Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Umrah Setiap Tahun Ditukar Ukuran Timbangan

Posted by agorsiloku pada Januari 18, 2007

Hikmah penzaliman yang dilakukan travel biro, saya digabungkan dengan 3 teman lain satu kamar. Saya berada pada usia tengah di antara mereka. Ngocol, saleh dan humoris. Saya bersyukur, ini hikmah dibalik sebuah pilihan yang diberikan untukku. Yang seorang, pembangun pompa bensin terutama di Jakarta, seorang lagi enterprenur disain rumah, seorang lagi supplier batu bara. Hanya saya sendiri saja yang murni kuli. Saya menikmati energi kesalehan yang terpancar dari teman-teman sekamar di Madinah dan Aziziyah itu.

So, lama direnungkan, boleh jadi kan lebih enak dari pada sekamar dengan mertua wanita (faktor keseganan dan risih bisa terjadi). Jadi saya menarik kesimpulan ini adalah pilihan yang baik.

Kawan yang saya mau ceritakan ini, sebut saja Ar, relatif muda dan energik. Sebagai pengusaha muda yang sukses di bidang membangun pompa bensin dan juga punya saham di pompa bensin (entah dimana), beliau berkisah tentang usaha di bidang ini. Inilah kutipan bebas, dari ingatan :

Ar punya teman yang setiap tahun berumrah ria. Katanya, teman ini berasumsi bahwa kesalahan dan dosa-dosanya akan diampuni oleh Allah Swt.

Dalam berusaha, temannya ini sudah biasa mengurangi takaran literan bensin yang dijualnya. Lho kok bisa?. Ya, yang namanya DO pertamina itu. Diberikan 8000 liter, faktanya bisa susut (menguap, apapun yang menjadi sebabnya sehingga hanya 7800 liter saja). Dua ratus liter dikalikan Rp 4500,- sudah Rp 900.000,-. Lebih baik pertamax, nilai susut penguapannya jauh lebih kecil, bisa memang karena faktor penguapan saja. Cuma susut sekian persen, nyaris tidak berarti. Temannya ini semakin kaya saja. Karena sudah susut sejak dari Depo minyaknya, maka dia juga menyusutkan juga untuk pembelinya. Al hasil, kalau beli 1 liter, paling dapatnya hanya 0,9 liter atau kurang. Pokoknya, mau digital atau mekanik, kalau mengakali timbangan sih, orang kita itu ahlinya. Ada sih pengusaha pompa bensin yang jujur, tapi jauh-jauh lebih banyak yang tidak jujur dalam ukuran literannya.

Saya juga punya teman yang sama pula. Shaleh, pengusaha pompa bensin juga, kaya (sudah punya lebih dari 5 pompa bensin di Jakarta). Meskipun literan yang diterima dari Depo minyak pertamina tidak sesuai (kurang), tetap saja dia menjual dengan literan yang benar. Tidak juga rugi, meskipun keuntungannya tidak sebesar yang mengurangi literan.

“Berapa banyak sih pelaku bisnis pompa bensin yang curang?”, Tanyaku antusias.

“Wah nggak tahu, tetap ada yang jujur. Yang tidak jujur, jauh lebih banyak lagi”

“80% tidak jujur?”

“Entah, tapi banyak. Banyak sekali. Jauh lebih banyak yang tidak jujur, dari pada yang jujur”.

“Kok bisa ya, berangkat umrah dengan keyakinan menghapus dosa atas ketidakjujuran yang dilakukan?”. Temanku Ar tidak lagi menjawab. Kami berhenti dalam kebisuan.

“Yah, setiap orang punya cara berpikir sendiri”. Ya, Allah maha pemurah dan maha pengampun. Ibadah dan minta pengampunan adalah bagian dari kemahamurahanNya.

Haji Tomat.

Di kesempatan lain, ustad atau rekan lain berkisah tentang haji tomat. Apakah itu?. Datang ke Mekkah bertobat, pulang kumat. Jadilah haji tomat.

Saya kemudian berbaring tiduran, membuka buku Al Qur’an yang ada terjemahannya. Biasalah, sok alim. Begitu dibuka, terpampang di depan mata QS:83 Al Muthaffifin (Orang-orang yang curang). Tidak sengaja.

Ayat 3 dari surat ini berbunyi : dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi .

Saya tidak lagi bertanya pada rekan Ar, ayat surat 1-10 dari 36 ayat itu menjelaskan apa yang berkecamuk di kalbu.

Saya tidak merasa perlu bertanya lagi, tidak juga membahas lagi. Saya sibuk dengan diskusi internal antara hati dan pikiran. Ya, Allah jangan biarkan saya menjadi orang-orang yang Engkau sebutkan dalam wahyuMu itu.

Saya percaya, Allah maha pengampun. AmpunanNya akan meliputi kawan yang mengurangi takaran itu. Dalam perjalalanan anganku, tentu Allah akan mengampuninya. Karena ia setiap tahun berumrah, mohon ampunanNya, dan memang Allah kan maha pengampun. Jika, seorang hamba memohon padaKu, maka akan Kukabulkan. Tapi, sebelum itu, datanglah ke semua orang yang kamu zalimi. Karena semua dosa akan diampuni, kecuali syirik.

“Ampunan akan Kuberikan kalau semua yang kamu curangi itu memaafkan perbuatanmu.” Kawannya Ar itu, tentu akan jadi orang yang paling sibuk mencari, siapa-siapa yang telah dikurangi timbangannya. Kelak!.

Mataku mulai berat, saya tutup Al Qur’an yang tadi dibuka. Saya kembali tidur, seperti hari-hari sebelumnya…..

(Catatan Perjalanan Hajj 14)

Iklan

3 Tanggapan to “Umrah Setiap Tahun Ditukar Ukuran Timbangan”

  1. wadehel said

    Pantesaaaaaan, motor dan mobil rasanya kok lebih boros, dan tengki jadi terasa membesar.

    Jadi itu toh gunanya umrah sering2.

    @wadehel
    itulah, siapa yang ingin menukar ayatnya dengan keuntungan literan, daftar ke pertamina….

    Suka

  2. @Wadehel: Hahahaha

    Mas, mengenai Haji Tomat… Saya jadi inget Haji Abidin. Haji yang memakai biaya dinas. Saya jadi bingung. Gimana kalau beliau yang berangkat itu ternyata kerja di lembaga/instansi pemerintahan. Bagaimana kalau rakyat, yang dipakai uangnya… ternyata ndak setuju beliau-beliau itu naik haji? Bagaimana kalau rakyat lebih suka bahwa uang tersebut dipakai beli makanan?

    Bingung… mohon pencerahan… kalau ada… Mumpung anda masih di Mekkah, bisa nanya kiri-kanan, kepada yang Haji Abidin 🙂

    Suka

  3. agorsiloku said

    Abidin = asal biaya dinas. Untuk berbagai kasus seperti dokter, pegawai haji maka pergi ke mekkah memanfaatkan untuk menunaikan ibadah haji juga, menurut saya adalah rahmatNya, sehingga bisa ikut berhaji. Mereka membayar dengan keterampilannya, kesungguhannya, dan tentu profesinya sehingga bisa berhaji. Menurut saya, halal tuh rejekinya. Yang penting, jangan sampai karena ritualnya, maka dia meninggalkan kewajiban pokoknya.

    Kalau dia berangkat, karena diberangkatkan negara, barangkali negara telah menganggarkan untuk memberangkankan pegawainya berhaji. Mungkin kita bertanya, apakah seluruh pegawai nagari punya kesempatan yang sama?. Bagaimana dengan para pimpro, pejabat yang diberangkatkan oleh pengusaha. Singkatnya, berangkat dibiayai dari pajak dan pendapatan pemerintah?.

    Wah, tidak tahu tuh. Khalifah Umar bin Khatab, bahkan lampu pun dimatikan ketika anaknya datang ke “istana”nya.

    Istilah abidin, tidak lebih dan tidak kurang adalah, “menurut saya” suara kepedihan anak bangsa yang merasa dizalimi, dan disampaikan dalam bentuk humor.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: