Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bisnis Hotel di Seputar Ka’bah

Posted by agorsiloku pada Januari 13, 2007

Gema suara adzan di Mesjidil Haram sungguh dahsyat. Mengisi setiap relung udara dalam dan luar mesjid, menerobos setiap sela-sela, menggema ke seluruh lingkungan sekitarnya dalam alunan tata akustik yang nyaris sempurna. Rasanya tidak ada suara adzan yang seanggun yang dilantunkan di mesjid ini.

Bangunan-bangunan tinggi semakin menjulang ke langit. Ada yang sudah jadi, ada juga yang masih dalam taraf pembangunan. Di lihat dari bentuknya dan banyaknya kotak-kotak kamar, tampaknya di sekeliling mesjid sedang dibangun hotel-hotel.

Hotel-hotel itu jauh lebih tinggi dari pilar-pilar mesjid. Begitu juga Ka’bah di tengah mesjid. Sulit saya bayangkan, apa sebenarnya yang sedang terjadi di Mekkah ini.

Jika sebuah hotel didirikan, maka”view” dari kamar hotel ke laut lepas, ke taman, ke kehijauan gunung memiliki harga yang berbeda dengan kamar hotel yang tidak punya horison pandangan. Sudah dapat diduga, bahwa bisnis di seputar Ka’bah dan Mesjidil Haram akan berkembang semakin pesat. Sangat boleh jadi, dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi :

  • Kamar Hotel yang bisa melihat langsung ke Ka’bah. Ini artinya ketinggian hotel harus di atas 100 meter atau lebih.
  • Kamar Hotel yang bisa melihat langsung ke pintu-pintu Mesjidil Haram,
  • Hotel dengan jarak sekian meter, sekian puluh meter, sekian ratus meter sampai sekian kilometer akan berbeda harganya.

Dan yang paling mahal, pastilah view of Ka’bah. Industri hotel akan memonopoli untuk mengambil alih prosesi haji menjadi bisnis yang mencucurkan darah dan keringat jamaahnya. Sangat boleh jadi, di masa depan, hanya orang kaya saja yang punya peluang untuk melaksanakan rukun kelima ini. Gejala ini semakin nampak. Setiap bagian-bagian dari Mesjidil Haram dan Kabah menjadi bagian dari proses bisnis, bagian dari bisnis industri hotel. Pencampuradukkan tujuan ibadah dengan nafsu untuk mengusai wilayah sakral. Entah sampai dimana pengaturan yang dibuat oleh Kerajaan Arab Saudi yang menjadi pelayan dua tempat Suci ummat Islam itu.

Bukankah rukun kelima ini adalah captive market yang sangat nikmat dielaborasi. Ada jutaan ummat setiap tahun (tahun ini 2007 = 1427 H) ada 4 juta jemaah yang datang. Tiap tahun akan semakin besar.

Tak lama lagi, saya yakin beberapa bagian pasar akan digantikan dengan hotel agar bersaing untuk pandangan kamar hotel ke Ka’bah. Boleh jadi pula, setelah pembatasan masuk ke haji (kuota haji), di masa depan akan ada lagi aturan lain yang menyangkut masuknya jemaah ke dalam mesjid (Tapi ini sih sudah sangat keterlaluan, kalau terjadi).

Namun, sesuatu bisa terjadi.

Entah apa pilihan yang akan dilakukan. Saya hanya bisa prihatin melihat kegiatan yang “ingin menenggelamkan Ka’bah” menjadi objek-objek bisnis perhotelan sehingga Ka’bah dan Mesjidil Haram dikurung oleh berbagai fasilitas hotel pada jarak-jarak pandang begitu dekatnya. Kemungkinan perluasan Mesjidil Haram untuk 20 atau 50 atau 100 tahun ke depan akan terhenti, karena bangunan-bangunan dalam industri telah mencengkramnya. Padahal, tentu kita sadari bahwa jumlah jamaah dari tahun ke tahun akan terus meroket.

Mungkin di masa depan, lantai mesjidlah yang akan terus ditambah untuk menampung jamaah yang kian meningkat.

Namun, rasanya pilar mesjid yang anggun dikalahkan bangunan hotel itu memberikan nuasa kepedihan tersendiri. Kadang terlintas dalam pikiran, Kabah dibangun oleh Nabi Ibrahim atas perintahNya di tengah daerah yang begitu gersang, kering, dan penuh bebatuan. Ka’bah adalah bangunan sederhana, dari batu-batu yang tersusun sangat sederhana. Yang tersusun memang bukan wujud fisiknya, tetapi rahmatNya ke tanah ini. Kita, ummat manusia diminta menjaganya, mensucikannya dengan thawaf dan shalat di sekeliling Ka’bah. Kalau orang menginap di hotel dan melihat Ka’bah, sebagai “view of interest” dari hotel. Maka melihat Ka’bah dari hotel, bukan datang ke Ka’bah haruslah memiliki harga gemerincingnya uang. Apakah ini”mengotori” Ka’bah, saya tak tahu. Tapi, rasanya saya tidak setuju menjadikan view of Kabah sebagai ladang bisnis.

(Catatan Perjalanan Hajj 10)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: