Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sampah & Kebersihan Saat Haji

Posted by agorsiloku pada Januari 25, 2007

Musibah bagi saudara-saudara di tanah air, khususnya yang berkenaan dengan sampah, menurut saya layak masuk Guinnes Book of Records. Karena dalam setahun saudara-saudara sebangsa mati karena sampah. Di bukit sampah Bekasi dan di Bandung. Bahkan, saking buruknya penanganan sampah di Bandung, bolehlah digelari Paris Van Rubbish atau Paris Van Waste.

Saat puncak haji, sampah-sampah bertebaran dimana-mana. Bayangkan saja, orang belanja dan makan, jalanan macet, dan tempat sampah sedikit, jadi cenderung buang sampah dimana-mana. Bayangkan jika sebuah kota, selama beberapa hari menjadi pusat kegiatan didatangi jutaan manusia (sekitar 3-4 juta manusia) dan mereka membuang menghasilkan sampah. Rasanya, jika Mekkah itu diurus seperti cara mengurus sampah di Bandung atau seperti di beberapa kota di Indonesia, maka dalam waktu tidak lama lagi akan muncul wabah penyakit di seantero kota Mekkah. Eh.. suudzon ya, maaf. Hanya mengingatkan saja, kita harus belajar cara membersihkan ke Mekkah.

Pergi ke Mesjid jam 2.30 pagi, masih sedikit kosong saya lihat truk pengepel dan pembersih didukung oleh belasan orang melakukan pembersihan lantai halaman paling luar dari Mesjidil Haram. Usaha pembersihan, baik dari sampah, tumpahan minum, kertas, sendal, dan lain-lain berlangsung sepanjang waktu. Sampah-sampah langsung diproses (dipadatkan oleh truk pengangkut). Entah kemudian dibawa kemana.

Setiap hari, terutama malam, bagian-bagian yang banyak dilalui jamaah dan orang yang mabit, wukuf pembersihan berjalan sepanjang waktu. Termasuk daerah yang dipakai oleh kaki lima. Namun, toh karena tingginya volume sampah, nyaris juga tidak tampak bersih. Sampah tetap bertebaran dimana-mana.

Sehari sebelum kami berangkat ke Jeddah, artinya sehari setelah menyelesaikan ritual di puncak haji 9-13 Dzulhijah. Jadi, tanggal 14 Dz gitu, tingkat kebersihan sudah mencapai 85-90% dari posisi normal. Sedangkan pada posisi tanggal 12-13 nya, setiap taman, jalan, nyaris dipenuhi oleh sampah-sampah makanan dan bungkus yang termasuk menyesakkan dada.

Hebat kan?. Mereka cukup serius menjaga kebersihan Mekkah. Kata Pak Ustad kami, hotel-hotel juga harus dikosongkan setelah 2 minggu dari puncak haji. Dilakukan kembali seluruh ritual kebersihan.

Apakah mereka membagi sampah pada tiga kriteria dan tiga tempat sampah (kotoran plastik/botol, kaleng, dan sampah rumah tangga)?. Tidak juga. Mereka, menurut saya telah menjalankan fungsi kebersihan dengan baik.

Kalau metropolitan Indonesia bisa bekerja dan pemimpinnya tahu arti kebersihan, tentu ya, tidak ada orang yang mati karena tertimbun sampah. Sayang, kita belum memiliki pemimpin seperti itu sejak jaman kemerdekaan tahun 1945 lalu. Ada jurusan Teknik Penyehatan di Bandung, kalau tak salah di ITB juga tidak menolong (emangnya jurusan ini untuk membereskan sampah – tak u u ya). Mungkin kita perlu professor ahli mengelola gunungan sampah dan bisa menjelaskan cara-cara membumihanguskan sampah, tapi ramah lingkungan. Tapi, saya kira ini mimpi saya yang berlebihan dan muluk.

Betapapun, saya salut pada kerja mereka membersihkan sampah.

(Catatan Perjalanan Hajj 20)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: