Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mabit Di Musdalifah dan Thawaf.

Posted by agorsiloku pada Januari 15, 2007

Apa yang dirasakan di Musdalifah. Jawabnya nothing. Apakah sholat Idul Adha di Mesjidil Haram atau di Musdalifah, sempatkah ke mesjid. Jawabnya, tidak juga.

Inilah mabit (bermalam) yang tidak dirasakan apa-apa. Jarak Arofah ke Musdalifah sekitar 7 km. Kami berangkat setelah Isya, sekitar jam 20.00 waktu setempat dan tiba di Musdalifah, waktu menunjukkan jam 05.15 pagi. Sebentar lagi sholat subuh tiba. Perjalanan 7 km ini ditempuh dalam waktu 10 jam. Saya tertidur nyenyak sepanjang perjalanan, tak tahu apa yang terjadi. Pembimbing kami telah mengambilkan sejumlah batu untuk lempar Jumarat di Mina (pelemparan pertama di Aqobah).

“Kita sudah mabit di Musdalifah, alhamdulillah”, kata ustad kami sambil mengajak bersama-sama berdo’a.

Karena tidak juga sholat Ied bersama, saya kehilangan momentum yang berharga. Apakah ada sholat Ied atau tidak, saya juga tidak tahu. Tapi, melihat keluar bis, saya lihat orang bersiap-siap, sedang kami masih dalam bis.
Karena saya tertidur sepanjang perjalanan dan bangun menjelang sholat shubuh yang dilakukan di bis, maka satu hal hilang. Satu hal telah berlalu tanpa dapat merasakan jalan yang ditempuh Rasulullah di Musdalifah. Yo, wis antara kantuk dan terkantuk-kantuk bis tetap merayap, sangat perlahan. Dingin dan kerasnya perbukitan di Musdalifah tak dirasakan.

Tiba di Mesjidil Haram, mungkin sekitar jam 10.00-11.00 pagi. Tanpa sempat makan dan minum, tapi tidak lupa berwudlu kami teruskan dengan Thawaf ifadah dan Sa’i. Waktu tempuh untuk menyelesaikan kedua ritual ini, sambil menjaga mertua yang kerap kelelahan baru selesai menjelang Magrib. Sekitar Jam 17.00 sore. Rasa haus dan lapar sangat dirasakan. Dengan kata lain, kami tidak makan sejak berangkat dari Arafah sampai menyelesaikan ritual Sa’i. Barangkali sama seperti yang saudara-saudara kami yang kelaparan di Arafah dan Mina, begitu juga kami. Namun, ini bukan karena kami tidak mendapat jatah makan, tapi karena padatnya lalu lintas dan berjuang menyelesaikan ritual ini, maka hal seperti ini terjadi.

Begitu sampai di bis, pembimbing yang menunggu kami yang paling lambat sampai di bis ini menyampaikan rasa syukurnya. Ini adalah keajaiban. Kita juga tidak sempat makan hampir 22 jam dan pada saat yang sama melakukan kegiatan ritual fisik.

Meskipun kehausan, dan sebelum masuk bis saya minum satu liter lebih orange jus yang di toko yang kami lewati sebelum masuk bis terburu-buru, kebahagiaan atas rasa lapar dan rasa syukur menggayuti hati. Kami semua mengamini apa yang disampaikan ustad.

Perjalanan menuju apartemen di Aziziyah akhirnya kami tempuh dengan jalan kaki saja. Naik bis, terlalu lama. Kami enggan mengalami kemacetan yang sangat luar biasa ini. Jalan kaki, bagaimanapun akan lebih cepat sampai.

Setengah jam kemudian kami sampai di penginapan untuk bersiap lagi keesokan harinya ke Mina.

Usai sholat isya di Mesjid dekat apartemen aziziyah, badan direbahkan. Pulas tidur.

(Catatan Perjalanan Hajj 12)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: