Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Keangkuhan di Tanah Suci

Posted by agorsiloku pada Januari 26, 2007

  • Suka beramal adalah salah satu bagian keangkuhanku. Meskipun hanya sedikit sekali, tapi saya ingin sombong, sekian persen pendapatanku digunakan untuk bersedekah. Di Mesjid Nabawi, minimal sekali, tapi kadang-kadang dua tiga kali, selalu saja ada yang meminta-minta. Mau yang tampang syeikh, maksudnya bersorban atau wanita setengah baya, atau masih kecil atau orang tua. Ada saja yang mencegatku.”Kalau saya sih Teh, tiap hari ada saja yang minta. Ya, saya kasih satu atau dua real, kadang lebih”. Saya memang menyiapkan uang real (1 real = Rp 2500,-) untuk mereka itu. “Kaum dhuafa itu…”. Kataku berbangga diri. Sudah 6 hari di Madinah, selalu saja ada yang meminta”. Begitu kataku kepada Teteh (panggilan kakak, dalam bahasa daerah di Jawa Barat).
  • Mulai esok harinya sampai saat pulang kembali ke Madinah, para pengemis itu seperti menjauhiku. Tak satupun ada yang mau meminta. Bahkan, ketika berjalan dengan teman pulang ke hotel, ada pengemis meminta ke temanku. Ketika saya ingin memberi, malah dia cepat pergi menghindar. Saya tidak menyadari hal ini sampai saya bersiap untuk berpakaian ihram lagi.
  • Saya berdo’a di Raudah (Mesjid & Mimbar Nabi yang jadi bagian Mesjid Nabawi sekarang). “Ya, Allah saya ingin bisa beribadah di Raudah, sekali saja”. Saya memang tidak ingin muluk-muluk karena saya tahu, betapa kecilnya tempat itu dan padat pengunjung. Jadi, dapat kesempatan sekali saja sudah bersyukur. Hari pertama tiba, setelah sholat dzuhur yang padat itu saya berhasil sholat di Raudah.
  • Setelah itu, dua hari kemudian saya mencoba tapi batal karena padatnya. Datang jam 3 pagi pun, bersama kawan, gagal juga. Sesampai di tanah air, imam mesjid bercerita bahwa beliau sholat di Raudah setiap hari selama di Nabawi. Saya terkesima mendengarnya. Saya tahu kini. Saya hanya minta sekali saja, dan di hari-hari lainnya hanya berusaha tidak optimal dan tidak meminta kepadaNya. Jadinya, kalaupun masuk mendekati Raudah, hanya berhasil melewati saja.
  • Sewaktu check point di Medinah, saya (dan juga beberapa teman) berguyon bahwa petugasnya kali tidur deh. Paling besok siang kelar.
  • Subhanallah, dari jam 21.00 malam, baru bisa keluar check point jam 10 pagi. Jadi, dengan ditambah perjalanan 5 jam dari Mekkah, lumayanlah di dalam bis dan dinginnya udara mencekam kami hampir 15 jam.
  • Usai mencium Hajar Aswad, saya mencari tempat isteri saya menunggu. Saya bergerak memutar dengan Ka’bah sebelah kanan tangan saya (artinya berlawanan arah dengan arah gerakan thawaf). Saya tahu itu tidak boleh, tapi karena merasa ingin cepat, karena saya tahu persis lokasi duduk isteri dan mertua menunggu, maka saya mencari melawan arus.
  • Sampai satu putaran lebih, saya gagal menemukan. Saya sadari kemudian bahwa saya seharusnya berjalan dengan arah putaran sesuai arah thawaf. Tidak lama kemudian, begitu jelas isteri dan mertua saya sedang duduk menunggu. Berada pada jalur itu juga, yang saya lewati tadi.

Astagfirullah. Sebelum berangkat, temanku mengingatkan apa yang kamu lihat, apa saja kegiatan, kecuali ke kamar mandi. Terus saja beristigfar atau berzikir. Itu lebih baik dari pada banyak berbicara. “Jangan sok ya Gor“. Katanya mengingatkan. “Jangan pula lupakan, kaki mana yang akan melangkah ke mesjid, keluar mesjid.”

(Pengalaman Hajj 21)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: