Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pak Kyai Mohon Do’akan Saya :”Ta’Uk Uk ya…”

Posted by agorsiloku pada Januari 28, 2007

Tentu saja judul di atas tidak benar-benar terjadi. Ustad tentunya tak akan bilang begitu. Tapi, mari kita sejenak berpikir, seberapa seringkah kita minta untuk dido’akan oleh orang yang kita nilai lebih “beriman”, “lebih sholeh”, dari kita.

  • Seberapa banyak kita merasa bahwa jika kita saja yang berdo’a, Allah tidak atau ogah mendengar do’a kita karena kita mah tidak sesholeh “mereka”? Seberapa kita yakin bahwa hanya orang-orang maksum saja, yang jika mereka berdo’a untuk kita, maka “peluang” untuk dikabulkan akan menjadi lebih besar?.
  • Karena pertimbangan ini, maka untuk memudahkan/dilapangkan harapan TERKABULnya doa, maka biar lebih AFDOL, yuk kita datang ke Pak Ustad atau ke siapa saja agar do’a kita dikabulkan.
  • Lalu, ketika kita merasa bahwa do’a kita dikabulkan maka kita berpikir bahwa. “Emang afdol tuh si do’anya si Fulan?”. Ketika tidak dikabulkan, :”Payah, do’anya si Fulan kagak manjur tuh”.

Saya sendiri, suka menyampaikan ke teman, terutama ke orang tua, tolong bantu do’akan saya. Begitu juga, saya juga kadang terima pesan : “agar ikut mendo’akan”, atau tentu saja do’a sebagai permohonan, maka kita mendo’akan kepada pihak lain, agar dikaruniai kesembuhan, kesehatan, kebaikan, keselamatan. Bukankah juga sholat jenazah adalah mendo’akan si mati.

Kekuatan mendoakan adalah bagian dari proses peribadatan yang juga “pahala”nya juga kepada kita.

Saya, jelas nggak tahu sama sekali karena sebab siapa (namun untuk sebab apa, jelas Allah menjelaskan terinci) mengapa sebuah do’a dikabulkan. Maksudnya, kalau ada 100 ustad berdoa untuk kesembuhan si A, maka bila A katakanlah sembuh maka apakah itu karena 100 ustad itu yang berdoa, ataukah karena A sendiri yang berdoa, atau karena faktor lainnya. Namun, yang ingin saya tegasi adalah :

Rasanya, kita tidak boleh membuat asumsi bahwa kalau kita di do’akan orang sholeh, maka peluang do’anya dikabulkan akan lebih besar.

 

 

Mengapa?.

  1. Saat berdo’a, tidak ada perantara antara seorang hamba dengan Pencipta. Allah bukan gubernur atau walikota atau ketua RT yang ada protokoler yang menghambat atau memperlancar kehadiran hati untuk datang padaNya, menyampaikan keluh kesah dan kerisauannya. Islam nggak kenal itu perantara dalam prosesi ibadah.
  2. Yang mengabulkan do’a hanya Allah, yang memberikan hidayah Allah, yang membalas juga Allah. Jadi, yakinlah sebesar apapun kesalahan dan kemaksiatan yang ada pada diri hambaNya. Kalau datang padaNya, maka Allah akan mengabulkan do’a.
  3. Janganlah kita sebagai hambaNya membuat pembatas-pembatas dalam menunjukkan kehadiran takwa kita, kesungguhan hati kita, keseriusan kita untuk datang dengan do’a kita. Kalau kita merasa bermaksiat, mohon ampunlah. Tapi menjadi aneh kan, kalau kita bilang :”Pak Ust, tolong ya, mohon ampunkan aku karena kemaksiatanku. Aku malu bertemu denganNya, soalnya sudah super kotor sih“. Terus Mr. Ust juga, karena merasa lebih soleh dan anggun, mulailah berdo’a dengan keyakinan yang sama. “Kalau gw yang mendo’akan, insya Allah akan lebih cepat dikabulkan. Kan termasuk golongan orang-orang beriman dan sholeh?.”

Pikiran-pikiran di atas adalah “gangguan” pada diri saya ketika mengingat teman-teman yang bertitip salam, minta didoa’kan di depan Ka’bah. Tentu saja, dengan segenap ingatan yang terbatas, saya lantukan do’a :”…. Ya, Allah kabulkanlah do’a dari saudara-saudaraku yang menitipkan do’anya agar aku berdo’a di rumahMu. Si Fulan meminta ini ya, Rabb. Jika ini adalah baik baginya, kabulkanlah do’anya. Si ini begini, si itu begitu”. Jadi, meskipun saya ikut berdoa untuk yang menitipkan do’a depan Ka’bah, tetap saja saya berpikir bahwa saya hanya mengamini do’a dari mereka yang menitipkan do’anya.

Ah, saya hanya karena mempunyai sedikit uang pemberianMu sehingga Engkau ijinkan saya tiba di rumahMu, memenuhi panggilanMu. Lebih banyak lagi yang belum datang ke rumahMu, dan Engkau ridha pada mereka.

Lintasan itu, sedikit menenangkan hatiku. Selintas dalam satu ketika, ketika saya bersimpuh di rumahMu.

(Catatan Perjalanan Hajj 23)

Referensi :

Al-Qur’an (terjemahan Depag Indonesia) – tulisan miring dari saya.

42. Asy Syuura 26. dan Dia memperkenankan doa orang-orang yang berimanserta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras.

40. Al Mu’min 60. Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

27. An Naml 62. Atau siapakah yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).

40. Al Mu’min 7. (Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,7. Al A’raaf 151. Musa berdoa : “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau, dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”

2. Al Baqarah186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

13. Ar Ra’d 14. Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.

9. At Taubah 103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Iklan

9 Tanggapan to “Pak Kyai Mohon Do’akan Saya :”Ta’Uk Uk ya…””

  1. Seperti yg dulu sempat saya tulis ada tradisi bahwa ada acara kirim doa yg dilakukan di masjid-masjid menjelang buka puasa. Bahkan dijanjikan mereka para pendo-a akan menyampaikannya… Kalau ini bener tinggal boking aja yah.


    Mas Helge.
    Nggak salah kan kirim do’a. “Saya kirimkan do’a kepada Allah : semoga Mas sukses menjalani hidup bersama blog dan keluarga”. Mendo’akan kan bagus. Kita kan tidak tahu, do’a mana yang akan dikabulkan Allah. Yang, jangan itu : “Dek Agor, tolong do’ain saya ya. Soalnya saya nggak sempet berdo’a lagi. Saya terlalu sibuk blogwalking, jadi saya mo booking aja”. Lain saat, aku neh pesen sama ustad tetangga, pesen yang sama. Yah… kalau gitu mah paranormal agama, sutradara uka-uka, orang pintar, pawang, akan kebanyakan pesenan dong. Lalu bagian kita mana?.

    Suka

  2. kakilangit said

    Betul mas, memang bukan berarti kalo kita “nitip” doa trus kita juga bisa leha2 tanpa memiliki semangat untuk berdoa juga.


    Nggeh Mas, hanya saya coba berwasiat ke diri sendiri bahwa Allah sangat menegasi bahwa antara Dia dan hambaNya tidak ada batasan, tidak ada perantara. Jadi kita jangan bikin perantaraan lagi.

    Suka

  3. Dono said

    Ass, wr.wb,pak Agor.
    Pesan di atas sangat tegas dan mulia.
    Mengenai masalah doa, ada yg saya ingin katakan sedikit mengenai apa yg terjadi pada diri saya saat berdoa;
    umumnya kita yg beragama islam klo berdoa melihat telapak tangan dg mata terbuka atau dgn mata tertutup.nah kejadian pada saya begini: Saya sedang berdoa dgn telapak tangan terbuka dan mata tertutup, tiba2 muka saya tadi diangkat arah ke atas ( langit dgn mata yg tetap tertutup ).Saya bertanya apakah begini doa yg lebih baik?
    Mohon jawaban dari saudara-saudaruku yg mencintai Allah s.w.t.

    Wassalam.

    Wass. Wr. Wb Mas Dono, pertanyaan yang nggak mudah dijawab. Mudah-mudahan ada pembaca yang mau menjelaskan hal ini. Saya sendiri nggak tahu. Sepengetahuan saya, Nabi kalau beribadah (sholat atau berdo’a, zikir) tidak menutup mata. Kalau menengadahkan tangan bahkan sampai ke atas, beliau lakukan (mohon koreksi kalau salah). Bahkan pada saat khutbah wada, tangan beliau ke atas. Telapak tangan terbuka ke atas, bukan dibalik.
    Menutup mata, entahlah. Namun, berdoa dalam Islam yang saya pahami, harus berada pada kesadaran penuh, sholat juga nggak boleh kalau dalam keadaan mabuk (tidak mengerti yang diucapkan). Kalau lagi sholat ada yang memanggil, kita keraskan suara, agar yang mengetuk pintu atau memanggil tahu kita sedang sholat. Berzikir dan berpikir ketika sedang duduk dan berbaring (dalam kondisi manapun) disampaikan oleh Al Qur’an dan disampaikan pula :… Tidaklah sia-sia Engkau ciptakan semua itu…. Jauhkanlah aku dari siksa api neraka”. Dari ragam itu, saya memahaminya bahwa yang disebut berdo’a dalam Islam tidak berarti kita harus berada pada kondisi meditasi, fokus yang kemudian kita menutup pancaindera kita sehingga panca indera kita yang fisis tidak bisa bereaksi pada gangguan fisis sekitarnya.
    Menutup mata (secara fisis) dan membuka mata batin adalah kondisi esoteris, kondisi para, kondisi fokus, kondisi yang memungkin kita masuk pada satu area abu-abu. Kondisi ibadah adalah juga untuk dapat dekat denganNya melalui reposisi pikiran pada kewajaran fisis, melalui apa ya. Mungkin dengan mengharapkan keridhoanNya, ikhlas, berserah diri, yah… yang serupa-serupa itu.
    Apakah kondisi penuh konsentrasi, mata tertutup itu salah?. Jawab saya sih, nggak tahu. Namun, contoh Nabi tidak demikian. Jadi kalau kita berdo’a atau sholat, ikuti saja sunnah Nabi. Kondisi esoteris adalah ilmu yang lain. Menurut saya sih, jangan disatukan…. Tolong koreksi bila salah…Wass, agor.

    Suka

  4. Dee said

    Kadang kita malu juga untuk berdoa. Merasa nggak layak menghadapNya. Merasa terlalu kotor untuk memintaNya. Merasa hanyalah orang biasa saja. Merasa butuh orang lain yang lebih dekat denganNya untuk nitip permohonan. Seperti kita memohon dana pembangunan jembatan ke Pak Bupati, agar dikabulkan kita minta ketua parpol lokal untuk menyampaikannya. Mungkin seperti itu pola pikirnya.


    iya, Mas Dee, tulisan ini didekati karena kita malu juga untuk berdoa, lalu apakah ini sebenarnya keliru…

    Suka

  5. passya said

    katanya…
    ikhtiar tanpa do’a—->sombong
    do’a tanpa ikhtiar—->omong kosong


    🙂

    Suka

  6. Samaranji said

    Bagaimana dengan firman Allah SWT ttg WASHILAH berikut, A’udzubillahi minasysyaithonirrojiim, Bismillahirrahmaanirrahiim :
    يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ

    insya-allah kurang lebih artinya “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, ” (Al-Maidah:35).

    Terimakasih jika Pak Agor berkenan menjelaskannya.

    Salam Ta’dhim dari Semarang
    Wassalamu’alaikum.

    Suka

    • agorsiloku said

      Assalamu’alaikum Kang…
      Perihal At tawassul, agor sendiri masih harus banyak belajar dan banyak tidak mengerti. Agor hanya berargumen, kebanyakan kita berpikir ke arah vertikal dan “sedikit” lebih terabaikan aspek horisontalnya. Kita kerap berpikir segala amal mendekatkan diri kepada Sang Khalik berfokus pada do’a, zikir, dan meninggalkan semua laranganNya. Misalnya, tentang pendusta agama, adalah mereka yang tidak mengabaikan anak yatim dan orang miskin. Padahal dalam konsepsi mendekatkan diri, amal horisontal adalah fokus hampir dari seluruh urusan agama. Kesalahan vertikal kita juga terdistribusi ampunanNa dan “pembayarannya” melalui khasanah horisontal (antara manusia).
      Karena Allah memberikan kita potensi yang setiap orang berbeda-beda, maka jalan atau alat yang dipergunakan untuk berwasilah tentunya sesuai dengan potensi yang kita miliki. Kalau badan kita kuat dan sehat, mampu berlari mengangkat beban fisik yang besar, maka wasilah kita berada pada potensinya.
      Kalau potensi ini tidak kita gunakan, dan hanya digunakan untuk melakukan ritual vertikal, maka konsekuensi logisnya orang akan merasa bahwa “dekat” dengan segala aspek ritual dan melupakan atau mengabaikan fungsi horisontalnya. Apakah “Akang akan memuji orang yang tiap tahun naik haji, tapi tidak mau mengeluarkan lebih banyak untuk menyantuni kaum fakir miskin?.
      Lalu orang miskin, tapi muda dan sehat, apakah menghabiskan waktu untuk aspek vertikal tapi enggan mencangkul sawah? atau mencari pekerjaan? Begitu juga orang yang membaktikan ilmunya pada ilmu agama, namun hanya berilmu tinggi tapi melepaskan tanggung jawab horisontalnya?
      Agor kira, konsepsi mendekatkan diri, selalu dimulai dengan menyebut keagungan namaNya dan dilanjutkan dengan memanfaatkan potensi dirinya secara maksimal. Ragam potensi manusia begitu bervarian, di setiap titiknya terdapat jalan menuju kepadaNya. Insya Allah.

      Mohon maaf jika cara pandang ini kurang berkenan.
      Wassalam, agor.

      Suka

  7. Samaranji said

    Subhanallah,,, esensinya ko sama dng apa yg sy pahami dari “guru” di alam nyata saya ya…
    Namun ijinkan sy mengambil pelajaran tersendiri :
    Masalah minta do’a kiai, bukan masalah siapa yg lebih sholeh, lebih ‘alim, namun pembelajaran agar kita menghormati orang yg (kita anggap lebih ‘alim), kalopun kita menggagap diri lebih ‘alim ga papa ko ga minta di do’akan. Bukankah sesama muslim harus saling menghormati dan saling mendo’akan ?

    Kalo masalah haji sy pernah bertanya gini :
    >>> Maaf, apakah kriteria “mampu” utk haji itu sekedar harta n fisik, ato perlu juga “mampu” scr ilmu dan akhlaq ?
    >>> Seandainya diterapkan uji verifikasi terhadap standardisasi “calon haji”, apakah termasuk menghalangi org beribadah ?
    kepada beliau pemilik blog ini, http://orgawam.wordpress.com/2010/10/31/pelaku-kriminal-itu-wni-juga/. tapi belum dijawab ama beliaunya. barangkali kang Agor bisa membantu. Makasih…

    Suka

  8. agorsiloku said

    Saling mendo’akan tentu baik dan saling menghormati. Kita juga tidak tahu dengan sebab apa sebuah do’a dikabulkan. Sedangkan shaleh atau tidak, meskipun secara “logis” dipahami menjadi lebih “mudah” dikabulkan, namun doa seorang yang jahat atau pelacur yang memberikan minum kepada anjing kehausan pun dikabulkan Allah. Saya sependapat benar, pemahaman saling menghormati. Kita bisa tergelincir adalah ketika tanpa disadari dan secara halus kita kemudian merasa bahwa do’a kita hanya dikabulkan karena atau lantaran yang kita kenali ustad atau ulamalah yang menyebabkan do’a itu terkabul. Ketika ini tertanam pada diri kita, maka esensi hubungan langsung do’a seorang hamba kepada Sang Pencipta dihalangi oleh asumsi-asumsi ini.
    Begitu juga ketika “saling menghormati” sebagai sebab, juga memiliki ketergelinciran dan pengabaian terhadap tujuan berdoa.

    Namun, tentu saja kita tidak boleh mengabaikan hal ini. Banyak sahabat Nabi diceritakan meminta agar Nabi s.a.w juga mau sholat di rumah para sahabatnya.

    Ngelap berkah dari Kyai Slamet, Gunungan 1 Syuro, kalau kita melihat bagaimana masyarakat menyikapinya berkonotasi ke arah ini.
    Menyekutukan secara halus dan meragukan kesediaan Allah dalam memenuhi do’a kita dapat (baca berpeluang) dari kejadian-kejadian seperti ini.
    Keyakinan kepada kuasa Allah dikisahkan pada QS 26:62 ….kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku…
    Musa memegang tongkat, tapi bukan tongkat itu yang dijadikan acuan sebab kekuatan, tapi petunjukNya. Ini menjelaskan betapa kokohnya kepasrahan dan keyakinan pada kekuasaanNya, ketika Nabi Musa dan pengikutnya dikejar balatentara Firaun sampai ke tepi Laut Merah. Satu pembelajaran yang menjelaskan keyakinan seorang hamba kepada Sang Pencipta.

    Mengenai calon haji dan syarat mampu…
    Kalau mampu adalah paham syaratnya paham al Qur’an, dan melalui proses pengujian, agor pasti tidak akan mendaftar deh.. percuma.
    Siapa yang bisa memahami, niat dan kualitas tawakal seseorang?. Allah menegasi niat yang tersembunyi di balik dada dan siapakah yang sesungguhnya bertakwa dan diberikan hidayah, adalah hak perogatif Allah.
    Mampu diukur oleh sisi material adalah kemampuan yang distandarkan untuk bisa sampai memenuhi panggilan berhaji. Diterima atau tidaknya satu prosesi ritual, bukan kita yang menetapkan, jadi apakah kita berhak melakukan standar baru untuk kebolehan berhaji, khususnya dalam standar keluasan pengetahuan dalam beragama.
    Boleh jadi, karena alasan ini, maka standarisasi calon haji bertumpu pada standar administrasi dan materi untuk bisa berangkat ke Mekah.
    Wallahu’alam,
    Agor

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: