Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seteguk Teh di Mesjid Nabawi

Posted by agorsiloku pada Januari 11, 2007

Masuk ke dalam mesjid sekitar jam 17.00 sore itu, saya duduk di bagian agak belakang dari shaf-shaf jemaah. Saya lihat cukup banyak digelar plastik putih memanjang di beberapa bagian dan terdapat beberapa biji kurma dalam mangkuk-mangkuk plastik kecil di depan jemaah yang tampaknya berasal dari Turki atau Pakistan. Saya tidak tahu ada tradisi itu, tapi tak ada satupun yang sedang makan. “Oh, mungkin mereka sedang berpuasa. Jadi, menunggu waktu berbuka”, sahutku dalam hati.

Karena merasa tidak berhak, saya cari tempat duduk tidak di barisan mereka, tapi mundur dua shaf di belakang mereka. Setelah shalat tahiyatul masjid, saya duduk untuk membaca. Beberapa di antara mereka rupanya membawa termos panas yang berisi teh. Usai sholat magrib, mereka mulai makan kurma dan minum teh yang dibagikan khusus bagi mereka yang berada di depan taplak plastik putih. Begitu menikmati. Harumnya aroma teh terasa ke bagian lainnya. Saya kira teh itu berbumbu, kesegaran aromanya sangat terasa ketika tak sengaja uap dari teh panas itu menyambar hidung.

“Ah… andaikan saya duduk bersama mereka”, desah hatiku. Tentu aku bisa ikut menikmati segarnya teh panas di tengah dinginnya angin lembut kota Madinah. Namun, untuk beranjak meminta, meskipun yakin akan diberi, rasanya tak pantas. Malu. Segarnya dan harumnya air teh itu benar-benar istimewa. Tak pernah rasanya saya mencium aroma minuman yang segar seperti itu. Sungguh belum pernah!. Saya tidak begitu tertarik dengan kurmanya, selain perut masih terisi, saya juga tidak begitu doyan makanan semanis kurma.

“Ya, Allah”, bisikku dalam hati :”Berikan saya kesempatan untuk menikmati seteguk saja teh itu”. Dalam hati, aku merasa malu juga, masa meminta pada sang Maha Pencipta hal-hal yang sangat tidak berarti begitu. Mbo ya mintalah yang lebih serius. Diskusi dalam hati antara pikiran dan keinginan dan do’a terus berlangsung dalam kalbu. Tak jua mau berhenti, meski pikiran saya coba pusatkan pada zikir saja.

Sepuluh menit kemudian, seorang anak muda bergerak mengambil gelas-gelas plastik dan membawa termos kemudian dia melangkah ke barisan di depanku dan mulai mengisi gelas plastik itu dengan teh memberikannya kepada jemaah yang berada di depan barisanku.

“Wah, semoga barisanku juga kebagian..”, seruku dalam hati. Dan memang tak lama kemudian, dia juga memberiku setengah gelas teh panas yang beraroma enak itu.

Alhamdulillah...”, rupanya Allah mendengar do’aku yang iri ingin merasakan nikmatnya teh. Air teh panas itu benar-benar panas, tapi kucoba hirup sedikit demi sedikit. “Amboi.., lezat nian”. Mereka itu benar-benar canggih membuatnya. Tidak ada teh selezat ini. Rasa manisnya pas, harumnya pun unik. Ini pasti campuran khusus untuk teh ini. Menghangatkan tubuh, berlalu di tenggorokan yang dingin dan kehausan. Melegakan nafas yang dan menyegarkan hati dan kepala.

Pulang ke hotel usai sholat isya, saya bercerita ke teman sekamar. Tadi saya minum teh yang rasanya lezat, pernah nyoba nggak teh seperti yang tadi itu. Siapa tahu, temanku juga ikut menikmati. Harumnya sangat khas dan enak. Kemudian teman tadi menjelaskan, seperti ini, seperti itu. Saya jawab bukan, berbeda. “Oh, kalau begitu, mungkin tehnya dicampur ini”. Ia menunjukkan sebutir biji-bijian berwarna hijau kering. Akupun menciumnya dan menjawab ,:”ya benar seperti ini”.

“Kok punya?, biji apa ini”.

“Kapulaga”.

“Oh, aku mo cari ah, mo beli”. Pulang ke tanah air, saya membawa setengah kilogram biji kapulaga kering yang memang banyak dijual di sana. Hari pertama tiba di tanah air, dibuatlah teh panas dengan campuran biji kapulaga. Rasanya tidak seenak di mesjid Nabawi. Campurannya mungkin kurang atau memang masih ada bumbu tambahan lainnya. Entahlah.

Namun, bagaimanapun juga. Tegukan teh saat di Nabawi itu memang bukan sembarang teh. Di situ ada do’a yang didengar dan dipenuhi segera. Allah begitu telitinya mendengar do’a hambaNya. Bahkan untuk segelas teh panas beraroma harumpun, ketika diminta, dipenuhiNya pula. Subhanallah.

(Catatan Perjalanan Hajj 25).

Iklan

5 Tanggapan to “Seteguk Teh di Mesjid Nabawi”

  1. Hebat sekali… doanya langsung makbul… Hebat euy!

    Suka

  2. agorsiloku said

    Alhamdulillah, kemudian berusaha untuk kian menyadari, Dia hadir pada seluruh sisi-sisi kehidupan dari apa yang ada dan paling tersembunyi sekalipun dari pandangan manusia. Kemudian malu dan takut, betapa kemaksiatan selama menjalani kehidupan ini sudah begitu menggunung.

    Suka

  3. Duh, mbacanya sampe merinding dan berkaca-kaca aku.

    Suka

  4. aburahat said

    @Mas agor
    Mas krn anda mengeluarkan posting ini tentu ingin dibahas kan? Tp saya harap dlm pembahasan ini jgn tersinggung ya. Krn apa yg anda tulis hsl analisa orang akan ber-beda2 sesuai presepsi si penganalisa.
    Membaca tulisan mas klu saya tinjau dr segi HAKEKAT/FILOSOFI merupakan COBAAN. Krn saya menganggap apa saja yg terjadi di Dunia ini adalah COBAAN. Cobaan terhadap ke IMANAN kita pd Allah.
    Di Mesjid Nabawi salah satu dari dua mesjid yg Allah muliakan itu anda dicoba dgn.
    Pertama: KEINGINAN/Nafsu. Allah menggerakan mas berkeinginan utk mencicipi Teh tsb (maaf klu saya katakan , KLU cerita anda benar) saya berkata demikian krn ada hub dgn analisa saya. Pd hal klu anda tetap dlm saf semula anda tdk berkenginan, sebab anda pasti kebagian. Tetapi Allah menggerakan hati mas utk pindah sehingga ada sebab keinginan ini muncul. Dgn demikian anda berdoa/memohon pd Allah (mengingat Allah) jd satu rencana Allah sdh tercapai. Rencana kedua adalah MENSYUKURI dan mas telah bersyukur. Memang benar Puji dan Syukur hanya kpd Allah tp anda lupa berterima kasih pd perantara yg memberikan teh pd mas
    penyebab muncul cobaan td. Maaf hanya analis pribadi.

    Suka

  5. yudhisidji said

    @ aburahat….
    mohon dijelaskan
    Di Mesjid Nabawi salah satu dari dua mesjid yg Allah muliakan
    terima kasih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: