Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Gaya Nyupir ala Mekkah

Posted by agorsiloku pada Januari 19, 2007

Melihat mobil mulus di Mekkah tidak gampang, semahal apapun mobil itu. Mungkin hanya mobil-mobil pejabat atau tertentu saja yang sangat apik, yang akan selamat dari kemungkinan gesekan dengan mobil lainnya. Entah itu Mercy, BMW, atau Chrysler, mobil-mobil sedan Eropa atau mobil sedan Jepang, jarang ditemui dalam keadaan mulus.

Prinsip di sana, adalah siapa yang besar dan cepat, maka dia yang punya hak lebih dahulu untuk berjalan lebih dahulu. Terutama yang lebih cepat. Trotoar, lampu merah, atau penghalang jalan lainnya, sepanjang masih bisa dilalui adalah perkara biasa untuk dilalui. Ada atau tidak ada polisi, tampaknya tidak begitu masalah. Tergores atau menyerempet mobil lain, menyalip dengan cara berbahaya, adalah perkara biasa. Tidak perlu menyesal atau marah-marah. Cukup menggerutu saja. Beberapa mobil, saya lihat sangat baru dan mulus. Ada dua kemungkinan : baru keluar dari show room, atau memang baru sekali itu dipakai. Saya kira 8 dari 10 mobil pernah bersalaman dengan mobil lainnya. Apalagi mobil yang berparkiran di sepanjang jalan yang macet. Usaha keluar dari kemacetan, dengan melalui jalur mana saja yang ada lubangnya dilakukan juga meskipun dengan menyerempet mobil lain atau melipat kaca spion. Setidaknya dalam 7-8 hari saya berada di Mekkah, melihat 3-4 kali kejadian ini. Sungguh frekuensi yang terlalu banyak untuk waktu sependek ini.

Mobil berdebu di parkir dijalanan, mungkin karena supir dan keluarganya berangkat haji pakai kendaraan sendiri berserakan dimana-mana. Bunyi klakson sepanjang malam terdengar terus. Betapa tipis juga kesabaran mereka. Tapi, kalau supir berkelahi atau saling memarahi sih nyaris tidak ada. Tergores adalah hal yang boleh jadi : maklum saja.

Karena suplai air di sana menggunakan truk-truk tangki, maka jalan-jalan yang sebenarnya cukup lebar tapi karena ramai oleh parkir mobil, maka tidak ada pilihan pula. Truk-truk tangki yang datang rutin itu, berusaha menerobos kemacetan. Bisa dibayangkan pula hasilnya.

Kalau diperhatikan, gaya nyupir mobil di Mekkah, mirip kelakuan motor di tanah air. Menurut saya, gaya Medan juga masih kalah. Lampu merah, sekedar tanda saja. Begitu kosong sedikit, langsung lewati saja. Semangat untuk bermacet ria, mirip orang Bandung nyupir (seperti ke arah Soreang terutama di Kopo atau Dayeuh Kolot/Banjaran). Gaya supir angkot. Berhenti sembarang tempat, nyalip atau ambil jalur arah berlawanan, jika ada kesempatan. Singkatnya, asyik deh.

Motor sih tak banyak, hanya satu dua saja.

Kalau di Medinah, saya tak banyak tahu bagaimana gayanya. Kalau Jeddah relatif tertib, karena memang jalan-jalannya lebar-lebar, orang asingnya juga banyak. Nyaris jarang macet. Cuma ketika pergi ke Gazza/Curnis di Jeddah, jalannya cukup ramai (seperti kalau kita di jalur mau ke Glodok). Namun, secara umum wajar-wajar saja.

Aturan jumlah penumpang, apalagi saat haji akbar, tampaknya mengikuti prinsip seberapa bisa diangkut. Makanya, bisa ditemui Land drover atau mobil sejenis Kijang diisi lebih dari 15 penumpang. Artinya, 9 di dalam mobil, 6 di kap mobil. Begitu juga bis ukuran medium, model metro mini. Daya tampung 30, bisa ditumpangi 40 atau 50 penumpang. Atapnya pun oke-oke saja. Oh ya, di sana saya juga lihat Suzuki APV, rupanya diekspor juga ke Arab Saudi.

Mobil-mobil pribadi, mewah atau nggak, punya solidaritas juga. Kalau mobilnya kosong, boleh ditumpangi penumpang lain. Tapi, kalau sedan sih, saya tidak pernah lihat dinaiki di atas atap mobil, khususnya saat haji.
Kalau di Indonesia, kali sudah pada nangis itu bos-bos yang punya mobil untuk bermegah-megahan itu. Hebat, gaya nyupir di Mekkah, mengalahkan gaya Medan atau Bandung yang sangat dirasakan ketidaktertibannya.

(Catatan Perjalanan Hajj 15)

Iklan

8 Tanggapan to “Gaya Nyupir ala Mekkah”

  1. passya said

    wah…nambah pengetahuan nih…
    thanx!

    Suka

  2. fulan said

    Sopirnya yang untuk haji masih banyak para migran, seperti Mesir, Algier, dll ?
    Hmm bisa dibayangkan sebelum Rasulullah, mungkin onta nabrak onta.

    Suka

  3. fahmi! said

    lalu lintas madinah lebih santun, mirip dg jeddah. eh tapi di mekkah ada fenomena menarik soal atap kendaraan itu. ada sejumlah jamaah haji (nggak tau dari mana, tapi tampang timur tengah) mereka justru milih duduk di atap bis, sebaliknya ruang di dalem bis dipake untuk nampung koper2 mereka. kok aneh ya? kira2 pertimbangannya apa?

    eh, fotonya ketinggalan. ini:

    @Mas fahmi!.
    Bener juga, sampeyan jeli melihatnya. Boleh jadi, menyimpan perlengkapan untuk haji dalam bis lebih afdol dari pada di atas bis, karena tas, koper, kasur, makanan tidak bisa pegangan seperti jamaahnya. Jadi, itu rupanya pilihan praktis ya…., Wass, agor

    Suka

  4. wadehel said

    Haha, mobil dianggap onta tuh pasti. Dianggapnya mobil bisa mikir sendiri untuk menghindari tabrak/senggolan.

    Negara Islam kok perilaku orang kayak gitu ya? Apa malah seperti itu yang Islami?

    Suka

  5. Pengen sih saya ngomong gini:) : ” Namanya juga manusia….”

    Suka

  6. agorsiloku said

    @Mas Wedehel ysh, @Mas Hiqieqie yang pencinta kebijaksanaan ysh
    Cerita belum selesai… masih ada 10 lagi yang belum launching.. btw, saya justru salut sama mereka, mobil bukan menjadi tunggangan yang dijadikan alat “terlalu” bermegah-megahan seperti di tanah air. Betul, seperti onta saja…..

    Suka

  7. GUFY said

    kalo di Mekkah rata-rata remnya blong, jadi jantungnya harus kuat dan kalo bisa hindari duduk disebelah sopir bisa sport jantung.

    @
    😀 sport jantung… juga latihan ketika berdesakan untuk mendapatkan kesempatan di rumahNya sebagai seorang hamba….

    Suka

  8. lia said

    Saya punya pengalaman naek angkot dari Mina menuju Haram, dengan supir orang arab tulen, yang tawar menawar harga pun dengan bahasa tarzan. Tapi emang betul banget, gaya nyupirnya mirip supir metro mini, hell driver abissss. Tapi di Ahmad, supir kami itu juga termasuk guide yang ramah, dengan mencari jalan tikus dan menunjukkan lokasi rumah para petinggi saudi yang kami lalui, yang dg bahasa isyarat dia bilang kalo jalan utama macet total karena saat saya berhaji sedang haji Akbar. Lumayan juga jarak tempuh dengan jalan protokol bisa 3 – 4 jam, lewat jalan tikus cuma sekitar 45 menit, itupun dengan kita sudah dianter dekat dengan Haram.

    @
    ha…ha..ha… mmm.mm memang, saya juga berpengalaman hell driver habis… soal penyok mobil… itu kan urusan dunia….dan mereka tetap ramah juga. Selalu ada manfaat, saya berkali-kali naik supir serobotan ini dari aziziyah ke Haram…. benar-benar pede abis…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: