperti ini isinya menyejukkan, meski terganggu juga oleh musiknya karena memperlama donlot. Parodi satire bergaya Tip menarik untuk dipertimbangkan. Mengulas definisi-definisi pemaknaan yang urgensinya, menurut saya cukup penting dipahami seperti kafir, golongan yang selamat. Setidaknya tidak ikutan meningkatkan epidemi di tengah ummat. Dalam bahasa manajemen, boss saya di kantor, kalau pekerjaan sudah ruwet, salah kaprah pekerjaan sudah bikin semrawut, dan hasil tidak sesuai dengan biaya yang keluar, maka pesannya selalu sama : Go to Basic. Peristilahan itu menjadi penting, seperti memahami gaib semestinya (sebaiknya) memakai definisi yang ditetapkan dalam keyakinan beragama. Begitu dicampuradukkan dengan pengertian lain, maka proses komunikasi berikutnya juga jadi amburadul.

Mengikuti pembahasan golongan-golongan yang melahirkan “terpecah belahnya” Islam, juga bikin puyeng. Karena masing-masing punya alasan dan hadits untuk memperkuatnya. Akhirnya capek sendiri. Sebagai orang yang buta yang tengah berjalan di belantara keyakinan, kalau lagi mau membaca saya biasa :

  1. Begitu mengembara di dunia maya bila ada pembenaran untuk satu golongan, maka tindakan berikutnya adalah close tab atau window, cari yang lebih sejuk. Tak perduli dan tak mau perduli berapapun banyaknya rentetan ayat bertaburan di sana.
  2. Kalau ketemu kata-kata antum, ana, atau bahasa Arab berpanjang-panjang, close juga. Ngabisin bandwith saja. Kecuali emang bahasannya memang saya anggap perlu. Emangnya saja orang Arab.
  3. Kalau ketemu hoax, gambar islami seperti tulisan Allah dalam semangka, pohon merunduk seperti rukuk, suara dari alam kubur. Hati berkata, astagfirullah. Kok yang begitu saja dikagumi, dianggap sebagai bukti kebenaran. Di Al Qur’an nggak ada pesan sama sekali bahwa Allah akan menunjukkan kehadiranNya dengan cara-cara yang cocok di jaman kegelapan. Kadang, justru itu ditampilkan dalam site-site yang super islami. Menurut saya di abad teknologi tinggi ini, Allah nggak akan memunculkan hal-hal yang ndeso begitu.
  4. Hanya kondisi tertentu saya memang butuh ngeliat juga bahasa Arabnya, terutama kalau nggak yakin penerjemahannya benar (meskipun itu terjemahan Depag). Cari-cari referensi tambahan untuk bisa lebih memahami dari golongan-golongan itu. Banding-banding kira-kira pengertiannya apa. Lalu, akhirnya merasa benar sendiri… (kacau deh).  Namun, nampilin itu perlu juga, karena bisa ikut-ikutan belajar dan menjadi “pura-pura” ahli bahasa.
  5. Kadang dan sebenarnya memang nggak tahan melihat (membaca) diskusi perdebatan antar agama. Apalagi kalau judulnya MyQuran gitu atau Faithfreedom atau Answeringislam. Sekali dibuka, dibaca, nyesel seminggu. Kadang dibuka lagi, nyesel sebulan. Tapi kadang perlu juga sekedar tahu keributan yang terjadi. Sebenarnya saya lebih suka, orang Islam itu berpatokan pada Al Kafirun saja. Nggak usah ikuti hawa nafsu.
  6. Kalau ada golongan atau kelompok atau partai yang melakukan kekerasan atas nama Islam, kadang suka, kadang super benci. Kan Allah juga sudah ingatkan Muhammad, kekasihNya bahwa kalau dengan kekerasan, mereka akan lari. Kok mereka bikin orang pada lari sih?. Bisa nggak menegakkan syariat dengan kelembutan hati. Itu tuh, yang kayak lagunya Aa Gym.

Perklenikan dan saudara-saudaranya sudah begitu membudaya. Go To Basic memang sudah susah, sudah terlalu karatan kali, seperti yang dituliskan mewabah. Ini kadang begitu merisaukan, sehingga saya tidak bisa yakin lagi, Indonesia itu negara klenik atau negara yang mayoritas Islam sih.

Namun, sejarah kita memang berada pada persaudaraan antara Islam dan Klenik.  Masuknya Islam ke Tanah Jawa, tidak disertai dengan tauhid yang bebas syirik.  Kadang kita begitu menyadarinya, menyadari bahwa kita ingkar pada bagian paling prinsip dari agama ini, namun kita begitu enggan berhijrah.  Kisah wayang dan Islam, misalnya adakalanya hati bertanya : Wayang dalam tradisi Islam atau Islam yang diwayangkan?

Iklan

6 Tanggapan to “Go To Basic : Virus Mewabah Di Tengah Ummat.”

  1. pertanyaan : Wayang dalam tradisi Islam atau Islam yang diwayangkan?

    Menjawabnya susah banget. Sama susahnya ketika muncul pertanyaan, keramik biru ‘Delft Blauw’ yang ada di masjid Cirebon peninggalan para sunan kok ada keramik yang menggambarkan pembaptisan Ratu Belanda Willhelmina, apakah para Sunan dan Kiai pada zaman itu tidak tahu konsep pembaptisan?

    Susah njawabnya… sebab asimilasi dan akulturasi sudah ada dimana-mana. Keuntungannya adalah, masyarakat yang semakin menyadari, bahwa manusia itu berbeda-beda. Dan perbedaan itu adalah rahmah.

    Amiiinn

    🙂

    —–
    Setuju Mas Arif, apalagi kalau orang seperti saya kan nggak begitu doyan semalam suntuk dengar cerita wayang. Namun, kontekstualisasinya adalah tidak ada penyekutuan Allah dalam kedua pilihan apapun dalam tradisi itu. Tidak pantas pula kan, kita salahkah wayangnya, atau islamnya. Lagi pula kedua kata tersebut, sebelum diurai, harus didefinisikan dulu. Wayangkan adalah produk budaya untuk mementaskan. Saya sendiri, masih bingung : “kok pernyataan itu begitu saja muncul?. Jangan-jangan mendefinisikannya juga sudah keliru?. salam, agor

    Suka

  2. Herry said

    ana cukup sepakat dengan pointer yang antum tulis dalam maqolah ini :))


    Trims Mas Herry, pointer itu hanya menjelaskan bahwa antara pembaca dan redaktur memiliki pola pikir yang bisa bertolak belakang. Maksudnya syiar, yang jadi malah suar tanpa cahaya.

    Suka

  3. Bicara soal wayang itu… heleh… Saya sempat maknyet waktu genduren di Sleman sana waktu dijlentrehkan sama yang punya rumah:
    “Anggen kulo ngracik sego golong injih puniko kagem Dewi Sri ingkang bla-bla-bla….” Gundhulmu njeblug. Dewi Sri itu siapa lagi??? Kok masih ada orang yang memuja. Mangkanya saya prek sama genduren. Tradisi sirik yang masih dipertahankan.

    —-
    Nah… begitu kuatnya negosiasi antara budaya nenek moyang dan pembaharuan keimanan. Di sini pertempuran tak pernah usai. Mulai dari pelecehan yang tak terpahami (misal gotoloco) sampai perkawinan sesuatu yang sebenarnya (menurut hemat agor), tidak mungkin dipersandingkan. Nah dimanakah letak peluruhan harus dilakukan, kalau bla…bla…bla.

    Suka

  4. Tulisan bagus…Wayang di pakai sebagai da’wah mungkin sejarah penyebaran Islam di tanah jawa jamannya walisongo agar Islam di terima di masyarakat yang animisme.

    Ya coba kalau para ahli dawah itu berdawah dengan tidak menakut2i ya dan mengutuk bakalan dihukum Allah, padahal Allah itu Maha penyayang, pengasih, pemaaf dan pemurah.Bagaimana membuka kesadaran umat agar beragama dengan pemahaman bukan karena ketakutan…Wallahu alam

    Salam,Evy


    Wacana yang bagus, trims… nanti-nanti mo saya cari acuannya ah…salam, agor.

    Suka

  5. Oh ya buat yg punya blog salam kenal
    Evy

    Salam kenal kembali, agor
    =D>

    Suka

  6. Yup setuju kembali ke ajaran yang mendasar yang jauh dari rekayasa budaya, pelajaran dalam diri tentang kuasa Allah lebih banyak. Hehehe gak nyambung too

    —-
    Nyambung kok, ketika rekayasa budaya hadir sebelum kita dikasih tahu. Kalau sudah dikasih pengetahuan masih juga ngaduk-ngaduk, sayangkan kalau setelah datang ilmu pengetahuan, malah disia-siakan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: